top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
"Mengapa???" PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi for Bapak Marco   
Tuesday, 02 June 2015 00:34

“Mengapa?” Itulah pertanyaan yang muncul jika kita sedang asyik menikmati keberhasilan demi keberhasilan dan tiba-tiba mengalami kegagalan di luar dugaan. Dari pertanyaan itu ada dua hal bisa terjadi: kita terpuruk karena berlarut-larut dalam penyesalan dan kesedihan, atau kita mendapatkan hikmat dari Allah sehingga menjadi kekuatan untuk bangkit dan mulai bertindak lebih hati-hati sehingga kita mencapai keberhasilan yang lebih luar biasa lagi. Marilah kita belajar bagaimana “mengolah” pertanyaan “mengapa?” dengan benar sehingga menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kita. Untuk itu kita akan belajar dari pengalaman Yosua, pemimpin bangsa Israel ketika memasuki Tanah Perjanjian.

 

Yosua adalah seorang hamba Allah yang luar biasa. Ia adalah “anak rohani” dari Musa (Keluaran 24:13), seorang Nabi Besar umat Israel yang telah membebaskan umat Israel dari tanah perbudakan di Mesir (Keluaran 13:3) dan membawa umat Israel menyeberangi Laut Taberau (Keluaran 14:21-22) dan memimpin umat Israel berjalan di padang gurun 40 tahun menuju Tanah Perjanjian (Ulangan 2:7).

 

Yosua telah menunjukkan kesetiaannya dalam mendampingi Musa (Keluaran 24:13; 33:11). Yosua memiliki kualitas rohani yang istimewa dibandingkan dengan orang-orang sebangsanya yang keluar dari Mesir (Bilangan 14:38; 27:18). Itulah sebabnya Tuhan menjadikan Yosua pemimpin umat Israel untuk menggantikan Musa. Yosua dipercaya Allah untuk melanjutkan dan menyelesaikan pekerjaan Musa yaitu membawa Israel memasuki Tanah Perjanjian dan memilikinya sebagai milik pusaka mereka sebagaimana yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham, nenek moyang mereka (Yosua 1:1-6).

 

Yosua diurapi Tuhan dan Tuhan telah memberikan janji dan jaminan kepadanya bahwa ia akan berhasil dalam memimpin bangsa Israel untuk masuk dan memiliki Tanah Perjanjian (Yosua 1:3-5); ini adalah “rhema” bagi Yosua dan bangsa Israel. Berdasarkan “rhema” janji Tuhan ini Yosua mulai bertindak, dan memang ia mengalami keberhasilan dan kemenangan. Yosua berhasil membawa umat Israel menyeberangi Sungai Yordan yang pada waktu itu sedang banjir (Yosua 3:1-17). Ia kemudian mengalami kemenangan di Yerikho di mana ia mengalami mujizat yang luar biasa, yaitu tembok kota Yerikho yang tinggi dan tebal (lebar) itu berhasil dirobohkan hanya dengan dikelilingi (Yosua 6:1-20). Dua peristiwa yang luar biasa ini membuat Yosua dan bangsa Israel begitu percaya diri dan bersemangat.

 

Kemudian mereka bersiap menyerang kota Ai yang jauh lebih kecil dari Yerikho. Hasil pengintaian menyimpulkan bahwa untuk menaklukkan kota Ai hanya dibutuhkan sedikit tentara saja. Lalu mereka pun pergi menyerang Ai dengan penuh keberanian dan keyakinan, sebab mereka memegang “rhema” yang berisi janji dan jaminan Allah akan kemenangan (Yosua 7:2-4).

 

Tetapi kemudian apa yang mereka alami sungguh di luar dugaan dan sangat menyedihkan. Mereka dipukul kalah oleh penduduk Ai, mereka di kejar bahkan 36 orang dari tentara Israel mati (Yosua 7:4-5). Bagi mereka ini merupakan kekalahan telak, sebab satu orang Israel bagi mereka setara dengan 1000 orang tentara musuh, sehingga kematian 36 orang sama dengan gugurnya 3600 orang prajurit. Apalagi tentara Israel dikalahkan hanya oleh pasukan dari suatu kota yang jauh lebih kecil dari Yerikho. Mereka kembali ke perkemahan dengan rasa malu, sedih, menyesal dan tawar hati (Yosua 7:5). Mereka bertanya: mengapa ini bisa terjadi? (Yosua 7:7).

 

“Dan berkatalah Yosua: Ah, Tuhanku Allah, MENGAPA Engkau menyuruh bangsa ini menyeberangi sungai Yordan?” (Yosua 7:7)

 

Bertanya itu baik, karena dari situ kita dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan belajar mencari jawaban dan jalan keluarnya. Memang dalam kehidupan kita tidak selalu menang dan berhasil, tetapi yang penting adalah kita harus belajar baik dari keberhasilan maupun dari kegagalan untuk mendapatkan hikmat Allah dan untuk dapat mengenal Allah dengan lebih baik lagi.

