top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Berkat Paket Lengkap PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi.   
Wednesday, 01 June 2016 07:04

2 Korintus 13:13 adalah ayat yang luar biasa. Di dalamnya dideklarasikan tiga berkat utama yang bersifat paripurna: lengkap dan sempurna. Mengapa? Karena Ketiga Pribadi dari Allah Tritunggal memberikan berkat-Nya masing-masing yang khas untuk orang percaya, supaya mereka tidak kekurangan suatu apapun yang baik. Sebenarnya satu berkat saja sudah luar biasa, apalagi ini adalah berkat “tiga rangkap” (threefold blessing). Pastilah ini menjadi berkat yang sangat luar biasa, sempurna dan lengkap!

 

Berkat ini biasanya diucapkan oleh pemimpin jemaat pada akhir ibadah sebelum jemaat meninggalkan tempat ibadah. Ketiga berkat itu adalah: “Kasih dari Allah Bapa,” “Kasih Karunia dari Tuhan Yesus” dan “Persekutuan Roh Kudus.” Apa makna dari ketiga berkat ini?

 

Allah Bapa memberkati kita dengan “Kasih.” Mengapa? Sebab “Allah adalah Kasih” (1 Yohanes 4:16). Kasih adalah Pribadi dan karakter Allah Bapa. Itulah sebabnya Ia memberikan “Kasih” (Agape) yang keluar dari pribadi-Nya, dari sifat-Nya sendiri.

 

Kasih Allah itu luar biasa. Tidak ada yang dapat menyamai kasih Allah yang disebut “Agape.” Kasih ini adalah kasih yang tulus, yang keluar dari Allah tanpa alasan; sebab memang kita, manusia yang penuh dosa dan tidak taat kepada Allah, tidak memiliki alasan apapun sehingga kita layak untuk dapat menerima kasih Allah itu. Allahlah yang terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:10), sebelum kita mengasihi dan mengenal Dia. Ia bahkan mengasihi kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8).

 

Kasih Allah juga adalah kasih yang tidak menuntut balas, sebab memang kita manusia yang lemah dan penuh kekurangan ini tidak mungkin dapat membalas kasih Allah dengan setimpal. Apapun yang kita lakukan dan berikan tidak dapat mengimbangi kasih yang telah kita terima dari Allah. Mengapa?

 

Karena Allah mengasihi kita bukan dengan sekedar mengatakan “Aku mengasihimu!” Allah Bapa melakukan jauh lebih dari itu. Ia membuktikan kasih-Nya yang besar kepada kita manusia dengan memberi; memberi dengan berkorban, yaitu dengan memberikan Anak-Nya Yang Tunggal dan Kekasih kepada manusia agar manusia dapat diselamatkan dari penghukuman dan kebinasaan kekal (Yohanes 3:16).

 

Tetapi Allah memberikan Anak-Nya itu bukan sekedar untuk memberikan “tiket” keselamatan supaya manusia berdosa ini dapat menerima pengampunan dan dapat masuk ke dalam Sorga, tetapi juga termasuk segala hal yang diperlukan manusia selama ia hidup di dunia sementara ia menunggu panggilan sorgawinya.

 

Ketika Allah Bapa memberikan Anak-Nya, Ia juga memberikan segala sesuatunya bersama-sama dengan Dia. Simak saja apa yang dituliskan Paulus dalam Surat Roma 8:32: “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang  menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

 

Banyak orang Kristen tidak memahami hal ini dan tidak dapat melihatnya. Mereka “rabun” secara rohani sehingga memiliki pemahaman yang keliru. Mereka pikir bahwa Yesus hanya memberikan “tiket ke Sorga” melalui pengorbanan-Nya di kayu Salib; bahwa tiket ke sorga itu telah Ia bayar dengan mengorbankan nyawa-Nya dan mencurahkan darah-Nya di Salib. Sementara hal-hal lainnya yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari bukan merupakan urusan-Nya dan tidak termasuk di dalamnya, sehingga orang harus mengupayakannya sendiri dengan segala jerih payahnya. Ia tidak tahu bahwa segala keperluannya sudah termasuk dalam “tiket” yang telah dibayarkan oleh Yesus. Ijinkan saya mengutip suatu kisah yang mengilustrasikan hal ini seperti yang pernah dikisahkan oleh seorang hamba Tuhan.

