top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Menjadi Orang Percaya Sejati PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Thursday, 18 February 2016 01:30

Bagaimana orang percaya hidupnya dapat diberkati dan memberkati orang lain? Ia harus hidup sebagai orang percaya sejati. Orang percaya sejati bukanlah orang yang sempurna. Ia bukanlah “manusia setengah dewa” yang  tidak pernah salah dan tidak memiliki kelemahan. Hanya Tuhan Yesus, Anak Manusia yang berasal dari sorga yang tidak berdosa dan tidak pernah berbuat dosa (2 Korintus 5:21; Ibrani 4:15). Jadi seperti siapa orang percaya sejati itu? Siapa yang dapat dijadikan contoh sehingga kita dapat mengikutinya?

 

Alkitab memberikan referensi bagi kita tentang orang percaya sejati, yaitu Abraham yang disebut sebagai “bapa semua orang percaya” (Roma 4:11).

 

Abraham bukanlah “manusia setengah dewa” yang sempurna dan tidak mempunyai kelemahan. Ia berasal dari keluarga penyembah berhala yang hidup di Mesopotamia (Kisah Para Rasul 7:2). Oleh kasih karunia Allah, Allah berkenan memanggil Abraham, yang pada waktu itu masih bernama Abram, untuk keluar dari negerinya dan dari kaum keluarganya (Kejadian 12:1).

 

Lalu bagaimana Abram dapat menjadi “bapa semua orang percaya”? Karena ia menjalankan imannya dan menunjukkan kepercayaannya kepada Allah yang telah memanggilnya, dengan benar. Apa yang dilakukan oleh Abraham dalam membuktikan keimanannya dengan benar?

 

Melalui Ketaatan Total

 

Abraham membuktikan keimanannya dengan ketaatannya yang luar biasa. Alkitab menuliskan: “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibrani 11:8).

 

Inilah yang Allah sukai dari iman seseorang yaitu membuktikan iman dengan ketaatan dan bukan hanya dengan perkataan saja. Iman harus dibuktikan dengan perbuatan yang sesuai, yaitu ketaatan. Ketaatan adalah “perbuatan atau tindakan iman.” Ketika iman ditindaklanjuti dengan ketaatan maka iman akan bekerja menghasilkan mujizat, menjadikan apa yang kita harapkan menjadi kenyataan dan mewujudkan segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Tanpa tindakan ketaatan iman kita tidak akan menghasilkan apa-apa dan pada hakekatnya mati (Yakobus 2:17-26).

 

Kita seringkali berargumentasi ketika iman menuntut kita untuk bertidak dalam ketaatan. Kita mempertanyakan Tuhan atas perintah-perintah-Nya. Ketika kita mempertanyakan perintah Tuhan itu artinya kita tidak percaya kepada Tuhan dan tidak menghormati Tuhan. Ketika ketidakpercayaan muncul maka iman mati. Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa untuk kita ketika kita tidak mempercayai-Nya dan menaati-Nya. Ingatlah bagaimana Tuhan Yesus tidak berbuat mujizat apapun di Nazaret karena ketidakpercayaan orang-orang di situ (Matius 13:58).

 

Untuk setiap tindakan ketaatan yang kita lakukan karena iman, maka Allah akan mempahalai. Allah mempahalai Abraham yang taat, ketika ia pergi keluar dari negerinya dan kaum keluarganya, dengan memberikan janji yang luar biasa:

 

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar (great nation), dan memberkati engkau (blessed) serta membuat namamu masyhur (great name); dan engkau akan menjadi berkat (blessing)” (Kejadian 12:2).

 

Banyak orang percaya berusaha mengklaim janji Tuhan, tetapi mereka tidak mendapatkannya, karena mereka tidak hidup sebagai orang percaya sejati; mereka tidak membuktikan iman mereka dengan ketaatan kepada perintah Allah. Mereka ingin Allah “taat” kepada mereka dengan mengabulkan klaim atau doa mereka, sementara mereka tidak taat kepada Allah ketika Allah memberi perintah kepada mereka untuk dilakukan; mereka berargumentasi dengan Allah dan tidak melakukan yang diperintahkan-Nya.

