top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Spirit of Having PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi for Bapak Marco   
Tuesday, 01 March 2016 10:49

Ketika sebuah perusahaan alat komunikasi yang memiliki merek terkenal, yang sebelumnya menguasai pasar, gulung tikar, maka pada rapat terakhir perusahaan itu, pemimpin perusahaan memberikan sebuah pernyataan penutup dengan mengatakan: “Kami tidak melakukan sesuatu yang salah, hanya saja kami tidak mengantisipasi perubahan jaman.” Memang benar inilah yang sering terjadi, kita tidak menyadari bahwa jaman berubah dan kita tidak mengantisipasinya, sehingga akibatnya kita dikalahkan oleh perubahan; kita kurang menyadari tentang “waktu.” 

 

 

Kita harus menyadari bahwa sementara kita hidup di dunia kita hidup di dalam ruang dan waktu. Tetapi orang lebih menyadari “ruang” dan kurang menyadari tentang “waktu.” Contohnya: seorang ingin pergi ke suatu restoran di malam Minggu di mana tempatnya jauh dan jalan menuju ke sana di akhir pekan sangat padat, sehingga untuk pergi dan pulang saja menghabiskan waktu yang sangat lama. Orang itu hanya menyadari “ruang,” yaitu tempat makan yang enak. Tetapi orang itu tidak menyadari berapa lama waktu yang diperlukan untuk pergi ke situ. Bisa saja tidak setimpal antara waktu yang dikorbankan dan tempat yang kita capai.

 

Orang sekarang lebih menilai perubahan ruang, tetapi kurang menilai perubahan waktu dan jaman. Kita harus memperhatikan waktu yang sedang kita jalani: kita sedang berada di akhir zaman.

 

Bulan September tahun 2015 yang lalu bangsa Israel baru saja memasuki tahun “Ayin Vav”, yaitu 5776. Mereka memasuki tahun Yobel. Menurut Kitab Imamat 25:10, Tahun Yobel adalah tahun “pemulihan ekonomi,” yaitu jika ada orang menggadaikan tanahnya kepada orang lain untuk mendapatkan uang guna menyambung hidupnya, maka pada tahun Yobel, tanah yang digadaikan itu harus dikembalikan kepada pemiliknya semula, sehingga orang itu kembali dipulihkan ekonominya.

 

Jika ia menggadaikan dirinya sehingga menjadi hamba kepada orang lain, maka pada tahun Yobel orang yang memperhambanya harus melepaskannya sehingga “status sosial” orang itu dipulihkan, dan ia kembali menjadi orang merdeka. Jika selama ia menjadi hamba ia harus meninggalkan keluarganya, maka pada tahun Yobel ia harus kembali ke keluarganya, sehingga terjadi “pemulihan keluarga.” Jadi tahun Yobel adalah berbicara tentang pemulihan ekonomi, status sosial dan keluarga. Di sini kita sedang berbicara tentang “waktu.”

 

Tahun Ayin Vav berbicara tentang “Patok” (Vav). Setelah orang menerima pemulihan ekonomi, status sosial dan keluarga, maka ia harus mulai “memancangkan patok” dan mulai “mengembang ke kanan dan ke kiri” (Yesaya 54:2-3).

 

Memancangkan patok artinya kita “menancapkan diri” kepada Tuhan dan Firman-Nya, sehingga melekat kepada Tuhan dan Firman-Nya. Dalam kitab Mazmur ada kata “selah”, itu adalah “jeda” (pause) saat pemazmur “mematokkan” dirinya kepada Tuhan dan firman-Nya untuk kemudian melanjutkan kembali mazmurnya. Ini artinya kita mengokohkan hubungan kita dengan Tuhan sehingga kita selalu bersama Tuhan, karena “vav” juga berarti “dan” atau “bersama.”

 

Siapa tidak bersama (vav) Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan” (Matius 12:30).

