top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Pelajaran Dari Kehidupan Kain PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Tuesday, 09 June 2015 03:58

Alkitab banyak menyajikan kisah tentang tokoh-tokoh yang dari mereka kita dapat belajar tentang hal-hal yang berguna bagi kehidupan kita di dunia ini, dalam pengiringan kita kepada Tuhan. Contoh-contoh kasus yang disajikan dapat memberikan hikmat dan kebijaksanaan bagi kita agar kita dapat hidup sesuai dengan prinsip Firman Allah dan kehendak Allah. Kebanyakan kita mempelajari kisah dari tokoh-tokoh yang “baik.” Tetapi Allah juga mengijinkan tokoh-tokoh “tidak baik” dituliskan kisahnya di dalam Alkitab. Tentunya dari kisah mereka pun Allah ingin mendidik kita dan memberi pelajaran yang berharga agar kita mengerti apa yang “tidak berkenan” kepada Allah dan apa “akibatnya” ketika kita hidup tidak memperkenankan Allah. Salah satunya yang akan kita pelajari adalah kisah kehidupan “Kain.”

 

Alkitab hanya menceritakan secara sepintas kehidupan Kain. Tetapi jika kita teliti lebih dalam kita dapat mengambil banyak pelajaran berharga dari kehidupan Kain yang tidak berkenan kepada Allah ini.

 

Kain dilahirkan setelah Adam dan Hawa terusir dari Taman Eden (Taman Sukacita). Adam dan Hawa diusir karena mereka tidak taat kepada Allah dan mendengarkan bujukan si Jahat (Kejadian 3:24; 4:1).

 

Hukuman yang dijatuhkan Allah atas Hawa karena telah memakan buah dari pohon “pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” dan membagikannya kepada Adam untuk ikut memakannya (Kejadian 3:6), menyebabkan Hawa (dan semua perempuan kemudian) mengalami sangat banyak susah payah waktu mengandung anaknya dan dengan kesakitan ia melahirkan anaknya (Kejadian 3:16).

 

Oleh sebab itu ketika Hawa berhasil melahirkan anaknya yang pertama “dengan mempertaruhkan nyawanya,” maka Hawa merasa bahwa itu semua berkat pertolongan Allah. Itulah sebabnya Hawa menamakan anaknya “Kain” (artinya: telah mendapatkan), karena katanya: “Aku telah mendapatkan seorang anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan” (Kejadian 4:1).

 

Tentulah kelahiran anak pertama ini menimbulkan kegembiraan bagi Adam dan Hawa. Mereka menaruh harapan besar kepada anak pertamanya ini agar anak pertamanya dapat hidup saleh di hadapan Allah untuk memulihkan hubungan yang pernah Adam dan Hawa nikmati sebelumnya di Taman Eden.

 

Nama Kain mengandung pernyataan iman Adam dan Hawa bahwa mereka menyadari mereka telah mendapatkan anak laki-lakinya dengan pertolongan (kemurahan hati) Allah (Kejadian 4:1). Ini adalah pernyataan rasa syukur Hawa kepada Allah. Nama itu juga mengandung harapan Adam dan Hawa agar anaknya ini akan hidup saleh dan membangun kembali hubungan dengan Allah seperti yang pernah Adam dan Hawa nikmati di Taman Eden sebelum mereka jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:8).

 

Dari nama itu kita juga dapat mengetahui bahwa Adam dan Hawa telah bertobat dan kembali menjalankan iman mereka. Mereka telah mengajar Kain untuk percaya kepada Allah. Ini terlihat dari Kain yang mempersembahkan hasil pertaniannya kepada Allah (Kejadian 4:3).

 

Tetapi rupanya kehidupan rohani Kain tidak bertumbuh seperti yang diharapkan oleh orang tuanya. Kain percaya kepada Allah tetapi tidak menjalankan kehidupan yang saleh; tidak membangun hubungan yang intim dengan Allah sebagaimana yang telah diajarkan Adam dan Hawa kepadanya melalui contoh kehidupan di Taman Eden dan kejatuhan mereka. Kain tidak menunjukkan “rasa hormat” kepada Allah.

