top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Krisis PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Saturday, 05 September 2015 06:15

Krisis adalah suatu situasi atau keadaan yang mengandung ancaman atau berbahaya. Krisis dapat terjadi dalam berbagai area dalam kehidupan dan dengan intensitas, jangka waktu atau tingkat ancaman atau bahaya yang berbeda-beda. Krisis dapat menimpa kehidupan pribadi berupa krisis rumah tangga (misalnya ancaman perceraian), kesehatan (misalnya keadaan sakit parah), masalah dalam keluarga (misalnya konflik dalam keluarga) atau krisis keuangan (misalnya masalah hutang piutang). Krisis dapat menimpa dunia bisnis dan pekerjaan misalnya kebangkrutan atau pemutusan hubungan kerja. Krisis dapat menimpa suatu daerah misalnya bencana alam, atau suatu bangsa misalnya resesi ekonomi, krisis politik atau konflik sosial. Krisis dapat juga menimpa gereja (misalnya masalah kepemimpinan, perpecahan, penganiayaan). Krisis bahkan dapat menimpa dunia seperti krisis ekonomi global atau perang dunia.

 

 

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

 

Karena mengandung ancaman dan bahaya maka krisis harus ditangani dengan hati-hati dan dengan benar. Untuk itu kita perlu dibekali petunjuk firman Allah bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan harus menyikapi dan menangangi krisis dengan benar sehingga krisis itu tidak menghancurkan kita.

 

Krisis merupakan titik balik yang dapat mengubah keadaan menjadi lebih buruk atau menjadi lebih baik. Itulah sebabnya di balik krisis ada peluang bahkan untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik. Bagi anak-anak Tuhan krisis bahkan dapat menjadi peluang untuk mengalami promosi dan diberkati, dan untuk mengenal Allah dengan lebih baik dan benar (Baca: Ayub 42:5-6, 10). Krisis dapat menjadi pengalaman rohani bersama Allah. Di balik krisis ada tersembunyi berkat yang luar biasa.

 

Allah memang mengijinkan krisis untuk kebaikan anak-anak-Nya (Roma 8:28). Ia mau menarik anak-anak-Nya kembali kepada-Nya melalui krisis. Ia mau mendidik (Mazmur 119:71) dan memurnikan iman anak-anak-Nya melalui krisis (Yakobus 1:2-3). Allah menguduskan umat-Nya melalui krisis. Allah melatih otot-otot rohani kita melalui krisis sehingga kita menjadi pribadi yang kuat dan perkasa serta tahan banting.

 

“Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit batu; yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga” (Mazmur 18:33-35)

 

Ia juga memberikan peluang untuk promosi dan diberkati bersamaan dengan datangnya krisis. Oleh karena itu, karena Allah yang merancangkan krisis untuk kebaikan anak-anak-Nya yang mengasihi Dia maka kita harus bertanya kepada-Nya dan meminta pimpinan-Nya. Dengan sikap yang benar, kita bahkan dapat “menarik” Allah untuk turut bekerja menjadikan krisis sebagai berkat dan kebaikan bagi kita.

 

Bagaimana kita harus bersikap dan menangani krisis yang terjadi di dalam kehidupan kita atau yang terjadi di sekitar kita?

 

Yang pertama, marilah melakukan “introspeksi” jika ada dosa atau kesalahan dalam hidup kita, ini untuk menutup celah supaya jangan si jahat mengambil keuntungan (2 Korintus 2:11) dengan menggunakan krisis untuk menghancurkan hidup kita dan melemahkan iman kita. Dosa menjadi penghalang Allah untuk menolong kita dan bekerja dalam hidup kita (Yesaya 59:1-2). Oleh sebab itu marilah kita segera menyelesaikan masalah dosa ini di hadapan Allah dengan hati yang tulus, jujur dan sungguh-sungguh, dengan penyesalan yang mendalam (Yesaya 1:18). Allah berjanji untuk mengampuni dosa kita jika kita mengakuinya dan bertobat (1 Yohanes 1:9). Jika kita menyelesaikan dengan benar masalah dosa kita dengan merendahkan diri dan bertobat maka Allah akan memulihkan kita kembali (2 Tawarikh 7:14) meskipun kita harus melewati krisis yang berat. Ingat dengan raja Manasye yang jahat ketika ia bertobat di tengah krisis berat yang dialaminya, maka Allah mendengarkan doanya dan memulihkan keadaannya (Baca: 2 Tawarikh 33:12-13).

