top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Mana lebih dahulu: diberkati atau memberkati? PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Monday, 29 March 2010 04:56

Kita sudah sering mendengar para hamba Tuhan menubuatkan tentang akan datangnya “terobosan ekonomi di akhir zaman”, tentang “pengalihan kekayaan bangsa-bangsa” (Hagai 2 : 7 – 9; Yesaya 60 : 5). Kita harus percaya hal itu dan mengaminkannya, jika kita ingin mengalaminya.

 

Kita juga mengetahui panggilan kita sebagai anak-anak Tuhan, keturunan Abraham yang berhak menerima janji-janji Allah (Galatia 3 : 29), yaitu untuk “diberkati dan menjadi berkat” (Kejadian 12 : 2). Kita juga harus percaya akan hal ini dan mengaminkannya, supaya kita mendapat bagian dalam perjanjian itu.

 

Pertanyaannya, bagaimana cara Tuhan menggenapi janji-janji tersebut melalui kehidupan anak-anak-Nya? Apakah Allah harus memberkati kita terlebih dahulu, barulah kita dapat menjadi berkat, atau bagaimana? Ini seperti teka-teki “telur dan ayam” yang mana yang terlebih dahulu?

 

Memang, jika melihat ayat Kejadian 12 : 2, maka urutannya adalah, kita diberkati dahulu, barulah setelah itu kita dapat menjadi berkat. Itu memang logika berpikir yang umum dan biasa. Tetapi Allah kita itu luar biasa! Ia tidak terikat kepada cara atau logika berpikir manusia. Yesaya 55 : 9 mengatakan,  “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Alllah bahkan sering menempuh jalan paradoks, yaitu kebalikan dari cara berpikir manusia pada umumnya.

 

Kita dapat menemukan beberapa contoh peristiwa dalam Alkitab di mana Allah menggunakan cara yang kebalikan dari logika berpikir manusia. Untuk mengalami keberkatan, Allah justru menyuruh kita untuk terlebih dahulu menjadi berkat bagi orang lain. Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Itulah yang disebut mujizat. Itulah yang disebut campur tangan Allah yang ajaib. Itulah yang disebut perkara yang luar biasa. Itulah cara Allah.

 

Lihat saja kisah nabi Elia dan janda miskin di Sarfat (1 Raja-raja 17 : 11 – 14). Ada seorang janda yang sangat miskin. Ia juga memiliki seorang anak yang harus diberinya makan di tengah musim kering yang sangat parah. Yang mereka punyai pada saat itu hanyalah tinggal “tepung segenggam dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli.” Mereka sungguh-sungguh miskin, sebab tepung dan minyak itu hanya dapat dipakai untuk membuat makanan yang hanya cukup untuk dimakan oleh si janda dan anaknya sekali makan saja, dan sesudah itu mereka hanya menunggu mati kelaparan. Tapi sekarang dalam keadaan yang miskin, sengsara dan tidak ada harapan seperti itu, atau sering kita menyebut keadaan itu “tidak diberkati,” Tuhan justru mengutus seorang hamba-Nya untuk meminta makan kepadanya. Ini tidak masuk akal! Bagaimana orang yang miskin dapat menjadi berkat bagi orang lain. Tetapi inilah cara Tuhan yang di luar logika berpikir manusia untuk memberkati si janda itu dan anaknya supaya mereka dapat melewati masa kekeringan dan kelaparan. Si janda itu disuruh untuk memberkati orang lain dahulu, dalam hal ini adalah nabi Elia, sebelum Tuhan memberkatinya. Untungnya si janda itu tidak bersikeras dengan logika berpikir manusia pada umumnya. Ia taat saja kepada apa yang diperintahkan Tuhan melalui hamba-Nya nabi Elia, dan setelah itu kita mengetahui bagaimana Tuhan memelihara si janda dan anaknya itu untuk melewati masa kekeringan dan kelaparan itu.

 

1 Raja-raja 17 : 15 – 16,  “Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.”

 

Hal yang serupa juga Tuhan lakukan kepada Abraham. Abraham tidak mempunyai anak sebab Sarah isterinya mandul. Tetapi Abraham disuruh Tuhan untuk mendoakan Abimelekh dan isterinya yang juga telah ditutup Tuhan kandungannya. Kita mungkin bertanya, bagaimana Abraham yang tidak dapat mempunyai anak disuruh mendoakan orang lain yang juga tidak dapat mempunyai anak. Tetapi Abraham taat dan melakukannya. Doa Abraham didengar Tuhan. Abimelekh dan isterinya dapat mempunyai anak. Dan setelah itu kita membaca bahwa janji Tuhan kepada Abraham digenapi dan Sarah pun mempunyai anak (Kejadian 20 : 17, 18 dan 21 : 1 – 3).