 

Alkisah, pada suatu kali ada seorang petani miskin yang ingin memperbaiki nasib hidupnya dengan bermigrasi ke benua lain yang menjanjikan suatu masa depan yang cerah kepadanya. Untuk pergi ke benua baru itu ia harus menumpang sebuah kapal laut yang akan membawanya dari negaranya ke benua baru tersebut. Perjalannya cukup lama mencapai kurang lebih satu bulan. Tiketnya juga sangat mahal baginya sehingga ia harus menjual seluruh kepunyaannya untuk dapat membeli tiket kapal laut itu. Ia sebelumnya tidak pernah naik kapal laut sehingga ia tidak mengetahui tentang perjalanan kapal laut yang cukup lama itu.

 

Ia menjual semua kepunyaannya dan membeli satu tiket perjalanan kapal laut serta menyiapkan semua keperluan pribadinya termasuk bekal makanan untuk satu bulan perjalanan lamanya. Kemudian ia melakukan perjalanan tersebut.

 

Selama perjalanan laut itu si petani miskin itu memakan perbekalan yang ia telah bawa dengan berhemat supaya cukup untuk satu bulan perjalanan. Pada hari ke tiga puluh seluruh bekal makanan yang ia bawa sudah habis dimakannya dan ia berharap kapal telah tiba di benua tujuan.

 

Tetapi kemudian nakhoda kapal mengumumkan bawa perjalan masih membutuhkan tujuh hari lagi sebab kapal harus berlayar memutar untuk menghindari badai yang sedang terjadi dan ombak yang sangat besar. Si petani mulai cemas sebab perbekalan makanannya sudah habis. Ia mulai mengurung diri di kamarnya dan berpuasa karena sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan. Tetapi ia hanya dapat bertahan lima hari berpuasa. Ia mulai berpikir jika ia tetap tidak makan mungkin ia akan mati kelaparan dan yang sampai di benua harapan hanya tinggal mayatnya sehingga semuanya menjadi sia-sia. Jadi sekarang ia mulai berpikir untuk melakukan perbuatan yang selama ini tidak pernah dilakukannya, yaitu ia akan makan di restoran kapal dengan tidak membayarnya. Dalam benaknya ia berpikir paling-paling ia dipukuli karena makan tidak bayar, tetapi paling tidak perutnya telah terisi makanan sehingga ia dapat bertahan untuk beberapa hari ke depan. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke restoran di kapal dan makan di situ.

 

Ia berpikir bahwa sebentar lagi ia akan dipukuli karena tidak membayar makanan yang dimakannya. Oleh karena itu ia hendak memesan makanan sebanyak-banyaknya dan yang terenak untuk mengisi perutnya.

 

Setelah ia makan kenyang dan puas kemudian dengan berlagak seolah-olah ia punya uang ia meminta bon kepada pelayan restoran. Tetapi ia sangat terkejut ketika pelayan restoran itu mengatakan bahwa tidak ada bon sebab semua makanan di restoran itu boleh disantap tanpa membayar sebab semuanya sudah termasuk ke dalam harga tiket sangat mahal yang telah ia bayar. Ia merasa bodoh sekali karena berpikir bahwa harga tiket yang mahal itu hanya untuk biaya perjalanan saja dan tidak termasuk makan di restoran selama perjalanan tersebut.

 

Bukankah banyak orang Kristen juga berpikir seperti itu? Sehingga ia kuatir dan bersusah payah mencari rejekinya dan tidak percaya bahwa Tuhan Yesus telah membayar harga bukan hanya untuk keselamatannya sehingga ia dapat masuk ke sorga, tetapi juga semua keperluan hidupnya selama ia hidup dalam dunia ini. Bukankah firman Allah mengatakan: “Bapamu yang di sorga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu” (Matius 6:32)?

 

Seharusnya dengan iman kita berkata: “Allahku akan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19)! Sebab, sebagaimana yang dikatakan Rasul Paulus: “Bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Dan Tuhan Yesus sendiri mengatakan: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).

