top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Hidup Penuh Roh Kudus PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Tuesday, 17 May 2016 04:06

Yesus adalah Anak Allah yang menjelma atau berinkarnasi menjadi Manusia. Itu diterangkan dengan jelas dalam Injil Yohanes pasal satu. Di situ dituliskan bahwa “Firman itu telah menjadi manusia.” Padamulanya Ia bersama-sama dengan Allah Bapa dan Ia sendiri adalah Allah Anak. Ialah Pencipta segala sesuatu. Ia datang ke dalam dunia yang diciptakan-Nya dan diam di antara manusia. Namun manusia yang diciptakan-Nya tidak mengenal Dia dan bahkan menolak Dia. Padahal Ialah Pemberi hidup dan terang yang sejati (Yohanes 1:1-5; 9-11).

 

Ketika Anak Allah turun ke dalam dunia Ia melepaskan kesetaraan-Nya dengan Allah: Ia mengosongkan diri-Nya. Ia meninggalkan segala sesuatu yang Ia miliki sebagai Allah, kekuasaan-Nya dan kemuliaan-Nya (Filipi 2:6-7) Yang melekat kepada diri-Nya adalah status-Nya yang tak berubah yaitu bahwa Ia adalah Anak Tunggal Bapa Yang Kekasih (Yohanes 1:14)

 

Ia melepaskan semuanya dan menjadi manusia biasa, bahkan mengambil posisi sebagai hamba (Filipi 2:7), karena Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani manusia, bahkan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi dosa manusia (Matius 20:28).

 

Karena Ia telah mengosongkan diri-Nya maka Ia menjadi seratus persen manusia, sama seperti kita. Ia memiliki tubuh yang dapat lapar dan lelah (Luk. 4:2; Yoh. 4:6). Ia dapat berbuat dosa jika Ia mau. Dan Ia telah mengalami pencobaan manusia sama seperti kita, hanya saja Ia tidak mau berbuat dosa (Ibrani 4:15). Bahkan sebagai manusia Ia harus belajar apa yang disebut ketaatan (Ibrani 5:8), karena sekarang Ia berada di bawah otoritas Yusuf dan Maria sebagai orang tua-Nya selama Ia di dunia (Lukas 2:51).

 

Lalu, bagaimana Ia yang sekarang seratus persen manusia dapat hidup sebagai seorang yang tidak berdosa (2 Kor. 5:21), menang atas semua pencobaan yang dialami-Nya, taat secara absolut kepada kehendak Allah Bapa yang mengutus-Nya, bahkan taat sampai mati (Filipi 2:8) di kayu salib secara sangat menderita? Bagaimana Ia yang seratus persen manusia dapat melakukan mujizat-mujizat yang luar biasa, yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa? Bagaimana Ia dapat melaksana rencana Allah yang luar biasa untuk menyelamatkan semua manusia? Bagaimana semuanya itu dapat terjadi dan dilakukan-Nya, padahal Ia telah mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama seperti manusia biasa?

 

Jawabannya adalah: Karena dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Yesus hidup dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus!

 

Roh Kudus adalah Roh Allah Yang Mahakuasa, yang telah turut serta dalam penciptaan langit dan bumi (Kej. 1:2). Roh Kuduslah yang mewujudkan firman Allah dan menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Roh Kuduslah yang selama ini berkarya dengan luar biasa dan berada di balik mujizat-mujizat besar yang dilakukan para nabi. Sekarang Roh yang sama menguasai dan memimpin Yesus (Lukas 4:1).

 

Yesus memang dilahirkan oleh kuasa Roh Kudus yang menaungi perawan suci Maria (Luk. 1:35). Roh Kuduslah yang telah membentuk karakter Kristus dari dalam sehingga Ia tumbuh menjadi seorang anak yang saleh, cerdas, memiliki karakter yang disukai Allah dan manusia (Lukas 2:52).

