news menu leftnews menu right
top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
-------------------------------------------------------
Email kami : kbnindo@gmail.com Read more...


PERTEMUAN KBN AGUSTUS 2014 : Minggu, 24 AGUSTUS 2014 Pk 17.00, "Tema : Waktu & Kesempatan oleh : Bapak Marco ", Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh EMAIL kami : kbnindo@gmail.com
Mengalami Perjumpaan Yang Indah Dengan Tuhan Yesus PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Thursday, 29 July 2010 07:54

Perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus merupakan suatu peristiwa yang sangat luar biasa, sebab itu akan mengubah kehidupan kita secara luar biasa. Itu akan mengubahkan sikap dan pandangan kita terhadap Tuhan dan firman-Nya. Itu akan mengubahkan ibadah dan pelayanan kita. Itu akan mengubahkan pandangan kita akan dunia ini.

 

Semuanya diubahkan dengan luar biasa ketika mengalami perjumpaan pribadi dengan Dia. Saulus, penganiaya orang Kristen, ketika berjumpa dengan Tuhan Yesus dalam perjalannya menuju Damsyik (Kisah Para Rasul 9 : 1 – 19) berubah menjadi seorang rasul yang sangat berani dan setia dalam mengabarkan Injil Kristus. Zakheus, pemungut cukai yang licik dan kikir, ketika berjumpa dengan Yesus (Lukas 19 : 1 – 10) berubah menjadi seorang yang murah hati. Demikian pula dengan Matius yang ketika berjumpa dengan Yesus segera meninggalkan pekerjaannya sebagai pemungut cukai dan menjadi murid Yesus (Matius 9 : 9 – 13). Orang gila di Gerasa ketika berjumpa dengan Tuhan Yesus dilepaskan dan disembuhkan secara total. Ia menjadi orang yang waras dan bahkan menjadi pemberita Injil di kotanya (Lukas 8 : 26 – 39).

 

Betapa hebatnya Tuhan Yesus! Setiap orang yang mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Dia hidupnya langsung diubahkan secara luar biasa. Banyak orang Kristen hanya menjadi anggota gereja dan hidup biasa-biasa saja, pelayanan dan ibadahnya biasa-biasa saja, karena belum mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus.

 

Bagaimana supaya kita beroleh kemurahan untuk mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus? Apa yang dapat membuat kita dapat mengalami perjumpaan dengan Dia? Apa pula yang menyebabkan orang tidak dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Marilah kita belajar dari kisah perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang dialami oleh seorang yang buta dari sejak lahirnya. Kisahnya tertulis dalam Yohanes 9 : 1 – 38.

 

Pada ayat 1 kita langsung membaca “Waktu Yesus lewat, Ia melihat...” Oh, saudaraku! Kiranya ketika Yesus lewat di dekat kita, Ia melihat kita; berkenan memandang kita, mengarahkan wajah-Nya kepada kita. Adalah berkat yang sungguh luar biasa apabila ketika Tuhan Yesus lewat Ia mengarahkan pandangan-Nya kepada kita.

 

“TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bilangan 6 : 26)

 

Lalu pada ayat 1 itu kita membaca “Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.” Perhatian utama Yesus sebenarnya bukan kepada kebutaan orang itu, sebab ada banyak orang buta di Israel. Tetapi yang menjadi perhatian utama-Nya adalah bahwa orang buta itu memiliki “hati” yang memungkinkan dia untuk mengalami perjumpaan dengan-Nya dan memungkinkan Tuhan untuk menjamahnya.

