news menu leftnews menu right
top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
-------------------------------------------------------
Email kami : kbnindo@gmail.com Read more...


PERTEMUAN KBN AGUSTUS 2014 : Minggu, 24 AGUSTUS 2014 Pk 17.00, "Tema : Waktu & Kesempatan oleh : Bapak Marco ", Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh EMAIL kami : kbnindo@gmail.com
Rahasia Kehidupan Rohani Yang Kokoh Dan Berbuah PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Friday, 04 February 2011 06:34

Banyak orang Kristen sekarang yang imannya begitu rapuh. Ketika mereka mengalami masalah mereka seolah tidak memiliki iman untuk menghadapinya. Mereka banyak yang undur dari ibadah dan pelayanan, bahkan ada yang sampai meninggalkan Tuhan. Padahal selama ini kelihatannya mereka rajin ke gereja dan juga terlibat dalam pelayanan. Padahal mereka senang mendengar khotbah dan bersemangat. Tetapi ketika mereka mengalami pencobaan seolah-olah firman yang mereka dengar itu tidak ada “bekasnya” sama sekali. Mereka berlaku seperti orang yang tidak percaya. Mengapa dapat terjadi demikian?

 

Saya teringat kepada perumpamaan yang diceritakan Tuhan Yesus dalam Matius 13 : 20 – 21:  “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.”

 

Ya, mereka adalah yang mendengar firman dan “segera menerimanya dengan gembira” tetapi masalahnya mereka “tidak berakar.”  Apa maksudnya berakar di sini?

 

Akar adalah bagian dari pohon yang terletak di bawah dan “tidak kelihatan” tetapi yang sangat menentukan “yang kelihatan”, yaitu apakah pohon tersebut kokoh, bertumbuh dan berbuah. Kehidupan rohani kita diumpamakan seperti pohon. Tuhan ingin supaya “pohon” kerohanian kita bertumbuh dan berbuah lebat, dan “berakar”  adalah aktivitas rohani kita yang “tidak kelihatan” tetapi menentukan perkembangan rohani kita yang kelihatan.

 

Ya, yang tidak kelihatan menentukan yang kelihatan. Seperti halnya organ tubuh kita yang tidak kelihatan, misalnya: otak, jantung, paru-paru, jaringan syaraf, lambung, hati dan sebagainya, menentukan “kehidupan” kita yang kelihatan.

 

Pergi ke gereja, menyanyi dan berdoa di gereja, mendengarkan khotbah, melayani di gereja adalah “aktivitas rohani yang kelihatan.” Orang dapat dengan mudah melihatnya, sehingga jika kita mulai lalai, mundur atau mogok, orang-orang, khususnya gembala gereja atau para pengerja lainnya, mungkin mulai menegur kita, menasihati kita dan menguatkan kita agar kita giat dan bersemangat kembali. Tetapi siapa yang melihat aktivitas rohani (ibadah) kita di rumah (di luar gereja), seperti persekutuan pribadi kita dengan Allah dalam doa dan membaca Alkitab?  Padahal ibadah sehari-hari kita di rumah, yang luput dari perhatian orang atau gembala kita, sangat menentukan pertumbuhan rohani kita apakah ia dapat kokoh dalam menghadapi berbagai pencobaan dan ujian, dan tetap bertumbuh dan bahkan menghasilkan buah.

 

Yeremia 17 : 8,  “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”

 

Tetapi masalahnya, banyak orang Kristen hanya memperhatikan dan menjaga aktivitas atau ibadah rohani yang kelihatan saja, seperti ke gereja dan melayani, sementara ibadah pribadinya diabaikan dan terbengkalai. Banyak orang senang mendapat pujian dan penghargaan atas kesetiaan dan kerajinannya dalam ibadah dan pelayanan di gereja. Ibadah dan pelayanan gereja itu baik. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan itu merupakan suatu keharusan. Jangan salah mengerti, sebab pohon yang punya akar saja dan tidak memiliki batang, daun, bunga dan buah adalah tidak sempurna dan tidak berguna. Tetapi yang dimaksudkan di sini adalah janganlah kita puas hanya karena kita telah melakukan kewajiban ibadah dan pelayanan kita di gereja dan mengabaikan ibadah pribadi yang tidak kelihatan. Jangan hanya menjaga ibadah yang “kelihatan” apalagi jika itu hanya untuk mendapatkan pujian dan penghargaan manusia.