 

Namun demikian Yesus tidak melakukan mujizat dan perbuatan ajaib sebelum Ia menerima kuasa dari Roh Kudus. Dan itu dimulai ketika Ia dibaptis oleh Roh Kudus setelah Ia dibaptis dalam air oleh Yohanes Pembaptis (Luk. 3:21-22). Sebelum itu Alkitab tidak mencatat mujizat apapun yang dilakukan Yesus. Mujizat pertama-Nya ialah ketika Ia mengubah air menjadi air anggur pada pesta pernikahan di kota Kana yang dihadiri-Nya (Yoh. 2:11); itulah yang dicatat Alkitab.

 

Jadi rahasia kuasa Yesus adalah “hidup penuh Roh Kudus.” Apa artinya “penuh Roh Kudus”? “Penuh” di sini bukan berbicara “volume” seperti sebuah gelas atau botol yang penuh air. Sebab kepenuhan seperti itu bersifat “statis.” Gelas dan botol yang penuh dengan air bersifat statis sama seperti botol atau gelas yang kosong. “Penuh” di sini adalah kepenuhan yang bersifat “dinamis.” Dinamis artinya bahwa kepenuhan yang “mengakibatkan dan menghasilkan” sesuatu.

 

Alkitab menggambarkan hal “kepenuhan Roh” yang dinamis dengan mempertentangkannya dengan “mabuk anggur” (Efesus 5:18).

 

Ketika seorang minum anggur, ia mengisi perutnya penuh dengan anggur, dan setelah itu anggur itu mulai membuatnya mabuk dan mempengaruhi tindakan dan perkataan orang itu. Orang itu melakukan tindakan yang tidak wajar dan mulai berkata tidak karuan yang tidak akan dilakukannya ketika ia tidak dibawah pengaruh anggur. Tetapi ini adalah kepenuhan yang sifat dan akibatnya negatif. Oleh sebab itu dikatakan “jangan kamu mabuk anggur.”

 

Tetapi kemudian Alkitab menyuruh “hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Kepenuhan dengan Roh artinya orang itu “diisi” oleh Roh: dimasuki dan ditinggali oleh Roh Kudus (Yoh. 14:16-17) sedemikian rupa sampai ke tingkat di mana Roh Kudus menguasai orang itu dan mempengaruhi tindakan dan perkataannya, pikiran, perasaan dan kehendaknya. Tetapi tentunya kepenuhan Roh bersifat positif karena mengakibatkan dan menghasilkan sesuatu yang baik, berguna dan mulia, baik bagi orang itu maupun bagi orang di sekitarnya. Dampaknya adalah positif, sehingga firman Allah menganjurkannya, bahkan memerintahkannya.

 

Ketika orang “penuh dengan Roh” atau dapat dikuasai oleh Roh Kudus, maka barulah Roh Kudus dapat dengan leluasa berkarya dalam orang itu atau melalui orang itu; barulah Roh Kudus dapat memimpin dan menggerakkan orang itu sesuai dengan kehendak-Nya.

 

Itulah yang terjadi dengan Yesus sebelum Ia mulai dipakai oleh Allah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah yang luar biasa dan ajaib di muka bumi.

 

Kita membaca dalam Injil Lukas 3:21 bahwa sebelum memulai pelayanan-Nya yang luar biasa, Yesus dibaptis terlebih dahulu oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Ini menunjukkan kerendahan hati-Nya, penundukkan diri-Nya dan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa. Mengapa?

 

Karena, meskipun Ia hidup saleh, sehingga Ia tidak perlu bertobat, namun Ia memberi diri untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Mat. 3:13). Padahal baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan (Mat. 3:11). Namun demikian Ia melakukannya karena Ia hendak menggenapi kehendak Bapa (Mat. 3:15).