 

Demikian pula dengan pengalaman Petrus. Semalam-malaman Petrus mencari ikan dengan perahunya di danau Galilea, tetapi tidak seekor ikan pun dapat dibawa pulang Petrus dengan perahunya. Dalam keadaan gagal seperti itu datanglah Tuhan Yesus dan meminjam perahu Petrus itu untuk digunakan Tuhan Yesus sebagai mimbar untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Setelah selesai, Tuhan Yesus menyuruh membawa perahu yang ‘gagal’ itu ke tengah danau untuk mencari ikan di siang bolong. Tetapi di situlah mujizat Tuhan terjadi. Petrus berhasil menangkap ikan banyak sekali, sehingga diperlukan perahu tambahan untuk menampung dan membawanya ke darat. Perahu Petrus dipakai Tuhan untuk menjadi berkat dahulu bagi orang lain, kemudian Tuhan memberkati perahu itu dengan tangkapan yang sangat banyak. Itulah cara Tuhan!

 

Prinsip memberkati atau berbuat kepada orang lain terlebih dahulu sebelum kita diberkati ternyata berlaku pula untuk hal lainnya, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan:

 

Matius 7 : 12,  “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka (terlebih dahulu). Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”

 

Demikian juga dalam hal memberi:

 

Lukas 6 : 38,  “Berilah (dahulu) dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

 

Prinsip memberi terlebih dahulu adalah prinsip ekonomi Allah agar kita mengalami terobosan ekonomi dan keluar dari lingkaran setan kemiskinan.

 

2 Korintus 9 : 6,  “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”

 

Yang harus dicamkan di sini bukan hanya dalam prinsip ekonomi Allah yang disebut hukum “tabur-tuai” ini akan terjadi pelipatgandaan tetapi juga perlu diperhatikan untuk menuai kita harus menabur terlebih dahulu. Dalam bahasa bisnis kita harus invest terlebih dahulu sebelum kita menikmati profit.

 

Banyak orang menunggu diberkati terlebih dahulu, barulah mereka berpikir dan berniat untuk memberkati. Tetapi janji ini seringkali juga tidak ditepati, karena banyak orang yang sudah diberkati tetapi mereka tetap enggan untuk memberkati. Kalaupun mereka memberi, mereka memberi ala kadarnya saja. Tetapi jika kita ingin melihat mujizat Allah dalam bidang ekonomi atau mengalami terobosan Allah, kita harus berani melakukan tindakan iman untuk memberkati orang lain dahulu dengan cara apapun yang kita bisa, bukan hanya dengan uang atau harta kita. Dan ini kita lakukan meskipun keadaan kita pada waktu itu belum baik, belum berhasil, “belum diberkati” atau malah sedang mengalami masalah. Kita tidak menunggu terlebih dahulu sampai keadaan menjadi baik dan kita diberkati berlimpah-limpah setelah itu baru kita bergerak untuk memberkati.

 

Ketika saya dan pak Simon berkunjung ke sekolah asrama milik Yayasan Bukit Pengharapan di Balai Karangan, Kalimantan Barat, kami sangat tertarik dengan proyek tersebut sebab kami melihat Allah sedang berkarya dengan luar biasa di sana. Kami ingin ikut serta dalam pekerjaan Allah di sana dan menjadi bagian dari rencana dan pekerjaan Allah di sana. Jadi kami sepakat untuk “berinvestasi” di sana dan ikut berkontribusi secara tetap dalam proyek yang dikelola oleh Bapak Pdt. Sam Soukotta dan isterinya, Ibu Carol. Malam itu kami bersepakat untuk “menabur benih” di tempat itu dengan memberikan semua uang perjalanan yang kami bawa dan menyisakan sedikit saja untuk membayar taksi pulang dari perbatasan Entikong ke bandara Kuching. (Kami jalan memutar dari Bandung melalui Kuala Lumpur, kemudian ke Kuching dan lewat darat ke perbatasan Entikong untuk menuju Balai Karangan).

 

Setelah Pak Sam dan Ibu Carol berkenan menerima “taburan benih” kami, kami lalu meminta mereka untuk berdoa bagi kami dan mengimpartasikan hati misi mereka, semangat dan beban mereka kepada kami. Kami berlutut didoakan oleh kedua hamba Tuhan itu. Saat didoakan saya merasakan ada sesuatu yang basah mengalir dari kepala ke leher saya. Tadinya saya pikir itu air mata ibu Carol. Tetapi ketika selesai berdoa saya mengusap leher saya ternyata kering. Saya rasa Roh Kudus mengurapi kami pada waktu itu.

