top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Orang Kristen Palsu PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Tuesday, 01 September 2015 14:07

Menjelang kedatangan Tuhan Yesus kembali yang semakin mendekat kita harus mempersiapkan diri dengan lebih seksama lagi (Matius 24:44). Kita perlu dan harus memeriksa dan mengevaluasi kondisi iman atau kerohanian kita hari ini dan bahkan setiap hari agar kita memiliki keberanian hati untuk bertemu Kristus pada hari kedatangan-Nya dan tidak malu berdiri di hadapan-Nya.

 

“Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya” (1 Yohanes 2:28).

 

Oleh karena itu marilah kita menguji diri kita sendiri dan memeriksa kondisi iman dan kerohanian kita dari waktu ke waktu supaya kita jangan terlena (Matius 25:5) dan tertipu oleh pikiran dan perasaan kita sendiri atau pemikiran-pemikiran yang keliru yang membuat kita lengah dan tersesat (Matius 24:4).

 

“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji” (2 Korintus 13:5).

 

Ayat di atas jika kita jabarkan secara praktis dapat berbunyi sebagai berikut:

 

Ujilah, periksalah dan lakukan evaluasi terhadap kondisi iman dan kerohanianmu sendiri (1 Timotius 4:16). Apakah kamu dapat melihat kondisi imanmu hari ini masih tetap berdiri teguh. Selidikilah, periksa dengan teliti dan seksama, dan jangan hanya selayang pandang saja, kondisi imanmu sendiri, bukan orang lain. Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu, karena kamu tidak melihat buah-buah yang sesuai dalam dirimu (Yohanes 15:5), dan karena keyakinanmu hanya atas dasar perkataan saja (Ayub 42:5) dan bukan karena pengalaman pribadi bersama Kristus yang terus menerus bertambah? (2 Petrus 3:18). Jika ternyata kamu tidak yakin bahwa Kristus Yesus ada di dalam dirimu, maka kamu sebenarnya orang Kristen yang palsu, gagal dan tidak lolos uji, sehingga kamu tidak dikenal dan diakui Tuhan (Matius 7:23), didiskualifikasi dan ditolak (1 Korintus 9:27).

 

Kita harus memeriksa kondisi iman kita hari ini dan dari waktu ke waktu. Kita tidak boleh terlena dan puas dengan kondisi iman masa lalu kita, sementara kondisi iman kita hari ini telah sangat menurun dan mulai padam (Wahyu 2:5). Kita harus menjaga kondisi iman kita sampai garis akhir kehidupan kita (2 Timotius 4:7). Jika kita berhasil menjaga iman kita sampai akhir maka iman dan perbuatan baik yang dahulu diperhitungkan dan kita akan menerima mahkota dari Tuhan (2 Timotius 4:8). Namun jika pada akhir jalan hidup kita kita kedapatan mundur, maka semua yang dahulu pernah kita miliki menjadi tidak berarti dan tidak diperhitungkan karena kita telah tidak setia (Ibrani 6:4-6).

 

Itulah sebabnya rasul Paulus menasihatkan kita untuk “mengerjakan” (work out) keselamatan kita (Filipi 2:12). Ini bukan bekerja atau berusaha untuk   mendapatkan (work for) keselamatan kita, karena kita diselamatkan oleh iman dan bukan karena karena hasil usaha kita (Efesus 2:8). Tetapi ini adalah usaha dan perjuangan untuk tetap mempertahankan dan memelihara iman yang telah menyelamatkan kita sampai ke garis akhir: bertanding dalam pertandingan iman yang benar (1 Timotius 6:12).

 

Iman yang menyelamatkan adalah iman di mana kita yakin dan percaya bahwa Yesus Kristus ada di dalam kita dan hidup (menjalankan hidup-Nya) dengan aktif di dalam kita (Galatia 2:20). Yesus Kristus di dalam kita, itulah jaminan keselamatan kita. Kehadiran Yesus di dalam kita adalah melalui Roh Kudus-Nya yang tinggal dan berdiam di dalam kita (Yohanes 14:16-17; 1 Korintus 3:16; 6:19).

