news menu leftnews menu right
top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
-------------------------------------------------------
Email kami : kbnindo@gmail.com Read more...


PERTEMUAN KBN AGUSTUS 2014 : Minggu, 24 AGUSTUS 2014 Pk 17.00, "Tema : Waktu & Kesempatan oleh : Bapak Marco ", Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh EMAIL kami : kbnindo@gmail.com
Kerendahan Hati (Dasar Yang Kokoh Untuk Diberkati) PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi for Paulus Dewanto, SE., MM.   
Tuesday, 13 September 2011 06:50

Matius 23 : 12,  “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

 

Meninggikan diri atau merendahkan diri adalah sikap pilihan kita baik yang tersimpan dalam pikiran maupun yang muncul dalam bentuk perbuatan. Sedangkan “direndahkan atau ditinggikan” adalah akibat yang muncul mengikuti sikap pilihan kita itu. Meskipun akibat yang muncul seringkali tidak langsung tetapi lambat atau cepat akibat itu pasti datang, dan itu datangnya dari Tuhan, Hakim Yang Mahaadil.

 

Ayub 22 : 29,  “Karena Allah merendahkan orang yang angkuh tetapi menyelamatkan orang yang menundukkan kepala!”

 

Seringkali “keterlambatan” akibat dari Tuhan ini disalahartikan oleh manusia, terutama oleh orang yang meninggikan diri, bahwa Tuhan tidak mempermasalahkan kesombongannya itu. Padahal itu adalah kasih dan kesabaran Tuhan yang memberi kesempatan agar orang itu mau bertobat dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.

 

Mazmur 10 : 4 – 6,  “Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: "Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!", itulah seluruh pikirannya. Tindakan-tindakannya selalu berhasil; hukum-hukum-Mu tinggi sekali, jauh dari dia; ia menganggap remeh semua lawannya. Ia berkata dalam hatinya: "Aku takkan goyang. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun-temurun.”

 

Alkitab mencatat dalam Daniel 4 : 1 - 37 bagaimana Nebukadnezar yang meninggikan dirinya direndahkan Tuhan. Namun demikian Nebukadnezar menyadari kesombongan-nya. Ia kemudian bertobat dan merendahkan hatinya sehingga Tuhan memulihkan keadaannya bahkan meninggikan kerajaannya.

 

Alkitab juga mencatat bagaimana orang yang rendah hati seperti Yusuf dan Daud ditinggikan Tuhan. Demikian pula dengan  Tuhan Yesus, Anak Allah yang lemah lembut dan rendah hati itu ditinggikan oleh tangan kanan Allah sehingga kepada-Nya dikaruniakan nama di atas segala nama dan kedudukan yang mahatinggi dan mulia (Filipi 2 : 9 – 11).

 

Ditinjau dari arahnya, kerendahan hati itu ada dua macam. Yang vertikal dan yang horisontal. Kerendahan hati vertikal adalah sikap kerendahan hati yang kita tunjukkan di hadapan Tuhan yang muncul karena mengakui kebesaran-Nya dan kebergantungan kita kepada Tuhan.

 

Yakobus 4 : 10,  “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”

 

1 Petrus 5 : 6,  “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.”

 

Sedangkan kerendahan hati horisontal adalah yang kita tunjukkan kepada sesama.

 

Efesus 5 : 21,  “Dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.”

 

Jika kita memiliki hati yang rendah di hadapan Tuhan maka pasti kita memiliki kerendahan hati di hadapan manusia. Jika ada kesombongan maka pasti ada masalah dengan hati kita di hadapan Tuhan meskipun itu tidak diakui atau disadari, karena kerendahan hati itu mengalir “dari atas ke bawah.” Kerendahan hati itu karakter dari Tuhan Yesus, sehingga persekutuan kita dengan-Nya tidak dapat tidak akan menghasilkan kerendahan hati. 

 

Sedangkan ditinjau dari sifatnya kerendahan hati itu ada dua jenis pula, yaitu yang asli dan yang hanya pura-pura saja. Kolose 2 : 18 - 23 menuliskan bahwa ada kerendahan hati yang pura-pura:

 

“Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.”