 

Hal ini terlihat dari nama yang diberikan Adam dan Hawa kepada anak keduanya, yang dinamainya Habel (Kejadian 4:2). Habel berarti “kehampaan,” “kekosongan.” Nama ini mengandung pernyataan kekecewaan Adam dan Hawa melihat perkembangan kehidupan rohani Kain yang tidak menunjukkan kesalehan dan penghormatan kepada Allah seperti yang telah diajarkan dan diharapkan mereka.

 

Namun demikian anak kedua mereka Habel berbeda dengan Kain. Habel menjadi seorang anak yang saleh; ia bukan hanya percaya kepada Tuhan tetapi juga menghormati Tuhan. Ini terlihat dari persembahannya yang mempersembahkan korban persembahan dari “anak sulung” kambing dombanya, yakni “lemak-lemaknya” sehingga menjadi persembahan yang menyenangkan hati Tuhan (Kejadian 4:4). Habel menyenangkan hati Tuhan. Ia menghormati dan memuliakan Tuhan dengan hasil pertama dari usaha ternaknya.

 

“Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu” (Amsal 3:9)

 

(Itulah sebabnya memberikan “Perpuluhan” adalah salah satu bentuk penghormatan kita kepada Allah dan penaklukkan diri kita kepada kedaulatan Allah sebagai Raja yang berkuasa dan memerintah hidup kita, sebagaimana Abraham memberikan perpuluhan kepada Melkisedek, Raja Salem, yang merupakan representasi Anak Allah: Kejadian 14:18-20).

 

Sedangkan Kain hanya mempersembahkan “sebagian dari hasil” pertaniannya kepada Tuhan “setelah beberapa waktu lamanya” (Kejadian 4:3). Jadi Kain tidak mempersembahkan hasil pertama (buah bungaran; first fruit). Kemungkinan Kain mempersembahkannya bersamaan dengan Habel, padahal seharusnya karena ia lebih sulung ia telah lebih dahulu mempersembahkan hasil pertama pertaniannya sebelum Habel.

 

“Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah Tuhan” (Keluaran 23:19).

 

Jadi walaupun Kain mempersembahkan kepada Tuhan tetapi ia mempersembah-kan bukan dari rasa hormatnya kepada Tuhan (hanya formalitas saja), dan Tuhan mengetahui sikap hati Kain. Tuhan bukan melihat persembahan apa yang diberikan, baik jenisnya (hewan atau hasil pertanian), maupun berapa jumlahnya (ingat persembahan si janda miskin: Markus 12:42-44), tetapi Tuhan melihat sikap hati orang yang mempersembahkannya: apakah dengan rasa hormat kepada Tuhan (Maleakhi 1:6-14).

 

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hati” (1 Samuel 16:7).

 

Sikap kurang hormat Kain kepada Allah menjadi “celah” (kesempatan) bagi si Jahat untuk mencobai dia.

 

“Janganlah beri kesempatan (celah) kepada Iblis” (Efesus 4:27)

 

Ketika Allah tidak berkenan kepada persembahan Kain dan lebih berkenan kepada persembahan Habel yang lebih menghormati Allah, maka Kain menjadi marah kepada Allah dan iri hati kepada Habel adiknya (Kejadian 4:4-5).

 

“Maka Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram” (Kejadian 4:4-5).

 

Sebetulnya ini bukanlah situasi yang tidak dapat diperbaiki jika Kain menyadari bahwa Allah tidak berkenan kepadanya dan segera memperbaiki sikapnya dengan menunjukkan rasa hormat kepada Allah dan kesalehan yang tulus, maka Allah pasti mengampuni dia dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri.

 

“Maka sekarang: Cobalah melunakkan hati Allah (dengan bertobat dan memperbaiki sikap), supaya Ia mengasihani kita!” (Maleakhi 1:9).

 

Allah sendiri sudah menegur Kain dan memperingatkannya supaya ia jangan membiarkan hatinya panas oleh amarah (kepada Allah) dan iri hati kepada adiknya, sebab itu akan membuka celah dan kesempatan yang lebih besar lagi kepada Iblis untuk mencobai dia dan merusak hidupnya.

