top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Tiga Tipe Orang Kristen. Tipe Yang Manakah Anda? PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Tuesday, 06 September 2016 12:57

Firman Allah adalah seperti cermin bagi orang yang membacanya (Yakobus 1:23). Allah menunjukkan keadaan diri kita yang sebenarnya melalui Firman Allah dengan maksud supaya kita sadar dan berubah.

 

Dalam Yohanes 11:1-44 dikisahkan tentang tiga orang kakak beradik, yaitu: Maria, Marta dan Lazarus. Mereka tinggal di Betania yang terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya (ayat 18).

 

Tiga orang bersaudara ini memiliki sifat yang berbeda dan sikap yang berbeda pula terhadap Tuhan Yesus. Ketiganya dikenal baik oleh Tuhan Yesus, bahkan Tuhan Yesus mengasihi ketiga orang bersaudara itu (ayat 5). Dari ketiga orang itu kita bisa bercermin mengenai sikap kita terhadap Tuhan Yesus: apa yang menjadi hal utama dalam hidup kita, bagaimana penilaian Tuhan Yesus atas sikap kita dan apa akibatnya terhadap hidup kita.

 

Kita akan pelajari terlebih dahulu kehidupan “Maria.”

 

Paling tidak ada tiga wanita yang berbeda yang bernama Maria yang disebut dalam keempat Injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Mereka adalah orang yang berbeda meskipun namanya sama.

 

Yang pertama adalah Maria “Ibu Biologis” Tuhan Yesus ketika Ia menjelma menjadi manusia di bumi. Maria adalah isteri Yusuf dan yang melahirkan Tuhan Yesus (Matius 1:16).

 

Setelah melahirkan Yesus melalui kuasa Roh Kudus (Lukas 1:35), Maria masih memiliki anak-anak lain dari Yusuf suaminya, yaitu: Yakobus “Muda” (Markus 15:40), Yusuf yang disebut juga Yoses (Markus 6:3; 15:40), Simon dan Yudas (Matius 13:55; Markus 6:3). Maria inilah yang kemungkinan disebut sebagai “Maria yang lain” (Matius 27:61; 28:1) atau “Maria ibu Yakobus muda dan Yoses  (Markus 15:40, 47) yang mengikut Yesus dan melayani-Nya bersama-sama dengan perempuan-perempuan lainnya sewaktu Yesus di Galilea. Maria, Ibu Yesus, menyaksikan pada waktu Tuhan Yesus di salib (Markus 15:40-41), pada waktu Yesus dikuburkan, bahkan bersama dengan Maria Magdalena menjadi saksi pertama kebangkitan Tuhan Yesus (Matius 28:1-8) dan menyaksikan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga serta berdoa bersama para rasul-rasul menantikan turunnya Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:12-14).

 

Yang kedua adalah Maria Magdalena atau Maria dari Magdala. Ia adalah salah satu dari perempuan-perempuan yang mengikut Yesus  dan melayani Dia beserta murid-murid-Nya dalam perjalanan pelayanan-Nya mulai dari Galilea (Matius 27:55-56; Markus 15:40-41; Lukas 24:10). Ia bersama dengan Maria ibu Yesus menyaksikan peristiwa penyaliban dan kematian Yesus di kayu salib (Markus 15:40), menyaksikan penguburan Yesus dan menjadi saksi pertama kebangkitan Tuhan Yesus (Markus 16:9). Ialah yang pertama kali dijumpai dan disapa Tuhan Yesus setelah kebangkitan-Nya (Yohanes 20:11-18).

 

Maria Magdalena inilah yang dari padanya Tuhan Yesus pernah mengusir tujuh setan (Markus 16:9; Lukas 8:2)

 

Yang ketiga adalah Maria dari Betania, saudara dari Marta dan Lazarus, yang akan kita pelajari.

 

Maria adalah kakak dari Marta (Lukas 10:38-39). Maria inilah yang “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” (ayat 39). Maria ini juga yang meminyaki Yesus dengan satu buli-buli pualam minyak narwastu murni yang sangat mahal harganya (Yohanes 12:3).

 

Jika dihitung dengan nilai uang sekarang, minyak narwastu yang dicurahkan Maria untuk meminyaki tubuh Yesus kurang lebih senilai tiga puluh juta rupiah. Jumlahnya demikian banyak (satu pound) dan sangat mahal sehingga bukan hanya keharumannya “semerbak di seluruh rumah itu” (Yohanes 12:3) tetapi juga membuat gusar Yudas Iskariot si pengkhianat yang koruptor itu (ayat 4-6).

