top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...




PERTEMUAN KBN September 2018 : Minggu,23/09/2018 Pk 17.00," Bersama Kita Bisa, oleh : Bpk. Paulus Mulyadi ( CEO Twin Tulipware ) " Gedung Grand Matlenn (ex.Istana Gading) Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Semangat Rajawali Yang Perkasa PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Saturday, 09 April 2011 11:09

Di dalam Alkitab kita membaca bagaimana Allah mengumpamakan diri-Nya seperti Induk burung Rajawali yang perkasa, dan kita orang-orang percaya “diperanakkan, dibesarkan dan dididik-Nya” untuk menjadi rajawali-rajawali yang perkasa seperti Dia. Sebagai Induk Rajawali, Allah sedang mengimpartasikan ke dalam anak-anak-Nya “semangat Rajawali” yang perkasa dan berkemenangan. Marilah kita mempelajari bagaimana Allah membesarkan dan mendidik kita untuk menjadi orang Kristen dengan “semangat Rajawali.”

 

Apa yang dimaksud dengan “semangat rajawali” di sini? Ini adalah “spirit” yang dihasilkan dari prinsip-prinsip, nilai-nilai dan  karakter (sifat) Illahi yang ditempakan Allah di dalam kehidupan kita sebagai anak-anak-Nya. Melalui Roh Kudus-Nya, yang Allah taruh di dalam kita (Yohanes 14 : 16; 1 Korintus 3 : 16) Allah mengimpartasikan sifat dan kekuatan-Nya di dalam kita. Melalui kejadian-kejadian yang Ia ijinkan (Roma 8 : 28) Ia menempakan karakter-Nya dalam kehidupan anak-anak-Nya. Ini semua membuat anak-anak Tuhan secara alamiah, wajar dan spontan memiliki kehidupan yang rohani.

 

Ayub 39 : 30, “Atas perintahmukah rajawali terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi?”

 

Rajawali terbang di ketinggian dan membuat sarangnya juga di tempat yang tinggi. Hidup di ketinggian adalah “gaya hidup” alamiah dari burung rajawali. Tanpa “diperintah” oleh manusia, burung rajawali secara alamiah menyukai ketinggian. Demikian pula dengan orang-orang percaya. Kita sebagai anak-anak Allah seharusnya secara alamiah dan spontan menyukai kehidupan yang rohani, dan bukan karena “didorong-dorong” karena sebetulnya kita enggan. Kehidupan rohani seharusnya menjadi gaya hidup (life style) orang-orang percaya.

 

Keistimewaan burung rajawali justru terdapat di dalam kemampuannya untuk terbang membubung. Jika burung yang sukanya merangkak di tanah dan bermain lumpur, itu adalah bebek, bukan rajawali. Banyak orang Kristen sukanya hidup dengan standar kerohanian yang rendah dan bermain-main di lumpur dosa. Orang Kristen yang demikian adalah orang Kristen “bebek” yang selalu kalah dan ribut merengek-rengek.  

 

Rajawali memiliki kemampuan untuk terbang tinggi di angkasa dengan kekuatan sayapnya. Orang-orang Kristen pemenang tahu menggunakan sayap imannya untuk terbang tinggi, bahkan tinggi di atas badai pencobaan. Pencobaan yang datang dimanfaatkan oleh orang Kristen rajawali justru untuk melambungkannya ke level kerohanian yang lebih tinggi lagi dan bukannya membuat mereka terpuruk kalah. Orang-orang Kristen yang demikian tidak “dikuasai” keadaan tetapi “menguasai” keadaan. Krisis yang ada malah memberinya kesempatan (opportunity) untuk menjadi sukses dan maju, sementara dengan sayap imannya ia mampu bermanuver di antara krisis sehingga ia dapat meluputkan diri dari bahaya yang ditimbulkan krisis dan meraih kemenangan.