 

Kerendahan hati yang pura-pura bersifat legalistik, yaitu patuh kepada seperangkat peraturan daripada inti peraturan itu sendiri, seperti yang diterangkan oleh ayat di atas. Kerendahan hati yang munafik seperti ini sering ditunjukkan oleh orang-orang agamawi seperti para ahli Taurat dan orang Farisi.

 

Kerendahan hati yang pura-pura, tidak tulus dan hanya basa-basi juga sering dilakukan oleh orang-orang yang bersikap “low profile” tetapi sebenarnya mereka sedang menyombongkan diri. Kerendahan hati pura-pura dilakukan oleh orang-orang yang berusaha menggunakan kata-kata secara politik untuk menunjukkan kerendahan hatinya. Misalnya ada orang kaya yang mempersilakan tamunya masuk ke rumah mewahnya dengan mengatakan: “Silakan masuk ke gubuk saya yang sederhana ini.”  Atau ketika seorang mengatakan di depan umum: “Saya hanyalah orang bodoh, atau tidak tahu apa-apa,” tetapi kemudian ia menunjukkan kepandaiannya, itu adalah kerendahan hati yang pura-pura sebab ia mengatakan yang tidak sebenarnya. Ada orang yang merasa bahwa karena semua orang sudah mengenalnya sebagai orang kaya ia lalu berpakaian seenaknya, dengan kaus lusuh dan tampilan yang tampaknya seperti orang miskin. Sikap seperti ini bukanlah menunjukkan kerendahan hati. Kerendahan hati sejati adalah bersikap apa adanya dan berkata-kata dengan tulus. Memakai barang mewah bukanlah kesombongan kalau memang ia mampu untuk memilikinya. Asalkan ia tidak sedang berusaha memamerkan kekayaannya. Mengakui keberhasilan bukanlah kesombongan jika memang demikian adanya dan ditujukan bukan untuk memuliakan diri namun untuk menyaksikan kebaikan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain karena memberi semangat dan inspirasi. Memang di sini batasannya tipis sekali sehingga kita perlu berhati-hati dan sungguh-sungguh dipimpin Roh Kudus serta menjaga ketulusan hati kita.

 

Ada beberapa ciri keangkuhan yang dapat tersimpan dalam pikiran atau berwujud dalam tindakan. Misalnya, merindukan pujian dan kekaguman dari orang-orang. Secara emosional orang itu sering mabuk pujian. Menghitung “score” atau pencapaian yang telah ia peroleh dan membandingkannya dengan pencapaian orang lain untuk menghitung angka bermuatan gengsi yang selama ini berhasil dikumpulkannya sehingga ia merasa lebih superior dari orang lain. Merasa gembira ketika melihat orang lain gagal dan kesal ketika melihat orang lain sukses.

 

Sikap ini kita dapat lihat dalam diri Haman orang Agag musuh orang Yahudi yang diceritakan oleh Kitab Ester, marilah kita mempelajarinya sejenak:

 

“Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda. Dan semua pegawai raja yang di pintu gerbang istana raja berlutut dan sujud kepada Haman, sebab demikianlah diperintahkan raja tentang dia, tetapi Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud. Maka para pegawai raja yang di pintu gerbang istana raja berkata kepada Mordekhai: "Mengapa engkau melanggar perintah raja?" Setelah mereka menegor dia berhari-hari dengan tidak didengarkannya juga, maka hal itu diberitahukan merekalah kepada Haman untuk melihat, apakah sikap Mordekhai itu dapat tetap, sebab ia telah menceritakan kepada mereka, bahwa ia orang Yahudi. Ketika Haman melihat, bahwa Mordekhai tidak berlutut dan sujud kepadanya, maka sangat panaslah hati Haman, (Ester 3 : 1 – 5)

 

