top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Jumat Agung: Pilihan Yang Menentukan PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Tuesday, 29 March 2016 04:37

Peristiwa Jumat Agung adalah peristiwa yang sangat penting bahkan terpenting dalam sejarah manusia. Karena pada peristiwa itu Anak Allah mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Tanpa kematian Yesus di salib tidak ada penebusan dosa. Tanpa penebusan tidak ada pengampunan yang sempurna, dan tanpa pengampunan manusia tidak dapat diselamatkan dari hukuman kekal di neraka.

 

“Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Efesus 1:7).

 

Tanpa kematian Yesus di salib manusia tidak bisa diperdamaikan dengan Allah dan tetap menjadi musuh Allah karena semua manusia telah berbuat dosa (Roma 3:23) dengan melanggar perintah Allah dan melawan Allah. Tanpa perdamaian dengan Allah manusia tidak dapat diterima oleh Allah dan hidup kekal bersama Allah di sorga.

 

“Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus” (Kolose 1:20)

 

Kepercayaan kita kepada Tuhan Yesus yang telah mati di salib dan bangkit kembali, itulah yang menyelamatkan kita (Roma 10:9).

 

Tetapi sekarang, setelah kita diselamatkan maka kita mempunyai tanggung jawab kepada Allah yang telah menyelamatkan kita, kepada Tuhan Yesus yang telah memberikan nyawanya untuk kita, yaitu untuk hidup bagi Dia.

 

Dalam hidup bagi Dia, Allah ingin agar kita sekarang menggunakan kehendak bebas kita dengan benar untuk Dia, dan jangan seperti Adam dan Hawa yang telah menggunakan kehendak bebasnya untuk memberontak dan tidak menaati Allah dengan memilih hal yang justru dilarang oleh Allah.

 

Kesalahan dari kebanyakan orang percaya yang telah ditebus adalah menggunakan kehendak bebasnya dengan memilih untuk hidup bagi diri sendiri dan bukannya hidup bagi Allah. Pilihan ini disebabkan karena manusia telah dipengaruhi tipu daya Iblis.

 

Dalam peristiwa menjelang penyaliban Yesus kita dapat melihat bagaimana manusia menggunakan kehendak bebas mereka dengan salah. Ini dapat kita lihat dalam persitiwa yang tertulis dalam Matius 27:11-26.

 

Pada waktu itu orang Yahudi diperhadapkan kepada dua pilihan. Pilatus memberikan pilihan kepada orang Yahudi sesuai dengan kebiasaan yang biasa dilakukan pada tiap hari raya yaitu untuk membebaskan satu orang hukuman (ayat 15).

 

Pilihannya sebetulnya sangat mudah, yaitu memilih untuk membebaskan seorang hukuman yang terkenal kejahatannya, yaitu Yesus Barabas, atau membebaskan Yesus Kristus yang terkenal selalu berbuat kebaikan.

 

Semua orang pada waktu itu sudah mendengar dan mengetahui bahwa Yesus banyak berbuat kebaikan dan mujizat.

 

“Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan” (Matius 4:24-25).

 

“Yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis sebab Allah menyertai Dia” (Kisah Para Rasul 10:38).

 

Tetapi mengapa kemudian orang Yahudi malah memilih Yesus Barabas yang jahat dan bukan Yesus Kristus yang baik? Itu karena mereka dengki kepada-Nya (Ayat 18). Kedengkian itu adalah gabungan iri hati dan kebencian. Kedengkian menutupi akal sehat dan hati nurani, sehingga yang jahat dibebaskan dan yang baik dan benar malah dihukum.

 

Sebenarnya yang dengki itu adalah para pemimpin agama, tetapi mereka menghasut rakyat (Ayat 20). Itulah cara Iblis bekerja, yaitu menghasut agar kita menuruti keinginan hati yang salah. Ketika orang sudah terhasut mereka sukar sekali untuk dinasihati agar kembali kepada akal sehat dan hati nurani. Orang yang telah terhasut malah akan marah dan mengamuk jika dinasihati (Ayat 24). Mereka semua lupa akan kebaikan yang pernah mereka saksikan atau alami dari pelayanan Tuhan Yesus.

 

Hari ini juga banyak orang percaya yang telah dihasut Iblis untuk meninggalkan Tuhan Yesus demi mengikuti keinginan mereka sendiri. Mereka semua lupa akan kasih karunia yang telah mereka terima di dalam Tuhan Yesus. Mereka tidak dapat lagi dinasihati karena mata dan telinga batin mereka sudah tertutup.