 

Meskipun orang itu buta, tetapi mata batinnya melihat, tidak seperti orang Farisi yang mengaku melihat tetapi mata batinnya buta (ayat 40, 41). Banyak orang mata jasmaninya celik tetapi mata rohaninya buta. Secara jasmani kaya tetapi rohaninya miskin dan melarat (Wahyu 3 : 17). Secara jasmaninya sehat tetapi rohaninya sakit dan mati. Tetapi sebaliknya jika saudara dalam keadaan miskin secara materi tetapi saudara kaya secara rohani, maka saudara memiliki harapan untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus. Dan ketika saudara berjumpa dengan Dia, Tuhan Yesus akan mengubahkan hidupmu sehingga saudara akan dilepaskan dari kemiskinanmu dan menjadi berkat bagi orang banyak serta membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Mungkin saudara sakit secara jasmani, tetapi jika rohani saudara sehat dan kuat, saudara dapat mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, dan Tuhan Yesus Tabib Yang Agung itu akan menyembuhkan saudara seketika itu juga.

 

Demikian pula dengan orang yang buta ini, ia memiliki mata batin yang melihat, itulah sebabnya di mata Tuhan ia memiliki harapan untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan dicelikkan. Tuhan melihat orang buta itu sebab Ia melihat mata batinnya celik dan melihat dengan benar.

 

Dalam peristiwa ini orang buta itu dikontraskan dengan orang-orang lain yang tidak dapat mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan (pastikan bahwa kita tidak seperti mereka), yaitu:

 

“Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (ayat 2)

 

Ini adalah tipe orang-orang yang suka menganalisa masalah dan mendiskusikannya karena mereka adalah orang-orang yang rasional dan berpendidikan. Tetapi mereka lebih senang mencari “penyebab” masalah dan bukannya mencari “jawaban” atas masalah itu. Mereka berpikiran negatif dan suka menyalahkan karena mereka tidak dapat melihat masalah dari sudut pandang Allah. Mereka tidak dapat melihat rencana dan kehendak Allah yang baik di balik masalah. Orang-orang seperti ini sukar untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah. Mereka tidak dapat melihat bahwa dalam setiap masalah Allah memiliki rencana dan kehendak yang indah untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

 

Jika kita memiliki pikiran yang terbuka terhadap karya dan rencana Allah, kita justru akan mengalami perjumpaan dengan Allah melalui masalah. Si pengemis buta itu dapat berjumpa Yesus melalui kebutaannya. Bahkan kita akan menemukan “mas” (berkat) yang tersembunyi dan disimpan Allah di balik masalah. Jadi dalam masalah kita dapat menemukan “mas” dan “Allah.”

 

“Jawab Yesus: Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” (ayat 4 – 5).

 

Tuhan Yesus tidak menyalahkan siapa-siapa atas keadaan yang diderita oleh orang buta itu; tidak dia dan tidak juga orang tuanya. Tetapi ada rencana Allah, yaitu:

  1. Karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan (dimanifestasikan) di dalam dia.
  2. Jika kita menjumpai masalah artinya ada pekerjaan Allah yang harus kita lakukan; itu adalah kesempatan untuk Allah bekerja melalui kita.
  3. Masalah adalah “periode gelap” dalam hidup seseorang dan tugas kita sekarang adalah menjadi “terang dunia”, memberikan terang, pencerahan, jawaban kepadanya. Inilah tugas yang diserahkan Tuhan Yesus kepada kita sekarang setelah Ia kembali ke sorga.

 

“Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: Bukankah dia ini, yang selalu mengemis? Ada yang berkata: Benar, dialah ini. Ada pula yang berkata: Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” (ayat 8 – 9)

 

Ini adalah tipe orang-orang yang meragukan karya Tuhan. Mereka sering kali orang-orang yang mengenal kita sehari-hari. Mereka bisa jadi keluarga, orang-orang dekat dan para tetangga. Itulah juga yang dialami dan dikeluhkan Yesus terhadap orang-orang yang merasa mengenal Dia karena mereka adalah sanak saudara dan tentangga-Nya. Mereka merasa “mengenal” dan sudah “terbiasa” (familiar) sehingga mereka sukar percaya. Orang-orang seperti ini pun sukar untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan.

 

“Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya. Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” (Matius 13 : 57 – 58)

 

Tipe orang ketiga yang sukar mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus adalah tipe “orang Farisi.”