 

Bagi Yudas dan juga murid-murid Yesus apa yang dilakukan Maria dianggap sebagai suatu “pemborosan” (Matius 26:8). Tetapi Tuhan Yesus mangatakan bahwa itu adalah suatu “perbuatan yang baik kepada-Ku” yang akan selalu diingat di mana saja Injil diberitakan (Matius 26:10, 13).

 

Ada dua peristiwa berbeda yang ditulis Injil tentang perempuan yang meminyaki Yesus dan itu dilakukan oleh dua wanita yang berbeda pula. Yang satunya dilakukan oleh seorang perempuan berdosa yang telah bertobat dari dosanya, dan dilakukan di rumah Simon orang Farisi (Lukas 7:37-38). Tidak diketahui apakah itu perempuan yang sama yang telah diselamatkan Yesus dari hukuman rajam akibat kedapatan sedang berzinah (Yohanes 8:1-11). Sedangkan peristiwa yang hampir sama dilakukan oleh Maria dari Betania di rumah Simon si Kusta (Lazarus) seperti tertulis dalam Matius 26:1-13 dan Yohanes 12:1-8.

 

Jika dilihat, maka Maria ini adalah tipe orang Kristen yang lebih mengutamakan hubungan yang intim dengan Tuhan. Ia sangat menghargai saat bersekutu dengan Tuhan. Ia tidak mau waktu itu berlalu begitu saja. Ia mau menikmati kehadiran Tuhan sepuas-puasnya dengan memandang wajah-Nya dan mendengarkan suara-Nya. Ia begitu mengagumi Tuhan. Ia tidak mau saat bersekutu itu ditukar dengan apapun. Baginya memiliki Tuhan Yesus itu segala-galanya dan cukup baginya.

 

Sikapnya ini sangat dihargai oleh Tuhan. Tuhan Yesus sangat berkenan. Maria berhasil mendapatkan hatinya Tuhan dan itu adalah “pilihan terbaik yang tidak akan diambil dari padanya” (Lukas 10:42). Memilih untuk mendapatkan hati Tuhan adalah pilihan terbaik yang kita dapat lakukan.

 

Orang-orang yang mengutamakan persekutuan yang intim dengan Tuhan akan mendapatkan hatinya Tuhan, perkenanan Tuhan, dan itu adalah segala-galanya. Itu adalah “pilihan terbaik.” Bagi orang seperti itu Tuhan adalah “Bagiannya” (The Lord is our Portion), bahkan Tuhan adalah “Pahala yang luar biasa” baginya (The Lord is our Great Reward). Memiliki Tuhan adalah memiliki segalanya, dan kita tidak akan kekurangan suatu apapun yang baik di dalam Dia. Orang seperti itu pasti mengalami perjumpaan yang manis dengan Tuhan.

Musa demikian menginginkan hati Tuhan, perkenanan Tuhan, sampai ia menolak berjalan jika Tuhan sendiri tidak menyertainya. Musa adalah seorang yang sangat intim dengan Tuhan sehingga Tuhan berbicara berhadapan muka seperti seorang berbicara dengan sahabatnya.

 

Maria bahkan rela mempersembahkan yang terbaik dan termahal yang ia miliki untuk “dihamburkan” seluruhnya bagi Tuhannya. “I will not offer anything that cost me nothing” demikian kata-kata dari sebuah lagu pujian. Maria tidak mau mempersembahkan sesuatu yang kurang bernilai atau murah harganya. Minyak narwastu seharga tiga puluh juta rupiah dicurahkan sekaligus, “dihamburkan” semuanya hanya untuk Tuhan. Akibatnya keharuman memenuhi seluruh rumah. Yesus sangat berkenan dengan persembahan  Maria dan menilainya sebagai “perbuatan yang baik” kepada Tuhan (Matius 26:10). Kisah perbuatan Maria ini mendapat tempat bersama dengan pemberitaan Injil (Matius 26:12).

 

Pengabdian total kita kepada Tuhan akan menyebabkan keharuman pengenalan akan Kristus tersebar ke mana-mana (2 Korintus 2:14), dan Tuhan akan menilai itu sebagai “perbuatan baik” kepada-Nya.

 

Sikap Maria ini menyebabkan ia mendapatkan hatinya Yesus. Yesus sangat mengasihinya. Maria adalah orang yang dapat menyentuh hati Yesus sehingga Yesus sangat terharu ketika melihat Maria menangis; bahkan Yesus pun sampai turut menangis karena sangat tersentuh hati-Nya (Yohanes 11:33-34). Begitu tersentuhnya hati Yesus sampai Ia melakukan mujizat yang luar biasa, yaitu membangkitkan kembali saudaranya yang telah mati, Lazarus (Yohanes 11:44).