 

Selama Yesus Kristus ada dan tinggal di dalam kita, maka kita berkenan kepada Bapa. Bapa berkenan kepada kita bukan oleh karena kebaikan kita namun karena Kristus yang ada di dalam kita dan hidup di dalam kita. Namun demikian perbuatan-perbuatan baik itu adalah konfirmasi bahwa Yesus sungguh-sungguh ada dan hidup di dalam kita. Itulah buah-buah yang sesuai yang membuat kita yakin bahwa Yesus sungguh-sungguh ada dan hidup di dalam kita, dan bukan hanya perkataan belaka. Jadi, keyakinan kita bukan tanpa dasar yang kuat, bukan hanya pikiran dan perasaan kita sendiri saja, melainkan diteguhkan dengan buah-buah nyata yang nampak dalam kehidupan kita dan dari pengalaman-pengalaman pribadi kita bersama Kristus yang semakin bertambah dari hari ke hari.

 

Jika kita hanya memiliki keyakinan dari “apa kata orang” sementara kita sendiri menyadari dan melihat bahwa tidak ada buah-buah yang sesuai dengan iman kita itu, dan kita tidak memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus, maka iman dan keyakinan kita palsu (counterfeit); hanya sebatas pernyataan, kata-kata, keyakinan tanpa dasar, hanya pikiran dan perasaan sendiri saja.

 

Jika ternyata kita adalah orang Kristen yang palsu, maka kita tidak akan lolos uji dan akan ditolak (rejected). Memang orang Kristen yang palsu dan yang asli sukar dibedakan oleh mata manusia. Tetapi Tuhan mengetahuinya. Karena manusia hanya memandang apa yang terlihat mata tetapi Tuhan melihat sampai ke dalam hati (1 Samuel 16:7). Ia menilai kualitas iman kita. Jika kita ternyata orang Kristen yang palsu Tuhan tidak akan mengakui kita, Tuhan tidak mengenal kita, dan Tuhan akan menolak kita.

 

Ini adalah seperti proses produksi di sebuah pabrik yang memproduksi suatu produk. Memang semua produk yang dihasilkan kelihatannya sama. Tetapi kemudian akan dilakukan uji mutu (quality control). Barang-barang yang nampak sama itu akan diuji kualitasnya. Jika ternyata tidak lolos uji maka barang itu akan dinyatakan tidak sesuai kualitas dan dijadikan barang “reject.”

 

Jadi memang ada orang yang menyebut dirinya “Kristen” atau “Orang Percaya” yang akan ditolak masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Tuhan Yesus sendiri menyatakannya:

 

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 7:21).

 

Kata “Ku” di sini menunjuk kepada Tuhan Yesus sendiri yang pada waktu itu sedang berkata-kata dan mengajar. Orang yang berseru kepada Yesus: Tuhan, Tuhan! pastilah “orang Kristen” atau “orang percaya.” Sebab hanya orang Kristen yang memanggil Yesus: Tuhan.  Jadi dengan kata lain ayat itu dapat berbunyi: “Bukan semua orang Kristen (percaya) akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

 

Bahkan bukan hanya orang yang menyebut dirinya Kristen, tetapi lebih dari itu orang yang mengaku dirinya “pelayan Tuhan”, sebab Tuhan Yesus juga menyatakan:

 

“Pada hari terakhir banyak orang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan (bukankah kami) mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” (Matius 7:22).

 

Siapakah orang Kristen yang bernubuat, mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat “demi nama Tuhan”? Mereka bukan orang Kristen awam atau yang biasa, mereka adalah orang-orang yang aktif  “melayani” Tuhan. Tetapi mengapa mereka juga ditolak masuk ke dalam Kerajaan Sorga?

 

Karena dalam melayani mereka bukan melakukan kehendak Bapa yang si sorga, melainkan kehendak mereka sendiri dan ambisi mereka sendiri. Mereka hanya memberi embel-embel “demi nama Tuhan.” Semua yang mereka lakukan adalah inisiatif diri mereka sendiri bukan karena dorongan Roh Kudus. Itulah sebabnya mereka mengklaim “bukankah kami” bernubuat, mengusir setan dan mengerjakan banyak mujizat demi nama-Mu?