 

Namun, Allah Bapa menyatakan kasih-Nya tidak sampai di sini. Ia padahal sudah berkorban sangat besar dengan mengaruniakan Anak-Nya Yang Tunggal untuk mati di kayu salib menebus dosa manusia. Tetapi Allah Bapa mau memberikan kasih-Nya secara “habis-habisan” dengan mengaruniakan kepada kita Roh-Nya Yang Kudus untuk tinggal di dalam kita dan menyertai kita selama kita di dunia. Roma 5:5 menuliskan: “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

 

Allah Bapa telah memberikan Anak-Nya Yang Tunggal: Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal. Sekarang Ia memberikan Roh Kudus-Nya: Pribadi Ketiga Tritunggal. Jadi Allah telah memberikan semuanya bagi kita. Betapa hebatnya berkat di balik “Kasih Allah Bapa” ini!

 

Roh Kudus dikaruniakan kepada kita untuk menjadi “Jaminan” bagi kita seperti yang dinyatakan dalam Efesus 1:14: “Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya.”

 

Roh Kudus menjadi Jaminan dengan memberikan kesaksian yang meneguhkan status kita sebagai anak-anak Allah karena kita percaya dan menerima Kristus (Yohanes 1:12). Roma 8:15 - 16 mengatakan: “Tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: Ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah”

Betapa besar kasih Allah Bapa, sehingga kita manusia berdosa ini diampuni dan dijadikan anak-anak-Nya melalui iman kepada Tuhan Yesus, Anak Tunggal Bapa. Dengan status itu kita memiliki “kepastian hukum” bahwa kita akan diselamatkan dan “berhak menerima janji-janji Allah” karena kita adalah “ahli waris-Nya” (Roma 8:17).

 

Roh Kudus juga dikaruniakan kepada kita agar kita memiliki kekuatan dan kemampuan untuk dapat menerima “bagian” yang telah ditentukan bagi kita. Efesus 1:18 mengatakan bahwa di dalam Kristus kita menerima “bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” yang sangat kaya dan mulia sifatnya. Dan kita juga menerima “kuasa” yang hebat, yang sama dengan kuasa yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati dan mendudukan-Nya di sebelah kanan Allah di sorga, yaitu kuasa Roh Kudus (Efesus 1:19-20).

 

Wow! Berkat dari Kasih Allah Bapa melalui Roh Kudus juga sangat hebat dan luar biasa dan saling berhubungan dengan berkat Kasih Allah Bapa melalui Anak-Nya Yang Tunggal. Betapa hebatnya Allah! Betapa hebatnya berkat “Kasih Allah Bapa”!

 

Sekarang, Pribadi Kedua Tritunggal, yaitu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah,  juga memberikan berkat-Nya yang khas yaitu “Kasih Karunia.”

 

Tuhan Yesus adalah Anak Tunggal Bapa yang “penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:14) dan “Dari kepenuhan-Nya kita semua menerima kasih karunia demi kasih karunia” (ayat 16).

 

Jadi, Tuhan Yesus, yang adalah Anak Allah Yang Tunggal, adalah Pribadi yang penuh kasih karunia. Sebab itu berkat yang Ia berikan dari diri-Nya adalah “kasih karunia.” Apa kasih karunia itu?

 

Ada dua pengertian dari “kasih karunia” yang Kristus berikan kepada kita: Yang pertama adalah “pemberian yang mulia dan luar biasa yang sebenarnya tidak layak diterima oleh manusia” dan yang kedua adalah “kemampuan illahi yang bekerja di dalam orang percaya yang melampaui semua kelemahan dan keterbatasannya sehingga memampukan orang itu untuk melakukan perkara-perkara besar yang tidak mungkin dilakukannya karena keterbatasan dan kelemahannya.”

 

Sekarang kita lihat yang pertama dahulu. Untuk itu kita akan melihat contoh orang yang menerima kasih karunia, yaitu “penjahat” yang di salib di sebelah kanan salib Tuhan Yesus (Lukas 23:40-43).