 

Jika kita hidup dalam ketaatan yang total (tidak setengah hati) terhadap perintah Allah, maka Allah akan memberikan janji-Nya yang luar biasa untuk kita. Ketaatan adalah satu-satunya bukti iman dan kasih kita kepada Allah (Yohanes 14:15, 21, 23).

 

Mencari Tuhan dan Beribadah kepada-Nya

 

Abraham menunjukkan dirinya sebagai orang percaya sejati dengan selalu “mencari Tuhan” dan beribadah kepada-Nya ke mana pun ia pergi dan di mana pun ia berada. Ketika tiba di Sikhem, “Abraham mendirikan di situ mezbah bagi Tuhan yang telah menampakkan diri kepadanya” (Kejadian 12:7). Ketika ia pindah ke tempat lain antara Betel dan Ai “ia mendirikan di situ mezbah bagi Tuhan dan memanggil nama Tuhan” (Kejadian 12:8). Kemudian ketika ia memindahkan kemahnya dan menetap di dekat Hebron, “didirikannyalah mezbah di situ bagi Tuhan” (Kejadian 13:18). Ini adalah ciri orang percaya sejati: selalu mencari Tuhan dan beribadah kepada Tuhan di mana pun ia berada.

 

Itulah juga yang dilakukan Daniel di Babel, di mana ia tinggal sebagai orang asing dan bekerja di kerajaan Babel. Alkitab menuliskan “tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya” (Daniel 6:11).

 

Apa artinya kita menyebut diri sebagai orang percaya, atau orang Kristen, tetapi kita tidak atau kurang suka beribadah kepada Tuhan? Mengapa Tuhan harus memberkati orang yang tidak suka beribadah kepada-Nya? Tetapi jika kita suka beribadah kepada-Nya dan mengutamakan Dia dengan selalu mencari wajah-Nya, maka Tuhan akan memberkati kita; Alkitab menuliskan “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

 

Memang benar, Allah akan mempahalai orang yang membuktikan imannya dengan senang beribah kepada-Nya dan mencari wajah-Nya. Surat Ibrani menuliskan: “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling (percaya) kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibrani 11:6).

 

Demikian pula, Allah mempahalai Abraham yang membuktikan kepercayaan atau keimanannya dengan selalu beribadah kepada Allah. Alkitab menuliskan: “Adapaun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya” (Kejadian 13:2). Ini juga terjadi dengan Daniel. Alkitab mencatat: “Dan Daniel ini mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pada zaman pemerintahan Koresh, orang Persia itu” (Daniel 6:29).

 

Ternyata berkat dari ibadah itu bukan hanya untuk rohani kita saja tetapi juga berdampak kepada kehidupan sahari-hari kita selama di dunia. Benarlah apa yang dikatakan Firman Allah: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuki hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8).

 

Jika kita beribadah dengan sungguh-sungguh maka kerohanian kita pasti diberkati sehingga kita menjadi semakin mengenal Tuhan dan semakin bertumbuh dalam kasih karunia (2 Petrus 3:18). Namun demikian Tuhan juga akan memberkati secara jasmani orang-orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya seperti yang dialami oleh Abraham (Kejadian 24:35), Ishak (Kejadian 26:12-13), Daniel (Daniel 2:48) dan Obed Edom (2 Samuel 6:11).

 

Ibadah itu juga berguna untuk kehidupan yang akan datang (1 Timotius 4:8). Ini berbicara tentang kehidupan dalam kekekalan di Sorga. Jika orang Kristen tidak suka beribadah maka ia tidak cocok untuk hidup bersama Allah di sorga, sebab di sorga kita akan selalu beribadah kepada Allah. Jadi ibadah kita sekarang di dunia adalah latihan dan persiapan untuk kehidupan yang akan datang. Ibadah adalah “gaya hidup” sejati orang percaya. Kesejatian iman kita dibuktikan dengan ibadah yang sungguh-sungguh, rajin (intensif) dan setia (konsisten) .

 

Memilih Jalan Hidup Berdasarkan Bimbingan Tuhan

 

Abraham membuktikan kepercayaannya kepada Allah dalam cara menentukan pilihan hidup untuk masa depannya. Ia tidak memilih jalan hidup untuk masa depannya berdasarkan “perhitungan manusia” seperti yang dilakukan oleh Lot, keponakan Abraham.