 

Matius 6 : 5 – 6,  “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

 

Aktivitas ibadah pribadi kita di rumah adalah seperti akar yang terus bertumbuh dan menjadikan pohon rohani kita kokoh dan kuat dan dapat bertumbuh subur serta berbuah.

 

Akar juga dapat disamakan dengan fondasi suatu bangunan. Fondasi adalah bagian bangunan yang tidak kelihatan tetapi menentukan kokoh tidaknya suatu bangunan. Bangunan yang tinggi dan besar memerlukan fondasi yang dalam dan kokoh. Memang, investasi untuk membangun fondasi seolah tidak terlihat hasilnya, jika dibandingkan dengan investasi untuk membuat dinding, lantai, atap dan juga interior ruangan. Tetapi lupakan semua itu jika kita tidak memiliki fondasi yang kuat dan memadai. Semua itu akan hancur kemudian ketika terjadi goyangan. Hanya jika kita telah membangun fondasi yang kuat dan memadai barulah kita dapat membangun di atasnya bangunan yang kokoh dan indah.

 

Kolose 2 : 7,  “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

 

Jika ingin kehidupan kita kokoh dan kuat, dan tetap bertumbuh dan berbuah, meskipun diterpa angin pencobaan.....berakarlah! Jika ingin membangun bangunan rohani yang tinggi dan kokoh....bangunlah fondasi yang dalam dan kokoh!

 

Sebenarnya jika akar rohani kita kuat maka kita akan memiliki kekuatan untuk mengatasi pencobaan tanpa harus bergantung kepada pertolongan manusia, sebab kekuatan Allah yang kita serap melalui akar rohani kita cukup memberi kita kekuatan untuk mengalahkannya.

 

Ada cerita tentang sebuah pohon yang dapat tumbuh bahkan di tempat yang gersang dan diterpa angin gurun yang panas dan sengatan matahari yang terik, namun ia tetap tumbuh dengan subur dan menghasilkan buah yang sangat manis. Itulah “pohon kurma.” Bagaimana pohon itu bisa tumbuh dan bertahan terhadap kondisi yang ektstrim yang tidak memungkinkan bagi pohon lain untuk tetap hidup, dan malah pohon ini dapat menghasilkan buah yang manis? Inilah kisah di balik pertumbuhannya yang ajaib itu.

 

Diceritakan, bahwa ketika orang menanam benih pohon korma, maka setelah benih itu ditanam di tanah, sebuah batu besar diletakkan di atasnya. Ini mengakibatkan pohon itu tidak dapat bertumbuh ke atas karena tertindih oleh batu yang berat itu. Beban yang berat yang menindihnya itu menyebabkan pohon itu bertumbuh “ke bawah”, yaitu merambatkan akarnya terus ke bawah untuk mencapai sumber air bawah tanah. Setelah akar itu cukup kuat dan dapat menyerap air maka mulailah pohon itu memiliki kekuatan untuk menumbuhkan batangnya ke atas. Dan ketika batang itu mulai tumbuh maka ia memiliki kekuatan untuk menggulingkan batu berat yang menindisnya. Batu itu pun tergolek dan pohon itu melanjutkan pertumbuhannya dan menjadi pohon yang kokoh dan kuat untuk menghadapi kondisi ekstrim padang gurun dan bahkan menghasilkan buat yang sangat manis.

 

Begitulah dengan kehidupan rohani kita. Jika akar kita dapat mencapai “Sumber Air Hidup” maka kita akan memiliki cukup kekuatan untuk “menyingkirkan” beban berat yang selama ini menindih kita dan kita akan bertumbuh menjadi pribadi yang kuat yang dapat menghadapi berbagai keadaan dan masalah dalam hidup kita, bahkan hidup kita akan berbuah dengan lebat (Yeremia 17 : 8).