 

Kita juga harus introspeksi apakah kita masih berjalan dalam panggilan dan rencana Allah? Sebab banyak orang hanya memperhatikan masalah dosa saja tanpa menyadari bahwa dirinya telah keluar dari panggilan dan rencana Allah. Ia merasa bahwa ia tidak berbuat dosa dan masih mengasihi dan beribadah kepada Allah tetapi lupa bahwa ia telah keluar dari panggilannya. Keluar dari panggilan juga dapat menjadi celah bagi Iblis untuk menghancurkan hidup kita melalui krisis jika kita tidak segera bertobat dan kembali kepada panggilan kita. Ingat saja dengan apa yang terjadi dengan nabi Yunus ketika ia meninggalkan panggilannya (Baca: Yunus 1:1-10).

 

Panggilan bukan hanya berbicara tentang pelayanan yang Allah telah tetapkan untuk kita. Panggilan juga termasuk di mana Tuhan menempatkan kita di bawah suatu kepemimpinan rohani. Tertanam di suatu gereja dan melayani di situ adalah juga panggilan. Kita harus tahu persis di mana Allah memanggil dan menempatkan kita. Jika kita tetap berjalan dalam panggilan-Nya maka kita akan aman meskipun kita menghadapi krisis yang berat. Ingat saja rasul Paulus ketika kapal yang ditumpanginya dihancurkan ombak dan badai, ia tetap selamat beserta orang-orang di sekitarnya karena ia sedang menjalankan panggilan Tuhan (Baca: Kisah Para Rasul 27:21-25).

 

Dengan introspeksi kita memperbaiki posisi kita di hadapan Allah kepada posisi yang benar, yang sesuai dengan kehendak Allah. Ketika posisi kita sudah benar di hadapan Allah, maka Allah akan memperbaiki segala sesuatu yang ada di sekitar kita dan memposisikannya kembali secara harmonis. Itulah namanya penyelesaian krisis, sebab krisis pada hakekatnya adalah ketidakharmonisan yang ekstrim dan berbahaya dari segala sesuatu yang ada di dalam dan di sekitar kita sehingga dapat membahayakan kehidupan kita.

 

Olah sebab itu penting sekali untuk kita berseru kepada Allah dan bertanya kepada Allah “pesan” apakah yang Allah sedang sampaikan kepada kita melalui krisis yang Ia ijinkan terjadi dalam hidup kita. Daud bertanya kepada Allah ketika ia mengalami krisis (1 Samuel 30:1-8). Yosua juga bertanya ketika orang Israel mengalami kekalahan dalam peperangan (Yosua 7:5-10).

 

Sebenarnya melalui krisis yang terjadi Allah sedang berbicara kepada kita. Ia memakai “bahasa krisis” sebab kita tidak juga mengerti ketika Ia berbicara kepada kita melalui nasihat firman Allah yang kita dengar setiap Minggu di gereja. Ketika kita tidak juga mengerti maksud Allah melalui “peristiwa roti” maka Allah akan berbicara kepada kita melalui “peristiwa angin sakal” (Markus 6:52).

 

Jika kita mengerti maksud Allah dengan bertobat dan kembali kepada panggilan maka Allah akan segera mencabut dan menghentikan krisis itu dari hidup kita karena Allah telah sampai kepada maksud-Nya. Ia akan datang kepada kita pada puncak krisis dan segera menyelamatkan kita. Allah tidak akan terlambat menolong kita tetapi kitalah yang seringkali mengulur-ulur dan menunda-nunda penyelesaian masalah kita di hadapan Allah.

