top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...




PERTEMUAN KBN Oktober 2018 : Minggu,28/10/2018 Pk 17.00," IMPACT NOT IMPRESS, oleh : Bpk. Marco " Gedung Grand Matlenn (ex.Istana Gading) Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Mengembangkan Talenta Untuk Mencapai Kesuksesan PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Wednesday, 19 August 2009 02:01

Talenta adalah kemampuan yang khas yang dimiliki seseorang untuk dapat berprestasi pada bidang-bidang tertentu sesuai dengan talenta yang dimilikinya.

 

 

Seorang yang memiliki talenta dalam bidang olah raga mempunyai kemampuan dalam fisiknya berupa kekuatan dan keterampilan. Jika ia memiliki kemampuan dalam jiwanya berupa semangat dan keberanian untuk berkompetisi ia dapat menjadi seorang atlet.

 

Seorang yang mempunyai kemampuan dalam jiwanya untuk menghayati sesuatu dan mendapatkan inspirasi lalu mengekspresikannya baik dalam bentuk gerakkan (tarian atau koreografi), atau dengan menciptakan suatu bentuk (tulisan, lukisan, patung atau ukiran), maka orang itu memiliki talenta untuk menjadi seorang artis atau seniman.

 

Seorang yang memiliki talenta berbisnis mempunyai kemampuan dalam pikirannya untuk melihat kebutuhan sebagai peluang. Ia juga mampu menghasilkan gagasan untuk memenuhi kebutuhan itu, dan menggunakannya sebagai kesempatan untuk menghasilkan uang dan menaikkan taraf hidup.

 

Ada banyak lagi kemampuan-kemampuan yang khas lainnya yang merupakan talenta yang dapat dimiliki oleh seseorang. Talenta-tanlenta itu diberikan Allah kepada kita sebagai modal bagi kita untuk dijalankan. Namun demikian talenta-talenta itu diberikan dalam bentuk “potensi” yang harus digali dan ditumbuh-kembangkan.

 

Meskipun seseorang memiliki talenta untuk menyanyi tetapi ketika ia lahir sebagai bayi ia tidak langsung menyanyi ketika ia keluar dari rahim ibunya. Ia harus menemukan talentanya dan mengembangkannya. Demikian pun orang yang memiliki talenta sebagai olahragawan pelari, ketika ia masih bayi dan baru keluar dari rahim ibunya tidak langsung berlari. Ia harus menemukan talentanya dan mengembangkannya.

 

Ada beberapa hal yang Allah mau kita mengetahui dan memahaminya tentang talenta itu dari sudut Allah Sang Pemberi talenta. Dalam Matius 25 : 14 – 30 terdapat perikop dengan judul “Perumpamaan Tentang Talenta” yang akan menerangkan tentang hal itu.

 

Perikop itu dimulai dengan kata-kata: “Sebab hal Kerajaan Sorga...”. Inilah yang seringkali kita lupakan dalam menemukan dan menumbuh-kembangkan talenta kita. Kita lupa tujuan Allah dengan talenta-talenta yang diberikan-Nya itu. Kita hanya memikirkan diri sendiri dan menyangka bahwa talenta-talenta itu hanya untuk kepentingan kita pribadi. Kita mencari uang dan popularitas diri melalui talenta-talenta itu. Kita lupa bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk kepentingan bisnisnya Allah, yaitu: Kerajaan Sorga. Allah ingin pengembangan talenta itu ditujukan untuk kepentingan Kerajaan Sorga, sementara uang dan popularitas adalah “berkat sampingan” (side blessing) yang akan ditambahkan Allah ketika kita mencari terlebih dahulu (memprioritaskan) Kerajaan Allah (Matius 6 : 33).

