top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Yang Besar, Yang Lengkap dan Tersedia PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi for Bapak Marco   
Saturday, 07 November 2015 11:12

“Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia” (Markus 14:15).

 

Menjelang saatnya Tuhan Yesus mati disalib, kemudian bangkit kembali dan terangkat ke sorga, Tuhan Yesus hendak mengadakan Perjamuan Paskah dengan murid-murid-Nya. Ia kemudian menyuruh dua orang murid-Nya untuk pergi dan menemui seseorang yang telah mempersiapkan sebuah ruangan untuk Tuhan Yesus mengadakan Perjamuan Paskah bersama dengan murid-murid-Nya. Ruangan yang telah siap dipakai oleh Tuhan Yesus itu adalah sebuah ruang atas yang “besar, yang sudah lengkap dan tersedia (siap dipakai).”

 

 

Tuhan Yesus akan datang kembali ke dunia untuk mengangkat gereja-Nya dan kemudian mendirikan Kerajaan-Nya di bumi. Menjelang kedatangan-Nya kembali Tuhan Yesus hendak melakukan pekerjaan-pekerjaan besar melalui kehidupan orang-orang yang sudah ditebus-Nya. Ia menghendaki orang yang ditebus-Nya itu menyediakan “ruangan,” yaitu kehidupannya sendiri, untuk dipakai-Nya untuk melakukan perkara-perkara yang besar dan luar biasa. Ia memerlukan dalam kehidupan orang percaya suatu “ruangan atas, yang besar, yang sudah lengkap dan yang tersedia.” Apa artinya “yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia”?

 

“Ruangan yang besar” berbicara tentang “kapasitas yang besar” dari orang percaya. Orang percaya harus memperbesar kapasitasnya supaya Tuhan Yesus dapat memakai hidupnya untuk melakukan perkara-perkara yang besar.

 

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yohanes 14:12).

 

Menjelang kedatangan Tuhan Yesus kita tidak boleh santai dan bermalas-malasan. Kita malah harus semakin giat bekerja bagi Dia dan melakukan tugas yang Ia telah berikan kepada kita sebagai tanggung jawab kita.

 

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

 

Matius 24:46 menuliskan: “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.”

 

Apakah yang dimaksud dengan orang percaya yang “berkapasitas besar”? Itu adalah orang percaya yang “unggul” (excellent), “mulia” (noble), “bajik” (virtuous: saleh dan berbudi luhur) dan “penuh kuasa dan otoritas” (powerful). Bagaimana kita dapat memiliki kapasitas yang seperti itu?

 

Itu dimulai dari cara kita memandang, memperhitungkan (self calculation), menilai diri kita sendiri (self estimation), serta bagaimana harapan kita atas diri kita sendiri (self expectation) sebagai orang yang telah ditebus dan diselamatkan.

“Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia (akan menjadi)” (Amsal 23:7a)

 

Jika kita memandang dan mengharapkan diri kita “besar dan unggul” karena Tuhan Yesus yang Mahabesar dan Luar Biasa itu hidup di dalam kita, maka kita akan memiliki cara berpikir (mindset) yang “besar dan unggul.” Pikiran kita ini akan mempengaruhi perasaan kita: hati kita menyetujui pikiran kita. Ini akan mempengaruhi sikap dan tindakan kita (attitude and behavior), yang akhirnya akan menjadikan diri kita pribadi yang “unggul dan besar” bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus.

 

Ini bukanlah ambisi dan kesombongan! Sebab ini bukan bersumber dan didasarkan atas kekuatan diri kita sendiri, melainkan dari Dia dan oleh Dia serta untuk kemuliaan-Nya.

 

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36).