 

Matius 12:30 mengatakan bahwa jika kita tidak “bersama” dengan Tuhan maka kita sedang “melawan” Tuhan dan akan “tercerai-berai.” Tetapi jika kita “bersama” dengan Tuhan, maka tidak ada yang dapat “melawan” kita.

 

Jika Allah di pihak (bersama dengan) kita, siapakah yang akan melawan kita” (Roma 8:31)

 

Perubahan yang terjadi di akhir zaman akan menjadi tantangan yang sangat berat, tetapi kita memiliki janji Tuhan yang sangat hebat! Salah satu hukum yang harus dianut adalah “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya” (Matius 25:29). Hukum ini bertentangan dengan prinsip dunia: dunia mengambil dari yang punya dan diberikan kepada yang tidak punya. Jadi apa maksud dari hukum yang dikatakan dalam Matius 25:29?

 

Artinya: jika orang tidak mempunyai waktu untuk Tuhan, untuk beribadah dan melayani Tuhan, maka waktu yang ia miliki akan “diambil” daripadanya sehingga waktu yang dimilikinya menjadi tidak efisien dan banyak terbuang percuma. Tetapi sebaliknya jika ia mempunyai waktu untuk Tuhan, untuk beribadah dan melayani Dia, maka ia akan “diberi” lebih banyak lagi sehingga waktu yang ia miliki menjadi sangat efisien, dan ia memiliki lebih banyak lagi kesempatan.

 

Demikian pula jika ia tidak mempunyai “tenaga” untuk beribadah dan melayani Tuhan, maka kekuatannya akan “diambil” sehingga ia menjadi semakin lemah. Tetapi jika kita mempunyai “tenaga” untuk melakukan pekerjaan Tuhan, maka kita akan diberi “tenaga” lebih banyak lagi sehingga kita memiliki tubuh yang sehat dan kuat seperti Kaleb, yang walaupun usianya sudah 85 tahun ia masih sama kuatnya seperti ketika ia berusia 40 tahun dan sanggup berperang sehingga kepadanya diberikan tanah Hebron di Israel, yaitu tanah yang dikuasai “orang-orang raksasa” (Yosua 14:10-14).

 

Jika kita, meskipun mempunyai banyak harta, tetapi merasa sayang untuk ditaburkan di ladangnya Tuhan, karena kita merasa “tidak mempunyai” cukup untuk diberikan, maka Tuhan akan “mengambilnya” melalui berbagai masalah yang datang seperti “belalang pelahap.” Meskipun kita memiliki banyak harta tetapi Tuhan tidak memberi kita karunia untuk menikmatinya (Pengkhotbah 6:2). Tetapi jika kita “mempunyai banyak” untuk disalurkan kembali untuk memberkati pekerjaan Tuhan dan orang banyak, maka Tuhan akan memberi lebih banyak lagi dan juga mengaruniakan kemampuan untuk menikmatinya, sehingga harta itu tidak menjadi sia-sia (Pengkhotbah 5:18).

 

Jikalau kita mempunyai kehausan akan Firman Allah, maka Allah akan memberi kelimpahan pengetahuan dan pewahyuan firman kepada kita (Matius 5:6). Tetapi jika kita tidak mempunai kehausan akan firman, maka kita akan semakin berkurang pengertiannya akan firman Allah dan semakin banyak yang tidak kita mengerti, sehingga kita semakin miskin rohaninya.

 

Kita harus memiliki “spirit of having”: roh yang “mempunyai”; mempunyai waktu untuk ibadah dan pelayanan; mempunyai uang untuk memberkati; mempunyai kehausan kepada firman; mempunyai tenaga dan perhatian untuk melayani orang lain. Maka Tuhan akan memberikan lebih lagi kepada kita. “Spirit of having” menyebabkan “pelipatgandaan” (Lukas 6:38), sebab dengan ukuran yang kita pakai (di pikiran kita) akan diukurkan Tuhan kepada kita.