 

Ada seorang pemain sepak bola yang terkenal dan menjadi atlet sepak bola terbaik dunia. Ia adalah seorang pemuda tampan yang sangat cinta Tuhan. Ia menggunakan talentanya bermain bola untuk menjadi saksi Kristus. Ia selalu menggunakan kaus dua rangkap. Kaus luarnya bertuliskan nomor punggungnya, tetapi kaus rangkapnya bertuliskan: “I love Jesus”. Setiap kali ia mencetak gol ia akan berlari keliling lapangan dan membuka sebagian kaus luarnya sehingga kaus dalamnya terlihat dan tulisan “I love Jesus” terbaca oleh semua penonton yang ada di sekitar lapangan, bahkan disorot oleh kamera televisi dan ditayangkan ke seluruh dunia. Ketika ia ditawari untuk bermain bagi suatu kesebelasan dengan bayaran yang sangat tinggi, maka ia bersama isterinya berdoa terlebih dahulu menanyakan kehendak Tuhan, sebab ia memiliki misi melalui talentanya bermain bola, yaitu untuk memberitakan Injil dan menjadi berkat bukan hanya mencari uang dan popularitas. Hal yang serupa dapat dilakukan melalui talenta-talenta lainnya apakah itu talenta bermain musik, menyanyi, berbisnis, berbicara di depan umum, memimpin dan sebagainya.

 

Jika kita gunakan talenta-talenta kita untuk kepentingan dan tujuan Kerajaan Allah, yaitu untuk menjadi saksi bagi kemuliaan Allah dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kerajaan-Nya, maka Allah akan memberkati kita dan berkenan dengan kita.

 

Dalam ayat ke 14 juga dituliskan bahwa Tuan yang memiliki talenta-talenta itu “memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan kepada mereka...” Talenta yang kita punyai adalah “panggilan” kita yang khas. Talenta itu adalah panggilan Tuhan bagi kita untuk melayani Dia sebagai hamba-hamba-Nya. Ketika kita menggunakan talenta kita untuk tujuan Kerajaan Allah maka sebenarnya kita sedang melayani Allah dengan menggenapi kehendak dan rencana Tuhan melalui kehidupan kita.

 

Kita juga harus ingat bahwa talenta-talenta itu adalah “harta yang dipercayakan.” Tuhan lah “Pemilik” talenta-talenta itu, kita hanya dipercayakan Tuhan untuk menjalankan talenta-talenta itu untuk kepentingan-Nya, untuk tujuan dan kehendak-Nya. Ingat, talenta-talenta itu adalah “hartanya”  (God’s property) kita bukan owner (pemilik) tetapi steward (pengurus) telenta-talenta itu. Satu kali Tuhan, Pemilik dari talenta-talenta itu akan meminta pertanggungjawaban dari kita. Ia akan “mengadakan perhitungan dengan mereka” yang telah dipercayakan dengan talenta-talenta-Nya itu (ayat 19).

 

Sebagai “harta” maka talenta-talenta adalah sesuatu yang sangat besar nilainya. Dalam kamus Alkitab dituliskan bahwa satu talenta itu sama dengan 6.000 dinar, sedangkan satu dinar adalah “upah pekerja harian dalam satu hari.” Berarti satu talenta itu setara dengan upah buruh 6.000 hari kerja atau jika satu bulan ia bekerja 25 hari maka itu sama dengan 240 bulan kerja atau 20 tahun kerja. Jika upah buruh minimum adalah 750 ribu rupiah dan ditambah gaji ke-13 dan kenaikan gaji setiap tahunnya, maka nilai totalnya bisa lebih dari 200 juta rupiah bahkan dapat mencapai kisaran sampai 500 juta rupiah. Itu jika kita menggunakan standar Indonesia. Jika kita menggunakan standar Internasional atau standar negara maju, maka jumlahnya dapat berlipat tiga sampai sepuluh kali. Wah, suatu jumlah yang cukup besar jika itu dianggap sebagai modal awal.

 

Ada seorang calon presiden yang dalam kampanyenya menjanjikan untuk memberikan modal sebesar 10 juta rupiah kepada setiap pemuda Indonesia yang mau berwiraswasta. Tetapi Tuhan memberikan jauh lebih besar lagi. Ada yang diberi-Nya lima talenta, ada yang dua dan yang paling sedikit adalah satu (ayat 15), dan itu pun nilainya sangat besar.

