top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Kasih dan Kesetiaan Yang Melampaui Akal Sehat PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi for Bpk. Pdt. DR. Jantje Haans   
Monday, 04 July 2016 11:42

Hosea adalah tipologi Yesus. Hosea adalah seorang nabi kecil yang diperintahkan untuk mengawini seorang perempuan sundal bernama Gomer (Hosea 1: 2). Ini adalah gembaran ekstrim dari ketaatan seorang nabi kepada perintah Allah sehingga ia bersedia untuk mengawini seorang perempuan sundal yang tidak setia. Ini di luar pemahaman akal sehat kita: bagaimana mungkin seorang nabi Tuhan mengawini seorang perempuan sundal?

 

 

Tetapi ini sebenarnya adalah gambaran ketaatan dan kesediaan Yesus, Anak Allah, untuk menaati perintah Bapa  (Yoh. 6:38): untuk turun ke dunia, menanggalkan kesetaraan-Nya dengan Allah, mengosongkan diri-Nya untuk menjelma menjadi manusia, mati di kayu salib, hanya untuk menyelamatkan manusia yang berdosa (Fil. 2:6-8), supaya manusia berdosa dapat menjadi umat Allah.

 

Dari hasil perkawinan Hosea dan Gomer dilahirkanlah seorang anak yang diberinama Yizreel (Hosea 1:3-5). Yizreel adalah gambaran Israel, umat Allah. Dari ketaatan dan kesediaan Yesus untuk menerima manusia berdosa maka lahirlah umat Allah, Israel rohani.

 

Tetapi perkawinan Hosea dan Gomer mendatangkan banyak kepedihan kepada Hosea karena ketidaksetiaan Gomer. Walaupun sudah menjadi isteri Hosea, Gomer tetap mengejar laki-laki lain bahkan sampai melahirkan seorang anak dari laki-laki lain yang tetap harus diterima oleh Hosea. Hosea menamai anak itu “Lo-Ruhama” yang artinya: “Aku tidak akan menyayangi lagi kaum Israel, dan sama sekali tidak akan mengampuni mereka” (Hosea 1:6).

 

Ini adalah gambaran ketidaksetiaan umat Allah, yang walaupun masih mengakui sebagai umat Allah tetapi berpaling dan mengasihi dunia, sehingga akhirnya kehilangan kasih Allah dan murka Allah menanti jika mereka tidak bertobat.

 

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih Bapa tidak ada di dalam orang itu (the love of the Father is not in him)” (1 Yohanes 2:15).

 

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24).

 

Tidak berhenti sampai di situ, Gomer berselingkuh dengan laki-laki lain lagi dan melahirkan seorang anak. Lagi-lagi Allah memerintahkan Hosea untuk mengambil anak itu dan memberinya nama “Lo-Ami”, yang artinya: “Kamu bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu” (Hosea 1:8-9).

 

Demikian pula dengan umat Allah yang terus menerus menyakiti hati Tuhan dengan ketidaksetiaan dan ketidaktaatannya sehingga mengakibatkan “penolakan Allah”.  Banyak orang percaya yang mempermainkan kasih karunia, kebaikan serta kesabaran Allah dengan terus berbuat tidak setia. Jika tidak segera bertobat mereka akan menyesal karena mendapati bahwa akhirnya mereka ditolak Allah meskipun mereka mengaku sebagai umat Allah.

 

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itu Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23).

 

Namun demikian di tengah ketidaksetiaan umat-Nya Tuhan tetap mengharapkan pertobatan dan keselamatan umat-Nya. Tuhan tetap menginginkan umat-Nya untuk menyadari dosa-dosanya dan kembali kepada-Nya sehingga Ia dapat kembali menerima mereka.

 

“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehezkiel 33:11).

 

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Petrus 3:9).

 

Allah ingin mereka yang pernah Ia tolak: “Kamu ini bukanlah umat-Ku!” akan Ia terima dan memanggil mereka sebagai “Anak-anak Allah yang hidup!”; yang sebelumnya dipanggil “Lo-Ami”: “Kamu bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu” menjadi “Ami”: Kamu adalah umat-Ku dan Aku adalah Allahmu! Mereka yang tadinya dipanggil “Lo-Ruhama”: Aku tidak menyayangi kamu! Menjadi “Ruhama!” : Aku mengasihi kamu! (Hosea 1:10-12).