 

“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu” (Lukas 6:38).

 

Jika kita memberi kepada Tuhan dan sesama, baik itu berupa waktu kita, uang dan tenaga kita, juga pengampunan, dengan ukuran yang “berlimpah” maka Tuhan juga akan membalaskan kepada kita dengan ukuran yang berlimpah: yang dipadatkan,  digoncangkan dan sampai tumpah keluar, akan diberikan kembali kepada kita.

 

Kita harus memiliki “spirit of having” dahulu supaya kita dapat memiliki “spirit of giving.” Jika kita selalu merasa kurang, maka kita tidak dapat menjadi seorang pemberi. Hanya orang yang “mempunyai” waktu dan tenaga, yang dapat memberikan waktu dan tenaganya untuk Tuhan dan melayani sesama. Bahkan orang kaya pun bisa tidak memiliki “spirit of having” sehingga ia menjadi kikir, tidak suka memberi, karena ia selalu merasa kurang. Sementara ada orang yang walaupun tidak kaya dia bisa berbagi dan menolong orang dan tetap tidak kekurangan, karena ia memiliki “spirit of having” sehingga Tuhan memberkatinya (2 Korintus 8:1-5).

 

Mengapa kita harus memiliki “spirit of having”?

 

Yang pertama adalah karena faktor waktu. “Apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Spirit of having hanya berlaku selama kita hidup di dunia (di bawah langit), bukan setelah mati. Setelah mati kita tidak bisa memberikan apa-apa. Oleh sebab itu gunakan waktu sebaik-baiknya; jangan terpaku oleh ruang. Yang harus diefektifkan adalah waktu bukan ruang.

 

Faktor ke dua adalah “Visi ke Depan” (Filipi 3:13).

 

Kita harus mengerti bahwa hidup dalam “waktu” adalah suatu “proses.” Waktu membawa perubahan yang harus diantisipasi jika kita tidak ingin gagal. Jangan terpaku oleh keberhasilan masa lalu. Jangan gunakan paradigma yang lama, meskipun itu pernah membuat kita berhasil. Rasul Paulus berusaha melupakan apa yang telah di belakangnya supaya ia bisa mengantisipasi masa depan yang akan datang. Ia mengarahkan dirinya kepada visi yang di depan dan berlari-lari untuk mendapatkan “hadiah” yang tersimpan di masa depan, bukan di masa lalu. Jadi jangan terpaku dengan waktu yang lalu; jangan berpuas diri, tetapi harus terus bergerak menuju yang lebih baik. Jangan gagal mengantisipasi perubahan yang dibawa oleh waktu, supaya kita jangan gagal meraih yang lebih baik. 

 

Dalam “spirit of having” yang utama yang harus kita punyai adalah Tuhan sendiri, bukan kesuksesan masa lalu (yang membuat lupa diri). Seringkali orang memegang kesuksesan masa lalu untuk meraih masa depan sehingga mengabaikan penyertaan Tuhan. Padahal tanpa bersama dengan Tuhan kita sedang melawan Tuhan dan akan tercerai-berai.

 

Dalam Keluaran 4:1-4 dikisahkan tentang Musa dengan tongkat yang di tangannya. Selalu ada tongkat di tangan Musa. Waktu Musa hidup di Mesir, ia adalah seorang Pangeran dan di tangannya ada tongkat yang melambangkan kekuasaan: “dominion.” Ketika ia melarikan diri ke tanah Midian ia menjadi gembala, dan di tangannya juga ada tongkat untuk menggembalakan. Di dalam bahasa Ibrani tangan yang memegang kuasa disebut “Yath. ” Di tangan Musa ada kekuasaan yang digambarkan dengan tongkat yang ada di tangannya (ayat 2).