 

Kesombongan itu bersumber dari ambisi diri sendiri dan dengan kekuatan diri sendiri serta untuk kemuliaan diri sendiri. Tuhan mengutuki ambisi dan kesombongan seperti itu. Tetapi yang sedang kita bicarakan di sini adalah “kehendak dan rencana Tuhan” atas kehidupan orang-orang yang sudah ditebus-Nya. Kita menjadi “besar dan unggul” bukan karena ambisi kita, melainkan karena Tuhan Yesus menghendakinya demikian.

 

Tuhan Yesus menghendaki kita memiliki sifat yang “rendah hati” tetapi bukan sikap rendah diri atau “inferior” yang menghina diri. Tuhan bahkan ingin kita memiliki mata batin yang celik untuk melihat kebesaran dan keunggulan yang Ia telah taruh dalam hidup kita:

 

“Dan supaya Ia (Roh Kudus) menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam penggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (Efesus 1:18).

 

Sikap “inferior”: rendah diri dan menghina diri sendiri, bukanlah kerendahan hati, itu justru adalah salah satu bentuk “keangkuhan.” Orang yang inferior itu “rendah diri” dan bukan “rendah hati”. Orang yang rendah hati menyadari keberadaan dirinya di hadapan Tuhan, sementara orang menjadi rendah diri jika selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, itu disebabkan karena keangkuhannya yang tidak bisa menerima ada orang yang lebih hebat darinya.

 

Lihatlah, bagaimana Tuhan telah memberikan atribut-atribut yang luar biasa kepada orang-orang tebusan-Nya:

 

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9).

 

 

Hanya orang percaya yang “unggul” yang akan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Itulah yang terjadi dengan Daniel dan Yusuf. Mereka adalah orang-orang yang berkapasitas besar, orang-orang yang unggul, orang-orang yang bijaksana dan mereka membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

 

“Kebijaksanaan” memperbesar kapasitas orang percaya sehingga Tuhan Yesus dapat memakainya dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang besar melalui dia.

 

Di dalam Matius 25:1-13 Tuhan Yesus memberikan perumpamaan yang menggambarkan tentang dua macam orang percaya, yaitu yang “bodoh” dan yang “bijaksana.” Di sini tidak lagi dibicarakan tentang yang “baik” dan yang “jahat” karena memang seharusnya hal itu tidak lagi menjadi pembahasan bagi orang percaya yang sudah bertobat dan menerima pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus.

 

Orang percaya yang “bijaksana” ialah orang percaya yang bukan saja memiliki “ekspektasi” yang benar tetapi juga menindaklanjuti “ekspektasi” itu dengan “antisipasi” dan “persiapan” yang sesuai.

 

Orang Kristen yang bodoh digambarkan memiliki “ekspektasi” akan kedatangan Tuhan yang tidak diketahui “hari maupun saatnya” (Matius 25:13) namun mereka tidak mengantisipasinya dengan persiapan yang benar. Mereka “membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak” (ayat 3). Sehingga ketika saat kedatangan “mempelai laki-laki” tiba mereka tidak siap dan ditolak (ayat 12).

 

Tetapi orang Kristen yang bijaksana, mereka bukan hanya memiliki “ekspektasi” yang benar tetapi juga mengantisipasinya dengan persiapan yang benar. Sehingga ketika saatnya tiba mereka sudah siap dan diterima (ayat 10).

 

Kita bukan hanya harus memiliki ekspektasi yang benar, tetapi kita juga harus mengantisipasinya dengan persiapan yang benar, sehingga ketika kesempatan baik datang kita sudah siap dan kita berhasil. Keberhasilan adalah ketika kesempatan baik bertemu dengan persiapan yang benar.

 

Orang yang mengantisipasi apa yang ia harapkan dengan persiapan yang baik adalah orang yang “bijaksana.” Dan kebijaksanaan akan memperbesar kapasitas seseorang sehingga Tuhan dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan besar melalui orang itu.