 

“Firman Tuhan: Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri jika engkau berbuat baik (memperbaiki sikapmu)? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik (bersikeras dengan amarah dan iri hatimu), dosa sudah mengintip di muka pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya (mengalahkan godaannya)” (Kejadian 4:6-7).

 

“Apabila seorang dicobai (untuk berbuat dosa), janganlah ia berkata: Pencobaan (untuk berbuat dosa) ini datang dari Allah. Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat (untuk membujuk kita berbuat dosa), dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun (untuk berbuat dosa). Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya (untuk berbuat dosa). Dan apabila keinginan (daging) itu telah dibuahi (pikiran dan niat jahat), ia melahirkan (perbuatan) dosa; dan apabila dosa itu sudah matang (menjadi tindakan jahat), ia melahirkan maut (sebagai upahnya: Roma 6:23)” (Yakobus 1:13-15).

 

Iblis tidak akan pernah puas dan berhenti hanya sampai ia bisa “mengintip” lewat celah saja. Ia akan terus mendesak masuk sampai ia dapat melaksanakan rencananya, yaitu “mencuri, membunuh, dan membinasakan” (Yohanes 10:10). Jika tidak segera bertobat dan menutup celah, maka keadaan akan semakin buruk.

 

Sebelumnya juga Iblis telah berhasil memanfaatkan “celah” yang dibuat oleh Hawa karena “rasa kepenasarannya” (curiosity) dan “pembiaran”  yang dilakukan Adam terhadap isterinya untuk berbincang-bincang dengan si ular (yang adalah representasi si Jahat; Kejadian 3:1-5). Ia berhasil membujuk Hawa untuk mencoba memakan buah yang dilarang itu dan memberikannya kepada Adam suaminya (Kejadian 3:6). Sejak itulah dosa  masuk ke dalam dunia, dan juga maut.

 

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12).

 

Iblis sebetulnya ingin membunuh Adam dan Hawa sebagaimana peringatan yang dikatakan Allah apabila mereka melanggar perintah Allah dengan memakan buah pohon yang dilarang, yaitu: “Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16). Tetapi Tuhan masih berbelas kasihan kepada mereka dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat.

 

Adam dan Hawa “merasa bersalah dan sangat malu” terhadap Allah sehingga mereka menyembunyikan diri mereka terhadap Allah (Kejadian 3:7-8). “Rasa malu dan bersalah” ini setidaknya telah menyelamatkan Adam dari rencana Iblis bertindak lebih jauh untuk membunuh mereka. Celakanya, banyak orang yang tidak merasa malu dan bersalah di hadapan Allah setelah mereka berbuat dosa, tentulah ini membuka kesempatan yang sangat besar kepada Iblis untuk “membunuh dan membinasakan” mereka.

 

Allah kemudian mencari Adam dan Hawa dengan bertanya “Di manakah engkau?” (Kejadian 2:9). Allah bukan tidak tahu keberadaan Adam dan Hawa yang sedang bersembunyi sebab Ia mahatahu dan tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Allah hanya sedang membuka “kesempatan” bagi Adam dan Hawa melalui pertanyaan itu untuk mengakui dosa mereka sehingga dengan demikian mereka  dapat diampuni dan tidak usah mati. Beruntunglah Adam dan Hawa mau mengakui dosa dan kesalahan mereka walaupun dengan saling menyalahkan (Kejadian 2:10-13).

 

Allah tetap harus menghukum mereka karena mereka telah tidak taat dan mendengarkan nasihat si Jahat, musuh Allah (Kejadian 3:14-19). Namun demikian Allah membiarkan mereka hidup karena Allah hendak menyelamatkan generasi manusia yang sekarang telah mengandung dosa  dan maut dalam tubuhnya (Roma 3:23; 6:23). Ia menjanjikan “Penyelamat” yang akan lahir ke dunia sebagai “keturunan perempuan” (Kejadian 2:15). Allah juga memberikan “Injil” tentang “penebusan” melalui pengorbanan hewan yang kulitnya dibuat Allah menjadi pakaian untuk mereka yang melambangkan pengorbanan Juruselamat (Kejadian 3:21). Namun demikian mereka tetap diusir dari Taman Sukacita (Taman Eden) karena dosa yang sekarang ada dalam tubuh mereka. Allah tidak lagi dapat bersekutu dengan mereka seperti sebelumnya (Kejadian 2:22-24). Meskipun demikian Adam dan Hawa diberi kesempatan untuk hidup, bahkan memiliki umur yang panjang: 930 tahun (Kejadian 5:5) karena memang manusia pada mulanya dirancang Allah untuk memiliki hidup yang kekal. Adam tidak jadi mati setelah makan buah yang terlarang karena kemurahan Allah dan karena Allah hendak menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan kekal di Neraka yaitu melalui Penebus, Anak-Nya Yang Tunggal.