 

Ayub 39  : 31, “Ia diam dan bersarang di bukit batu, di puncak bukit batu dan di gunung yang sulit didatangi.”

 

Rajawali membuat sarangnya di tempat yang tinggi, bahkan di puncak bukit batu dan gunung yang sulit didatangi musuh-musuhnya (misalnya ular). Kebiasaan rajawali membuat sarang di tempat tinggi adalah cara ia melindungi anak-anaknya. Demikian pula dengan kita, orang-orang percaya, kita harus membangun tempat perlindungan kita di “tempat tinggi” yaitu dalam kehidupan yang rohani, dan di “Gunung Batu” yaitu Tuhan Yesus Kristus. Ialah Gunung Batu kita, tempat perlindungan yang kokoh (Mazmur 62 : 8). Selama kita berlindung pada-Nya, “musuh” yaitu iblis, si ular, tidak mudah menghampiri kita. Tetapi jika kita hidup dengan standar rohani yang rendah dan tidak mengandalkan Kristus, maka kita seperti ayam dan bebek yang mudah sekali dimangsa ular.

 

1 Yohanes 5 : 18,  “Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.”

 

Kita – orang-orang percaya – adalah anak-anak Allah. Kita “lahir” dari Allah (Yohanes 1 : 13). Sebagai anak-anak yang lahir dari Allah maka seharusnya kita tidak menyukai dosa, membenci dosa, bahkan muak dengan dosa, sehingga kita “tidak berbuat dosa”. Atas kehidupan yang demikianlah Kristus melindungi kita sehingga “si jahat tidak dapat menjamahnya.”

 

Yohanes 10 : 28 – 29,  “.... seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.”

 

Ya, selama kita hidup di ketinggian “Gunung Batu” maka kita tidak berbuat dosa sebab kita tidak menyukai dosa dan si jahat tidak dapat menjamah kita atau merebut kita, sebab tangan Allah yang kuat memegang kita. Tetapi jika kita menurunkan level kerohanian kita, melonggarkan hidup kekudusan kita, maka kita sedang keluar dari perlindungan Gunung Batu, dari perlindungan Tangan Yang Kuat dan turun ke dataran yang rendah dan bermain-main di lumpur dosa, maka si jahat dengan mudah menjamah kita dan memangsa kita. Hiduplah di ketinggian jika kita ingin terlindung dari si jahat, dengan demikian kita tidak menjadi orang Kristen yang lemah, pecundang dan selalu “jatuh bangun.”

 

Ayub 39 : 32,  “Dari sana ia mengintai mencari mangsa, dari jauh matanya mengamat-amati”

 

Hidup dalam ketinggian memberikan keuntungan kepada rajawali. Itu memberi rajawali pandangan yang lebih jauh dan lebih luas. “Dari sana” rajawali mengintai mangsanya. Rajawali juga memiliki keistimewaan di matanya. Lensa matanya memiliki kemampuan untuk melihat secara “teleskopik”. Inilah yang terjadi dengan orang-orang percaya yang hidup dalam “ketinggian.” Ia akan memiliki cara pandang yang lebih jauh dan lebih luas (tidak seperti bebek dan ayam yang pandangannya pendek dan sempit). Orang Kristen rajawali dapat melihat apa yang kebanyakan orang tidak dapat melihatnya dengan mata mereka yang duniawi dan kotor. Kita dapat (secara teleskopis) memandang jauh ke depan karena Roh Kudus membuat mata rohani kita mampu melihatnya melalui pewahyuan yang dikaruniakan-Nya. Memiliki mata rohani yang melihat, melihat dengan jelas dan tepat, adalah sangat penting. Hanya kepada orang-orang yang seperti itulah Allah akan memperlihatkan kepada mereka perkara-perkara yang luar biasa dari kehendak dan rencana-Nya.