 

Jangan kita berpikir bahwa jika kita melakukan sesuatu dengan embel-embel demi nama Tuhan, maka Tuhan akan berkenan. Belum tentu, sebab pertanyaan-nya adalah apakah semua perbuatan baik itu dikerjakan atas dasar ketaatan dan berkenan kepada Tuhan? Ingat saja dengan apa yang dilakukan raja Saul. Raja Saul adalah raja pertama Israel, seorang yang “diurapi Roh Kudus” (1 Samuel 10:1). Ia melakukan apa yang dipandangnya baik dan “untuk Tuhan,” tetapi kemudian Tuhan menolaknya. Ia mempersembahkan korban bakaran yang seharusnya dilakukan oleh nabi Samuel. Bukankah ia mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan dan demi nama Tuhan? Tetapi ia dianggap lancang oleh Tuhan sebab ia melakukan apa yang tidak diperintahkan (1 Samuel 13-14). Selain itu, raja Saul juga tidak melakukan apa yang diperintahkan, yaitu ketika Tuhan memerintahkan dia untuk membinasakan orang Amalek. Ia menyelamatkan Agag, raja orang Amalek dan menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik (1 Samuel 15:9) dengan alasan bahwa kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik itu untuk dipersembahkan kepada Tuhan (ayat 15). Tetapi apakah penilaian Tuhan atas semua tindakan Saul yang katanya “demi nama Tuhan” itu, namun bukan atas dasar ketaatan?

 

“Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara (menaati) Tuhan? Sesungguhnya mendengarkan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1 Samuel 15:22).

 

Jadi, apapun perbuatan baik yang kita lakukan dalam rangka pelayanan dan dilakukan demi nama Tuhan, namun jika dilakukan atas kehendak dan inisiatif sendiri dan bukan dalam ketaatan kepada Tuhan, maka Tuhan menolaknya!

 

Memang ini adalah masalah dengan kebanyakan “pelayan Tuhan”: mereka melakukan apa yang tidak diperintahkan Tuhan tetapi justru tidak melakukan apa yang diperintahkan Tuhan; mereka lancang dan sekaligus juga bandel atau tidak taat.

 

Jadi, janganlah kita “bodoh” tetapi haruslah kita mengerti apa “kehendak Tuhan” (Efesus 5:17), yaitu “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Sebab itu hendaklah kita selalu hidup penuh dengan Roh Kudus dan dipimpin oleh Roh Kudus (Galatia 5:25) supaya kita dapat mengetahui kehendak Tuhan (1 Korintus 2:10) dan hidup dalam ketaatan (Yehezkiel 36:27).

 

Hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang di sorga adalah anak-anak Allah sejati. Kita memang telah diangkat sebagai anak-anak Allah ketika kita percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 1:12). Sejak saat itu kita diberi status sebagai “anak-anak Allah.” Namun realitas sebagai anak-anak Allah hanya terjadi ketika kita hidup dipimpin oleh Roh Kudus (Roma 6:14) dan melakukan kehendak Bapa yang di sorga. Jika kita tidak melakukan kehendak Bapa, maka kita bukanlah “anak-anak Allah” sejati. Yesus sendiri sebagai Anak Allah Yang Tunggal menyatakan: “Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku!” (Yohanes 6:38).

 

Banyak orang Kristen yang menyebut diri mereka sebagai “anak-anak Allah” tidak melakukan kehendak Allah Bapa, melainkan kehendak diri mereka sendiri. Mereka tidak hidup untuk kehendak Allah Bapa melainkan untuk keinginan mereka sendiri.

 

Ketika mereka melakukan kehendak diri mereka sendiri sebenarnya mereka sedang melakukan kehendak Iblis, karena Iblis tidak menginginkan kehendak Allah terjadi. Ia membujuk orang untuk melakukan keinginan mereka sendiri dan tidak usah melakukan kehendak Allah. Dan itu cocok dengan “keinginan daging” mereka (Roma 8:7-8), sehingga tanpa sadar ketika orang melakukan kehendak diri mereka sendiri dan bukannya melakukan kehendak Allah mereka sedang melakukan kehendak Iblis dan menjadikan Iblis bapa mereka.