 

Yesus dibaptis dalam air oleh Yohanes adalah kehendak Bapa. Padahal ketika hendak dibaptis Ia harus berdiri di antara antrian orang berdosa yang hendak bertobat dan menerima baptisan Yohanes (Mat. 3:5-6). Di antara orang-orang yang hendak dibaptis mungkin ada pemungut cukai, perempuan-perempuan sundal, dan orang-orang berdosa lainnya. Dan Yesus berdiri di antara mereka untuk dibaptis, seolah-olah Ia sama seperti mereka yang berdosa, padahal Ia sama sekali tidak berbuat dosa. Betapa rendah hati-Nya Yesus, dan betapa taatnya Ia kepada kepada Bapa-Nya. Yohanes sendiri enggan untuk membaptis Yesus karena Ia tahu bahwa Yesus tidak berdosa (Mat. 3:14). Malah Yohanes sendiri yang ingin dibaptis oleh Yesus sebab Yohanes tahu bahwa Yesus adalah Pembaptis dengan Roh (Mat. 3:11).

 

Ketika Yesus dibaptis, setelah Ia keluar dari air, maka Yesus dibaptis dengan Roh Kudus (Mat. 3:16). Bapa mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan menyatakan perkenanan-Nya dengan proklamasi: Inilah Anak-Ku Yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan (Mat. 3:17). Itulah saat “pengadopsian keputraan” Yesus;  “adoption of sonship” yang disebut “huiosthesia”.

 

Mulai saat itu Yesus dipercayakan pekerjaan Bapa yang luar biasa di bumi, yaitu untuk menyelamatkan umat manusia dan mendirikan Kerajaan Allah di Bumi (Markus 1:14-15) sebagai cara Allah menyelamatkan dunia. Mulai saat itu Yesus menggunakan semua kuasa Allah di bumi dan bertindak atas nama Bapa serta dengan otoritas penuh dari Allah Bapa sehingga semuanya harus takluk dan tunduk kepada-Nya (Mark. 5:20; Luk. 8:25; Luk. 11:14).

 

Yesus memang Anak Allah, tetapi ketika di bumi Ia harus kembali mengalami “pengangkatan keputraan” untuk memberi-Nya otoritas dan kuasa untuk bertindak dan melakukan pekerjaan Allah yang luar biasa. Ingatlah bahwa Ia telah mengosongkan diri-Nya ketika Ia turun dari sorga dan menjelma menjadi manusia, sehingga Ia harus bergantung sepenuhnya kepada kuasa Roh Kudus yang menjadikan-Nya (memberi-Nya adopsi keputraan) sebagai Anak Allah. Hanya mulai saat itulah Yesus dapat melayani dengan luar biasa dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ajaib dan agung.

 

Itulah sebabnya kita tidak membaca Yesus melakukan mujizat apapun sebelum itu. Hanya setelah Ia dibaptis dan dipenuhi Roh Kudus Yesus mulai melayani dengan ajaib dan luar biasa.

 

Dari Injil Lukas 4:1 kita membaca bahwa Yesus yang penuh dengan Roh Kudus dibawa Roh Kudus ke padang gurun untuk dicobai Iblis 40 hari lamanya. Di sini kita dapat menarik beberapa pelajaran penting:

 

Bahwa hanya orang yang penuh Roh Kudus atau yang dikuasai sepenuhnya oleh Roh Kudus yang dapat dibawa atau dipimpin Roh Kudus. Roh Kudus hanya dapat bekerja dengan leluasa di atas kehidupan orang yang mau sepenuhnya dikuasai oleh-Nya. Sebab setelah itu Roh Kudus membawanya ke padang gurun untuk mengalami pencobaan.

 

Jika orang tidak dikuasai sepenuhnya oleh Roh Kudus mana mungkin Roh Kudus dapat membawa orang itu ke padang gurun untuk dicobai, sebab itu adalah situasi dan kondisi yang sama sekali tidak nyaman bagi “daging” dan bukan merupakan pilihan dan keinginannya. Daging, pilihannya dan keinginannya adalah mencari tempat yang nyaman dan menyenangkan dan menghindari kesusahan dan penderitaan. Ingat, keinginan daging selalu bertentangan dengan keinginan Roh (Galatia 5:17).