 

Di luar kasih karunia orang selalu berpikir bahwa kita dapat menebus dosa dan kejahatan kita dengan perbuatan baik yang kita lakukan sehingga kita bisa masuk ke sorga. Jadi ini adalah penebusan dosa “swalayan” atau “self redemption.” Tetapi jika ini diterapkan kepada si penjahat itu maka si penjahat sama sekali tidak punya harapan untuk dapat diampuni dosanya dan masuk ke sorga. Mengapa? Karena, yang pertama ia adalah seorang penjahat, yang berarti ia penuh dengan kejahatan dan banyak melakukan kejahatan. Yang kedua ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menebus dosa dan kejahatannya karena sekarang ia di salib dan tidak punya lagi kesempatan untuk berbuat baik dan beramal saleh meskipun ia ingin dan mau. Sehingga hukuman neraka adalah suatu keniscayaan baginya.

 

Menyadari keadaannya ini si penjahat tahu bahwa ia sama sekali tidak layak diampuni apalagi masuk ke dalam sorga. Itulah sebabnya ia tidak berani meminta hal tersebut kepada Yesus meskipun ia sangat menginginkannya. Ia hanya berkata kepada Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja!” (Lukas 23:42). Suatu doa yang sama sekali tidak berhubungan dengan keinginannya. Ia berdoa seperti itu sebab ia “tahu diri”; ia menyadari keadaan dirinya.

 

Namun demikian Yesus yang penuh kasih karunia mengerti bahwa si penjahat ingin diampuni dan masuk sorga dan bahwa itu adalah kebutuhannya yang sangat genting saat itu. Jadi meskipun si penjahat tidak berani mengatakannya tetapi Yesus tahu kebutuhan dan keinginan di balik kata-kata yang diucapkannya. Dan Yesus memberikan kasih karunia kepada si penjahat yang sebetulnya sama sekali tidak layak untuk diperolehnya, yaitu pengampunan dosa dan selamat masuk ke Sorga. Yesus langsung berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus!” (ayat 43).

 

Apa?! Bagaimana mungkin seorang penjahat yang tidak pernah berbuat baik dan beramal saleh dapat diampuni dosanya dan dibawa masuk ke Firdaus? Ia sama sekali tidak layak untuk menerimanya! Tetapi itu telah terjadi dan dicatat dalam sejarah karena kasih karunia yang diberikan oleh Tuhan Yesus! Kasih karunia memungkinkan orang diselamatkan melalui iman.

 

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Efesus 2:8)

 

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:23-24).

 

Sementara perbuatan baik dan amal saleh menjadi “buah” yang dihasilkan oleh orang-orang yang telah menerima kasih karunia supaya jangan kasih karunia yang telah dibayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu dengan darah dan nyawa Anak Allah, jangan menjadi sia-sia dan dianggap “barang murahan.” Kasih karunia memang diberikan secara cuma-cuma karena tidak seorang pun yang mampu membayarnya.

 

Perbuatan baik adalah sebagai bentuk rasa tanggung jawab dan penghargaan atas kasih karunia yang telah diterima; rasa syukur dan ucapan terima kasih yang sebenarnya tidak sebanding dengan nilai kasih karunia yang diterima.

 

“Tetapi karena kasih karunia Allah, aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Korintus 15:10).

 

Yang kedua, kasih karunia adalah “kemampuan illahi yang bekerja di dalam kita yang melampaui batas-batas kemampuan dan kelemahan kita.”

 

Kita semua mempunyai kelemahan dan kekurangan, itulah yang menjadi batas kemampuan alamiah kita. Inilah yang menjadikan hambatan bagi kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah yang luar biasa yang melampui kemampuan alamiah manusia untuk melakukannya.

 

Tuhan Yesus pernah berkata: “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu” (Yohanes 14:12).

 

Bagaimana mungkin kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa yang Yesus lakukan, bahkan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi? Kelemahan dan ketidakmampuan alamiah kita yang menjadi pembatas yang tidak dapat dilampaui sehingga kita berpikir bahwa ayat itu hanya sekedar “slogan” optimisme saja.