 

Seperti Esther yang berhasil mendapatkan hati raja Ahasyweros sehingga raja berkenan mengabulkan apapun permintaan Esther, bahkan “setengah dari kerajaannya sekalipun.” Jika kita berhasil mendapatkan hatinya Tuhan, maka doa-doa kita akan dikabulkan, bahkan Tuhan bersedia melakukan mujizat-Nya bagi kita. Tetapi kebanyakan orang Kristen hanya mengerjar berkat dan pertolongan Tuhan saja, bukan mengejar untuk mendapatkan hatinya Tuhan dan perkenanan-Nya.

 

Betapa indahnya jika kita bisa memiliki sikap hati seperti Maria. Inilah juga sikap hati Daud yang menyebabkan Daud menjadi seorang yang berkenan di hati Allah (the man at the heart of God).

 

Marilah kita, seperti Maria, membangun keintiman dengan Tuhan dan mendapatkan hatinya Tuhan serta rela “menghamburkan” seluruh hidup kita bagi Dia, itulah “ibadah kita yang sejati” (Roma 12:1).

 

Sosok kedua yang kita akan pelajari adalah sosok “Marta” adik Maria.

 

Tuhan Yesus juga mengasihi Marta (Yohanes 11:5). Marta adalah seorang perempuan yang cekatan, rajin, pekerja keras dan berinisiatif. Begitu mendengar Yesus datang ke rumahnya Marta langsung sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, sebab Yesus datang bersama murid-murid-Nya (Lukas 10:38, 40).

 

Ketika Marta mendengar Yesus datang merespon permintaannya untuk datang menolong Lazarus, walaupun saat itu Lazarus sudah meninggal, Marta juga langsung beranjak menemui-Nya di jalan (Yohanes 11:20). Marta adalah seorang yang berinisiatif dan “straight forward”, bicara langsung tanpa basa-basi.

 

Orang Kristen tipe Marta adalah orang Kristen yang lebih mengutamakan “pelayanan meja” dari pada berlama-lama bersekutu dengan Tuhan dalam doa. Ia punya jadwal aktivitas pelayanan yang sangat padat sehingga hanya punya waktu sedikit untuk berdoa.

 

Namun demikian orang seperti ini cenderung kesal terhadap orang-orang “tipe Maria.” Ia akan mengkritik secara tajam dan pedas orang-orang yang banyak berdoa dan tidak sibuk seperti dirinya. Dan sering kali mereka, karena terlalu berinisiatif, melakukan hal-hal yang Tuhan tidak suruh atau minta.

 

Yesus datang hanya ingin menyapa dan berbincang, tetapi Marta tidak punya waktu banyak untuk berbicara dengan Yesus sebab ia sibuk melayani. Ia sibuk mondar mandir ke sana ke mari melayani sambil mukanya cemberut penuh kekuatiran karena takut pelayanannya tidak sempurna. Akibatnya ia kesal ketika melihat Maria asyik berbincang dengan Tuhan sementara ia sibuk bekerja. Marta begitu berinisiatif sehingga tidak sadar bahwa yang Tuhan inginkan saat itu adalah suatu persekutuan bukan pelayanan meja.

 

Yesus merasa prihatin dengan kesibukan Marta yang menyebabkan ia banyak kuatir dan susah hati atas banyak perkara (Lukas 10:41). Yesus sebetulnya ingin meminta Marta untuk duduk di dekat-Nya dan berbincang-bincang dengan Dia namun Marta tidak mengerti ia terus saja menyibukkan diri melayani meja. Ia pikir itu menyenangkan hati Tuhan, padahal Tuhan lebih senang jika saat itu Ia bisa berbincang-bincang dan bersekutu dengan Marta seperti dengan Maria.

 

Tuhan lebih menginginkan “keintiman” dari pada “karya besar yang spektakuler.” Itulah sebabnya Tuhan seringkali “mengijinkan” pelayanan seseorang “hancur” ketika orang itu sudah terlalu sukses, sibuk, puas dan bangga dengan pelayanannya, sementara hubungannya dengan Tuhan sudah menjadi hambar dan dingin. Tuhan rela kehilangan “menara yang megah dan cawan emas” hasil karya hamba-Nya asal Ia dapat memperoleh kembali “hati” hamba-Nya dan persekutuan yang intim dengan dia seperti semula.