 

Ketika orang-orang Yahudi yang menyembah Allah Yehova dan beribadah berdasarkan Hukum Taurat Musa tetapi mereka menolak Yesus bahkan mau membunuh Yesus, maka Yesus mengatakan bahwa Iblislah yang menjadi bapa mereka, karena mereka sedang melakukan kehendak bapa mereka, yaitu Iblis. Itulah sebabnya orang-orang yang mengaku Kristen tetapi tidak melakukan kehendak Bapa di sorga adalah orang Kristen palsu. Mereka bukanlah anak-anak Allah sejati sebab mereka sedang melakukan kehendak Iblis dan menjadikan Iblis bapa mereka yaitu dengan hidup hanya untuk keinginan mereka sendiri. Itulah sebabnya orang-orang Kristen demikian ditolak masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

 

Lagi pula, jika kita berseru atau memanggil Yesus: “Tuhan,” maka kita haruslah menaklukkan diri kita kepada-Nya dalam ketaatan kepada segala perintah-Nya. Jika kita tidak hidup dalam ketaatan kepada perintah-Nya, yang adalah kehendak Bapa yang di sorga, maka “panggilan Tuhan” kepada Yesus itu tidak lebih dari kata-kata hampa saja; hanya basa basi dan kebiasaan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan: “Bukan semua orang yang berseru kepada-Ku, Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa yang di sorga.”

 

Tuhan Yesus kemudian menyatakan: “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka  dan berkata: Aku tidak mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23).

 

Pernyataan Tuhan Yesus ini seirama dengan ajaran yang disampaikan rasul Paulus dalam 2 Timotius 2:19: “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.”

 

Orang yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga hanyalah orang yang dikenal  dan diakui oleh Tuhan. Siapakah orang yang dikenal dan diakui oleh Tuhan? Bagaimanakah agar kita dikenal dan diakui oleh Tuhan sehingga kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga?

 

Tuhan hanya mengenal dan mengakui orang Kristen yang melakukan kehendak Bapa di sorga, tetapi para pemberontak dan yang hidupnya tidak taat tidak dikenal-Nya dan tidak diakui-Nya. Mereka akan ditolak masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

 

1 Samuel 15:23: “Karena pendurhakaan (pembangkangan) adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan (ketidaktaatan) sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak (untuk menaati) Firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.”

 

Pembangkangan dan ketidataatan akan berujung pada penolakan Tuhan untuk mengakui kita sebagai milik-Nya dan masuk ke dalam Kerajaan-Nya.

 

Tuhan hanya mengenal orang yang menjadi “kepunyaan-Nya.” Secara yuridis kita memang sudah menjadi milik Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus telah membeli kita dan harganya telah lunas dibayar (1 Korintus 6:20), yaitu dengan darah dan nyawa-Nya sendiri. Tetapi secara fakta kita baru menjadi milik Tuhan sejati ketika kita “menyerahkan” hidup kita secara total kepada-Nya (Roma 12:1). Meskipun Ia sudah membeli kita Ia tidak bisa memaksa kita untuk menyerahkan diri kita sebab kita memiliki kehendak bebas. Tuhan hanya dapat memiliki kita sepenuhnya ketika kita mempersembahkan diri kita kepada-Nya untuk menjadi milik sejati-Nya.

 

Misalkan kita membeli sebuah lemari (knock-down) di sebuah toko meubel modern. Setelah kita membayar lunas maka kita menerima secarik nota pembelian yang sudah lunas yang menyatakan bahwa kita sudah membeli dan membayar lunas satu unit lemari. Secara hukum kita sudah memiliki lemari itu, tetapi secara kenyataannya belum, sebab ketika kita pulang ke rumah kita tidak membawa lemari itu melainkan hanya secarik nota pembelian. Lemari itu baru secara kenyataan menjadi milik kita dan dapat kita nikmati ketika pihak toko sudah mengirimkannya ke rumah kita secara utuh. Jika salah satu pintu atau dinding lemari tidak dikirimkan, maka kita tidak bisa menikmati lemari itu. Apalagi jika tidak dikirimkan sama sekali, maka kita bisa menuntut secara hukum toko itu karena tidak mengirimkan lemari yang telah kita beli dan bayar lunas, atau tidak mengirimnya secara utuh.