 

Tetapi dasar manusia berdosa! Ia tetap saja tidak setia, sehingga terus menerus mendukakan hati Allah. Gomer yang adalah gambaran umat Allah yang tidak setia terus mengejar laki-laki lain yang katanya: “Aku mau mengikuti para kekasihku, yang memberi roti dan air minumku, bulu domba dan kain lenanku” (Hosea 2:4).

 

Inilah yang sering membuat umat Allah tidak setia kepada Allah dan berpaling kepada dosa dan dunia, sebab dunia menjanjikan kekayaan, kekuasaan dan kemasyhuran. Iblis selalu menawarkan hal ini, bahkan ia pernah menawarkannya kepada Tuhan Yesus sewaktu Yesus dicobai di padang gurun. Iblis menawarkan: “Jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu” (Lukas 4:6-7).

 

Jikalau Tuhan Yesus saja dicobai Iblis seperti itu, apalagi dengan umat Tuhan, yang hanyalah manusia belaka. Tetapi banyak umat Tuhan berpaling dari Tuhan kepada dosa karena mereka tergoda oleh semua yang ditawarkan oleh Iblis.

 

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging (memuaskan hawa nafsu) dan keinginan mata (harta dan kemewahan) serta keangkuhan hidup (kekuasaan dan kemasyhuran), bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap (menuju kepada kebinasaan) dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1 Yohanes 2:16-17).

 

Dalan kasih dan kesetiaan-Nya Allah berusaha mencegah kita dari kehancuran dan kebinasaan. Itulah sebabnya Ia berusaha “menghalang-halangi” kita dengan berbagai kesulitan dan kegagalan, dengan berbagai kesusahan dan penderitaan dengan maksud menghentikan langkah kita yang sedang menuju kebinasaan. Namun kita seringkali tidak memahaminya dan kita marah kepada Allah.

 

“Sebab itu, sesungguhnya, Aku akan menyekat jalannya dengan duri-duri (kesusahan dan penderitaan) dan mendirikan pagar tembok (masalah dan persoalan serta kegagalan) mengurung dia, sehingga dia tidak menemui jalannya” (Hosea 2:5).

 

Allah berharap bahwa melalui kegagalan, penderitaan dan kesusahan umat Tuhan akan sadar dan bertobat, kembali kepada Allah.

 

“Dia akan mengejar para kekasihnya, tetapi tidak akan mencapai mereka; dia akan mencari mereka tetapi tidak bertemu dengan mereka. Maka dia akan berkata: Aku akan pulang kembali kepada suamiku yang pertama, sebab waktu itu aku lebih bahagia dari pada sekarang” (Hosea 2:6).

 

Kita seharusnya menyadari bahwa dunia dengan segala kenikmatan dan kemewahan tidak dapat memberi kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati hanya ada di dalam Tuhan. Jadi seharusnya kita bersyukur ketika Allah membawa kita ke dalam penderitaan dengan maksud mencegah kita dari kebinasaan sebab dengan itu kita akan menyadari bahwa hanya di dalam Allah ada kebahagiaan sejati.

 

“Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu…Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-Mu” (Mazmur 119:67 dan 71)

 

Allah dalam kasih setia-Nya harus mengijinkan berbagai penderitaan untuk membawa umat-Nya kembali kepada-Nya. Sebab umat Tuhan tidak insyaf bahwa Tuhanlah yang selama ini memberi rejeki dan kelimpahan yang malah telah disalahgunakan untuk berbuat dosa (Hosea 2:7). Itulah sebabnya Ia menarik kembali berkat-berkat-Nya: segala kelimpahan dan sukacita; bahkan Ia membiarkan umat-Nya dipermalukan di hadapan dunia karena tingkah laku mereka yang mempermalukan nama Tuhan dan menyakiti hati Tuhan (Hosea 2:8-12).

 

Namun demikian Allah dalam kasih setia-Nya tetap berusaha membawa kita kepada pertobatan agar kita dapat berbalik kepada-Nya dan diterima kembali:

 

“Sebab itu, sesungguhnya Aku ini akan membujuk dia ke padang gurun (mengasingkannya dari dunia), dan berbicara menenangkan hatinya. Aku akan memberikan kepadanya kebun anggurnya (sukacita) dari sana, dan membuat lembah Akhor (penderitaan) menjadi pintu pengharapan (untuk bertobat dan diterima kembali)” (Hosea 2:13-14).