 

Lot memilih jalan hidup untuk masa depannya berdasarkan “perhitungan manusia”, yaitu “prospek bisnis dan keuntungan.” Itulah sebabnya Lot memilih kota metropolitan Sodom dan Gomora untuk masa depannya, meskipun ia tahu bahwa ada resiko yang membahayakan kehidupan imannya.

 

Alkitab menuliskan: “Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah…..Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan” (Kejadian 13:10 &13).

 

Sementara itu Abraham memilih jalan hidup untuk masa depannya berdasarkan apa yang ditunjukkan dan diperintahkan Allah kepadanya.

 

“Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah Tuhan kepada Abram: Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya” (Kejadian 13:14-15).

 

Di kemudian hari kita melihat bahwa, Lot yang memilih jalan hidup untuk masa depannya berdasarkan “pandangan manusia” akhirnya mengalami “total lost.” Sodom dan Gomora dihukum dan dibinasakan Tuhan, dan Lot harus meninggalkan negeri itu dengan tidak membawa apa-apa selain pakaian yang melekat pada badannya, dan membawa dua anak gadisnya yang sudah rusak moralnya karena pergaulan. Sedangkan isteri dan semua harta yang diperolehnya habis musnah oleh malapetaka (Kejadian 19:24-26; 30-38).

 

Sementara itu Abraham yang memilih jalan hidup untuk masa depannya berdasarkan petunjuk dan perintah Tuhan malah menjadi sangat berhasil dan diberkati, seperti yang disaksikan oleh hambanya, Eliezer. Eliezer memberi kesaksian: “Aku ini hamba Abraham. Tuhan sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya. Tuhan telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai” (Kejadian 24:34-35).

 

Hubungan Sosial yang Baik

 

Abraham menunjukkan dirinya sebagai orang percaya sejati bukan hanya dalam hubungannya dengan Allah, dengan tekun dan sungguh-sungguh dalam beribadah, tetapi juga dalam berhubungan dengan orang di sekitarnya.

 

Ketika mulai terjadi perselisihan antara hamba-hambanya dengan hamba-hamba dari Lot, keponakannya, Abraham memilih untuk “mengalah” demi menghindari perselisihan dengan Lot (Kejadian 13:8-9). Meskipun Abraham lebih senior dari Lot, dan Abrahamlah yang telah membawa Lot (Kejadian 13:1), sehingga Lot juga berhasil seperti Abraham (Kejadian 13:5), Abraham memberi kesempatan pertama kepada Lot untuk memilih daerah usahanya (Kejadian 13:9). Ia tidak kuatir didahului Lot sehingga ia bisa kehilangan kesempatan untuk memperoleh yang daerah usaha yang terbaik. Ia percaya kepada Tuhan yang akan membuatnya berhasil ke mana pun ia pergi dan dengan apapun yang ia terima.

 

Bukankah kita sering bertindak sebaliknya? Kita akan berusaha mendahului orang lain karena takut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik. Kita lebih memilih untuk tidak mengalah apalagi terhadap orang yang kepadanya kita merasa berjasa?

 

Ketika kemudian Lot mengalami “nasib sial” karena ulahnya sendiri, Abraham tetap berusaha menolong Lot. Abraham telah menasihati Lot untuk tidak berurusan dengan orang Sodom dan Gomora yang jahat itu. Tetapi Lot melihat kota Sodom dan Gomora memberikan prospek bisnis yang baik, sehingga ia mau mengambil resiko. Akibatnya ketika Sodom dan Gomora dirampok Lot turut menjadi korban (Kejadian 14:11-12). Namun Abraham pergi menyelamatkan Lot dan mengembalikan hartanya yang dirampok (Kejadian 14:14-16). Namun demikian Lot tidak jera. Ia kembali berbisnis di Sodom dan bahkan sekarang lebih dalam lagi; ia hidup sebagai orang Sodom, tinggal di Sodom, dan menjodohkan anak-anak perempuannya dengan pemuda Sodom (Kejadian 19:1-19). Sekarang Tuhan hendak membinasakan kota Sodom dan Gomora karena kejahatan mereka (Kejadian 19:13). Dan Abraham berusaha melunakkan hati Tuhan karena Lot saudaranya tinggal di sana (Kejadian 18:16-33). Karena doa syafaat Abraham bagi Lot, akhirnya Tuhan mengirim dua malaikatnya untuk menyelamatkan Lot dari bencana yang akan menimpa Sodom (Kejadian 19:12-13).