 

Hal yang sama dapat terjadi dengan kita. Tuhan Yesus telah membeli kita dan harganya telah lunas dibayar dengan darah dan nyawa-Nya ketika Ia mati di kayu salib menebus manusia (Wahyu 5:9). Secara hukum Tuhan Yesus adalah pemilik sejati hidup kita. Tetapi kita hanya dapat menjadi “kepunyaan-Nya” apabila kita menyerahkan hidup kita seluruhnya. Hanya jika kita menyerahkan hidup kita seluruhnya barulah kita menjadi kepunyaan-Nya dan dikenal oleh-Nya sebagai milik-Nya dan diakui-Nya di hadapan Bapa di sorga. Tetapi jika orang tidak menyerahkan hidupnya seluruhnya setelah ia menerima anugerah keselamatan, maka ia bukan milik Tuhan sejati dan Tuhan tidak akan mengakuinya sebagai milik-Nya dan berkata terus terang kepadanya: “Aku tidak pernah mengenal kamu!” Dan Tuhan akan “menuntut” dia sebab ia tidak menyerahkan hidupnya seluruhnya kepada Tuhan.

 

Banyak orang Kristen pergi ke gereja secara rutin tetapi bukan karena ia ingin mengenal Tuhan secara intim, melainkan hanya menjalankan kewajiban agama saja. Ia tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan berusaha mengenal Dia. Orang seperti itu tidak dikenal oleh Tuhan, karena ia sendiri tidak ingin mengenal Tuhan. Meskipun ia ke gereja namun hatinya jauh dari Tuhan (Matius 15:8-9). Itulah sebabnya walaupun telah bertahun-tahun pergi ke gereja, kerohaniannya tidak bertumbuh. Setelah ia selesai beribadah di gereja selama satu atau dua jam, maka ia merasa cukup dan menanti sampai hari Minggu berikutnya untuk ke gereja lagi. Sementara itu sepanjang minggu itu ia sama sekali tidak mencari Tuhan. Akibatnya ia tidak memiliki pengenalan akan Tuhan dan Tuhan pun tidak mengenal dia dan menolaknya masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Ia pun akan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu!”

 

Hosea 4:6 mengatakan “umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah.” Orang sangka hanya dengan menjalankan kewajiban agama seminggu sekali saja cukup, padahal Tuhan menghendaki kita mengenal Dia secara intim. “Sebab Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah lebih dari korban-korban bakaran” (Hosea 6:6). Oleh sebab itu “Marilah kita mengenal Tuhan dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi” (Hosea 6:3).

 

Jika kita berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan, maka kita tidak puas hanya telah beribadah di gereja selama satu sampai dua jam, kita akan mencari Dia setelah itu di rumah kita setiap hari sepanjang minggu karena kita rindu mengenal Dia. Dan walaupun usaha kita belum sempurna namun Tuhan akan mengenal kita karena kita telah berusaha sungguh-sungguh mengenal Dia. Jika Tuhan mengenal kita, maka Ia akan membukakan pintu untuk kita agar kita dapat masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Ia akan berkata “masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu!”

 

Tuhan juga akan menolak orang yang berseru kepada-Nya tetapi tetap hidup dalam kejahatan. “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan” (2 Timotius 2:19). Kejahatan apa yang dimaksudkan? Ini bukan hanya bicara tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum Allah saja (1 Korintus 6:9-10) tetapi setiap tindakan yang didasarkan atas ketidaktaatan dan pembangkangan.

 

Standar “baik dan jahat” di mata Allah berbeda dengan penilaian manusia yang telah memakan buah dari “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 2:17). Apa yang dinilai baik oleh manusia dan tidak dianggap sebagai kejahatan, namun itu dilakukan dalam ketidaktaatan kepada Allah, maka di mata Allah hal itu adalah “kejahatan.” Dan jika orang tidak mengakui kejahatannya dan bertobat, melainkan terus hidup dalam ketidaktaatan dan pembangkangan, maka pastilah Tuhan akan menolak orang itu masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Ia akan berkata: “Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23).