“Pada hari itu keluarlah Haman dengan hati riang dan gembira; tetapi ketika Haman melihat Mordekhai ada di pintu gerbang istana raja, tidak bangkit dan tidak bergerak menghormati dia, maka sangat panaslah hati Haman kepada Mordekhai. Tetapi Haman menahan hatinya, lalu pulanglah ia ke rumahnya dan menyuruh datang sahabat-sahabatnya dan Zeresh, isterinya. Maka Haman menceriterakan kepada mereka itu besarnya kekayaannya, banyaknya anaknya laki-laki, dan segala kebesaran yang diberikan raja kepadanya serta kenaikan pangkatnya di atas para pembesar dan pegawai raja. Lagi kata Haman: "Tambahan pula tiada seorangpun diminta oleh Ester, sang ratu, untuk datang bersama-sama dengan raja ke perjamuan yang diadakannya, kecuali aku; dan untuk besokpun aku diundangnya bersama-sama dengan raja. Akan tetapi semuanya itu tidak berguna bagiku, selama aku masih melihat si Mordekhai, si Yahudi itu, duduk di pintu gerbang istana raja." (Ester 5 : 9 – 13)

 

“Setelah Haman masuk, bertanyalah raja kepadanya: "Apakah yang harus dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya?" Kata Haman dalam hatinya: "Kepada siapa lagi raja berkenan menganugerahkan kehormatan lebih dari kepadaku?" Oleh karena itu jawab Haman kepada raja: "Mengenai orang yang raja berkenan menghormatinya, hendaklah diambil pakaian kerajaan yang biasa dipakai oleh raja sendiri, dan lagi kuda yang biasa dikendarai oleh raja sendiri dan yang diberi mahkota kerajaan di kepalanya, dan hendaklah diserahkan pakaian dan kuda itu ke tangan seorang dari antara para pembesar raja, orang-orang bangsawan, lalu hendaklah pakaian itu dikenakan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya, kemudian hendaklah ia diarak dengan mengendarai kuda itu melalui lapangan kota sedang orang berseru-seru di depannya: Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya!" Maka titah raja kepada Haman: "Segera ambillah pakaian dan kuda itu, seperti yang kaukatakan itu, dan lakukanlah demikian kepada Mordekhai, orang Yahudi, yang duduk di pintu gerbang istana. Sepatah katapun janganlah kaulalaikan dari pada segala yang kaukatakan itu." Lalu Haman mengambil pakaian dan kuda itu, dan dikenakannya pakaian itu kepada Mordekhai, kemudian diaraknya Mordekhai melalui lapangan kota itu, sedang ia menyerukan di depannya: "Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya." Kemudian kembalilah Mordekhai ke pintu gerbang istana raja, tetapi Haman bergesa-gesa pulang ke rumahnya dengan sedih hatinya dan berselubung kepalanya. Dan Haman menceritakan kepada Zeresh, isterinya, dan kepada semua sahabatnya apa yang dialaminya. Maka kata para orang arif bijaksana dan Zeresh, isterinya, kepadanya: "Jikalau Mordekhai, yang di depannya engkau sudah mulai jatuh, adalah keturunan Yahudi, maka engkau tidak akan sanggup melawan dia, malahan engkau akan jatuh benar-benar di depannya." (Ester 6 : 6 – 13)

 

Kita lihat bagaimana Haman yang angkuh direndahkan Tuhan, sementara Mordekhai yang tidak banyak bicara itu ditinggikan.

 

Keangkuhan juga dicirikan dengan memaksa orang lain, terutama bawahan, untuk melakukan seperti dia dan tidak memberi ruang kepada orang lain untuk mengekspresikan diri mereka sesuai dengan kemampuan mereka. Keangkuhan juga dicirikan dengan sikap membela diri terhadap kritikan, atau tidak suka dikritik karena selalu merasa yang paling benar.

 

Sebaliknya, paling tidak ada sembilan tanda kerendahan hati:

1)      Bersikap tunduk dan taat kepada otoritas. Orang yang rendah hati mau tunduk dan taat kepada otoritas yang Tuhan tempatkan di atasnya termasuk orang tua, atasan di perusahaan, pemerintah, guru, gembala sidang dan tua-tua gereja.

 

1 Petrus 5 : 5,  “Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

 

2)      Memahami peranan Roh Kudus dan memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus adalah tanda kerendahan hati.

Amsal 3 : 5 – 6,  “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

 

3)      Mengetahui atau menyadari posisinya di dalam Tubuh Kristus dan menerimanya dengan sukacita dan ucapan syukur karena mengetahui itu kehendak Tuhan.