Memang benar, talenta itu jika dijalankan dengan baik dapat menghasilkan uang dan juga popularitas. Tetapi sekali lagi tujuan utamanya bukan itu tetapi kepentingannya Tuhan, yaitu Kerajaan Allah, sedangkan uang dan popularitas dan pengaruh itu diberikan sebagai tambahan.

 

Apa yang harus dilakukan dengan talenta-talenta yang Tuhan sudah simpan dalam hidup kita sebagai potensi itu? Kita harus menggalinya, mengeksplorasinya sehingga kita dapat menemukan talenta-talenta yang Tuhan sudah taruh dalam hidup kita. Jika kita sudah menemukannya maka kita harus “segera pergi ... menjalankannya (sehingga) beroleh laba ” (ayat 16 – 17). Talenta-talenta itu jika dijalankan akan berkembang dan berlipatganda. Seandainya saja yang menerima satu talenta itu menjalankannya, tentulah talentanya akan bertambah menjadi dua, dan jika ia menjalankannya lagi dengan tekun, yang dua itu pun menjadi empat, dan seterusnya.

 

Tuhan mau menolong kita untuk dapat menemukan potensi kita dan mengembangkan talenta kita jika kita percaya bahwa Ia memiliki rencana yang luar biasa di dalam hidup kita (Yeremia 29 : 11) dan mengucap syukur dengan keberadaan hidup kita. Kita harus percaya bahwa di dalam diri kita terdapat “paling sedikit” satu talenta. Tidak ada orang yang tidak diberi talenta. Hanya saja banyak orang yang tidak dapat melihat dan menemukan talenta atau potensi yang terdapat di dalam dirinya. Kadang-kadang Tuhan memakai orang lain seperti orang tua, guru atau pemimpin rohani kita untuk melihat dan menemukan talenta atau potensi yang tersembunyi dalam diri kita.

 

Hal yang sering kali menghalangi seseorang untuk dapat melihat dan menemukan talentanya adalah jika orang itu tidak dapat menerima keberadaan dirinya, marah dan kecewa dengan Tuhan, iri dengan talenta yang dimiliki orang lain, merasa rendah diri melihat kekurangan dirinya. Padahal di balik kelemahan atau kekurangan seseorang baik dalam hal fisik ataupun jiwanya tetap tersimpan suatu potensi atau talenta yang apabila ditemukan dan dijalankan dengan baik dapat berkembang dan menghasilkan suatu prestasi.

 

Ada seorang anak yang memiliki kelainan bentuk fisik, yaitu ukuran panjang tangannya yang tidak seperti kebanyakan manusia normal sehingga ia menjadi bahan olok-olokan teman-teman sebayanya. Bukan hanya itu, anak ini juga memiliki kekurangan yang lain yaitu ia sangat hiperaktif, akibatnya ia sangat nakal dan sering membuat masalah. Tetapi ibunya meyakini bahwa Tuhan pasti telah menaruh suatu potensi dalam diri anaknya itu. Ia menerima keberadaan anaknya itu dan selalu memandangnya secara positif. Anak ini kemudian dilatih berenang oleh beberapa orang pelatih. Karena ia seorang yang hiperaktif maka anak ini tidak mengenal lelah dan kuat menjalani latihan yang intensif. Sementara itu ukuran tangannya yang lebih panjang dari ukuran orang normal justru menguntungkannya. Akhirnya ia berhasil menjadi atlet renang terbaik dan memecahkan beberapa rekor dunia dalam olah raga renang.