 

Yeremia 33 : 3,  “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”

 

Kemampuan untuk melihat dan mengetahui kehendak Allah akan menjadi kunci kesuksesan sejati anak-anak Tuhan. Kita hanya dapat dikatakan berhasil jika kita mengetahui kehendak Allah dan hidup sesuai dengan kehendak Allah itu.

 

Roh Kudus akan menyingkapkan kepada kita apa yang menjadi “rahasia hati Allah”

 

1 Korintus 2 : 9 – 10,  “Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.”

 

Tetapi kemampuan untuk “melihat” seperti ini hanya dimiliki oleh orang-orang Kristen yang hidup di ketinggian iman mereka, bukan yang hidup dalam dunia dan hawa nafsunya.

 

Kemampuan rajawali dalam melihat ini membuat rajawali menjadi lebih unggul dari binatang lainnya. Ditambah dengan kemampuan terbangnya dan cengkramannya yang kuat serta paruhnya yang tajam, membuat rajawali menjadi “Top Predator” (Pemangsa Unggul) yang berdiri di puncak rantai makanan. Ia mengalahkan ular yang sering kali memangsa ayam dan bebek. Orang Kristen rajawali memangsa (mengalahkan) ular, si iblis; sementara orang Kristen bebek dan ayam malah dimangsa (dikalahkan) si jahat. Itulah sebabnya orang Kristen bebek selalu jadi pecundang sementara orang Kristen rajawali selalu berkemenangan.

 

2 Korintus 2 : 14,  “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.”

 

Ya, melalui perantaraan orang-orang Kristen yang menanglah keharuman pengenalan akan Yesus tersebar ke mana-mana.

 

Tetapi ada yang menarik yang patut kita pelajari dan perhatikan adalah bagaimana induk rajawali membesarkan dan mendidik anak-anaknya.

 

Pada waktu masih bayi, anak-anak rajawali adalah sama lemahnya seperti anak-anak unggas lainnya, itulah sebabnya induknya melindunginya di ketinggian gunung batu yang terjal yang tidak dapat dihampiri oleh hewan-hewan pemangsa seperti ular. Dari segi penampilan pun anak-anak rajawali jauh berbeda dengan induknya yang gagah perkasa. Demikian juga dengan orang-orang percaya yang masih bayi. Mereka adalah bayi-bayi rohani yang masih lemah dan rentan. Tampilan mereka masih jauh dari rohani karena mereka masih bayi, meskipun ciri-ciri rajawali sudah nampak sedikit. Tetapi Allah, Sang Induk Rajawali, memahami hal ini karena mereka masih bayi-bayi rohani, mereka sedang bertumbuh. Namun demikian Allah menghendaki agar orang-orang Kristen tidak terus menerus menjadi bayi namun dapat bertumbuh dalam kedewasaan rohani sehingga menjadi serupa dengan “gambaran Anak-Nya” (Roma 8 : 29), yaitu menjadi orang Kristen pemenang.

 

Kunci pertumbuhan anak-anak rajawali adalah apabila mereka selalu lapar dan menyambut dengan semangat makanan yang diberikan oleh induknya. Yang membuka mulutnya paling lebar yang akan mendapat makanan lebih banyak dan potongan daging paling besar, sementara yang malas dan hanya membuka mulutnya sedikit akan makan lebih sedikit dan hanya mendapat potongan daging yang kecil. Inilah yang akan menjadi perbedaan anak rajawali yang satu dengan yang lainnya. Yang satu pertumbuhannya akan lebih pesat dari yang lainnya.

 

Mazmur 81 : 11, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh.”

 

Matius 5 : 6,  “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”

 

Orang-orang Kristen yang selalu haus dan lapar akan firman Allah dan perkara-perkara rohani akan menjadi orang-orang Kristen yang sehat dan kuat serta bertumbuh dengan cepat, lebih daripada yang lainnya. Allah akan memuaskan mereka dengan berkat-berkat rohani yang akan menjadikan mereka orang Kristen yang perkasa dan berhasil (sukses).