 

Lihatlah kehidupan Yusuf. Yusuf memiliki mimpi yang besar tentang masa depannya. Ia memiliki ekspektasi yang positip tentang dirinya. Ia mengantisipasi ekspektasinya dengan menjaga kekudusan hidupnya dan bekerja dengan sebaik-baiknya dalam setiap keadaan. Maka ketika Tuhan membuka kesempatan dengan mempertemukannya dengan Firaun, Yusuf sudah siap untuk dipakai Tuhan. Firaun melihat bahwa Yusuf sangat bijaksana sehingga ia mempercayakan tanggung jawab dan jabatan yang sangat tinggi kepadanya. Kebijaksanaannya terlihat dari nasihat yang ia berikan kepada Firaun untuk mengantisipasi keadaan dengan persiapan yang benar sehingga Mesir terluput dari bencana kelaparan. Yusuf pun menjadi orang yang sangat sukses di Mesir (Kejadian 41:33-44).

 

Kapasitas seseorang juga menjadi besar ketika orang itu mau melakukan lebih dari yang diminta. Ia tidak bersikap “ala kadarnya” saja. Ia mau melakukan yang terbaik. Ini yang disebut sebagai “service excellent”; pelayanan yang baik dengan memberi lebih dan berbuat lebih. Inilah yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita: “going extra miles.”

 

“Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Matius 5:41)

 

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah Tuan dan kamu hamba-Nya” (Kolose 3:23-24).

 

Orang yang menilai positip dirinya dan memiliki ekspektasi tinggi atas dirinya akan memberikan pelayanan yang lebih baik dari pada orang lain. Ialah orang yang akan mendapatkan promosi dari Tuhan. Tuhan dapat mempercayakan yang lebih besar sebab ia menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dengan mau berbuat lebih dan memberi lebih. Ini membuatnya memiliki kapasitas yang besar.

 

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:21).

 

Hal lain yang akan memperbesar kapasitas seseorang adalah kemampuannya untuk bekerjasama dengan orang lain (level of cooperation).

 

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17)

 

Kerjasama yang baik dan benar akan menciptakan “sinergi” yang menyebabkan kapasitas dan kemampuan menjadi bertambah besar.

 

“Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Dan bilamana seorang dapat dikalahkan, dua orang akan dapat bertahan” (Pengkhotbah 3:9-10, 12)

 

Kerjasama dua orang percaya yang sehati dan tulus akan menghasilkan peningkatan (multiplikasi) kapasitas yang “eksponensial” bukan “linier.” Artinya, jika satu orang percaya memiliki kapasitas misalkan 1.000, maka kerjasama dua orang percaya menghasilkan kapasitas bukannya 2.000 melainkan 10.000.  Ini dikarenakan Tuhan ada di tengah-tengah mereka (Matius 18:20). Kehadiran Tuhan di tengah-tengah orang percaya akan memperbesar kapasitas orang-orang itu secara luar biasa.

 

Tetapi yang harus diperhatikan dalam kerjasama adalah ada “aturan” yang jelas dan adil dan kedua belah pihak yang bekerjasama harus tulus, jujur dan mengutamakan prinsip Firman Tuhan (Filipi 2:1-5).

 

Menjelang kedatangan Tuhan Yesus akan terjadi pemindahan kekayaan bangsa-bangsa kepada orang-orang percaya (Yesaya 60:5; Hagai 2:8) yang siap dan memiliki kapasitas yang besar yang memadai untuk menampung dan menyalurkan berkat kekayaan yang luar biasa. Masalahnya di sini adalah Tuhan memerlukan kapasitas orang percaya sebagai “wadah” yang memadai. Tuhan memerlukan “ruangan yang besar” sehingga dapat menyerap, menampung dan menyalurkan berkat-berkat-Nya.

 

Tuhan menghendaki agar melalui orang-orang percaya bangsa-bangsa diberkati. Ini adalah panggilan orang-orang percaya yang di dalam Kristus menjadi “keturunan Abraham” dan berhak menerima janji Tuhan (Galatia 3:29).