 

Marta juga tipe orang Kristen yang percaya kepada kuasa Tuhan, tetapi kurang percaya bahwa kuasa Tuhan itu untuk ia nikmati dan alami sekarang ini. Kepercayaan akan karya dan kuasa Tuhan hanya sebatas sebagai catatan sejarah yang spektakuler di masa lalu dan atau hanya simbol-simbol rohani untuk diambil maknanya saja. Ia kurang percaya bahwa saat ini Tuhan masih melakukan mujizat-Nya seperti pada zaman dahulu seperti yang tertulis dalam sejarah Alkitab, karena Ia tidak pernah berubah (Ibrani 13:8). Bagi orang seperti itu mujizat-mujizat itu hanya ada di zaman dahulu, zaman para rasul, dan bukan lagi untuk zaman modern di mana ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan sangat maju. Demikian pula berkat-berkat jasmani dan materi yang dialami para tokoh Alkitab seperti Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Daud, Daniel hanya dimaknai secara rohani dan bukan untuk diharapkan pada masa kini sehingga orang yang mengajarkan tentang hal itu dianggap sebagai “pemberi harapan palsu.”

 

Banyak gereja lebih banyak jadwal kegiatan sosial dan program acaranya serta rapat-rapat komisi dibandingkan dengan kegiatan doa dan puasa. Banyak gereja tidak lagi mau mengajarkan tentang kuasa mujizat kesembuhan illahi dan kehidupan yang diberkati karena itu dianggap sabagai hanya memberi harapan palsu. Tuhan Yesus tetap mengasihi orang-orang Kristen yang bersikap dan beriman seperti itu sebab Ia sudah mati dan bangkit bagi mereka juga, tetapi Tuhan Yesus tetap lebih suka dengan sikap orang Kristen yang tulus dan percaya sungguh seperti Maria.

 

Sosok yang ketiga yang kita pelajari adalah sosok “Lazarus.” Lazarus adalah tipe orang Kristen yang tidak banyak terdengar ceritanya sebab ia tidak seperti Marta yang suka melayani ataupun seperti Maria yang senang bersekutu dengan Tuhan. Ia lebih sibuk dengan urusannya sendiri sehingga hal-hal seperti pelayanan dan persekutuan dengan Tuhan bukanlah hal yang utama baginya. Namun demikian Tuhan Yesus tetap mengasihi Lazarus (Yohanes 11:5).

 

Orang Kristen seperti ini tidak banyak diketahui kisah hidupnya sampai ia mengalami “masalah serius.” Lazarus tidak diketahui kisahnya tetapi tiba-tiba beritanya ialah bahwa “ia sakit.” Rupanya sakit yang dideritanya cukup parah. Ada kemungkinan ia menderita kusta karena ia dikenal sebagai “Simon si kusta” (Matius 26:6).

 

Penyakit kusta biasanya melambangkan dosa. Dosa menggerogoti tubuh seperti kusta dan membuat tubuh menjadi busuk. Banyak orang Kristen yang “tidak pernah terdengar ceritanya” karena ia tidak suka bersekutu maupun melayani mulai digerogoti dosa, jika dibiarkan akan membuat hidup rohaninya sakit parah yang pada akhirnya akan membawa kepada “kematian”: imannya mulai kering dan layu. Jika dibiarkan kematian iman akan menghasilkan “kebusukan”; mereka melakukan hal-hal yang memalukan (Roma 1:28-32).

 

Adalah kasih karunia Tuhan jika orang yang mulai mundur kerohaniannya ditimpa masalah dan persoalah yang berat. Sebab itu adalah cara Tuhan untuk membawanya kembali kepada-Nya; supaya ia sadar, bertobat dan berbalik ke jalan yang benar (Mazmur 119:67, 71). Di sinilah diperlukan peranan doa syafaat dari saudara-saudara seiman. Seseorang harus mendoakan orang tersebut karena ia sendiri sudah tidak mampu berdoa karena imannya sudah kering dan mati.

 

Orang Kristen tipe Lazarus hanya akan terdengar ceritanya ketika ia ditimpa masalah besar dan serius. Ia minta “bantuan doa” bagi masalahnya dari saudara-saudara seiman lainnya. Maria dan Marta juga meminta pertolongan Yesus untuk menolong saudaranya, Lazarus. Yohanes 11:3: “Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus.” Ini adalah pelayanan doa syafaat dari saudara-saudara seiman (1 Yohanes 5:16).