 

Apakah anda seorang pebisnis atau profesional, apakah anda seorang anggota gereja yang setia dan melayani di gereja anda, jangan pernah lupa untuk terus berakar dan memperdalam serta mengokohkan cengkraman akar rohani anda. Dengan akar yang kokoh maka kehidupan rohani kita akan bertumbuh dan berbuah, dan tetap tegar meskipun diterpa berbagai angin pencobaan dan masalah.

 

Apa saja aktivitas rohani yang digambarkan sebagai “akar”  atau “fondasi” kehidupan rohani kita? Itulah ibadah pribadi kita sehari-hari di rumah, yaitu berdoa dan membaca serta merenungkan Firman Allah.

 

Doa pribadi adalah cara untuk mendapatkan kekuatan dari Allah untuk menghadapi berbagai masalah sepanjang hari yang akan kita jalani. Kita harus memiliki waktu yang cukup untuk duduk berdoa di dalam hadirat Allah guna menerima pasokan kasih karunia dari Allah yang merupakan energi rohani kita untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini. Jangan terburu-buru seolah-olah Allah atau bersekutu dengan-Nya bukan hal yang penting dan dapat diabaikan. Beri waktu yang istimewa di mana kita dapat “berduaan” dengan Allah untuk bersekutu dengan Allah dalam keintiman.

 

Rata-rata orang jaman sekarang, khususnya di perkotaan, memiliki hand phone sebagai alat komunikasi. Kita seolah-olah tidak dapat hidup tanpanya. Supaya hand phone itu bisa dipakai, ia harus di-charge secara berkala untuk waktu yang cukup. Jika tidak cukup di-charge, maka anda akan mendapati hand phone anda “low-battery” atau kekurangan tenaga untuk dapat dipakai berkomunikasi. Jika hand phone saja perlu untuk di-charge supaya dapat memiliki cukup energi untuk dipakai, demikian juga dengan kehidupan rohani kita. Paling sedikit kita memerlukan satu jam untuk berdoa setiap hari. Jika kita “tidak betah” untuk berdoa, bercakap-cakap dengan Tuhan paling sedikit satu jam, itu menunjukkan kita “tidak akrab” dengan Dia. Seorang yang akrab atau bahkan sedang jatuh cinta, akan merasakan waktu satu jam bercakap-cakap itu sangat singkat sekali. Tetapi jika kita bercakap-cakap dengan orang yang tidak kita sukai, rasanya satu menit saja sudah terlalu lama. Kita merasa tidak betah dan ingin segera beranjak meninggalkan dia. Bagaimana seandainya Tuhan bertanya, “Tidak sanggupkah engkau bersekutu dengan-Ku satu jam saja? Apakah Aku tidak penting bagimu? Apakah engkau merasa tidak nyaman bersekutu dengan-Ku?” Apa jawab kita seandainya Tuhan menanyakan hal itu? Marilah kita membangun keintiman dengan Tuhan. Berikan waktu yang terbaik setiap hari di mana anda merasa dapat nyaman dan tidak terganggu untuk bersekutu dan berbicara dengan Tuhan dalam hadirat-Nya.

 

Jika kita membiasakan diri untuk bersekutu dalam keintiman dengan Tuhan, maka kita akan merasakan “kekuatan Allah” yang diimpartasikan-Nya ke dalam roh kita sehingga kita merasa kuat dan sanggup untuk menghadapi hari-hari hidup kita yang penuh tantangan dan merasakan sukacita dan damai sejahtera yang melampaui akal manusia menjagai hati dan pikiran kita.

 

Yesaya 40 : 31,  “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

 

 

Kita juga dapat berdoa setiap saat di dalam Roh:

 

Efesus 6 : 18, “....Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus”

 

Artinya, meskipun kita sudah beranjak dari doa pribadi kita dan keluar dari ruang doa kita, kita masih dapat terus berdoa di dalam roh kita bersama dengan Roh Kudus. “Mesin doa” di dalam batin kita dapat terus aktif, karena Roh Kudus berdoa bersama roh kita:

 

Roma 8 : 26 – 27,  “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.”