 

Yang kedua adalah, ketika krisis datang kita harus mendapatkan “rhema” dari Allah berupa “janji Allah” yang akan menjadi jaminan bagi kita. Jika kita telah mendapatkan janji Allah dan berdiri di atas janji itu dengan iman, maka kita dapat menghadapi krisis dan menjalaninya dengan ketetapan hati bahwa krisis ini hanya sementara (Ratapan 3:31) dan merupakan proses Allah bagi kita, tetapi kita tahu bahwa pada akhirnya krisis ini akan membawa kepada kebaikan (Roma 8:28) dan kita akan selamat melewatinya bersama Allah sehingga kita menjadi saksi hidup kebaikan dan kemahakuasaan Allah dan Allah mendapatkan kemuliaan.

 

Inilah pesan Allah kepada Yakub ketika ia menghadapi krisis kelaparan di tanah Kanaan (Kejadian 26:1). Allah memerintahkan Yakub untuk bertindak sesuai dengan pimpinan-Nya (Kejadian 26:2) dan menegaskan kembali kepadanya bahwa ada janji Allah bagi dirinya seperti yang Allah telah berikan kepada Abraham ayahnya (Kejadian 26:3-5).

 

Penting sekali untuk mendapatkan janji Allah sebab Allah hanya bekerja berdasarkan janji dan bukan di luar janji. Jika kita mendapatkan janji Allah maka Allah akan mengerjakan krisis itu untuk kebaikan kita. Yang penting sekali lagi adalah bahwa kita mengasihi Allah dan berjalan dalam panggilan-Nya. Maka apapun yang terjadi semuanya akan mendatangkan kebaikan bagi kita dan akan berakhir dengan baik alias “happy ending.”

 

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

 

Tetapi jika kita tidak mengasihi Allah dan atau keluar dari panggilan kita maka tidak ada janji Allah bagi kita dan Allah tidak akan turut bekerja. Sebaliknya Iblislah yang akan memanfaatkan ini untuk menghancurkan hidup kita sehingga krisis akan berakhir dengan “tragedy.”

 

Yang ketiga adalah “menarik” Allah terlibat dalam hidup kita, yaitu dengan berjalan dalam panggilan kita. Selama kita hidup sesuai dengan panggilan Allah maka Allah berkepentingan dengan hidup kita sebab melalui hidup kita kehendak dan rencana Allah harus terjadi dan terlaksana. Allah “punya urusan” dengan kita sehingga Ia tidak akan membiarkan kita dihancurkan oleh krisis. Ia akan membela dan melindungi kita supaya si jahat jangan mendapatkan keuntungan dari krisis yang terjadi dalam hidup kita.

 

“Tetapi sekarang, beginilah firman Tuhan yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan, apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau” (Yesaya 43:1-2).

 

Tetapi jika kita tidak hidup dalam kehendak dan rencana Allah, maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa dengan hidup kita sebab hidup kita sama sekali tidak berguna bagi rencana dan kehendaknya. Allah tidak dirugikan apa-apa ketika kita hancur dan dihancurkan si jahat melalui krisis. Itulah sebabnya hidup di luar kehendak dan rencana Allah merupakan hidup yang sangat beresiko dan berbahaya sebab tidak ada perlindungan dan pembelaan Allah. Kita seperti kota tanpa benteng perlindungan dan pertahanan. Ingat saja perumpamaan “orang kaya yang bodoh.” Ia hanya hidup untuk dirinya sendiri dan Allah sama sekali tidak punya kepentingan dengan orang itu. Orang itu sama sekali tidak berguna bagi Allah dan rencana-Nya. Itulah sebabnya nyawanya tidak dipertahankan Allah sama sekali (Lukas 12:20-21).