 

“Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? Demikianlah firman Tuhan Allah. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup” (Yehezkiel 18:23)

 

“Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Petrus 3:9)

 

Kembali kepada kisah Kain. Meskipun Allah telah memperingatkan Kain untuk segera bertobat dan mengubah sikapnya agar Iblis jangan masuk lebih dalam lagi dalam kehidupannya, namun demikian karena Kain tidak saleh dan tidak menghormati Allah, maka ia mengabaikan nasihat Allah dan lebih mengikuti hawa nafsu dan keinginannya sendiri, sehingga Iblis sekarang bisa melanjutkan rencananya.

 

Kain sekarang bukan hanya marah kepada Allah dan iri dengki kepada adiknya, Kain juga sekarang memiliki niat jahat, yaitu ingin membunuh adiknya. Inilah pekerjaan Iblis, yaitu “pembunuh.”

 

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta” (Yohanes 8:44).

 

Itulah sebabnya kita harus segera bertobat dan menutup celah yang sudah terbuka supaya Iblis jangan mendapat “keuntungan” atas kita.

 

“Supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya” (2 Korintus 2:11).

 

Akhirnya, Kain “menjadi anak Iblis” sebab ia lebih menuruti keinginan Iblis daripada nasihat Allah. Ia membunuh Habel (Kejadian 4:8). Habel anak Adam yang saleh usianya pendek seperti arti lain dari namanya: Habel yang bearti “uap napas.” Ia mati dibunuh oleh kakaknya sendiri. Itu adalah pembunuhan manusia yang pertama. Iblis tidak berhasil membunuh Adam dan Hawa tetapi berhasil membunuh Habel anaknya.

 

Namun demikian Allah masih ingin menyelamatkan Kain dan memberinya kesempatan untuk bertobat dengan menanyakan kepada Kain tentang adiknya: “Di mana Habel, adikmu itu?” (Kejadian 4:9). Allah juga bukan tidak tahu bahwa Habel telah mati sebab “darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah” (Kejadian 4:10). Allah mau memberi kesempatan kepada Kain untuk mengakui dosanya dan bertobat sehingga Allah bisa mengampuninya (meskipun tetap ada akibatnya).

 

Allah tetaplah Allah yang tidak menghendaki kematian orang fasik. Ia konsisten dengan sikap-Nya itu sebab Ia adalah Allah yang Maha pemurah dan pengampun:

 

“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakukannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehezkiel 33:11)

 

Oleh sebab itu tawaran pengampunan selalu dikumandangkan:

 

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).

 

Tetapi kemurahan Allah ini jangan disalahgunakan dengan hidup jatuh bangun dalam dosa:

 

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakana? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak!” (Roma 6:1-2).

 

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7).

 

Seharusnya Kain mengakui dosanya di hadapan Allah dan memohon pengampunan Allah. Namun demikian karena ia sudah menjadi “anak Iblis” ia melakukan keinginan Iblis lainnya yaitu “berdusta” kepada Allah dan membangkang (memberontak) terhadap Allah.

 

“Jawabnya: Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kejadian 4:9).

 

Oleh karena itu Allah sangat marah dan Allah menghukum Kain lebih berat dari pada Adam. Jika Adam harus banyak menghadapi “onak duri” (kesusahan) dalam hidupnya dan harus “berpeluh” (bersusah payah) untuk mencari rejekinya seumur hidupnya (Kejadian 3:17-19), maka sekarang Kain hidup di bawah kutuk karena menolak untuk bertobat dan tanah menolak dia, sehingga apapun yang ia usahakan tidak akan berhasil, dan Kain hidup menjadi seorang pengembara, tanpa tujuan hidup yang benar di dalam dunia (Kejadian 4:11-12).