 

Lagi pula orang tidak akan tahan dan dapat bertahan di padang gurun selama 40 hari dan tidak makan apapun jika tidak ditopang oleh kuasa Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan pernah meninggalkan orang yang dipimpin-Nya (Yoh. 14:17). Ia akan menopang orang itu dengan kekuatan-Nya yang dahsyat sehingga orang itu dapat tahan dan bertahan dalam situasi yang paling sengsara sekali pun (Ef. 1:19). Kekuatan daging (alamiah manusia) tidak mungkin dapat melakukan itu (Yohanes 6:63).

 

Jika kita yang penuh keterbatasan, penuh dengan Roh Kudus dan dipimpin oleh Roh Kudus maka kita akan dapat menanggung segala sesuatu karena Ia memberi kekuatan-Nya yang tidak terbatas kepada kita (Filipi 4: 13). Kita akan tahan dan bertahan dalam segala situasi dan kondisi yang buruk sekali pun dan keluar sebagai pemenangnya karena Roh Kudus menopang kita dengan kuasa-Nya.

 

Kita juga membaca setelah 40 hari lalu laparlah Yesus (Luk. 4:2). Ini bukan lapar yang biasa tepai rasa lapar yang sangat hebat karena telah 40 hari makanan tidak masuk ke dalam tubuh-Nya. Dalam keadaan seperti ini fisik orang menjadi lemah dan kemampuan nalarnya menjadi turun. Emosi mulai terganggu dan orang mulai tidak bisa mengendalikan diri. Tetapi tidak demikian dengan Yesus karena Roh Kudus memenuhi diri-Nya dan menopang-Nya dengan kuasa-Nya.

 

Yesus tahan dan bertahan bukan karena Ia manusia super. Ia waktu itu sebagai manusia biasa seperti kita. Ingat bahwa ketika Ia turun ke dunia Ia telah mengosongkan diri-Nya dan meninggalkan kesetaraan-Nya sebagai Allah. Ia hanya bergantung kepada kuasa Roh Kudus. Sekarang kekuatan fisik-Nya sepenuhnya ditunjang oleh Roh Kudus, bukan oleh keallahan-Nya, sebab Ia telah melepaskannya untuk sementara waktu. Ia telah dijadikan sedikit lebih rendah dari malaikat (Ibrani 2:9), yaitu sebagai manusia biasa.

 

Yang luar biasanya adalah bahwa meskipun fisik Yesus sudah sangat lemah karena kelaparan hebat namun roh-Nya tetap kuat, menyala dan segar, sehingga Yesus dapat menjawab tantangan Iblis dengan tepat dan mematahkan semua godaan Setan. Ini karena kuasa Roh Kudus yang menopang Dia.

 

Biasanya jika orang kelaparan dan fisiknya lemah, konsentrasinya mulai menurun, emosinya mudah meledak dan pengendalian dirinya lemah. Ia akan menyerah dan melakukan apa saja untuk dapat mengisi perutnya. Lihat saja para petualang yang berusaha bertahan hidup di hutan atau padang belantara ia akan makan apa saja dan melakukan apa saja untuk mempertahankan hidupnya. Jika sudah seperti ini orang akan mudah tergoda tanpa bisa berpikir panjang bahkan tanpa mempedulikan nilai-nilai moral asalkan ia dapat bertahan.

 

Tetapi tidak demikian dengan Yesus. Di bawah kuasa Roh Kudus Ia tetap dapat mengendalikan diri-Nya dan berpikir secara jernih serta menjawab secara tepat dan bijaksana dan tetap mempertahankan prinsip Firman Allah karena Ia di bawah kuasa dan pimpinan Roh Kudus.