 

“Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanmu” (Mazmur 119:71).

 

Kegagalan memang dapat menimbulkan ketakutan (trauma); takut mengalami kegagalan lagi. Tapi kita harus mengubah ketakutan akan kegagalan (fear of failure) menjadi kekuatan dari kegagalan (power from failure) untuk bertindak lebih hati-hati sehingga kita dapat mengalami keberhasilan yang lebih besar lagi.

 

Untungnya pemimpin Israel, Yosua, adalah seorang yang mengenal Tuhan. Ia membawa pertanyaan “mengapa?” ini ke hadirat Tuhan dalam doa dan disertai dengan merendahkan diri dengan berpuasa (Yosua 7:6-9). Mereka berseru kepada Tuhan dan Tuhan menjawabnya. Jawaban Tuhan menjadi hikmat dan kekuatan yang muncul dari kegagalan.

 

“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya” (Yoel 2:13).

 

Memang ketika baru saja mengalami kegagalan telak yang di luar dugaan orang akan merasa hancur hati, menyesal dan bingung, tidak tahu harus bagaimana. Tetapi kita harus bertanya bukan hanya “mengapa?” tetapi juga “bagaimana?”

 

Pertanyaan “mengapa?” akan dijawab Tuhan dengan memberitahukan “penyebab” dari kegagalan itu yang luput dari pandangan kita sehingga kita lalai dan bertindak ceroboh (Yosua 7:10-12). Sedangkan pertanyaan “bagaimana?” akan dijawab Tuhan dengan “apa yang harus dilakukan” untuk mengoreksi kesalahan tersebut (Yosua 7:13-15) dan kemudian bangkit untuk maju kembali melanjutkan perjuangan untuk mencapai kemenangan seperti yang sudah dijanjikan Tuhan sebelumnya (Yosua 8:1-2).

 

Tuhan kemudian memberitahukan letak kesalahan umat Israel yang menyebabkan mereka mengalami kekalahan telak (Yosua 7:13-15). Mereka memang telah memiliki “rhema” dari Tuhan yang berisi janji dan jaminan Tuhan akan kemenangan, keberhasilan dan keberuntungan (Yosua 1:3-8). Tetapi mereka lupa bahwa ketika mereka bertindak mereka harus bertindak sesuai “logos” prinsip-prinsip firman Allah. Mereka tidak boleh menyimpang dari firman Tuhan. Mereka harus melakukan tujuan yang benar dengan cara yang benar pula. Tuhan tidak membenarkan orang yang melakukan kehendak dan rencana Tuhan dengan segala cara, apalagi yang bertentangan dengan prinsip Firman Allah.

 

“Hanya, kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi” (Yosua 1:7)

 

Inilah letak kesalahan kebanyakan orang percaya. Mereka ketika mau bertindak (mencari jodoh, pekerjaan atau memulai usaha) berdoa kepada Tuhan meminta petunjuk. Kemudian, Tuhan memberikan “rhema” yang berisi janji Allah dan “tanda” di mana mereka merasakan “damai sejahtera.” Tetapi kemudian mereka mengalami kegagalan. Lalu mereka bingung, mengapa mereka bisa gagal. Mereka ternyata lupa bahwa ketika mereka mewujudkan janji Tuhan mereka melakukannya dengan tindakan yang bertentangan dengan prinsip firman Allah (logos).

 

Abraham mendapat rhema tentang banyaknya keturunannya kemudian (Kejadian 15:5). Tetapi kemudian Abraham mendengarkan nasihat Sarah isterinya (yang mandul) untuk mengawini Hagar budak perempuannya untuk mewujudkan rencana Tuhan (Kejadian 16:1-4). Ribka mendapat rhema bahwa Yakub akan berkuasa atas Esau abangnya (Kejadian 25:23), tetapi Ribka berusaha mewujudkannya dengan menyuruh Yakub menipu ayahnya (Kejadian 27:5-29). Dan kita melihat bahwa akibat mewujudkan rhema tidak sesuai logos maka timbullah masalah.

 

Demikian pula dengan orang Israel, meskipun itu bukan kesalahan Yosua, tetapi sebagai pemimpin ia tetap harus memikul tanggung jawab. Dalam manajemen hanya ada pendelegasian otoritas (delegation of authority) tetapi tidak ada pendelegasian tanggung jawab (delegation of responsibility). Salah seorang tentara Israel, yaitu Akhan, melanggar perintah Tuhan, yaitu dengan mengambil barang tumpasan dan menyembunyikannya (Yosua 7:1).