 

Tidak! Tuhan Yesus memang serius dalam mengatakan hal ini sehingga Ia mengatakan: “Sesungguhnya.” Tetapi apakah yang dapat memungkinkan kita melakukan hal yang luar biasa ini? Jawabannya ialah “kasih karunia Tuhan” sebab kasih karunia Tuhan melampui batas kelemahan dan kekurangan kita. Seberapa besar pun kelemahan kita, kasih karunia Allah tetap “cukup” bagi kita sehingga kita bisa melakukan kehendak Allah meskipun jika melihat kelemahan dan kekurangan kita itu tidak mungkin dilakukan.

 

Tuhan pernah berkata kepada rasul Paulus ketika rasul Paulus “mengeluh” tentang kelemahan yang ada pada tubuhnya. Tuhan berkata “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9). Oleh karena itu Paulus dapat berkata: “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (ayat 10).

 

Kelemahan kita bukanlah hambatan melainkan “celah kesempatan” bagi kasih karunia Allah untuk bekerja dan menunjukkan kuasa dan kemampuannya; kesempatan untuk melihat kemampuan illahi bekerja di dalam dan melalui kita sehingga kita akan terkagum, heran dan tersungkur di hadapan Tuhan, karena bagaimana mungkin hal-hal yang luar biasa itu kita dapat lakukan, padahal kita penuh dengan kelemahan dan kekurangan? Akibatnya kita tidak dapat menyombongkan diri dan hanya dapat mengakui, “bukannya aku, melainkan kasih karunia yang menyertai aku” (1 Korintus 15:10). Betapa hebat dan luar biasanya berkat Kristus melalui “kasih karunia-Nya”?

 

Sekarang, kita akan melihat berkat yang khas dari Roh Kudus. Roh Kudus memberkati kita dengan cara “bersekutu” dengan kita. Roh Kudus memberikan diri-Nya untuk bersekutu: bersatu dengan roh kita di dalam tubuh kita (1 Korintus 3:16; 6:19).

 

Allah Bapa ada di sorga dan Tuhan Yesus ada di sebelah kanan-Nya. Lalu siapakah yang menyertai kita di bumi ini? Roh Kudus! Ialah yang diutus Bapa di dalam nama Tuhan Yesus untuk menyertai kita dan diam di dalam kita selama-lamanya (Yohanes 14:16-17).

 

Roh Kudus menjadikan tubuh kita tempat kediaman-Nya (1 Korintus 3:16; 6:19). Roh Kudus hadir dan mendampingi kita untuk menjadi “Penolong Yang Lain.” Sebagai Penolong Ia melakukan apa yang tidak dapat dan tidak mungkin kita lakukan. Ialah Sumber kekuatan dahsyat orang percaya (Efesus 1:19-20). Roh Kuduslah yang mewujudkan kehadiran Allah Bapa dan Tuhan Yesus dalam hidup (Yohanes 14:23) dan ibadah kita. Kita bisa merasakan kehadiran Bapa dan Tuhan Yesus ketika urapan Roh Kudus turun atas kita dan menguasai kita. Roh Kuduslah yang menghibur kita dan memberi damai sejahtera kepada kita ketika kita memerlukannya (Yohanes 14:26-27). Roh Kuduslah yang memimpin hidup kita sehingga kita dapat hidup sebagai anak-anak Allah (Roma 8:14) dan tidak hidup dalam daging dan hawa nafsunya (Galatia 5:16). Ia menjadi kuasa bagi orang percaya untuk hidup sebagai pemenang.

 

Namun demikian banyak orang Kristen tidak memahami arti berkat ketiga ini sehingga mereka tidak mengalami berkat yang lengkap dan sempurna.  Mereka tidak hidup dalam persekutuan dengan Roh Kudus sehingga mereka tidak mengalami manifestasi kuasa Roh Kudus yang dahsyat. Mengapa demikian?

 

Karena banyak orang Kristen kurang menyadari bahwa Roh Kudus itu suatu Pribadi. Mereka memiliki pemahaman yang salah dikarenakan pikiran mereka terpaku kepada simbol-simbol pekerjaan dan sifat Roh Kudus, yang dilambangkan seperti: mata air, aliran air, lidah api, obor yang menyala, angin yang berhembus, atau seekor burung merpati. Padahal yang sebenarnya Roh Kudus itu suatu Pribadi, bukan “sesuatu” atau sejenis subtansi atau energi. Mengapa?