 

Orang Yahudi telah dikuasai kedengkian sedemikian rupa sehingga mereka mengabaikan konsekuensi dari pilihan mereka. Mereka sebenarnya menyadari bahwa pilihan mereka untuk membebaskan penjahat dan menghukum orang benar akan mendatangkan akibat yang buruk bagi mereka.

 

Setiap pilihan yang diambil mengandung akibat. Jika pilihan kita benar, kita akan selamat, bahagia dan dipahalai. Tetapi jika pilihan kita salah, kita akan celaka, sengsara dan dihukum. Orang Yahudi nekad menerima konsekuensi dari pilihan mereka untuk menyalibkan Yesus Kristus dengan menanggungkan konsekuensi itu kepada anak cucu mereka (Ayat 25)

 

Hari ini pun sama. Banyak orang Kristen yang telah ditipu Iblis membuta-tuli terhadap konsekuensi yang mereka akan tanggung akibat pilihan dan keputusan mereka untuk menolak Kristus dan meninggalkan kasih karunia Allah.

Hari ini Iblis masih bekerja dengan cara yang sama yaitu dengan menipu (Efesus 6:11) dan menghasut. Itu dikarenakan manusia masih memilih hidup untuk dirinya sendiri. Jika kita memilih dan memutuskan untuk hidup sepenuhnya bagi Allah, maka kita akan terlindungi dari hasutan dan tipu daya Iblis.

 

Sekarang ini Iblis menghasut orang percaya untuk memilih “alasan” daripada “ketaatan.” Ketika orang berpegang pada alasan maka ia tidak dapat taat kepada perintah Tuhan. Setiap kali kita tidak melakukan perintah Tuhan pasti yang kita keluarkan adalah alasannya. Kita menjadi orang yang selalu beralasan dan bukannya taat melakukan perintah Tuhan. Dan Iblis senang sekali menolong orang percaya untuk beralasan supaya orang percaya tidak melakukan perintah Tuhan. Kalau perlu ia ikut mengatur kejadian-kejadian supaya kita punya alasan yang kuat untuk tidak melakukan perintah Tuhan. Dalam hal ini alasan menjadi “pembenaran” bagi orang percaya untuk ketidaktaatannya.

 

Namun demikian ada konsekuensi yang amat serius untuk setiap ketidaktaatan meskipun kita telah berusaha membenarkan diri  dengan berbagai alasan masuk akal yang kita buat. Contohnya adalah raja Saul.

 

Saul tidak taat ketika ia disuruh menunggu Samuel. Ia dengan lancang melakukan pekerjaan yang sebenarnya ialah tugas Samuel yaitu mempersembahkan korban bakaran. Ketika ia ditegur Samuel atas kelancangan-nya maka Saul pun beralasan bahwa rakyat sudah mulai terserak meninggalkan medan pertempuran sementara Samuel belum juga datang untuk mempersembahkan korban sebelum berperang. Akibat kelancangannya ini kedudukan Saul sebagai raja menjadi tidak tetap. Allah memilih orang lain yang lebih berkenan kepada-Nya untuk menggantikannya (1 Samuel 13:11, 13, 14).

 

Saul juga tidak taat kepada Allah ketika ia diperintahkan untuk membasmi bangsa Amalek. Ia menyelamatkan Agag raja orang Amalek bersama dengan kambing dombanya. Saul beralasan bahwa kambing domba itu diselamatkan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Namun demikian Samuel menegur keras ketidaktaatan Saul. Allah akhirnya menolak Saul (1 Samuel 16:20,22,23).

 

Untuk setiap ketidaktaatan ada konsekuensinya yang serius, meskipun kita telah berusaha membenarkan diri dengan membuat berbagai alasan yang masuk akal. Alasan tidak dapat membenarkan ketidaktaatan. Pada waktu penghakiman alasan-alasan yang kita buat tidak dapat menyelamatkan kita. Hanya ketaatan yang akan menyelamatkan dan membenarkan.

 

Hari ini pun berlaku hal yang sama bagi orang yang percaya sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan Yesus:

 

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itu Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23).

 

Alasan bukan berasal dari Allah tetapi dari pikiran manusia, dan Setan menolong setiap orang yang suka beralasan dengan memberikan lebih banyak alasan dan kalau perlu merekayasa kejadian-kejadian untuk menguatkan alasan supaya orang percaya tidak melakukan perintah Allah. Itulah sebabnya Allah tidak berkenan kepada orang yang suka beralasan dan tidak memberkati orang yang pandai beralasan.

 

Sebaliknya, ketaatan adalah prinsip Anak Allah, yang menunjukkan ketaatan yang sempurna, bahkan taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2:6-8). Roh Kudus akan menolong orang yang mau melakukan perintah-perintah Allah. Oleh sebab itu Allah sangat berkenan kepada orang percaya yang taat dan Ia memberkatinya.