 

Roma 12 : 3 – 6,  “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.”

 

4)      Mengetahui dan mengenali perbedaan antara kekuatan dan kelemahan kita; tidak rendah diri tetapi juga tidak sombong. Ketika kita melihat kekuatan kita, kita tidak menjadi sombong, sebaliknya ketika kita melihat kelemahan kita, kita juga tidak menjadi rendah diri. Kita menyadari bahwa semua adalah karena kasih karunia Tuhan.

 

1 Korintus 15 : 10,  “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

 

5)      Berani dengan realistis mengakui kegagalan dan keberhasilan kita. Sebab ada orang yang selalu menyangkal keberhasilannya dengan maksud menunjukkan kerendahan hati, sebaliknya ada orang yang tidak mau mengakui kegagalannya.

 

Filipi 3 : 12 – 14,  “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

 

6)      Tidak takut gagal atau merasa terhina karena kegagalan karena menyadari tidak ada keberhasilan tanpa resiko. Yang penting ia berusaha mengelola resiko dengan pimpinan Roh Kudus.

 

 

7)      Menerima pujian yang tulus tetapi tidak mencari-cari pujian untuk diri sendiri serta  menolak sanjungan orang yang berlebihan dan tidak tulus.

 

1 Tesalonika 2 : 6,  “Juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.”

 

8)      Tidak hidup dengan prestasi masa lalu. Ada orang yang selalu membanggakan prestasi-prestasi masa lalunya dan tidak menghargai kemajuan yang terjadi saat sekarang di sekelilingnya.

 

Pengkhotbah 7 : 10,  “Janganlah mengatakan: "Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?" Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu.”

 

9)      Mempunyai kemampuan untuk menghargai orang lain yang pantas untuk menerimanya dan juga mengakui kontribusi orang lain dalam kesuksesan yang kita peroleh.

 

Kolose 4 : 12 – 13,  “Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah. Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang dia, bahwa ia sangat bersusah payah untuk kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan Hierapolis.”

 

Paulus, rasul yang luar biasa itu, mengakui kontribusi dan usaha yang telah dilakukan oleh “seorang dari antaramu,” seorang awam yang mau melayani dengan sungguh-sungguh. Ia tidak mengklaim semua keberhasilannya seorang diri. Ia mengingat dan menghargai orang-orang lain yang bersama-sama dengannya turut membangun pekerjaan Tuhan. Demikian pula dengan Daud. Ia bahkan mendaftar semua pahlawannya dan orang-orang yang pernah berjasa bagi kerajaan Israel (1 Tawarikh 11 : 10 – 47).

 

Jika kita memutuskan untuk mengambil sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan dan dengan tulus menjaga sikap yang rendah hati di hadapan manusia, maka pada waktunya Tuhan akan mempromosikan kita dan apabila kita telah ditinggikan Tuhan kita tidak akan jatuh ke dalam keangkuhan dan kesombongan. Keangkuhan dan kesombongan akan menghancurkan keberhasilan kita dan merusak diri kita sendiri.

 

(Ditulis kembali dari Khotbah yang disampaikan Bapak Paulus Dewanto, SE., MM. pada acara Kingdom Business di GSJP Bandung pada tanggal 21 Agustus 2011 dengan diberi tambahan ayat-ayat dan keterangan untuk melengkapinya).

 
Please register or login to add your comments to this article.


Newsflash

Sikap dan Motivasi Yang Benar untuk Diberkati

Setiap yang hidup digerakkan oleh motivasi. Ada motivasi yang benar dan ada motivasi yang salah; ada motivasi yang bersifat kekal ada yang sementara. Motivasi apa yang harus kita miliki jika kita hidup di dalam Allah Imanuel? Motivasi apa yang benar supaya Tuhan berkenan memberkati?

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1638
mod_vvisit_counterYesterday1616
mod_vvisit_counterThis week3254
mod_vvisit_counterLast week7828
mod_vvisit_counterThis month1638
mod_vvisit_counterLast month17435
mod_vvisit_counterAll154295

People Online 16
Your IP: 54.237.90.56
,
Now is: 2014-09-01 23:21



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.