 

Itulah sebabnya penting sekali untuk kita berada di bawah kuasa dan pimpinan Roh Kudus, sehingga ketika kita dalam situasi dan kondisi yang tidak nyaman bahkan buruk sekalipun, ketika kondisi fisik kita mulai melemah baik karena usia maupun sakit penyakit, roh dan iman kita tetap menyala, kuat dan segar (Roma 4:19), sehingga kita tidak jatuh dalam pencobaan dan dapat mem-persembahkan kehidupan yang berkenan kepada Allah.

 

Kepenuhan Roh atas Yesus menyebabkan Yesus memiliki prinsip hidup yang benar dan kuat untuk melawan godaan Setan. Ini adalah karya Roh Kudus dalam kehidupan seorang yang dikuasai Roh Kudus dan dipimpin sepenuhnya oleh Roh Kudus. Roh Kudus membangun suatu dasar nilai yang kuat yang membuat orang dapat berpijak atas dasar prinsip yang benar, sesuai dengan Firman Allah, untuk menghadapi godaan dan mengalahkannya.

 

Yang pertama adalah: Bagi Yesus kehidupan manusia bukan hanya ditopang oleh perkara materi saja, tetapi juga oleh perkara rohani. Memang manusia perlu makan dan minum: itu adalah kebutuhan primernya. Tetapi hidup manusia juga ditopang oleh perkara rohani seperti ibadah yang tulus (1 Tim. 4:8) dan sungguh serta ketaatan kepada Firman Allah. Bukankah Firman Allah berulang-ulang menyatakan bahwa jika kita beribadah sungguh-sungguh kepada Allah dan melakukan semua ketetapan firman-Nya maka Tuhan akan memberikan umur panjang, kesehatan dan kesembuhan, di samping berkat-berkat jasmani lainnya? (Ulangan 11:21; Amsal 10:27; Amsal 4:20-22; Amsal 3:7-8).

 

Sering kali orang lebih mengutamakan perkara materi dari pada rohani. Ia berusaha mengkonsumsi makanan yang sehat dan berolah raga untuk menjaga kesehatan tubuhnya dengan maksud supaya panjang umurnya dan sehat badannya. Itu tidak salah! Tetapi jika dengan itu ia mengabaikan perkara rohani seperti ibadah kepada Tuhan dan hidup dalam ketaatan kepada Firman Allah maka itu menjadi keliru (Roma 13:14), karena bagaimana pun hidup dan kesehatan kita adalah pemberian Allah (Mat. 6:25). Oleh sebab itu orang yang mengerti akan mencari dahulu perkara rohani dan memprioritaskannya dalam hidupnya sehingga Allah akan menambahkan kepadanya semua yang ia butuhkan (Mat. 6:33). Diet yang sehat dan latihan jasmani terbatas gunanya, karena hanya berguna untuk hidup sekarang ini saja, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal karena selain berguna untuk kehidupan sekarang ini, yaitu memberi umur panjang dan kesehatan, ibadah juga berguna untuk kehidupan dalam kekekalan yang akan datang (1 Timotius 4:8).

 

Yesus dalam keadaan lapar berat digoda Iblis untuk menggunakan kuasa dan kekuasaan yang Ia miliki untuk mengubah batu menjadi roti (Luk. 4:3-4); dan memang itu dapat dilakukan-Nya jika Ia mau. Tetapi Ia tidak mau tunduk kepada anjuran Setan yang adalah musuh Allah hanya untuk mengenyangkan perutnya dari rasa lapar. Yesus ingat akan kejatuhan Adam yang memakan buah yang dilarang atas anjuran Setan padahal Adam pada waktu itu tidak sedang kelaparan, bahkan ia sedang hidup dalam kelimpahan makanan di Taman Eden (Kejadian 3:1-24).

 

Jika Adam jatuh karena masalah makanan, maka Yesus, “Adam Yang Akhir,” tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia menolak anjuran Setan dengan berdiri pada prinsip bahwa manusia bukan hidup dari roti saja; dari hal-hal materi, tetapi juga dari setiap firman yang keluar dari mulut-Nya Allah, yaitu hal yang bersifat rohani yang bersumber dari Allah, Sumber kehidupan yang sesungguhnya.