 

Abraham sekali lagi menunjukkan dirinya sebagai orang percaya sejati dengan membela orang di hadapan Allah dengan bersyafaat. Adakah kita juga sebagai orang percaya suka bersyafaat untuk orang-orang yang dalam masalah, yang tidak dapat menolong diri mereka sendiri? Atau apakah kita tidak peduli dengan orang lain?

 

Ketika Abraham berhasil mengalahkan musuh yang telah menyerang dan menjarah Sodom, serta berhasil membawa kembali Lot dan segala hartanya (Kejadian 14:16), Abraham mengucap syukur dan memuliakan Allah dengan memberikan persepuluhan kepada Melkisedek (Kejadian 14:18-20). Melkisedek adalah representasi Anak Allah (Ibrani 7:1-3), Imam Allah Yang Mahatinggi, Raja Damai, yang membawa “roti dan anggur” dan memberkati Abraham. Inilah ciri orang percaya sejati yang memuliakan Allah atas keberhasilannya dan memuliakan Allah dengan hartanya (Amsal 3:9-10).

 

Raja Sodom kemudian menawarkan harta yang sangat banyak kepada Abraham sebagai balas jasa atas pertolongan Abraham kepadanya, yang telah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Namun demikian Abraham yang mengetahui cara orang Sodom memperoleh hartanya, yaitu dengan cara yang jahat di mata Allah, Abraham langsung menolak tawaran raja Sodom. Ia tidak tergiur dengan harta Sodom. Ia juga tidak mau orang fasik merasa berjasa atas kemakmurannya karena semua kekayaan yang Abraham miliki adalah berkat dari Tuhan yang diperolehnya dengan cara yang berkenan kepada Allah (Kejadian 14:21-22). Ini juga ciri orang percaya sejati: tidak silau dan iri dengan kekayaan orang fasik dan tidak menginginkan harta yang diperoleh melalui cara yang fasik (Mazmur 37:1, 16).

 

Sementara itu banyak orang Kristen yang ingin memperoleh harta kekayaan dengan cara gampang dan tidak peduli bagaimana harta kekayaan itu diperoleh, bahkan walaupun dengan cara orang fasik (1 Timotius 6:9-10). Akibatnya kesaksian yang diberikan membingungkan sebab orang Kristen cara bisnisnya menjadi sama dengan orang fasik yang tidak percaya kepada Tuhan.

 

Berani Percaya Kepada Janji Allah

 

Abraham menunjukkan keimanannya dengan berani mempercayai janji Allah meskipun kenyataan yang ia hadapi sangat jauh dari janji yang diberikan Allah. Allah menjanjikan kepada Abraham keturunan yang banyaknya seperti bintang di langit (Kejadian 15:5) sementara itu keadaan Abraham secara fisik sudah tua (85 tahun) dan isterinya, Sarah, juga sudah tua dan mandul (Ibrani 11:11-12). Namun demikian Abaraham tetap percaya kepada Allah dan Allah memperhitungkan imannya sebagai kebenaran (Kejadian 15:6).

 

Alkitab menuliskan: “Karena iman ia (Abraham) juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk (tidak punya harapan untuk memiliki keturunan karena faktor fisik dan usia), terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tak terhitung banyaknya” (Ibrani 11:11-12).

 

Orang percaya sejati adalah orang yang berani percaya kepada janji Allah meskipun kenyataan yang dilihatnya sangat jauh berbeda, karena “hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7).

 

Jika pandangan kita terus ditujukan kepada kenyataan hidup sehingga kita tidak lagi bisa percaya kepada janji Allah, maka kita bukanlah orang percaya yang sejati. Kita tidak ubahnya dengan orang yang tidak percaya, yang hanya bisa percaya apabila sudah melihat kenyataan. Padahal hakekat iman adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Iman justru mewujudkan apa yang tidak dilihat menjadi kenyataan, karena Allah berkuasa untuk menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada (Ibrani 11:3).