 

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yohanes 14:15-16)

 

Iblis juga menghasut orang percaya untuk lebih memilih “kenyamanan” daripada “perkenanan” Allah. Memilih kenyamanan adalah memanjakan dan berusaha menyenangkan diri sendiri serta mengasihani diri sendiri.

 

Jika kita hidup bagi Tuhan Yesus kita akan lebih memilih  mencari “perkenanan” Allah meskipun kita harus mengorbankan kenyamanan dan menjalani “ketidaknyamanan” demi Tuhan. Inilah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus ketika Ia mengatakan:

 

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Matius 16:24, 25, 27).

 

Tuhan Yesus sendiri memilih ketidaknyamanan bahkan kesengsaraan demi memperkenankan hati Allah Bapa (Ibrani 12:2). Demikian pula Musa, dikatakan dalam surat Ibrani: “karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah (pahala)” (Ibrani 11:25-26).

 

Orang yang memilih kenyamanan pribadi dan mengabaikan perkenanan Allah akan mengalami kerugian besar. Orang kaya yang bodoh memilih menyenangkan dirinya dengan hartanya dan tidak peduli dengan perkenanan Allah; ia miskin di hadapan Allah. Dan, malam itu juga Allah mencabut nyawanya (Lukas 12:16-21). Yunus lebih memilih ke Tarsis daripada melakukan perintah Allah untuk menginjil ke Niniwe (Yunus 1:1-3). Dan, ombak besar menghantam kapal (ayat 4-5) yang ditumpanginya sehingga ia dibuang ke laut dan ditelan ikan besar (ayat 17). Untunglah Allah masih bermurah mati dengan mendengar doa pertobatannya dan memberinya lagi kesempatan. Yunus adalah tipe orang yang mencari kenyamanan pribadi. Demikian pula dengan murid-murid Yesus yang diperintahkan untuk menyeberang ke Betsaida (rumah ikan, “pelayanan”: Markus 6:45) malah menyimpang ke Kapernaum (rumah kenyamanan: Yohanes 6:17) sehingga angin sakal menghantam perahu mereka. Untunglah Tuhan Yesus datang menyelamatkan mereka.

 

Hari ini, banyak orang percaya memilih kenyamanan diri sendiri dengan meninggalkan ibadah, pelayanan, berpindah-pindah gereja, bahkan murtad meninggalkan Tuhan. Allah tidak berkenan kepada orang yang seperti itu:

 

“Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan beroleh hidup” (Ibrani 10:38-39)

 

Orang yang mengutamakan kenyamanan pribadi tidak dapat tekun melakukan kehendak Allah, sehingga akhirnya mereka tidak mendapatkan perkenanan Allah dan tidak mendapatkan apa yang dijanjikan dan telah disediakan untuk mereka:

 

“Sebab kamu memerlukan ketekunan supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu” (Ibrani 10:36)

 

Marilah kita memilih perkenanan Allah dari pada kenyamanan, supaya kita dapat bertekun sampai kepada akhirnya, sebab kedatangan Tuhan Yesus sudah semakin dekat, bahkan sudah sangat dekat.

 

“Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia akan datang, sudah akan ada tanpa menangguhkan kedatangan-Nya” (Ibrani 10:37).


Allah akan mempahalai setiap ketidaknyamanan yang kita tanggung demi memperoleh perkenanan-Nya.

 

“Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Matius 19:29).

 

Satu kali, salib akan digantikan mahkota; penderitaan akan digantikan kemuliaan yang sangat besar:

 

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18).

 

Orang yang mau hidup bagi Tuhan akan dapat mengapresiasi ketidaknyamanan yang ia harus tanggung untuk Tuhan, demi perkenanan-Nya. Itulah yang menjadi sikap rasul Paulus:

 

“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Korintus 12:10).

 

Lalu kenyamanan kita di mana? Kenyamanan kita adalah di dalam Tuhan. Ketika kita beroleh perkenanan Tuhan maka kita akan merasakan kenyamanan yang luar biasa dari Tuhan yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini. Kenyamanan yang kita peroleh dari Allah jauh lebih indah daripada kenyamanan diri yang kita selama ini usahakan, apalagi dengan mengabaikan perkenanan Allah.

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Identitas Dahsyat Orang Percaya (Bag. II)

Meskipun kita telah menerima identitas-identitas yang luar biasa Allah masih memberikan kepada kita identitas-identitas luar biasa lainnya.

 

Allah memberikan kepada kita identitas dan status sebagai warga Kerajaan Allah.

 

Filipi 3 : 20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday306
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2856
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14569
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908744

People Online 26
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:29



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.