 

Jadi meskipun mereka memiliki rhema berupa janji Tuhan dan jaminan dari Tuhan, tetapi ketika mereka mewujudkannya melakukan pelanggaran terhadap firman Tuhan (logos), maka mereka mengalami kegagalan dan kekalahan.

 

“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya…..Tuhan akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu….Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya,….Tuhan akan membiarkan engkau terpukul kalah oleh musuhmu…” (Ulangan 28:1,7,15,25)

 

Pada mulanya Yosua sebagai pemimpin tidak mengetahuinya sehingga ketika tentaranya dikejar musuh dan 36 tentara Israel dibunuh musuh, ia sangat bingung dan bertanya kepada Tuhan: “Mengapa?”

 

Yosua bertanya sambil merendahkan diri di hadapan Tuhan sehingga akhirnya ia mengetahui masalah penyebab kekalahan pasukan Israel, yaitu ada seorang anggota pasukannya yang melanggar perintah Tuhan (Yosua 7:10-13). Tetapi kemudian Yosua segera menyelesaikan masalahnya, bukan larut dalam kesedihan dan perasaan gagal (Yosua 7:16). Ia segera menghukum Akhan karena kesalahan yang dibuatnya (Yosua 7:16-26). Yosua menguduskan pasukan tentara Israel dan menyelesaikan masalahnya di hadapan Tuhan. Setelah ia menyelesaikan masalah yang menjadi penyebab kekalahannya maka Yosua segera bangkit kembali dan melanjutkan perjuangannya untuk memiliki Tanah Perjanjian, maka kemenangan pun kembali dialami pasukan Israel (Yosua 8:1-29), bahkan mereka mengalami kemenangan yang lebih luar biasa lagi ketika mereka bangsa Israel berperang di Gibeon. Ketika berperang di Gibeon, Yosua berdoa kepada Tuhan dan memerintahkan matahari dan bulan untuk berhenti beredar sampai bangsa Israel menyelesaikan peperangannya. Belum pernah ada peristiwa seperti itu baik sebelum dan sesudahnya, bagaimana Tuhan mendengarkan permohonan manusia secara demikian, karena Tuhan berperang untuk orang Israel (Yosua 10:12-14).

 

Yosua mengubah kegagalan menjadi kekuatan untuk mencapai kemenangan yang lebih besar lagi.

 

Jadi rhema harus diwujudkan dengan cara yang sesuai dengan logos. Kehidupan kudus adalah mutlak jika kita ingin Allah berkarya dengan luar biasa melalui kehidupan kita mewujudkan kehendak dan rencana-Nya. Dan ketika Allah sendiri yang berkarya, berperang bagi kita, maka kemenangan yang gilang gemilang, keberhasilan dan keberuntungan akan kita alami.

 

Tidak akan ada kemenangan jika kita mewujudkan rhema dengan cara yang salah apalagi berdosa. Yang ada malah kegagalan dan kekalahan, karena Allah tidak berpihak pada kita bahkan melawan kita karena kita menyimpan dosa dan tidak menyelesaikannya dengan benar di hadapan-Nya.

 

Kehidupan dalam kekudusan dan kebenaran adalah awal keberhasilan dan kemenangan orang percaya.

 

“Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: Kuduskanlah dirimu, sebab besok Tuhan akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu!” (Yosua 3:5).

 

Bagaimana cara kita bertanya “mengapa” dengan benar di hadapan Allah?

 

Pertama, adalah menempatkan Allah pada “posisi yang benar” dalam kegagalan kita, yaitu bahwa Allah tidak pernah berbuat salah. Dengan demikian kita tidak menyalahkan Allah. Itu akan membuka mata batin kita agar kita dapat melihat letak masalah yang sebenarnya yang menjadi penyebab kekalahan dan kegagalan kita.

“Tetapi Engkaulah yang benar dalam segala hal yang menimpa kami, karena Engkau berlaku setia dan kamilah yang berbuat fasik” (Nehemia 9:33).

 

Tetapi jika kita menyalahkan Allah kita tidak akan pernah dapat melihat penyebab yang sebenarnya sehingga kita juga tidak akan tahu jalan keluar yang benar untuk bangkit dari kegagalan dan meraih kemenangan yang lebih besar.

 

Kedua, kita menarik Tuhan untuk “berkepentingan” dengan kegagalan dan keberhasilan kita, yaitu bahwa semuanya akan berdampak kepada kemuliaan nama Tuhan.

 

“Oh Tuhan, apakah yang akan kukatakan, setelah orang Israel lari membelakangi musuhnya? Apabila hal itu terdengar oleh orang Kanaan dan seluruh penduduk negeri ini, maka mereka akan mengepung kami dan melenyapkan nama kami dari bumi ini. Dan apakah yang akan Kaulakukan untuk memulihkan nama-Mu yang besar itu?” (Yosua 7:9).