 

Seorang anak yang menderita autis dilatih untuk bermain basket dan ia menjadi seorang pahlawan basket bagi negaranya karena ia dapat memasukkan bola tanpa terganggu konsentrasinya sedikit pun oleh orang-orang di sekitarnya. Seorang gadis yang tidak memiliki lengan menjadi inspirasi bagi banyak orang sebab ia menjadi seorang gadis yang mandiri dan berprestasi. Ia menguasai ilmu beladiri Tae Kwon Do, ia juga dapat menyetir mobil sendiri bahkan menerbangkan pesawat terbang sendiri. Ia ahli dalam berenang dan dapat melakukan banyak hal dengan baik meskipun tanpa tangan. Seorang gadis yang hanya memiliki dua jari di setiap tangannya (crab finger) berkat ketekunan ibu dan pelatihnya dapat menjadi seorang pemain piano meskipun tingkat kecerdasannya rendah. Ia memiliki kemampuan untuk mendengar, mengingat dan memainkan nada-nada dengan permainan pianonya. Ia menjadi inspirasi dan berkeliling dunia memainkan konser tunggal pianonya. Kita melihat, bahwa bahkan di dalam seorang yang memiliki kekurangan dibandingkan dengan orang kebanyakan yang disebut “normal”, Tuhan tetap memberikan talenta berupa potensi yang apabila dapat digali dan ditemukan dapat menyebabkan orang itu berprestasi dengan luar biasa dan menjadi inspirasi bagi orang banyak; menjadi kesaksian bagi kemuliaan nama Tuhan. Di dalam kekurangan dan kelemahan bukan berarti tidak ada potensi yang dapat menjadi talenta.

 

Tuhan menaruh potensi dalam diri Yusuf untuk menjadi pemimpin. Ia memiliki talenta kepemimpinan. Tetapi dalam perjalanan hidupnya ia mengalami suatu pengalaman yang sangat pahit. Ia dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya dan mengembara di negeri Mesir, bekerja di rumah Potifar, difitnah dan dipenjara. Namun demikian Yusuf tidak marah kepada Tuhan dan putus asa, sehingga potensi atau talenta yang ada dalam diri Yusuf tidak tertimbun oleh penderitaan dan kekecewaan. Potensi itu justru muncul dan talentanya berkembang. Yusuf memiliki kemampuan luar biasa dalam pikirannya. Ia memiliki pengetahuan dan hikmat. Ia juga memiliki jiwa kepemimpinan. Itu adalah talentanya Yusuf. Yusuf menyadari bahwa jalan hidupnya yang penuh sengsara adalah cara Tuhan untuk membawanya kepada pencapaian yang luar biasa. Ia menjadi orang nomor dua di Mesir setelah Firaun. Kekuasaannya sangat besar. Ia tidak menyalahkan Tuhan atau saudara-saudaranya. Sebaliknya ia memaafkan mereka dengan tulus. Jika kita tidak menyalahkan Tuhan dan kehidupan ini, sebaliknya menerima dengan ucapan syukur, maka Tuhan akan menolong kita untuk melihat dan menemukan potensi dan talenta kita sehingga kita dapat mengembangkannya untuk menjadi berkat bagi banyak orang dan kemuliaan bagi nama Tuhan.

 

Tuhan juga akan memunculkan potensi bahkan melipatgandakan talenta orang yang menyerahkan hidupnya dan menguduskan hidupnya bagi Tuhan seperti yang dilakukan oleh Daniel dan ketiga sahabatnya di negeri Babel. Daniel memiliki kepandaian dan hikmat yang luar biasa sehingga Daniel menjadi orang yang memiliki kedudukan sangat penting di Babel bersama para sahabatnya. Jika kita menyerahkan diri kita bagi Tuhan maka Tuhan akan memunculkan talenta yang tersimpan sebagai potensi di dalam diri kita.

 

Talenta atau potensi yang ada dalam diri kita tidak akan muncul dan berkembang jika kita “jahat dan malas”  (ayat 26). Kita “jahat” jika kita tidak mengucap syukur dengan keberadaan diri kita karena kita hanya memiliki modal awal satu talenta saja. Sebab meskipun satu, nilainya sangat besar dan jika dijalankan talenta itu akan berkembang.