 

Janji Tuhan adalah kehendak Tuhan bagi hidup kita dan sekaligus adalah rencana Tuhan bagi kita (Yeremia 29:11). Jika Tuhan sudah berjanji tidak ada yang dapat menggagalkannya kecuali diri kita sendiri, karena kita memiliki kehendak bebas untuk memilih. Tidak ada yang dapat menggagalkan kehendak dan rencana Allah bahkan krisis sekalipun. Allah yang berjanji itu setia (ibrani 11:11). Kitalah yang seringkali tidak setia.

 

“Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1 Tesalonika 5:24).

 

Allah yang berjanji itu mahakuasa. Kuasanya lebih besar dari krisis yang kita hadapi. Sebab itu jika kita memiliki janji Allah maka kita akan aman. Janji Allah adalah jaminan kita untuk dapat melewati krisis dengan aman. Apapun krisis yang terjadi tidak akan dapat menggagalkan rencana Allah.

 

Allah bahkan menggunakan dan memanfaatkan krisis untuk memproses kita supaya kita menjadi dewasa dalam iman dan bijaksana sehingga siap untuk menerima berkat dan promosi dari Allah.

 

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan kekurangan suatu apapun” (Yakobus 1:2-4).

 

Yusuf telah menerima janji Allah melalui dua mimpinya (Kejadian 37:5-9). Setelah itu ia mengalami krisis yang cukup panjang. Ia dijual sebagai budak ke Mesir (ayat 28), difitnah oleh isteri majikan Mesirnya dan dijebloskan ke dalam penjara (Kejadian 39:20). Tetapi ia tidak putus asa sebab ia tahu mimpinya pasti terjadi. Itulah sebabnya ia menjaga dirinya untuk tetap kudus di hadapan Allah (ayat 9) dan tidak menjadi marah, kecewa dan putus asa. Melalui krisis itu Allah mempersiapkan Yusuf untuk menerima berkat dan promosi yang sangat besar. Melalui krisis itu Yusuf ditempa menjadi seorang yang bijaksana dan berintegritas sehingga dapat dipercaya bahkan oleh Firaun untuk menjadi orang yang sangat berkuasa di Mesir (Kejadian 41:38-40). Ia menjadi begitu dewasa rohaninya sehingga ia sama sekali tidak dendam atau menyalahkan saudara-saudaranya (Kejadian 45:5-8) yang telah berperan besar dalam krisis yang menimpa hidupnya. Ia melihat bahwa Allah telah mengerjakan kejahatan saudara-saudaranya justru untuk menghantar Yusuf melalui krisis untuk mendapatkan mimpinya, yaitu apa yang telah dijanjikan Allah (Kejadian 50:20).

 

Yang keempat adalah: jika kita tahu kita ada dalam rencana Allah dan memiliki janji Allah maka tetaplah “menabur benih” meskipun di tengah krisis, seperti yang dilakukan Yakub di Gerar. Banyak orang ketika krisis datang cenderung “menarik diri mereka ke dalam gua mereka” lalu merenungi dan meratapi nasib yang sedang menimpa mereka dan mereka menolak untuk melakukan apapun karena mereka kecewa dengan keadaan, marah dan putus asa serta bersikap apatis. Mereka menjadi malas, egois dan pelit. Akibatnya krisis justru membuat mereka semakin terpuruk dan hancur. Tetapi jika kita hidup di atas dasar janji Allah maka walaupun ada krisis dan di tengah krisis yang berat kita tetap melakukan hal yang baik yang Allah telah tetapkan bagi kita. Kita akan tetap setia dan tekun beribadah dan melayani, bahkan kita semakin giat melakukannya. Ini adalah tindakan iman yang dapat mendatangkan mujizat. Itulah yang terjadi dengan Yakub yang tetap menabur benih di tengah masa kekeringan karena ia beriman kepada janji Allah. Maka Allah melakukan mujizat-Nya dengan memberkati dia seratus kali lipat sehingga di tengah krisis Yakub malah menjadi orang yang sangat berhasil yang membuat iri orang-orang yang tidak percaya kepada Allah (Kejadian 26:12-14). Demikian pula dengan janda di Sarfat yang tidak menjadi egois dan hanya memikirkan kepentingannya sendiri ketika krisis kelaparan melanda. Ia tetap mau berbagi rejeki dengan hamba Tuhan yang datang meminta pertolongannya. Akibatnya ia mengalami mujizat pemeliharaan Allah sehingga ia tetap bertahan di tengah krisis sampai krisis berakhir (1 Raja-raja 17:10-16).