 

Abraham berani percaya kepada janji Allah dan Allah mempahalainya dengan memperhitungkan imannya sebagai “kebenaran” sehingga ia menjadi bapa semua orang percaya (Roma 4:11). Abraham dibenarkan oleh Allah, artinya Allah menganggap Abraham sebagai orang yang benar di hadapan Allah. Ini tidak berarti Abraham tidak pernah berbuat salah, tetapi bahwa Allah mengampuni kesalahannya dan menganggapnya benar. Jadi Abraham dibenarkan bukan karena kebaikannya melainkan karena ia mempercayai Allah dengan tulus dan dengan segenap hatinya (Roma 4:2-3). Itulah yang disebut “anugerah” atau “kasih karunia”.  Demikian pula kita. Kita dibenarkan karena percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah mati menebus dosa-dosa kita (Roma 3:28; 10:10).

 

Melalui iman percayanya Abraham “beroleh kekuatan” untuk menerima dan mengalami janji Allah. Banyak orang percaya telah menerima janji Allah tetapi mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengalami realisasi janji Allah karena mereka kurang percaya. Kekurangpercayaan menyebabkan orang tidak dapat tekun dan setia menantikan janji Allah, karena realisasi janji Allah seringkali harus melewati ujian penantian melalui kurun waktu tertentu, menurut “kairos” atau waktunya Allah, dan melewati berbagai tantangan yang menuntut ketekunan dan ketabahan. Iman percaya adalah sumber kekuatan untuk dapat tekun dan setia menantikan realisasi janji Allah.

 

Kepercayaan Abraham kepada Allah bukan hanya menghasilkan buah kebenaran sehingga ia disebut “bapa semua orang percaya,” ia juga dipahalai dengan banyak keturunan sehingga ia menjadi “bapa sejumlah besar bangsa” (Kejadian 17:5)

 

Berani Melakukan Tindakan Iman

 

Abraham membuktikan iman percayanya dengan berani melakukan tindakan iman, ketika Allah “menantang” Abraham untuk mendoakan Abimelekh yang pernah berusaha merebut Sara isterinya, dan para wanita dalam istananya yang mandul karena Tuhan menutup kandungan mereka (Kejadian 20:17-18). Ini adalah tantangan bagi Abraham yang harus melawan egonya sendiri. Ia harus mengesampingkan “kecemburuan” dan kemarahannya kepada Abimelekh yang telah berusaha merebut Sara dari sisinya (Kejadian 20:2). Abraham juga harus mengesampingkan masalahnya sendiri, karena ia sendiri belum punya anak dan ia serta isterinya sudah tua dan mandul. Abraham harus mendoakan para perempuan di Istana Abimelekh yang mandul supaya mereka boleh melahirkan anak, sementara isterinya sendiri mandul. Namun demikian Abraham berani melakukan tindakan ini karena ia percaya dan taat kepada Allah. Ini adalah tindakan iman, seperti yang harus dilakukan Naaman supaya ia sembuh dari sakit kustanya (2 Raja-Raja 5:11-15), atau janda di Sarfat yang harus berbagi makanan sementara ia sendiri sedang kekurangan (1 Raja-Raja 17:12-16).

 

Jika kita berani bertindak dengan iman, maka Allah akan bertindak melakukan mujizat-Nya. Tidak lama setelah Abraham mendoakan Abimelekh dan semua perempuan di Istananya, maka Allah merealisasikan janji-Nya kepada Abraham. Sara pun mengandung dan melahirkan seorang anak pada masa tuanya yang diberinya nama Isak. Alkitab menuliskan: “Tuhan memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan Tuhan melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. Maka mengandunglah Sara, lalu melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya” (Kejadian 21:1-2).