 

Sebagai keturunan Abraham kita mewarisi janji Tuhan yang Tuhan berikan kepada Abraham: “Menjadi bangsa yang besar, diberkati, termasyhur dan menjadi berkat”  (Kejadian 12:2).

 

Selain memiliki kapasitas yang besar yang menyediakan “ruangan yang besar” bagi Tuhan untuk dapat leluasa bekerja melalui kita, kita juga harus menjadi ruangan “yang lengkap” (furnished).

 

Kita harus memperlengkapi diri supaya Tuhan Yesus dapat memakai kita. Dengan apa kita harus melengkapi diri?

 

Yang pertama adalah dengan memiliki “titik acuan” (point of reference) yang benar.

 

Titik acuan adalah dasar rujukan untuk kita mengambil keputusan dan bertindak. Inilah yang akan menentukan apakah keputusan dan tindakan yang kita ambil dan lakukan itu benar atau salah. Apa yang seharusnya kita jadikan “titik acuan” (point of reference)?

 

Sebagai orang percaya maka yang harus menjadi titik acuan kita dalam mengambil keputusan dan bertindak adalah “Firman Tuhan.”

 

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105)

 

Kita harus memperlengkapi diri dengan kebenaran Firman Allah sehingga kita dapat mengambil keputusan dengan benar dan bertindak dengan benar berdasarkan prinsip Firman Allah.

 

Orang yang memiliki kapasitas yang besar tetapi memakai titik acuan yang salah akan bertindak salah, dan Allah tidak dapat memakai orang seperti itu sebagai sarana-Nya.

 

Yusuf selalu menggunakan point of reference yang benar berdasarkan prinsip Firman Allah. Ia memiliki kekuasaan yang sangat besar di tempat ia bekerja. Potifar, tuannya, memberinya otoritas dan kekuasaan yang sangat besar atas semua miliknya (Kejadian 39:4-6). Tidak ada yang tidak diserahkan tuannya kepadanya kecuali isterinya sendiri. Namun demikian isteri Potifar menggoda Yusuf untuk berselingkuh dengannya (ayat 7). Apa jawaban Yusuf?

 

“Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9).

 

Yusuf menggunakan prinsip Firman Allah sebagai titik acuannya sehingga ia menolak untuk berbuat yang tidak benar. Ia berdiri teguh atas dasar prinsip Firman Allah meskipun sebagai konsekuensinya ia difitnah dan dipenjara (ayat 20).

 

Tetapi orang yang seperti inilah yang akhirnya dipakai oleh Tuhan secara luar biasa. Allah akhirnya mempromosikan Yusuf kepada suatu kedudukan yang sangat tinggi di Mesir.

 

Demikian pula dengan Daud ketika ia mendapatkan kesempatan untuk membunuh orang yang selama ini mengejar-ngejarnya dan berusaha membunuhnya Orang-orang di sekitarnya membujuk Daud untuk membalas dendam dan membunuh musuhnya supaya ia dapat segera menjadi raja. Tetapi apa jawaban Daud?

 

“Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan” (1 Samuel 24:7).

 

Jika kita tidak memiliki titik acuan yang benar berdasarkan Firman Allah, maka kita akan mudah tergoda untuk bertindak menurut dorongan hawa nafsu kita dan hanya memikirkan keuntungan atau kenikmatan sesaat. Jika kita bertindak berdasarkan titik acuan yang salah, Allah tidak akan berkenan kepada kita dan Ia tidak akan memakai kita menjadi alat-Nya: inilah yang terjadi dengan Saul yang hanya mengikuti pikirannya sendiri dan bukan berpegang kepada perintah Allah (1 Samuel 15:22-23).

 

Pengalaman kita berjalan bersama Tuhan juga dapat kita jadikan titik acuan dalam mengambil keputusan dan bertindak.