 

“Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat. Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka.” (ayat 13 – 16)

 

Ini adalah tipe orang-orang yang legalistik agamawi. Mereka adalah yang “menyimpan Tuhan dalam kotak aturan agama mereka.” Tuhan tidak dibebaskan untuk berkarya sesuai dengan kehendak-Nya jika itu keluar dari “kotak” atau “bingkai” agama yang selama ini mereka pegang. Mereka selalu membatasi pekerjaan Allah dan membatasi cara Allah bekerja. Mereka lebih mementingkan aturan dan tradisi agama daripada karya Allah yang penuh kebaikan dan kemurahan, dan yang bekerja dalam cara yang tidak pernah kita pahami atau mengerti sebelumnya. Mereka selalu ingin tahu tapi tidak mau percaya!

 

Tipe yang keempat adalah tipe orang yang meskipun telah melihat kenyataan Allah tapi tidak berani mengakuinya apalagi menyaksikannya karena takut resiko di tolak atau dicemooh oleh orang-orang. Mereka cenderung mereduksi karya Allah, mujizat Allah menjadi sekedar “kebetulan” atau “hanya sugesti” atau “itu bisa terjadi” dan karena “yang di atas,”  tanpa mau mengakui kemuliaan dan kuasa Tuhan Yesus Kristus.

 

“Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan.” (ayat 22)

 

Tetapi sekarang bandingkan dengan “si pengemis buta.” Kita akan melihat perbedaan yang besar dan mengakui bahwa ia memiliki sesuatu yang berbeda, yaitu “hati” yang menyebabkan Tuhan ingin berjumpa dengan dia. Kiranya kita memiliki hari seperti orang ini.

 

“...dan (Yesus) berkata kepadanya: Pergilah......Maka pergilah orang itu” (ayat 7).

 

Inilah keistimewaan orang itu. Ia taat tanpa banyak bertanya dan berbantah-bantah. Ia suka mendengar dan melakukan firman Allah. Kebanyakan orang suka mendengar tetapi tidak sungguh-sungguh berniat untuk melakukannya. Jika kita ingin mengalami perjumpaan dengan Tuhan, milikilah hati dan sikap yang taat. Tuhan berkenan untuk menjumpai orang-orang yang taat, bukan para pembangkang dan pemberontak.

 

“Benar, akulah itu” (ayat 9)

 

Di tengah perdebatan dan keraguan para tetangganya tentang mujizat yang baru saja terjadi atas dirinya, orang ini berani dengan lantang mengakuinya. Tuhan hanya mau berjumpa dengan orang-orang yang berani mengakui karya-Nya di hadapan manusia, meskipun orang banyak meragukannya. Banyak orang diam-diam saja atau bahkan malu atau tidak berani mengakui karya Tuhan dalam hidupnya.

 

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 10 : 32, 33)

 

“Jawabnya: Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.” (ayat 25)

 

Dasar pengakuan iman orang ini bukanlah “pendapat” atau “apa kata orang” tetapi atas kenyataan yang ia alami sendiri, sehingga kesaksiannya itu teguh dan tidak tergoyahkan.

 

“Jawab orang itu kepada mereka: Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.” (ayat 30 – 33)

 

Meskipun orang ini hanya seorang pengemis buta, tetapi pemahamannya akan kebenaran firman Allah luar biasa, bahkan jauh lebih baik daripada pemahaman orang-orang Farisi. Ia tahu dan yakin benar bahwa mujizat yang telah terjadi atas hidupnya itu bukanlah suatu kebetulan belaka dan bahwa Orang yang melakukannya pastilah seorang yang saleh dan benar dan yang datang (diutus) oleh Allah. Ia tahu dan yakin bahwa tanpa kuasa Allah orang tidak dapat berbuat apa-apa. Inilah yang menyebabkan Tuhan memalingkan wajah-Nya kepadanya. Orang yang seperti inilah yang menarik perhatian Tuhan. Di mata Tuhan ia lebih bijak dan berhikmat dari orang Farisi.