 

“Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya dan Ia akan bertindak” (Mazmur 37:3-6).

 

Tetaplah lakukan hal-hal yang baik. Tetaplah lakukan kewajiban kita kepada Tuhan dengan setia. Itu adalah “taburan dengan air mata” kita di masa krisis, maka setelah krisis selesai kita akan menuai dengan sorak sorai.

 

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya” (Mazmur 126:5-6).

 

Krisis tidak boleh menguasai dan menghancurkan kita. Sebaliknya kita harus menguasai krisis dengan kuat kuasa Tuhan dan memanfaatkan krisis untuk mendewasakan iman kita, membawa kita lebih mengenal Tuhan, menguduskan hidup kita sehingga dapat dipakai Tuhan untuk pekerjaan yang mulia (2 Timotius 2:21) dan untuk mengalami promosi dan berkat Tuhan yang luar biasa. Kita harus menang atas krisis sebab Tuhan telah menetapkan kita sebagai pemenang bahkan lebih dari pemenang (Roma 8:37).

 

“Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Efesus 6:10).

 

Mendekatlah kepada Tuhan. Lekatkanlah diri kita kepada-Nya. Di dalam Dia kita akan aman terlindungi sebab Ia adalah “kota benteng” kita.

 

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut, sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi” (Mazmur 46:2-6)

 

Carilah Tuhan dengan lebih intensif lagi dan berserulah kepada-Nya maka Ia akan memberitahukan kepada kita perkara-perkara luar biasa yang Ia simpan di balik krisis yang terjadi. Itulah yang dilakukan Daniel ketika menghadapi krisis, sehingga krisis malah membuat kedudukannya semakin tinggi di dalam kerajaan dan pengaruh serta kekuasaannya semakin besar (Baca: Daniel 6:11, 29).

 

“Dan apabila kamu berseru kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, maka kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku” (Yeremia 29:12-14).

 

“Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberi-tahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui” (Yeremia 33:3)

 

Melekatlah kepada-Nya maka Ia akan mengalirkan kepada kita kekuatan-Nya sehingga kita sanggup menanggung segala sesuatu dengan kekuatannya.

 

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).

 

Marilah menyikapi dan memandang krisis dengan positip. Tetap antusias dan mengucap syukur akan membuat kita kuat. Sukacita dari Tuhan itulah kekuatan kita (. Tetaplah tekun berdoa dan perbanyak ucapan syukur kepada Tuhan.

 

“Bergembiralah karena Tuhan, maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mazmur 37:4)

 

Tuhan Yesus menolong kita semua! Amin!

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Berkat Paket Lengkap

2 Korintus 13:13 adalah ayat yang luar biasa. Di dalamnya dideklarasikan tiga berkat utama yang bersifat paripurna: lengkap dan sempurna. Mengapa? Karena Ketiga Pribadi dari Allah Tritunggal memberikan berkat-Nya masing-masing yang khas untuk orang percaya, supaya mereka tidak kekurangan suatu apapun yang baik. Sebenarnya satu berkat saja sudah luar biasa, apalagi ini adalah berkat “tiga rangkap” (threefold blessing). Pastilah ini menjadi berkat yang sangat luar biasa, sempurna dan lengkap!

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday302
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2852
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14565
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908740

People Online 24
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:27



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.