 

Ketika Daud berhadapan dengan raksasa Goliat, ia tidak merasa gentar sedikit pun karena ia memiliki pengalaman bersama Tuhan sebelumnya. Apa yang dikatakannya ketika berhadapan dengan Goliat, sementara raja Saul sendiri pun gemetar ketakutan?

 

“Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu” (1 Samuel 17:37).

 

Pengalaman kita dengan Tuhan dan kebenaran Firman Allah harus menjadi titik acuan kita dalam mengambil keputusan dan bertindak. Kita tidak boleh bertindak berdasarkan dorongan hawa nafsu ataupun berdasarkan “nasifat orang fasik” yang mengunakan prinsip-prinsip yang sering kali jahat.

 

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa dan yang tidak duduk dalam kumpulaan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkannya siang dan malam. Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:1-3).

 

“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung” (Yosua 1:8).

 

Yang kedua, kita harus diperlengkapi dengan “paradigma” atau “mindset” yang benar. Untuk itu kita perlu mengalami perubahan paradigma (Paradigm Shift).

 

“Supaya kamu dibaharui dalam roh dan pikiranmu” (Efesus 4:23).

 

Banyak orang Kristen tidak mengalami perubahan paradigma dalam hidupnya. Ia masih menggunakan paradigma yang lama, yang duniawi. Tuhan tidak dapat bekerja melalui orang yang masih menggunakan paradigma yang lama yang duniawi.

 

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).

 

Pengalaman bersama Tuhan akan mengubah paradigma kita tentang banyak hal. Ayub memiliki paradigma yang salah tentang Allah sebelumnya. Tetapi setelah ia mengalami “perjumpaan” dengan Allah, paradigmanya tentang Allah berubah dan Ayub mengoreksi semua perkataan dan pandangannya yang keliru tentang Allah.

 

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” (Ayub 42:5-6).

 

Tuhan tidak dapat memakai orang yang masih memiliki paradigma yang keliru, terutama paradigma yang keliru tentang Dia. Allah tidak dapat bekerja secara luar biasa melalui orang itu. Barulah setelah paradigmanya diubahkan ia dapat siap dipakai oleh Tuhan.

 

Itulah sebabnya rasul Paulus berdoa kepada Allah: “supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar” (Efesus 1:17)

 

Jika kita bergaul karib dengan Tuhan maka Tuhan akan mengubah paradigma kita dan memberikan kepada kita paradigma yang baru.

 

“Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka” (Mazmur 25:14)

 

Tuhan juga memperlengkapi kita melalui “proses” yang Ia kerjakan di dalam hidup kita. Proses ini akan mengubah paradigma kita dan memberikan pengertian-pengertian yang baru. Oleh sebab itu kita harus mengikuti proses yang Tuhan kerjakan itu sampai tuntas dengan hati ikhlas dan yang mengucap syukur.

 

“Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu” (Mazmur 119:71).

 

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2 Korintus 12:9).

 

Tuhan Yesus pun mengalami proses dan menjalaninya dengan tekun selama Ia hidup di dalam dunia (Ibrani 12:2). Kristus menjalaninya dengan penuh ketaatan sehingga akhirnya Ia dipromosikan ke kedudukan yang sangat tinggi oleh Allah Bapa (Filipi 2:5-10).

 

Proses yang dari Tuhan itu memperlengkapi kita dan memperkaya kita dengan pengalaman dan pengertian-pengertian baru. Daud berani menghadapi Goliat karena ia memiliki pengalaman berjalan bersama dengan Tuhan; ia telah diproses oleh Tuhan sebelumnya melalui “singa dan beruang.”

 

Yusuf dari semula sudah memiliki kapasitas yang besar. Itulah sebabnya ayahnya memberi kepadanya keistimewaan dibanding dengan saudara-saudaranya (Kejadian 37:3). Ia diperlakukan sebagai anak sulung karena kapasitasnya yang melebihi saudara-saudaranya. Ia selalu bersama-sama ayahnya sementara saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya. Itu karena ayahnya melihat bahwa Yusuf memiliki hikmat dan kapasitas yang besar.