 

Tetapi ini hanya dapat kita lakukan jika kita dalam posisi tak bersalah. Yosua dapat berkata seperti itu sebab bukan Yosua yang bersalah tetapi anak buahnya. Namun demikian sebagai pemimpin Yosua mengambil tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan anak buahnya. Lain halnya jika Yosua sang pemimpin itu sendiri yang bersalah, maka ia yang terlebih dahulu harus bertobat dan menyelesaikan masalahnya di hadapan Allah.

 

Jika kita dalam keadaan berdosa dan belum menyelesaikannya kita tidak dapat menarik Allah ke dalam masalah kita, sebab memang kita sedang berlawanan dengan Allah, atau dan melanggar perintah-Nya.

 

Jika posisi kita benar di hadapan Allah kita akan berani menarik Allah dalam masalah kita bahwa bukan hanya kita yang dirugikan karena kekalahan dan kegagalan kita tetapi juga nama dan kemuliaan Allah serta keberlangsungan rencana-Nya (Yosua 7:8-9). Tetapi jika posisi kita salah kita tidak akan berani berdoa seperti itu.

 

Dari situlah Tuhan kemudian memberitahukan penyebab yang sebenarnya dari kekalahan umat Israel terhadap Ai.

 

Jika kita sudah mengetahuinya maka segeralah selesaikan masalah dengan tuntas (2 Tawarikh 7:14) dan kemudian barulah kita bisa meminta petunjuk Tuhan dan penyertaan Tuhan.

 

Jika kita belajar dari kegagalan (learn from failure) maka kita akan menerima hikmat Tuhan yang menjadi kekuatan untuk kemenangan yang lebih besar (power from failure). Kita akan jadi mengerti dan lebih hati-hati, bahwa rhema yang sudah diperoleh harus diwujudkan dengan cara yang sesuai dengan logos; bahwa kekudusan adalah syarat agar Allah turut bekerja dan berperang bagi kita. Jika Allah di pihak kita maka kemenangan pasti menjadi milik kita (Yosua 1:5), bahkan kemenangan yang sangat luar biasa.

 

Dengan menjaga kekudusan berarti kita menghormati dan memuliakan Tuhan, maka Tuhan akan memuliakan orang yang seperti itu dengan memberikan keberhasilan dan kemenangan yang gilang gemilang bagi orang itu, karena Ia sendiri yang akan berperang bagi orang itu.

 

Jadi boleh bertanya “mengapa?” kepada Tuhan asal dalam sikap hati tidak menyalahkan Tuhan. Boleh bertanya “mengapa?” kepada Tuhan dalam rangka untuk mengetahui penyebab kegagalan dan kekalahan yang sebenarnya. Kita boleh bertanya “mengapa?” tetapi bukan untuk berlarut-larut dalam penyesalan, kesedihan dan kebingungan. Kita boleh bertanya “mengapa?” jika kita siap untuk dikoreksi dan segera menyelesaikan kesalahan kita dengan tuntas melalui pertobatan sejati sehingga di kemudian hari kita akan lebih hati-hati dan hidup kudus. Kita boleh bertanya “mengapa?” jika kita siap untuk bangkit kembali dari keterpurukan untuk melanjutkan langkah mencapai kemenangan.

 

Jika kita bertanya dengan sikap yang benar di hadapan Allah, maka Allah akan bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, termasuk kegagalan yang kita alami, supaya kegagalan itu menjadi pembelajaran bagi kita agar kita bertindak lebih hati-hati sehingga Allah dapat mengubah pengalaman itu menjadi kebaikan bagi kita jika kita tetap mengasihi Dia dan berjalan dalam panggilan-Nya (Roma 8:28).

 

Jika Tuhan sudah memberi damai sejahtera (karena kita sudah berdamai dengan Allah dan dibenarkan: Roma 5:1) maka bangkitkan iman kita kembali kepada rhema yang berisi janji dan jaminan Tuhan yang telah kita terima sebelumnya. Dengan iman seperti ini kita akan beroleh kekuatan baru untuk melanjutkan perjuangan kita dan mencapai kemenangan (Ditulis berdasarkan khotbah bapak Marco pada acara Kingdom Business di GSJP tanggal 24 Mei 2015).

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Peta Menuju Keberhasilan Sejati

Alkitab berisi banyak nasihat dan petunjuk bagi para pebisnis dan profesional untuk meraih kesuksesan sejati dalam bisnis dan karier mereka. Salah satunya adalah yang terdapat dalam Amsal pasal 3. Jika kita menelitinya dengan seksama maka kita akan gembira bahwa jalan menuju kesuksesan sejati telah disiapkan Tuhan Yesus bagi kita, dan Alkitab menjadi “peta” penunjuk jalannya. Marilah kita sekarang mempelajari Amsal pasal 3 ini.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday302
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2852
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14565
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908740

People Online 26
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:24



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.