 

Jika kita ingin menang atas godaan iblis maka kita harus berdiri pada prinsip yang sama yaitu mengutamakan hal rohani di atas hal materi dan jasmani, maka Allah Sumber kehidupan dan kesehatan akan mengaruniakan semua yang kita perlukan karena memang itu adalah kehendak-Nya, yaitu supaya panjang umur kita di bumi dan menikmati umur panjang itu dalam kesehatan yang dikaruniakan Tuhan.

 

Yang kedua adalah Yesus berprinsip bahwa tujuan hidup manusia yang sejati dan mulia itu bukanlah mencari harta, kekuasaan dan kemasyhuran, tetapi beribadah dan berbakti melayani Allah (Matius 4:10).

 

Jika kita memiliki prinsip ini kita tidak akan mudah tergoda untuk mencintai dunia dan mengejar apa yang ditawarkan dunia. Banyak orang jatuh dalam berbagai pencobaan karena mereka mengejar harta, kekuasaan dan kemasyhuran. Bahkan banyak orang rela menjual jiwanya kepada Setan untuk memperoleh semuanya itu. Mereka bahkan rela mengorbankan kesehatan tubuhnya, keluarganya, imannya, bahkan nekad melakukan hal yang melawan hukum asalkan mereka dapat memperoleh kekayaan yang besar dengan cara yang cepat (1 Tim. 6:9-10), mendapatkan kekuasaan dan kemsyhuran. Orang-orang seperti itu adalah mangsa yang empuk bagi Setan sehingga orang-orang itu mau pergi ke dukun-dukun, para normal dan bahkan memuja Setan untuk mendapatkan semuanya itu.

 

Ketika mereka mencintai dunia maka kasih kepada Allah langsung mati dalam hati orang itu (1 Yoh. 2:15) walaupun dari luar ia nampak sebagai orang yang beragama dan saleh (2 Tim. 3:5). Pada dasarnya orang itu sedang mengasihi dirinya sendiri dan tidak mengasihi Allah sama sekali.

 

Kepada Yesus diperlihatkan kerajaan dunia dengan segala kemewahannya dan berbagai kenikmatan dosa di dalamnya. Iblis akan memberikan semuanya itu kepada-Nya asal Yesus mau menyembahnya (Luk. 4:5-7). Tetapi Yesus tidak tertarik sedikitpun dan tidak tergoda sebab tujuan hidupnya adalah untuk beribadah dan berbakti kepada Allah (Luk 4:8). Jika kita berdiri pada prinsip yang sama kita tidak akan mudah tergoda oleh dunia dan kita akan dapat mengasihi Allah dengan segenap hati dan jiwa.

 

Yang ketiga adalah Yesus ditantang untuk menguji Firman Allah yang memberi jaminan kepada diri-Nya. Allah memang berjanji melalui Firman-Nya bahwa Ia akan memerintahkan para malaikat-Nya untuk melindungi Yesus supaya “kaki-Nya jangan terantuk kepada batu” (Maz. 91:11-12). Ayat ini seratus persen Firman Allah dan Janji Allah untuk Yesus Anak Allah. Iblis benar ketika ia mengutip firman Allah ini dan Yesus juga tahu bahwa ada janji Bapa yang spesifik untuk-Nya. Tetapi Yesus punya prinsip bahwa Allah Yang berjanji itu setia, dan Ia pasti menggenapinya (Ibrani 11:11); dan bahwa setiap janji Allah itu “ya” dan “amin” (2 Kor. 1:20) sehingga Ia tidak perlu lagi menguji Allah untuk membuktikan janji-Nya. Ia tidak mau “mencobai” Allah untuk membuktikan janji-Nya. Bagi-Nya panggilan-Nya adalah untuk percaya dan taat kepada Allah dan Firman-Nya dan bukan untuk menguji kredibilitas Allah.