 

Karena Yesus sendiri menyebut-Nya “Ia” yang berarti seorang Pribadi, bukan sesuatu. Dalam Kisah Para Rasul 15:28 dituliskan bahwa para rasul membuat keputusan bersama Roh Kudus. Dituliskan, bahwa “adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.” Jika Roh Kudus membuat keputusan berarti Ia memiliki pikiran dan kehendak. Sedangkan rasul Paulus menasihatkan kepada kita “jangan mendukakan Roh Kudus Allah” (Efesus 4:30). Artinya, Roh Kudus dapat berduka, yang menunjukkan bahwa Roh Kudus memiliki perasaan. Jika Roh Kudus memiliki pikiran, kehendak dan perasaan maka pastilah Roh Kudus itu suatu Pribadi. Ya, Ia adalah Pribadi Ketiga Tritunggal yang sangat mulia, kudus dan berkuasa.

 

Pribadi Roh Kudus hadir di dalam diri kita. Sehingga di dalam diri kita ada dua pribadi, yaitu pribadi kita sendiri dan pribadi Roh Kudus. Tetapi masalahnya adalah Roh Kudus tidak dapat menampilkan kepribadian-Nya karena pribadi kita yang lebih menonjol sehingga Ia tersisihkan ke belakang. Padahal jika Roh Kudus dapat menampilkan diri-Nya maka karakter-Nya yang indah, yang disebut Buah Roh Kudus (Galatia 5:22-23) akan muncul melalui hidup kita sehingga kita menjadi serupa dengan gambaran Kristus (Roma 8:29).

 

Roh Kudus itu Pribadi yang sangat lembut sehingga Ia tidak akan pernah memaksakan kehendak-Nya atau melakukan sesuatu jika kita tidak mengjinkan-Nya atau tidak memberi-Nya kesempatan. Itulah sebabnya kita lah yang harus “memberi diri” kita untuk dipimpin oleh-Nya (Galatia 5:18), jika tidak Ia tidak akan melakukannya.

 

Kelembutan Roh Kudus itu memungkinkan-Nya, yang walaupun Mahakuasa, tidak menyebabkan tubuh dan jiwa kita “rusak.” Sebaliknya roh jahat itu sangat kasar sehingga tubuh dan jiwa orang yang dirasukinya selalu rusak seperti orang gila di Gerasa (Lukas 8:27-33).

 

Meskipun Roh Kudus sangat lembut dan manis namun Ia adalah Roh Allah yang mahakuasa, yang berperan aktif dalam penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia pertama, dan berada di belakang perbuatan mujizat para nabi dan peristiwa-peristiwa ajaib yang dicatat dalam Alkitab.

 

Roh Kudus hanya akan memanifestasikan kepribadian-Nya jika kita memperlakukan-Nya sebagai Pribadi, bahkan Pribadi Yang Agung dan Mulia. Itulah sebabnya Roh Kudus ingin bersekutu dengan kita karena Ia ingin menyatakan pribadi-Nya melalui hidup kita dan melakukan pekerjaan-Nya yang ajaib dan hebat melalui diri kita. Ia telah dengan sabar dan setia menunggu sangat lama di dalam diri kita untuk membangun persekutuan yang intim itu tetapi kita tidak mengenal-Nya dengan baik dan benar. Lalu bagaimana kita dapat mulai membangun persekutuan dengan Dia?

 

Mulailah “menyapa” Dia. Kita selama ini tidak suka menyapa Roh Kudus karena kurang menyadari bahwa Ia adalah Pribadi. Kita tidak mungkin menyapa benda-benda mati yang ada di sekitar kita. Tetapi ketika seseorang ada di sekitar kita dan kita mengenalnya pastilah kita menyapa dia karena ia adalah seorang pribadi. Sapalah Dia dengan manis dan lembut sebab Roh Kudus adalah Pribadi.

 

Karena Roh Kudus adalah Pribadi yang mulia maka selayaknyalah kita “menyanjung” Dia, mengingat begitu besar peranan-Nya dalam hidup kita dan begitu hebat karya-karya-Nya. Jika kita menyanjung Dia maka Ia akan semakin menyatakan kehebatan-Nya sehingga kita semakin mengalami kuasa dan karya-Nya secara nyata dalam hidup kita.