 

Pertanyaannya adalah bagaimana dengan “Kasih Karunia”? Bukankah kita tidak lagi hidup seperti di bawah Hukum Taurat melainkan di bawah Kasih Karunia? (Roma 6:14). Benar! Kita yang percaya kepada Kristus berada di dalam kasih karunia Allah. Sebab “oleh Dia (Kristus) kita juga beroleh jalan masuk (akses) oleh iman kepada kasih karunia ini” (Roma 5:2).

 

Kita menerima keselamatan, yaitu pengampunan dosa dan kehidupan yang kekal, karena kasih karunia oleh iman kepada Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2:8). Kita juga diberi kesempatan hidup sampai saat ini karena kasih karunia Tuhan (1 Korintus 15:10). Dan kita juga mengisi kehidupan yang telah dikaruniakan dengan “berjuang” (Lukas 13:24) menjalani “pertandingan iman” (1 Timotius 6:12) kita, dan “mengerjakan keselamatan” (Filipi 2:12) kita dengan kuasa kasih karunia Tuhan yang bekerja dengan kuat di dalam kita (Kolose 1:29; 1 Korintus 10).

 

Kasih karunia Tuhan akan menolong kita untuk melakukan kehendak Allah, melalui kuasa Roh Kudus yang bekerja dengan hebat di dalam kita (Efesus 1:19), jika kita mau dan bersedia. Kasih karunia tersedia bagi orang yang tidak berdaya tapi mau dan bersedia: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).

 

Kasih karunia tersedia bagi kita ketika kita “gagal” dalam ketaatan kita, yaitu dengan memberi pengampunan ketika kita mengakuinya dengan tulus dan sungguh-sungguh (1 Yohanes 1:8-9). Kasih karunia akan menyempurnakan perjuangan yang telah kita lakukan dan menerima ketidaksempurnaan kita ketika kita nanti berdiri di hadapan “tahta pengadilan” Kristus (2 Korintus 5:10).

 

Tetapi, kasih karunia tidak berlaku bagi orang yang tidak mau dan yang malas (Matius 25:26-30). Kasih karunia tidak berlaku bagi orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri (Yeremia 17:5). Kasih karunia tidak berlaku bagi orang yang tidak mau mengakui dosa dan kegagalannya dengan jujur dan sungguh-sungguh dan hidup bertekun dalam dosa (Roma 6:1-2).

 

Jika kita menguji kondisi iman kita berdasarkan petunjuk-petunjuk dari firman Allah dan mendapati semuanya baik dan sesuai, terpujilah Tuhan! Karena kita boleh memiliki keberanian percaya berhadapan dengan Dia dan tidak usah malu pada waktu kedatangan-Nya. Tetapi jika ternyata kondisi iman kita saat ini tidak sesuai, segeralah perbaiki dengan pertobatan yang sungguh-sungguh: serahkanlah hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan dan izinkan Roh Kudus memenuhi, menguasai dan memimpin hidup kita dalam ketaatan dan pengenalan akan Allah. Tuhan pasti menolong kita. Kasih karunia-Nya tersedia untuk kita yang mau mencari Dia dengan sungguh-sungguh.

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Kasih Karunia: Rahasia Keselamatan Manusia

Allah mengaruniakan “kehendak bebas” kepada manusia yang diciptakan-Nya karena Ia menghendaki supaya manusia menyembah Dia bukan karena terpaksa, melainkan karena dengan kesadaran sendiri dan dengan kerelaan hatinya. Hal ini tidak dimiliki oleh mahluk ciptaan lainnya seperti binatang atau tumbuhan. Ketika manusia menggunakan kehendak bebas yang dimilikinya untuk memilih menyembah Allah, beribadah kepada-Nya dan hidup melayani Dia, maka Allah mendapat kemuliaan. Untuk setiap pemakaian yang benar atas kehendak bebas yang telah dikaruniakan-Nya Allah memberikan pahala kepada manusia berupa berkat jasmani dan rohani .

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday311
mod_vvisit_counterYesterday1577
mod_vvisit_counterThis week5004
mod_vvisit_counterLast week11262
mod_vvisit_counterThis month25377
mod_vvisit_counterLast month46116
mod_vvisit_counterAll965668

People Online 19
Your IP: 54.226.41.91
,
Now is: 2018-01-17 04:52



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.