 

Banyak orang Kristen ragu dengan janji-janji Allah. Dengan demikian artinya mereka juga meragukan kredibilitas Allah, sehingga sering timbul pertanyaan-pertanyaan yang didasarkan atas keraguan. Kita tidak perlu bersikap kritis terhadap firman Allah sebab apa yang dikatakan Allah adalah benar dan berguna, baik yang dikatakan-Nya secara langsung maupun yang tidak langsung; apalagi jika itu adalah janji yang diucapkan Allah sendiri.

 

Contohnya: meskipun dalam Maleakhi 3 :10 dikatakan bahwa Allah menantang kita untuk menguji Dia dalam hal memberikan perpuluhan, namun demikian panggilan kita bukan untuk mencobai Allah guna menguji janji berkat yang diucapkan-Nya bagi orang yang memberi perpuluhannya. Panggilan kita adalah untuk percaya dan taat memberikan perpuluhan sebagaimana yang diperintahkan-Nya.

 

Jika kita berdiri pada prinsip yang dianut Yesus ini, maka kita akan terhindar dari sikap kritis apalagi skeptis terhadap firman Allah dan janji-janji-Nya. Kita hanya mau percaya begitu saja dan taat: itulah iman yang sejati yang percaya kepada Allah dan kredibilitas-Nya yang sudah terbukti. Ketika kita memiliki sikap percaya seperti itu Allah pasti berkenan kepada kita dan Ia akan melakukan bagian-Nya untuk menggenapi janji-janji-Nya.

 

Keinginan untuk bersikap kristis terhadap firman Allah adalah hawa nafsu daging dan bukannya bersumber dari Roh Kudus. Setan senang jika kita bersikap kritis terhadap Allah karena itu artinya kita tidak mempercayai kredibilitas Allah sepenuhnya, dan ia akan mendorong kita untuk terus melakukannya sehingga kita akan berusaha mencari celah kekurangan firman Allah dari berbagai sudut. Sikap itu tidak akan membawa kepada pengenalan akan Allah. Yang ada adalah kita semakin jauh dari Allah, rohani kita semakin mati, iman kita semakin padam, dan kita akhirnya mendapati diri kita sebagai orang yang skeptis bahkan tidak percaya sama sekali kepada Allah alias murtad.

 

Firman Allah akhirnya menjadi sekedar pengetahuan dari tulisan-tulisan mati yang tidak mengandung kehidupan dan kuasa. Sedangkan bagi orang yang percaya dan taat, firman Allah itu mengandung kehidupan dan kuasa (Roma 1:16), bahkan kuasa penciptaan yang menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Dan kita memperoleh manfaat (2 Tim. 3:16) dan keuntungan yang sangat besar yang membawa kita kepada pengenalan akan Allah dan membawa kita untuk bersyukur dan memuliakan Allah.

 

Dalam Injil Lukas 4:14 selanjutnya kita membaca bahwa setelah Yesus selesai menjalani pencobaan di padang gurun Yesus tampil dengan penuh kuasa Roh Kudus. Hanya kepada orang yang mau dikuasai oleh Roh Kudus sepenuhnya, Roh Kudus akan memberikan kuasa yang penuh kepada orang itu (Kis. 1:8).

 

Banyak orang ingin menerima kuasa yang luar biasa dari Roh Kudus dan mengejarnya dengan berbagai cara: dengan doa dan puasa namun mereka tidak mendapatkan kuasa Roh Kudus karena mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak mau dikuasai oleh Roh Kudus sepenuhnya dan tidak mau dikendalikan oleh-Nya. Roh Kudus tidak akan memberikan kuasa sepenuhnya atas orang yang tidak mau dikuasai-Nya sepenuhnya.