 

Persekutuan tidak akan terbangun tanpa perbincangan yang intim dan tulus. Kita bisa mencurahkan isi hati kita: apa yang menjadi kerinduan kita bahkan kekuatiran kita, keresahan kita dan semua perasaan kita. Kita juga akan memberi kesempatan kepada-Nya untuk berbicara kepada kita melalui suara lembut di hati kita dengan “berdiam diri” di hadirat-Nya dan “menantikan” Dia. Pada saat-saat hening seperti itulah Ia bisa “berbicara” ke dalam hati kita dengan “mengingatkan” firman Tuhan yang pernah kita baca (Yohanes 14:26) dan renungkan. Itulah sebabnya penting sekali untuk memenuhi hati dan pikiran kita dengan firman Allah sebab sewaktu-waktu Roh Kudus dapat menjadikannya “rhema” yang akan memberikan petunjuk, kekuatan, penghiburan dan jalan keluar.

 

Kita juga dapat berbicara dengan menggunakan “bahasa” yang telah Ia karuniakan kepada kita: “bahasa roh” yang menjadi bahasa doa untuk berkata-kata kepada Allah. Kita akan dapat lebih akrab dengan seseorang dari suku lain jika kita bisa berbicara dalam bahasa daerahnya. Demikian pula dalam berkomunikasi dengan Roh Kudus. Itulah sebabnya rasul Paulus juga sering berdoa dengan bahasa roh selain dengan bahasa yang biasa ia gunakan (1 Korintus 14:2, 14, 15, 18). Ketika kita berkomunikasi dengan menggunakan roh kita maka roh kita akan dibangun dan dikuatkan (diedifikasi): 1 Korintus 14:4.

 

Dalam membangun persekutuan yang intim dengan Roh Kudus, kita juga “melibatkan” Roh Kudus dalam berbagai masalah dan urusan kita. Kita “mengajak-Nya” untuk bersama-sama melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Allah mau kita melakukannya. Ini akan membuat Roh Kudus berkarya dengan leluasa dalam hidup kita.

 

Kita dapat memohon pertolongan-Nya karena Ia adalah Penolong Yang Ajaib. Kita memohon Ia menguasai hidup kita bahkan mengendalikan seluruh kehidupan kita, baik tindakan maupun perkataan, maka Roh Kudus akan berkarya dengan luar biasa di dalam hidup kita dan melalui hidup kita.

 

Ketika persekutuan yang tulus dan intim ini terjalin maka kita akan merasakan berkat yang luar biasa dari persekutuan dengan Roh Kudus. Kita akan memiliki pengalaman-pengalaman rohani yang manis dan indah bersama Roh Kudus. Kita akan merasa heran dan kagum ternyata Roh Kudus merespon kita dan aktif berkarya melakukan perkara-perkara yang ajaib dan indah. Kita akan semakin dikuatkan rohaninya. Hidup kita akan semakin efektif karena kuasa-Nya bekerja dengan kuat di dalam dan melalui kita. Itu akan membawa kita kepada pengenalan yang lebih mendalam akan Dia.

 

Ketika kita semakin mengenal Roh Kudus dan semakin intim dengan-Nya, secara bersamaan pengenalan kita akan Tuhan Yesus dan Allah Bapa juga semakin disempurnakan dari hari ke hari. Kita akan semakin serupa dengan Kristus dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Kristus lakukan sehingga Allah Bapa semakin berkenan akan kita. Bukankah ini berkat yang luar biasa dari persekutuan Roh Kudus?

 

Dari 2 Korintus 13:13 kita sekarang sadar bahwa kita adalah orang-orang yang sangat diberkati dengan berkat yang lengkap dan sempurna dari Allah Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus. Segala puji syukur kepada Tuhan!

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Hikmat Allah Dalam Berbisnis dan Berprofesi

Hikmat adalah kebutuhan yang sangat penting dalam berbisnis atau bekerja. Pengetahuan saja tidak cukup tanpa disertai hikmat, sebab hikmat adalah kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang kita miliki secara tepat; pada waktu, tempat dan sasaran yang tepat.

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday305
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2855
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14568
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908743

People Online 25
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:29



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.