 

Allah ingin kita menyelesaikan masalah dosa-dosa kita di hadapan-Nya, karena Ia siap mengampuni dan menerima kita kembali.

 

“Marilah, baiklah kita beperkara! – firman Tuhan – Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalupun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yesaya 1:18).

 

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).

 

Ketika dosa diselesaikan di hadapan Allah melalui pertobatan dan penyucian oleh darah Yesus (1 Yohanes 1:7) maka akan terjadi rekonsiliasi, pendamaian kembali dengan Allah sehingga kita diterima kembali sebagai kekasih-Nya (Hosea 2:15-22).

 

Kasih Setia Tuhan ditunjukkan dengan menantikan dengan setia sampai umat Tuhan menyadari kesalahan dan dosa-dosanya dan berbalik kepada Allah dengan penyesalan dan pertobatan. Kasih Setia Tuhan ditunjukkan dengan pengampunan yang begitu besar dan penerimaan kembali untuk dipulihkan.

 

Lelaki terakhir yang dikejar Gomer menjadikannya seorang budak. Itulah yang akhirnya akan dilakukan dunia kepada orang-orang yang mengasihinya, yaitu memperbudaknya. Tetapi Hosea diperintahkan Tuhan untuk menebusnya dan mencintainya kembali, karena itu adalah gambaran kasih dan kesetiaan Allah yang begitu ekstrim terhadap umat-Nya yang selalu tidak setia kepada-Nya; yang telah berpaling dari Allah kepada dunia demi meraih kekayaan dan kenikmatan sesaat (Hosea 3:1).

 

Hosea kemudian menebus Gomer dari perbudakan dengan harga yang lebih mahal dari yang seharusnya. Hosea menebusnya dan membayar harganya supaya Gomer dapat kembali menjadi miliknya. Inilah yang dilakukan Kristus, yaitu menebus orang berdosa (Hosea 3:2)

 

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:20).

 

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat" (1 Petrus 1:18-19).

 

Kasih dan kesetiaan Allah ditunjukkan dengan penebusan yang Ia lakukan agar kita dibebaskan dari perbudakan dan diterima sebagai anak-anak-Nya (Galatia 4:5).

 

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita, karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Galatia 5:1).

 

Kasih dan kesetiaan Hosea kepada Gomer, isterinya yang tidak setia, adalah gambaran ekstrim dari kasih dan kesetiaan Tuhan Yesus kepada kita umat-Nya yang sering kali tidak setia kepada-Nya. Kasih dan kesetiaan Kristus melampaui akal sehat manusia, tetapi itulah kenyataannya. Oleh sebab itu janganlah kita mempermainkan dan menganggap ringan kasih dan kesetiaan Tuhan Yesus kepada kita.

 

Gomer diterima kembali, tetapi untuk sementara ia kehilangan keintimannya dengan Hosea suaminya (ayat 3). Orang yang menyalahgunakan kasih dan kesetiaan Allah akan kehilangan keintimannya dengan Allah sampai ia kembali menyadari arti “takut akan Tuhan”

 

“Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari Tuhan, Allah mereka, dan Daud, raja mereka (memahami arti kesetiaan kepada Allah dan pemimpin). Mereka akan datang dengan gemetar kepada Tuhan (memahami arti takut akan Tuhan) dan kepada kebaikan-Nya (memahami arti kasih dan kesetiaan Allah) pada hari-hari yang terakhir” (Hosea 3:5).

 

(Tulisan ini diinspirasi oleh khotbah bapak Pdt. DR. Jantje Haans di GSJP pada tanggal 3 Juli 2016).

 

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Prinsip-Prinsip Kerajaan Allah dalam Mengelola Keuangan

Tuhan menginginkan kita sebagai anak-anak-Nya memiliki pandangan, penilaian dan sikap yang benar terhadap uang dan harta kekayaan dan memperlakukannya sesuai dengan prinsip Kerajaan Allah. Inilah di antaranya:

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday302
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2852
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14565
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908740

People Online 24
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:25



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.