 

Tetapi orang Farisi begitu sombong dan angkuh sehingga meskipun orang ini mengatakan kebenaran, dan sebenarnya dalam hati mereka juga mengakuinya, tetapi mereka terlalu sombong untuk mengakuinya, sehingga mereka bahkan memarahi orang itu karena merasa telah “digurui” oleh seorang pengemis yang terlahir buta.

 

“Jawab mereka: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar.” (ayat 34)

 

Tetapi orang ini begitu berani menanggung resiko demi kesaksian atas mujizat yang telah ia alami. Ia pada akhirnya “diusir” oleh orang-orang Farisi. “Diusir” oleh para tokoh agama pada zaman itu artinya “dikucilkan”, dianggap “murtad” dan itu adalah “sanksi sosial” yang amat berat. Namun, Tuhan Yesus itu setia. Ketika kita ditolak dunia karena Dia, maka Tuhan justru menerima kita.

 

Yang juga istimewa dari orang ini adalah pertumbuhannya dalam pengenalan akan Tuhan Yesus. Pada awal pengenalannya akan Tuhan ia mengatakan:

 

“Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat. Lalu mereka berkata kepadanya: Di manakah Dia? Jawabnya: Aku tidak tahu.” (ayat 11)

 

Ia menyebut “orang yang disebut Yesus” dan di mana Yesus ada “aku tidak tahu” katanya. Ini wajar karena ia sebelumnya tidak mengenal Yesus dan tidak pernah melihat Yesus sebab ia buta. Tetapi pengenalannya tidak berhenti sampai di situ. Ketika orang Farisi memperdebatkan “keaslian” mujizat yang telah terjadi dari kacamata agama dan doktrin mereka, orang ini malah semakin yakin dan mengenal siapa Yesus. Pernyataannya yang sekarang lebih baik lagi dari yang sebelumnya.

 

“Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu? Jawabnya: Ia adalah seorang nabi.” (ayat 17)

 

Dan ia yakin bahwa Yesus datang dari Allah, diutus oleh Allah, memiliki otoritas dari Allah untuk melakukan mujizat itu.

 

“Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.” (ayat 33)

 

Akhirnya, ketika Yesus mengetahui bahwa orang itu telah diusir dan dikucilkan, maka Yesus pun datang menjumpai dia. Perjumpaan pribadi yang indah itu akhirnya terjadi. Yesus memutuskan untuk menjumpai orang itu secara pribadi karena melihat hati orang itu dan kerinduannya untuk mengenal Dia lebih lagi.

 

“Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya."  Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!" Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya.” (ayat 35 – 38)

 

Oh, suatu perjumpaan yang indah! Ketika dunia menolak kita, Tuhan Yesus justru menyambut kita. Ketika orang tidak mengenal Dia, Tuhan Yesus justru menyatakan diri-Nya kepada kita. Orang itu begitu percaya kepada Yesus. Ia ingin mengenal-Nya dan menyembah-Nya, maka Tuhan pun datang menjumpai Dia dan mengatakan: Engkau bukan saha melihat Dia tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu! Haleluya! Kiranya kita boleh mengalami sendiri perjumpaan yang manis dan indah ini. Perjumpaan yang akan mengubah hidup kita selamanya. Perjumpaan yang akan membawa kepada perubahan yang indah dalam ibadah maupun pelayanan kita. Amin

 
Please register or login to add your comments to this article.


Newsflash

Mengalami Perjumpaan Yang Indah Dengan Tuhan Yesus

Perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus merupakan suatu peristiwa yang sangat luar biasa, sebab itu akan mengubah kehidupan kita secara luar biasa. Itu akan mengubahkan sikap dan pandangan kita terhadap Tuhan dan firman-Nya. Itu akan mengubahkan ibadah dan pelayanan kita. Itu akan mengubahkan pandangan kita akan dunia ini.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1314
mod_vvisit_counterYesterday1616
mod_vvisit_counterThis week2930
mod_vvisit_counterLast week7828
mod_vvisit_counterThis month1314
mod_vvisit_counterLast month17435
mod_vvisit_counterAll153971

People Online 21
Your IP: 54.205.99.71
,
Now is: 2014-09-01 18:29



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.