 

Tetapi kemudian (ayat 3) kita membaca Tuhan menyuruh Musa melemparkan tongkatnya ke tanah dan tongkat itu menjadi ular. Sekarang tangan musa “kosong” : tidak memiliki kekuasaan. Tangan yang kosong dalam bahasa Ibrani disebut “Kaph.” Kemudian Musa disuruh Tuhan untuk memegang ular itu pada ekornya (ayat 4). Ular yang dipegang pada ekornya tentu akan berbalik dan menyerang orang yang memegangnya. Di sini tangan Musa yang “kosong” hanya mengandalkan Tuhan. Ia hanya taat kepada Tuhan dan percaya kepada Tuhan. Dengan tangan yang kosog ia memegang ekor ular dan dengan kuasa Tuhan maka ular itu kembali menjadi tongkat.

 

Dengan tangan yang kosong (kaph) yang mengandalkan Allah kini tongkat yang di tangannya menjadi “tongkat Allah” (Keluaran 4:20) dan dengan tongkat Allah itu, yang melambangkan kebersamaan (vav) dengan Allah ia melakukan berbagai perkara besar di Mesir; Mesir ditimpa oleh 10 tulah yang dahsyat (Keluaran 7 – 12).

 

Meskipun demikian persoalan dengan Firaun masih belum tuntas, sebab kemudian Firaun dengan tentaranya mengejar Musa dan bangsa Israel sampai ke tepi Laut Teberau (Keluaran 14:1-12).

 

Musa dan bangsa Israel dalam keadaan terdesak (Keluaran 14:10-27). Tetapi keadaan terdesak itu bagus untuk orang yang memiliki tangan kosong (kaph) karena dengan demikian ia hanya mengandalkan Allah. Dan ketika orang mengandalkan Allah maka Allah akan melakukan mujizat-Nya.

 

Kembali Musa mengangkat tongkatnya atas perintah Allah dan Laut Teberau pun terbelah di hadapan bangsa Israel (Keluaran 14:21-22) sehingga bangsa Israel dapat menyeberanginya. Sementara itu pasukan Firaun juga mengejarnya, dan setelah mereka sampai di tengah, sementara orang Isarel sudah sampai di seberang, Musa kembali mengangkat tongkatnya dan Laut Teberau pun tertutup kembali dan menenggelamkan pasukan Firaun. Sekarang barulah masalah dengan Firaun selesai dengan tuntas (Keluaran 14:27).

 

Ketika kita hanya memiliki tangan kosong (Kaph) dan kita dalam keadaan terdesak dan hanya mengandalkan Tuhan saja, maka bersama Tuhan mujizat pun terjadi, dan masalah besar kita dapat selesai dengan tuntas.

 

Dalam “spirit of having” yang kita punyai adalah Tuhan sendiri. Jika kita mempunyai (bersama) Tuhan (Vav), maka mujizat akan “ditambahkan” ke dalam hidup kita. Tetapi barangsiapa tidak mempunyai kebersamaan dengan Tuhan maka apapun yang menjadi miliknya akan hilang (binasa). Ketika tangan kita kosong (Kaph) dan hanya bersama Tuhan (Vav) maka mujizat dan kesuksesan besar terjadi.

 

Dalam Keluaran 17:1-7 Musa dihadapkan kepada masalah lain, yaitu orang Israel mengalami kehausan di padang gurun dan memerlukan air. Mereka bersungut-sungut dan hampir melempari Musa dengan batu. Lalu Musa berseru kepada Tuhan. Kemudian Tuhan menyuruh Musa menggunakan tongkat yang ada di tangannya.

 

Tangan Musa yang mengandalkan Tuhan (Kaph) mengayunkan tongkat yang ada di tangannya atas perintah Tuhan dan memukul gunung batu sehingga gunung batu itu terbelah dan mengeluarkan air. Kembali tangan yang kosong itu, yang mengandalkan Tuhan saja, dapat melakukan mujizat besar hanya dengan menggunakan sebuah tongkat, sebab Allah bersama (vav) dengan dia.