 

Malamnya, saya tidak dapat tidur nyenyak sebab saya seperti bermimpi dan melihat sesuatu secara berulang-ulang. Saya melihat sebuah kran besi (gate valve) yang besar dengan ukuran diameter kira-kira 50 cm, dengan kedua ujungnya terbuka (belum tersambung dengan pipa). Pegangan kran itu seperti stir mobil dari besi yang besar dan sangat kokoh. Kran itu tergeletak di lantai dan belum disambungkan ke mana-mana. Saya bertanya kepada Tuhan: “Mengapa itu tidak disambungkan ke pipa?” Jawab-Nya: “Karena sedang dipersiapkan dahulu. Kotoran yang telah menjadi kerak di dalamnya sedang dibersihkan dan sekrup pada pegangan krannya sedang dikencangkan.” Setelah itu kran itu disambungkan tetapi bukan ke pipa in-let yaitu yang menerima aliran air dari sumber terlebih dahulu, tetapi ke pipa out-let, yaitu yang menyalurkan aliran air untuk digunakan. Saya bertanya mengapa tidak disambungkan dahulu ke pipa in-let atau ke sumber airnya? Jawab Tuhan: “Sebab jika disambungkan dahulu ke sumber airnya, tekanan airnya terlalu besar untuk ditahan. Dan jika untuk mengurangi tekanan kran itu dibuka, maka airnya akan terbuang ke mana-mana dengan percuma.” Jadi Tuhan menyambungkan kran itu ke saluran pemakainya terlebih dahulu, yaitu saluran keluaran (out-let) yang ukurannya sesuai dengan ukuran kran tersebut. Setelah tersambung barulah Tuhan menyambungkannya dengan sumber airnya dan membuka kran tersebut sehingga air mengalir dengan deras dari sumber air ke pipa penggunanya.

 

Penglihatan itu diulangi tiga kali dan saya melakukan tanya jawab seperti di atas tiga kali pula. Setelah itu, menjelang pagi barulah saya dapat tidur nyenyak. Setelah bangun, saya berdoa kepada Tuhan dan merenungkan apa yang Tuhan semalam ajarkan kepada saya. Paginya saya menceritakan hal ini kepada pak Simon.

 

Kami mengerti, selama ini kami diproses dan dipersiapkan Tuhan. Kami dibersihkan agar memiliki motivasi yang tulus dan kerendahan hati. Batin kami diperkuat supaya tahan menghadapi pencobaan ketika berkat berlimpah itu dialirkan melalui kehidupan kami. Kami menyadari bahwa keberkatan itu juga adalah suatu pencobaan. Setelah itu kami tidak segera dihubungkan ke sumber kekayaan, tetapi terlebih dahulu dihubungkan dengan kehendak dan rencana Allah, proyeknya Allah, yang sesuai dengan kapasitas dan kasih karunia yang kami peroleh dari Tuhan. Setelah kami menemukan atau terhubung dengan proyek Kerajaan Allah yang diperuntukkan bagi kami, barulah Allah akan menyambungkan kami kepada saluran kekayaan bangsa-bangsa dan mengalirkan kekayaan bangsa-bangsa itu kepada kami untuk disalurkan kembali kepada proyeknya Allah. Kami adalah krannya Allah. Melalui kami Allah mau menyalurkan berkat-Nya yang berlimpah. Kami harus ditempatkan pada posisi yang tepat dahulu, yaitu menjadi berkat dan terhubung dengan proyeknya Allah, barulah Allah akan menghubungkan kami kepada kekayaan bangsa-bangsa. Kami ditempatkan Allah pada posisi strategis di mana aliran kekayaan bangsa-bangsa akan dialirkan ke dalam Kerajaan-Nya.

 

Kami mengerti sekarang bagaimana Allah menggenapi kehendak-Nya dan janji-janji-Nya untuk membuat kami diberkati dan menjadi berkat, yaitu dengan menjadi berkat terlebih dahulu sehingga Allah akan segera memberkati kami dengan kelimpahan-Nya. Moto kami sekarang adalah: Menjadi kaya untuk Tuhan dan untuk rencana-Nya!

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Bagaimana Menjadi Pribadi Yang Tangguh

Bagaimana kita harus bersikap ketika kita dihadapkan kepada situasi “yang tidak menyenangkan” dan kita tidak bisa mengubahkan situasi itu menurut yang kita inginkan? Kita dapat belajar dari kisah hidup seorang yang bernama Lea,  salah seorang isteri Yakub.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday316
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2866
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14579
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908754

People Online 22
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:40



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.