 

Ketika mendengar hukuman ini Kain tetap tidak merendahkan diri dan memohon belas kasihan Tuhan tetapi ia marah kepada Tuhan, meninggalkan Tuhan dan menghukum dirinya sendiri (Kejadian 4:13-14). Tuhan sebenarnya menawarkan perlindungan terhadap Kain supaya ia jangan dibunuh orang dengan menaruh “tanda pada Kain” (Kejadian 4:15). Namun demikian Kain tetap lari dari hadapan Tuhan. Ia gugur imannya. Ia menolak perlindungan Tuhan dan berusaha untuk melindungi dirinya dengan kekuatan dan hikmatnya sendiri dengan mendirikan sebuah kota untuk mencukupi kebutuhan hidup tanpa bergantung kepada pertolongan Tuhan (Kejadian 4:16-17). Ia sekarang mengandalkan “dedikasi” dan “prakarsa” manusia untuk hidup di luar Allah. Ia juga membangun kota untuk kebanggaan dirinya sendiri. Itulah sebabnya kota yang didirikannya dinamai dengan nama anaknya, “Henokh” (ini Henokh keturunan Kain bukan keturunan Set: Kejadian 5:19-23), yang artinya “dedikasi” dan “prakarsa.” Ini adalah dasar “humanisme” yang berusaha melindungi diri tanpa pertolongan Tuhan dan membesarkan dirinya sendiri (bukan memuliakan Tuhan). Prinsipnya adalah jika manusia punya prakarsa dan mau berdedikasi mewujudkannya maka mereka dapat berhasil tanpa perlu pertolongan Tuhan.

 

“Mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana” (Kejadian 11:6).

 

Tetapi dari Alkitab kita mengetahui bahwa generasi Kain hanya sampai generasi kelima, yaitu Lamekh (Kejadian 4:18). Ini Lamekh yang berbeda dengan Lamekh keturunan Set  (Kejadian 5:26-31). Lamekh keturunan Kain adalah orang yang lebih jahat dari Kain karena ia seorang pembunuh yang kejam (Kejadian 4:24). Setelah Lamekh generasi Kain seolah-olah hilang begitu saja seperti dihapuskan jejaknya oleh Allah. Lagi pula berbeda dengan keturunan Set yang dicatat waktu kelahiran, umurnya dan waktu kematiannya, tidak ada catatan seperti itu untuk keturunan Kain, dari Kain sampai Lamekh. Ini menunjukkan bahwa kehidupan mereka sama sekali tidak diperhatikan Allah.

 

“Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!” (Mazmur 69:29).

 

Demikianlah yang akan terjadi jika kita mengikuti jejak Kain, yang walaupun pergi beribadah di gereja namun tidak hidup saleh dan tidak memiliki rasa hormat kepada Allah. Iblis akan menemukan celah untuk mengerjakan rencananya yang jahat dalam kehidupan kita. Jika kita tidak bertobat dan tetap mengeraskan hati maka kita akan kehilangan iman kita, hidup di luar Tuhan, hidup dengan kefasikan dan mengandalkan diri sendiri, sehingga kehidupan kita sama sekali tidak menjadi perhatian Tuhan dan akhirnya musnah dalam kebinasaan.

 

“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan hatinya menjauh dari pada Tuhan!” (Yeremia 17:5)

 

“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yeremia 17:7-8).

 

(Sebagian isi tulisan ini mengambil pelajaran dari buku “Silsilah Di Kitab Kejadian” yang ditulis oleh Pdt. Abraham Park, D.Min,D.D.; Grasindo dan Yayasan Damai Sejahtera Utama; tahun 2010).

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Ada Mujizat Natal Untuk Saudara!

Pada hari Natal kita merayakan kelahiran Yesus yang terjadi lebih dari 2000 tahun yang lalu. Natal selalu merupakan hari yang istimewa bagi kita. Kita merasakan keceriaan dan kehangatan kasih di hari Natal.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday305
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2855
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14568
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908743

People Online 25
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:29



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.