 

Peristiwa Abimelekh juga sebenarnya adalah pengaturan Tuhan. Abraham pada waktu menerima janji untuk memiliki seorang anak berusia 85 tahun dan Sara isterinya 75 tahun dan sudah mati haid (Kejadian 18:11). Tetapi janji Allah belum juga tergenapi sementara usianya bertambah terus. Ia dan Sara isterinya semakin tua umurnya, sehingga semakin lama seolah-olah semakin terlambat dan tidak mungkin. Abraham merasa dirinya sudah semakin tua dan tidak bergairah lagi, demikian juga isterinya juga semakin tua. Abraham tidak menyadari bahwa sejak janji Allah diucapkan ada sesuatu yang terjadi dalam diri isterinya yang tidak disadarinya, yaitu Sara semakin cantik dan muda kembali, demikian pula dengan Abraham. Abraham baru menyadari hal itu setelah peristiwa Abimelekh yang berusaha merebut Sara isterinya (Kejadian 20:2).

 

Abimelekh itu seorang raja yang dapat memilih wanita cantik mana saja yang diingininya. Jika Sara itu, yang waktu itu berusia 90 tahun, adalah seorang nenek tua renta yang keriput dan tidak menarik, tentulah Abimelekh tidak akan menginginkannya. Tetapi kenyataan bahwa Abimelekh menginginkannya menunjukkan bahwa Sara pada waktu itu cantik dan menarik. Ini yang tidak disadari Abraham. Barulah setelah Sara hendak diambil Abimelekh Abraham menyadari bahwa ternyata isterinya menjadi muda kembali dan cantik.

 

Ketika itulah gairah Abraham terhadap isterinya muncul kembali dan Abraham juga mendapatkan kemampuannya kembali sehingga akhirnya Sara bisa mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki pada masa tuanya. Abraham manamai anaknya, Ishak (Kejadian 21:3).

 

Ketika kita berani melakukan tindakan iman, mujizat pun terjadi dan janji Allah menjadi kenyataan. Tetapi banyak orang yang percaya kepada janji Allah, tetapi ketika ada tantangan untuk melakukan tindakan iman yang berlawanan dengan pikiran dan keinginan, mereka tidak berani melakukannya. Sehingga mujizat tidak terjadi dan mereka gagal mengalami apa yang Allah telah sediakan.

 

Bukan Manusia Sempurna

 

Abraham bukanlah manusia yang sempurna. Ia bukanlah manusia “setengah dewa” yang tidak punya kelemahan dan tidak pernah melakukan kesalahan.

 

Abraham juga pernah melakukan kesalahan dan menunjukkan kekurang-percayaan. Ketika ia pergi ke Mesir waktu terjadi kelaparan (Kejadian 12:10). Ia pergi tanpa meminta pimpinan Tuhan. Akibatnya isterinya hampir diambil oleh Firaun, dan ia pun bertengkar hebat dengan Firaun (Kejadian 12:14-20). Untunglah Allah membelanya (Kejadian 12:17). Tetapi oleh kasih karunia Tuhan peristiwa itu dijadikan Allah untuk memperkaya Abraham dengan harta kekayaan Firaun (Kejadian 13:1-2).

 

Abraham juga pernah merasa putus asa ketika ia menyadari dirinya dan isterinya sudah tua dan mandul sementara ia belum memiliki keturunan. Ini membuat Abraham putus asa akan masa depannya, sehingga ia berpikir bahwa Eliezer, hambanya dan anak-anaknyalah yang akan mewarisi semua harta kekayaannya (Kejadian 15:2-3). Allah berusaha membangkitkan kembali harapan Abraham dengan memberikan janji tentang keturunan dan memperlihatkan kepadanya banyaknya keturunannya seperti bintang di langit (Kejadian 15:5). Untungnya Abraham percaya kepada janji Allah itu meskipun sangat jauh dari kenyataan yang sedang ia hadapi sehingga Allah memperhitungkan imannya sebagai kebenaran (Kejadian 15:6).

 

Abraham juga pernah lemah imannya karena menungga realisasi janji Allah yang tidak kunjung datang, sehingga dalam keputusasaannya ia mendengarkan nasihat Sara isterinya untuk mengambil Hagar hambanya untuk menjadi isterinya, sehingga dari Hagar dilahirkan Ismail (Kejadian 16:1-4). Akibat dari tindakannya ini berdampak sampai sekarang, konflik dua bangsa yang berkepanjangan.