 

Pengalaman beberapa kali dengan tongkat yang menghasilkan mujizat besar membuat Musa mulai percaya bahwa tangannya yang memegang tongkat itu  memiliki kuasa (yath). Ini terlihat pada peristiwa yang dituliskan dalam Bilangan 20:2-12.

 

Musa diperhadapkan dengan masalah yang sama seperti sebelumnya yaitu orang Israel kehausan di padang gurun dan mulai bersungut-sungut kembali. Tuhan sekarang memerintahkan Musa untuk hanya berkata kepada bukit batu dan memerintahkannya untuk mengeluarkan air (Bilangan 20:8). Namun demikian Tuhan menguji Musa dengan menyuruhnya juga membawa tongkat yang pernah digunakan untuk memukul gunung batu sehingga mengeluarkan air. Di sini ketaatan Musa diuji.

 

Musa melihat kepada keberhasilan masa lalunya. Dalam kemarahannya kepada bangsa Israel yang bersungut-sungut ia menggunakan “yath,” tangannya yang berkuasa. Musa bukannya berkata kepada bukit batu dan memerintahkannya mengeluarkan air. Musa malah menggunakan pengalaman keberhasilan masa lalunya dengan memukul gunung batu itu dua kali. Musa juga berkata-kata kepada bangsa Israel seolah-olah ialah yang berkuasa untuk mengeluarkan air dari gunung batu dan bukannya Tuhan (Bilangan 20:10): “Hai orang-orang durhaka, apakah “kami” harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?

 

Musa tidak lagi menggunakan “kaph” karena menoleh ke masa lalu. Ia menggunakan “yath”: tangan yang berkuasa. Ia tidak bersama Tuhan karena tidak menggunakan “tangan kosong” (kaph) yang bergantung hanya kepada Tuhan. Ketika tidak bersama Tuhan maka ia “melawan” Tuhan, tidak taat dan tidak menghormatinya. Ia tidak taat kepada Tuhan karena seharusnya ia hanya berkata kepada bukit batu dan bukan memukulnya. Ia tidak menghormati Tuhan karena sekarang ia mengklaim ialah yang mengeluarkan air dari bukit batu. Memang air keluar dari bukit batu karena Tuhan kasihan kepada orang Israel yang sedang kehausan. Tetapi itu bukan berarti Tuhan setuju dengan apa yang Musa lakukan.

 

Inilah kesalahan banyak pemimpin rohani, menggunakan “yath” (tangan yang berkuasa) dan tidak lagi menggunakan “kaph” (Tangan yang kosong dan mengandalkan Tuhan) sehingga dia tidak bersama (vav) dengan Tuhan. Akibatnya ia dalam keadaan melawan Tuhan.

 

Tuhan marah kepada Musa sehingga Musa tidak diijinkan masuk ke Tanah Perjanjian yang sudah di depan mata (Ulangan 34:4-5). Seharusnya Musa lah yang “menggunting pita” ketika bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian, tetapi sekarang hal itu diberikan kepada Yosua. Inilah kegagalan tragis pemimpin ketika memilih “yath” daripada “kaph.”

 

Dalam “Spirit of Having” kita berjalan bersama (vav) Tuhan. Tangan kita kosong (kaph) karena menyadari semua yang kita miliki adalah dari Tuhan dan punya Tuhan.

 

(“Spirit of Having” oleh Bapak Marco Tanumihardja, pada acara Kingdom Business tanggal 28 Februari 2016, di GSJP Bandung).

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Rahasia Hidup dalam Kelegaan

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:29).

 

Tuhan Yesus mengundang semua orang yang merasa letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya dan terhubung kepada-Nya. Karena ketika kita terhubung kepada Tuhan Yesus maka Tuhan Yesus akan memberikan kelegaan kepada kita.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday302
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2852
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14565
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908740

People Online 24
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:26



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.