 

Mazmur 1 : 2 – 3,  “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

 

Allah juga adalah Allah yang mendidik anak-anak-Nya. Induk rajawali harus mendidik anak-anak rajawali untuk terbang karena kebanyakan mereka sudah betah dengan kenyamanan. Mereka enggan untuk meninggalkan zona kenyamanan (comfort zone) mereka dan masuk dalam pengalaman rohani yang baru. Mereka menikmati hidup sebagai bayi-bayi rohani. Tetapi Allah punya cara untuk menarik mereka ke luar dan belajar untuk menggunakan sayap iman mereka untuk terbang bersama-Nya.

 

Ulangan 32 : 11,  “Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya”

 

Inilah yang dilakukan induk rajawali: menggoyangbangkitkan isi sarangnya. Sarang rajawali dibangun dari batang-batang dan ranting-ranting pohon yang keras, sehingga sarang itu berdiri dengan kokoh. Tetapi kemudian induk rajawali juga akan menaruh jerami dan daun-daun kering menutupi ranting-ranting itu agar sarang menjadi nyaman, hangat, empuk. Bahkan induk rajawali menaruh sejumlah bulu-bulunya di sarang untuk membuat anak-anak rajawali “feel at home” ketika induknya pergi mencari makanan. Semua fasilitas kenyamanan ini membuat anak-anak rajawali malas untuk menggunakan sayapnya untuk terbang. Itulah sebabnya induk rajawali kemudian terbang di dekat sarangnya, mengepak-ngepakkan sayapnya, dan menggoyang-goyang sarangnya sehingga semua “fasilitas kenyamanan” (jerami, daun dan bulu-bulu) berterbangan dan sisanya adalah ranting-ranting kayu yang keras dan menusuk-nusuk. Sekarang hidup mereka tidak lagi nyaman. Tetapi ini adalah bagian pendidikan untuk mendewasakan anak-anak rajawali. Itulah juga yang dikerjakan Tuhan atas anak-anak-Nya:

 

Ibrani 12 : 5 – 12,  “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah”

 

Ya, jika Allah mengijinkan kesusahan dan pencobaan datang dalam hidup kita, itu adalah dalam rangka mendewasakan iman kita. Ingatlah rajawali yang sedang menggoyang-bangkitkan sarangnya. Yang penting respon kita harus tetap positif sebab Allah tidak pernah berbuat salah. Ia mengerjakan semuanya ini untuk kebaikan kita (Roma 8 : 28). Mungkin saat ini kita tidak mengerti tetapi Tuhan berjanji satu kali kita akan mengerti maksud baik-Nya (Yohanes 13 : 7).

 

Ketika anak-anak rajawali mulai merasakan ketidaknyamanan, maka induk rajawali mulai mengembangkan (mengulurkan) salah satu sayapnya sehingga anak rajawali mulai memanjat sayapnya dan induk rajawali kemudian menampung seekor di sayapnya untuk kemudian mengajaknya terbang. Maka dimulailah suatu “petualangan” rohani. Anak rajawali terbang bersama induknya.

 

Demikianlah yang dilakukan Tuhan terhadap kita. Ketidaknyamanan diijinkannya untuk menarik kita kepada-Nya. Persoalan dan masalah yang Ia ijinkan terjadi adalah untuk membawa kita ke level kerohanian yang lebih tinggi. Kombinasi antara keberhasilan dan kegagalan, sukacita dan kesedihan, kelegaan dan kesesakan, semuanya menjadi petualangan rohani kita bersama-Nya. Melalui semua peristiwa itu Ia sedang melatih kita untuk “terbang” dengan menggunakan “sayap iman” kita. Ia sedang melatih otot-otot rohani kita supaya kita menjadi perkasa seperti Dia. Ia sedang mengimpartasikan keperkasaan Rajawali kepada kita anak-anak-Nya.

 

Mazmur 18 : 33 – 35, “Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit; yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga.”