 

Namun demikian Allah memperlengkapi dia dengan pengalaman melalui proses yang harus ia alami di Mesir, di rumah Potifar dan di penjara; melalui berbagai kekecewaan dan penderitaan. Yusuf mengikuti semua proses itu dengan tekun. Dan setelah itu Allah mempromosikan dia ke kedudukan yang sangat tinggi di Mesir.

 

Tetapi masih ada satu hal yang diperlukan selain kita memiliki kapasitas yang besar dan diperlengkapi, yaitu “kesediaan”, kerelaan, keikhlasan untuk dipakai. Inilah yang dimaksud dengan ruangan “yang tersedia.”

 

Kita harus memiliki niat baik untuk rela dipakai oleh Tuhan. Sekalipun kita telah memiliki penilaian (self estimation) yang benar dan ekspektasi (self expectation) yang benar atas diri sendiri, dan kita memiliki kapasitas yang besar dan lengkap, namun kita tidak bersedia untuk dipakai Tuhan maka Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa  melalui kita. Itu seperti ruangan yang pintunya tertutup dari dalam. Kita sendirilah yang harus dengan rela membukakan pintunya dari dalam, sehingga Tuhan bisa dengan leluasa bekerja melalui hidup kita.

 

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok” (Wahyu 3:20)

 

Kita harus siap untuk dipakai Tuhan karena waktu yang kita miliki sangat terbatas.

 

“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” (Lukas 12:35)

 

Menjelang kedatangan Tuhan kita harus dalam keadaan siap sedia, bukan hanya untuk menyambut kedatangan-Nya tetapi juga siap sedia untuk dipakai oleh Tuhan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa yang Ia hendak lakukan melalui kita.

 

Karena waktunya sangat terbatas maka kita harus mengatur prioritas hidup kita dengan benar. Kita harus rela melepaskan dan menghilangkan yang kurang berharga untuk sesuatu yang lebih berharga dan bernilai kekal.

 

Ketika kita memberi diri kita dengan rela kepada Tuhan, menyediakan sepenuh kapasitas kita untuk dipakai oleh Tuhan sehingga Tuhan Yesus boleh mendapatkan kita sebagai “ruangan yang besar, yang lengkap dan tersedia” maka Tuhan akan semakin menambah kapasitas kita sehingga semakin besar lagi. Ia akan mempercayakan kepada kita tanggung jawab yang lebih besar lagi. Tetapi jika kita tidak mau dipakai oleh Tuhan, maka kapasitas kita akan semakin kecil dan kita semakin tidak berguna.

 

“Karena setiap orang yang mempunyai (kapasitas dan yang memberikannya kepada Tuhan untuk dipakai), kepadanya akan diberi (kapasitas yang lebih besar lagi), sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai (kerelaan, kesediaan untuk kapasitasnya dipakai oleh Tuhan), apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya (sehingga kapasitasnya semakin kecil dan ia menjadi tidak berguna bagi Tuhan) (Matius 25:29).

 

Kiranya Tuhan Yesus dapat menemukan kita sebagai ruangan yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Amin.

 

(Ditulis berdasarkan khotbah bapak Marco pada acara Kingdom Business di GSJP pada tanggal 27 September 2015).

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Prinsip Kehidupan, Ibadah dan Pelayanan Yang Berdampak

Kita merindukan suatu kehidupan Kekristenan yang berdampak; ibadah dan pelayanan yang berdampak. Untuk itu kita perlu mengetahui dan memahami prinsip-prinsip kehidupan yang berdampak sebagaimana yang diajarkan Tuhan melalui firman-Nya. Kita akan mempelajari suatu rahasia kebenaran tentang hal tersebut yang terdapat dalam Yesaya 6 : 1 – 8.

 

Ayat 1 :  “Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.”

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday300
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2850
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14563
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908738

People Online 25
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:23



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.