 

Kemalasan juga adalah yang menyebabkan talenta kita tidak berkembang. Orang yang paling sulit untuk ditolong Tuhan adalah orang yang malas. Orang yang malas bahkan tidak dapat melakukan hal yang paling mudah dan sederhana sekalipun; bukannya tidak mampu, tetapi tidak mau karena malas.

 

Hati yang jahat, yang tidak tahu mengucap syukur, yang kecewa dan marah dengan Tuhan dan menyalahkan Tuhan akan mengubur talenta. Sedangkan kemalasan memperparah masalah sebab akan melumpuhkan orang itu sehingga ia tidak dapat menggali dan mengembangkan talentanya.

 

Sifat yang diperlukan untuk mengembangkan talenta adalah “baik dan setia” (ayat 21 & 23). Baik di sini selain menunjukkan kualitas hati yang menerima dengan mengucap syukur, juga kualitas usaha dalam menjalankan atau mengerjakan talenta yang telah dipercayakan kepadanya. Orang harus mengerjakannya dengan sebaik-baiknya, dengan segenap kemampuannya dan dengan sungguh-sungguh hati. Sedangkan sifat setia akan menyempurnakan usaha kita. Banyak orang dapat mengerjakan dengan baik namun tidak setia sehingga ia tidak memetik buahnya dan menikmati hasilnya. Kesetiaan diuji dan dibuktikan lewat waktu. Di dalam kesetiaan ada ketekunan yang walaupun menghadapi berbagai rintangan dan ujian terus maju dan tetap berusaha.

 

Kesetiaan juga berbicara tentang loyalitas. Tuhan sangat menghargai orang yang setia. Orang yang memiliki dua kualitas kerja ini akan berhasil mengembangkan talentanya sehingga “beroleh laba” atau berlipat ganda.

 

Bagi orang-orang yang berhasil mengembangkan talenta-talentanya sehingga beroleh laba, maka ada tiga hal yang akan diterima orang itu dari Tuhan. Yang pertama, Tuhan akan memberikan penilaian yang baik atas usaha orang itu. Tuhan akan memuji orang itu dan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia...”. Yang kedua, Tuhan akan mempromosikan dia dengan menambahkan kepadanya kemampuan dan otoritas: “engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.” Yang ketiga, Tuhan memberikan pahala dalam kekekalan: “masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (ayat 21 & 22). Perhatikanlah, bahwa pujian dan pahala yang Tuhan berikan sama baik bagi yang berhasil menjalankan lima talentanya maupun yang dua talentanya. Demikian juga jika orang yang memiliki satu talenta itu menjalankannya dan beroleh laba satu talenta. Ia tetap akan mendapat pujian dan dipahalai sama seperti yang memiliki lima dan dua talenta.

 

Sebaliknya bagi orang-orang yang “jahat dan malas”, yang tidak mau menjalankan talentanya, melainkan hanya bisa menggerutu dan tidak melakukan apa-apa, maka Tuhan akan menegur dia dengan keras: “Hai kamu hamba yang jahat dan malas!!” (ayat 26) dan Ia akan mengambil talenta yang dia miliki bahkan “apa pun juga yang ada padanya” (ayat 28, 29), sehingga hidupnya semakin miskin dan sengsara karena kemalasannya dan kejahatan hatinya, dan orang itu pun akan menerima hukuman dalam kekekalan: “campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap...” (ayat 30). Jadi pertimbangkanlah!

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Pemberian (Hadiah) Yang Sempurna

Allah Bapa selalu memberikan pemberian yang sempurna (Yakobus 1:17), mulia dan lengkap bagi manusia. Pemberian Allah Bapa yang sempurna, mulia dan lengkap itu adalah Anak-Nya Yang Tunggal yaitu Yesus Kristus. Yesus dianugerahkan kepada manusia lebih dari sekedar sebagai Juruselamat (Matius 1:21).

 




Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.