 

Ya, Allah adalah Pahlawan Yang Perkasa dan Pemenang. Ia ingin kita memiliki keperkasaan seperti Dia dan berkemenangan dalam menghadapi segala situasi kehidupan di dunia. Ia ingin agar kita memiliki otot-otot rohani yang kuat, sehingga kita memiliki stamina iman yang kuat.

 

Yesaya 40 : 31,  “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

 

Sumber kekuatan orang percaya adalah di dalam Tuhan, di dalam “menanti-nantikan Tuhan.”  Jika kita ingin memiliki kekuatan rohani, maka kita harus bersekutu dengan Allah, Sumber Kekuatan kita. Kita harus menerima impartasi kuasa dari Dia. Hanya itulah caranya. Persekutuan pribadi kita dengan Dia dalam doa dan penyembahan tidak dapat digantikan oleh apapun. Hanya melalui itulah kita menerima impartasi kuasa yang menjadikan kita memiliki kekuatan untuk terbang tinggi mengatasi badai, bahkan memanfaatkan badai untuk melambungkan iman kita tinggi. Dengan level iman yang seperti itu kita akan berkemenangan dan tidak menjadi lelah.

 

Rajawali itu hidup di ketinggian. Ia lahir di tempat yang ditinggi, di puncak gunung batu. Ia terbang tinggi membubung di angkasa. Ia menjadi pemangsa unggul yang berdiri di puncak rantai makanan. Ia tidak terkalahkan. Inilah posisi anak-anak Tuhan, duduk bersama-sama Kristus di posisi yang mengatasi segala sesuatu dan penuh otoritas.

 

Efesus 1 : 20 – 21 & 2 : 6, “....dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang....dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga”

 

Mazmur 103 : 5,  “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.”

 

Menurut cerita, rajawali dapat memperbaharui “penampilannya” sehingga selalu nampak muda dan perkasa, yaitu dengan mengasingkan diri dan membiarkan bulu-bulu lamanya tanggal sampai habis sama sekali dan bulu-bulu barunya tumbuh. Setelah proses pengasingan itu rajawali tua itu tetap tampak muda dan perkasa. Meskipun secara fisik kekuatan kita menurun karena usia, tetapi orang Kristen rajawali akan selalu “muda, segar dan perkasa” secara rohani.

 

2 Korintus 4 : 16,  “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”

 

Juga menurut cerita, rajawali tua yang sudah memperbaharui masa mudanya itu akan melakukan terbang terakhir (last flight) dengan terus membubung tinggi ke angkasa sampai kekuatannya habis dan ia mati dengan perkasa di ketinggian. Ketika jasadnya jatuh ke tanah, maka akan didapati bahwa rajawali tua itu telah mati tetapi tampaknya seperti rajawali muda yang perkasa. Ia mengkahiri pertandingannya dengan kemenangan; ia telah mencapai garis akhir dan telah berhasil menjaga semangat rajawalinya sampai akhir.

 

2 Timotius 4 : 7,  “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

 

Kiranya kita memiliki keperkasaan seperti burung rajawali.

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Mengalami Kerajaan Allah: Kehidupan Yang Dahsyat

Kerajaan Allah adalah tempat di mana Allah memerintah sebagai Raja yang berkuasa mutlak dan hukum-hukum-Nya berlaku secara efektif. Di dalam Kerajaan Allah Allah memanifestasikan kuasa dan kemuliaan-Nya sehingga mujizat menjadi kejadian yang dapat terjadi setiap saat (bukan sesuatu yang langka). Di situ ada penyediaan yang berlimpah, ada perlindungan yang kuat dan pembelaan yang dapat diandalkan. Di situ Allah mengatur segala sesuatu dengan indah dan sempurna. Di dalam Kerajaan-Nya Setan dan dosa tidak dapat berkuasa, kuasa Iblis dihancurkan.

 



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.