 

Jika kita senantiasa dapat bersekutu dengan Allah melalui doa kita bersama Roh Kudus, maka kita akan senantiasa mendapatkan pasokan kekuatan dari sorga. Kita akan merasakan kekuatan illahi bekerja di dalam dan melalui kita, mengatasi berbagai masalah dan tantangan.

 

Di samping doa pribadi yang intensif kita juga perlu membaca dan merenungkan firman Allah setiap hari. Jika doa seperti air bagi akar, maka firman adalah “nutrisi” bagi akar. Jika akar kita tumbuh kuat, maka pencobaan dan masalah hanyalah merupakan hembusan angin dan tindisan batu yang akan membuat akar semakin tumbuh dan mencengkram.

 

Nutrisi yang paling cocok untuk rohani kita adalah firman Allah. Sebagaimana tubuh jasmani memerlukan makanan yang bersifat materi, maka rohani kita memerlukan makanan yang juga rohani sifatnya, yaitu firman Allah.

 

Ulangan 8 : 3 : “......manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.”

 

Ya, bagaimanakah rohani kita akan hidup dan kuat untuk bertahan jika kita tidak memberinya makanan yang sesuai. Padahal membaca, merenungkan serta menerapkan firman Allah itu adalah kunci keberhasilan dan keberuntungan:

 

Yosua 1 : 7 – 8,   “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”

 

Kita tahu bahwa selain usaha dan kerja keras serta ketekuanan kita juga memerlukan satu faktor, yaitu keberuntungan. Firman Tuhan di atas menunjukkan jalan kepada kita bagaimana agar berhasil dan beruntung.  

 

Ada sekelompok eksekutif perusahaan-perusahaan besar di Amerika yang membiasakan diri untuk bangun lebih pagi dan mengadakan “meeting” pribadi dengan Allah, Sang Super Boss, sebelum mereka menjalankan aktivitas bisnis mereka. Mereka memberikan waktu terbaik mereka di pagi hari untuk bersekutu dan menerima kekuatan baru serta hikmat Allah melalui pembacaan dan perenungan firman Allah, sehingga mereka dapat menjalani aktivitas mereka dengan kekuatan, semangat dan inspirasi dari sorga yang mereka dapatkan dari persekutuan pribadi itu. Melalui persekutuan (ibadah) pribadi itu mereka dapat merasakan penyertaan Tuhan dalam menjalankan aktivitas bisnis dan profesi mereka. Kita tahu bahwa penyertaan Tuhanlah yang telah membuat Yusuf, Daud, Daniel dan kawan-kawannya berhasil dalam setiap usaha dan pekerjaan yang mereka lakukan.

 

Kejadian 39 : 2,  “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.”

 

1 Samuel 18 : 14,  “Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai dia.”

 

Marilah kita membangun fondasi (akar) rohani kita dengan bersekutu dengan Allah dan merenungkan firman-Nya setiap hari dengan setia.

 
Please register or login to add your comments to this article.


Newsflash

Perjumpaan Dengan Roh Kudus

Perjumpaan dengan Roh Kudus adalah suatu peristiwa di mana Roh Kudus datang menghampiri kita dan memanifestasikan kehadiran dan kuasa-Nya. Ini adalah “puncak” dari persekutuan kita secara pribadi dengan Roh Kudus yang kita bina dan kita pelihara setiap hari. Peristiwa perjumpaan dengan Roh Kudus ini, dikenal sebagai pengalaman “Pencurahan Roh Kudus”.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1255
mod_vvisit_counterYesterday3506
mod_vvisit_counterThis week4761
mod_vvisit_counterLast week23693
mod_vvisit_counterThis month57907
mod_vvisit_counterLast month17435
mod_vvisit_counterAll210564

People Online 22
Your IP: 54.82.58.198
,
Now is: 2014-09-22 16:12



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.