 

Abraham pernah meragukan janji Allah ketika sampai ia berusia 100 tahun janji itu belum kunjung terjadi. Alkitab menuliskan: “Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: Mungkinkah bagi seorang yang berumur 100 tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah juga Sara, yang telah berumur 90 tahun itu melahirkan seorang anak?” (Kejadian 17:17). Bahkan Abraham menawarkan kepada Tuhan agar Ismael, anak dari Hagar hambanya, diijinkan Tuhan menjadi anak perjanjian (Kejadian 17:18). Tetapi Tuhan tidak berkenan. Ia tetap menghendaki Ishak menjadi anak perjanjian, sedangkan Ismail, Tuhan tetap akan memperhatikannya dan menjadikannya bangsa yang besar. Hanya saja perjanjian Tuhan tetap dengan keturunan Ishak (Kejadian 17:18-21).

 

Abraham juga pernah berbohong kepada Firaun dan Abimelekh untuk melindungi isterinya, walaupun apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah (Kejadian 12:13; 20:2-13).

 

Abraham bukanlah manusia yang sempurna. Ia bukan manusia yang tanpa kekurangan. Namun demikian ia membuktikan kepercayaannya secara konsisten melalui ketaatannya kepada Allah.

 

Iman Yang Bertahan

 

Waktu pertama kali Allah memanggilnya keluar dari negerinya dan sanak keluarganya, Abraham percaya dan taat kepada Allah, meskipun ia tidak tahu tempat yang akan ditujunya. Sekarang sesudah ia memperanakkan Ishak dan Ishak sudah cukup besar, Allah menguji iman dan ketaatan Abraham dengan meminta Ishak anaknya untuk dikorbankan (Kejadian 22:1-2). Namun demikian ternyata Abraham tetap konsisten dengan imannya yang dibuktikannya dengan ketaatannya.

 

Setelah melewati kurun waktu yang sekian lama, Abraham tetap percaya kepada Allah dan taat kepada Allah. Itulah sebabnya Allah menjadikannya bapa semua orang percaya. Ia menjadi teladan bagi semua orang percaya.

 

Alkitab menuliskan: “Karena iman maka Abraham, tatkala dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia yang telah menerima janji itu, rela mempersembah-kan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikataan: “Keturunan yang  berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Karena ia berpikir bahwa Allah berkuasa membangkitkan dari antara orang mati. Dan dari sanalah ia seakan-akan telah menerimanya kembali” (Ibrani 11:17-19).

 

Betapa luar biasanya iman dan ketaatan Abraham, yang ia terus pertahankan meskipun ia bukanlah orang yang sempurna.

 

Keteladanan Abraham bukan hal yang tidak mungkin diikuti, karena Abraham bukan manusia super yang tidak punya kelemahan dan kekurangan. Jika kita harus mengikuti iman Tuhan Yesus, Anak Allah, yang taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8), mungkin terlalu jauh bagi kita, sebab Yesus adalah “Manusia Allah.” Tetapi Abraham adalah manusia biasa seperti kita, dengan latar belakang penyembah berhala, namun ia telah menunjukkan dirinya sebagai orang percaya sejati melalui tindakan dan perbuatannya di atas.

 

Jika kita mengikuti jejak Abraham dalam menjalankan imannya dengan benar, maka kita menjadi orang percaya sejati yang akan diberkati dan menjadi berkat buat orang lain. Karena di dalam Kristus kita telah dijadikan keturunan Abraham sehingga kita pun berhak menikmati janji-janji yang Allah berikan kepadanya (Galatia 3:29).

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Kemerdekaan Sejati

Orang mengartikan kata kemerdekaan (freedom) sebagai kelepasan dari segala macam ikatan. Orang merasa merdeka ketika ia tidak diatur oleh siapapun dan oleh apapun selain dirinya. Orang merasa merdeka ketika ia dengan bebas dapat melakukan semua yang ia inginkan. Orang bahkan menginginkan kemerdekaan dari Tuhan, artinya ia tidak mau terikat oleh peraturan dan ketetapan Tuhan.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday302
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2852
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14565
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908740

People Online 25
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:24



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.