 

Tingkat penguasaan Roh Kudus atas hidup seseorang akan menentukan tingkat kuasa yang diterima oleh orang itu. Yesus sepenuhnya dikuasai oleh Roh Kudus, Ia tidak membatasi Roh Kudus untuk menguasai dan memimpin hidup-Nya, oleh sebab itu Yesus menerima kuasa yang “tidak terbatas” dari Roh Kudus (Yoh. 3:34). Dan dengan kuasa yang tidak terbatas ini Yesus melayani dan melakukan berbagai perkara ajaib dan mujizat (Kis. 10:38).

 

Dengan kuasa Roh Kudus yang tidak terbatas itu Yesus menyelesaikan pekerjaan Allah yang ditanggungkan kepada-Nya dengan sempurna dan berhasil, meskipun tantangannya sangat berat, yaitu mengorbankan nyawa-Nya untuk mati di kayu salib dan setelah itu bangkit kembali dari kematian. Namun karena Roh Kudus menguasai-Nya sepenuh-Nya dan memimpin hidup-Nya Roh Kudus memberikan kuasa yang sangat besar dan tak terbatas sehingga semua rencana Allah dapat dilaksanakan oleh Yesus.

 

Yesus yang sungguh-sungguh penuh Roh Kudus, atau yang dikuasai secara total oleh Roh Kudus dapat berkata dengan penuh keyakinan bahwa “Roh Allah ada pada-Ku oleh sebab Ia telah mengurapi Aku” (Luk. 4:18). Ini bukan perkataan iman atau suatu sikap optimis karena ingin seperti itu. Ini adalah pernyataan pengakuan atau kesaksian karena memang kenyataanya Roh Kudus ada pada-Nya dan mengurapi Dia.

 

Hal ini dibuktikan kemudian dengan kenyataan bahwa Ia mengetahui dengan persis pekerjaan-pekerjaan Allah yang telah Allah tetapkan bagi Dia untuk dilakukan (Luk 4:18-19). Banyak orang mengklaim Roh Allah ada padanya dan bahwa ia diurapi Roh Kudus tetapi tidak mengetahui pekerjaan yang Allah telah tetapkan bagi dia (Ef. 2:10) dan tidak bertindak melakukannya.

 

Apabila orang Kristen dikuasai dan dipimpin Roh Kudus atau diurapi Roh Kudus maka ia pasti melaksanakan Amanat Agung (Mat. 28:19-20) dan mulai bersaksi serta mendemonstrtasikan kuasa Allah. Inilah masalahnya: banyak orang Kristen mengklaim bahwa Roh Kudus ada pada mereka dan bahwa mereka diurapi oleh Roh Kudus, tetapi mereka tidak bersaksi, tidak memenangkan jiwa, tidak mendemonstrasikan kuasa, dan hanya aktif berbahasa roh saja, sehingga mereka tidak menjadi berkat. Ini tidak sesuai dengan tujuan Roh Kudus turun atas mereka, yaitu supaya mereka menerima kuasa dan pergi bersaksi untuk kemuliaan Kristus.

 

Kehidupan Yesus yang penuh kuasa Roh Kudus adalah “penggenapan firman Allah” (Luk. 4:21). Jika orang percaya sungguh-sungguh penuh Roh Kudus dan dipimpin oleh Roh Kudus maka kehidupan mereka akan menjadi penggenapan firman Allah. Firman Allah digenapi secara nyata dalam kehidupan mereka, dan orang menyaksikannya sehingga memuliakan Bapa yang di sorga (Mat. 5:16).

 

(Selamat Hari Raya Pentakosta!) 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Pemberian (Hadiah) Yang Sempurna

Allah Bapa selalu memberikan pemberian yang sempurna (Yakobus 1:17), mulia dan lengkap bagi manusia. Pemberian Allah Bapa yang sempurna, mulia dan lengkap itu adalah Anak-Nya Yang Tunggal yaitu Yesus Kristus. Yesus dianugerahkan kepada manusia lebih dari sekedar sebagai Juruselamat (Matius 1:21).

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday300
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2850
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14563
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908738

People Online 25
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:23



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.