 

Tuhan mendengar dan merespon doa syafaat dari orang-orang yang dikasihi-Nya (Yohanes 11:4-6). Tuhan bahkan tergerak hatinya melihat tangisan orang yang dikasihi-Nya ketika mereka berdoa syafaat (Yohanes 11:33). Tuhan tidak menangis karena kematian Lazarus, Tuhan menangis ketika melihat Maria menangis. Maria berhasil menggerakkan hati Tuhan.

 

Penyakit yang menimpa Lazarus itu memang “seijin” Tuhan karena melalui penyakit itu, bahkan kematiannya, nama Allah akan dimuliakan (Yohanes 11:4). Itulah sebabnya kadang Tuhan “menunda” jawaban doa-Nya sampai keadaan seolah-olah “sudah terlambat” dan “menjadi mustahil.” Ini sengaja Ia lakukan karena karena Ia sedang mengajar kita untuk percaya (Yohanes 11:15). Ia sedang mengajar para pendoa syafaat untuk tekun berdoa dan belajar menggunakan iman mereka.

 

Sering kali ketika masalah baru saja mulai dan segera dijawab, orang tidak menghargai kebaikan Tuhan dan bahkan tidak mengucap syukur karena mereka menganggapnya “kebetulan” saja, atau “memang akan seperti itu,” seolah-olah mereka sudah mengetahuinya. Tetapi ketika masalah sudah sampai pada taraf “terlanjur” dan “mustahil” lalu kemudian Tuhan menolong, barulah mereka menyadari kasih karunia Tuhan dan kebaikan-Nya, dan mengakui bahwa itu memang “mujizat”, karya Tuhan yang ajaib.

 

Kenyataannya penyakit Lazarus membawa kepada kematiannya, bahkan sampai pada taraf membusuk. Sering kali masalah yang dialami oleh orang Kristen tipe Lazarus itu sampai pada tahap “kematian” iman; hilang pengharapan dan putus asa. Bahkan mulai “membusuk” karena sudah mulai keluar sikap dan pernyataan “busuk” dari ketidakpercayaan dan keputusasaan.

 

Tetapi Yesus adalah Tuhan atas mujizat! Bagi-Nya tidak ada situasi yang mustahil. Ia datang ke dalam keadaan yang mustahil bagi kita untuk melakukan mujizat-Nya. Ia melakukan hal ini supaya orang percaya bahwa “Allahlah yang telah mengutus Yesus” (Yohanes 11:42). Yesus hanya perlu mengucapkan sepatah kata saja untuk membangkitkan Lazarus dari kematiannya: “Lazarus! Marilah keluar!” (Yohanes 11:42).

 

Bagi orang yang sedang menghadapi situasi yang mustahil; bagi orang yang sedang mengalami kematian rohani; yang mereka perlukan adalah suara Anak Allah; firman yang keluar dari Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang firman-Nya sangat berkuasa, bahkan untuk membangkitkan orang mati sekali pun (Yohanes 5:24-26). Itulah firman yang memberi hidup.

 

Yang diperlukan adalah membawa orang itu pada kesempatan untuk dapat mendengar firman yang hidup, yaitu firman Tuhan Yesus yang dapat membangkitkan orang mati. “Iman timbul dari mendengar firman Kristus.” Inilah yang akan membangkitkan kembali iman saudara kita yang telah kering dan mati.

 

Lazarus bangkit dari kematian dan datang merespon perkataan Tuhan Yesus  (Yohanes 11:44). Yesus pun menyuruh orang melepaskan kain kapan yang mengikatnya supaya ia dapat pergi dengan bebas. Orang lalu melepaskan kain yang mengikat kaki dan tangannya dan kain peluh menutup mukanya.

 

Memang ketika orang merespon firman Tuhan, dan hatinya berbalik kepada Tuhan, maka selubung yang menutupi mata batinnya selama ini akan diangkat sehingga ia dapat melihat dan mengerti hal-hal rohani. Dan Roh Allah akan mulai memerdekakan dia dari berbagai ikatan dan belengu yang mengikatnya sehingga ia dibebaskan (2 Korintus 3:16-17).

 

Lazarus setelah dibangkitkan sekarang dapat bersekutu dengan Yesus. Ia makan bersama dengan Yesus dan Yesus bersama dengan dia (Yohanes 12:2; Wahyu 3:20). Dan sekarang Lazarus menjadi kesaksian yang luar biasa yang membuat “banyak orang Yahudi percaya kepada Yesus” (Yohanes 12:10).

 

Jadi, orang Kristen tipe siapakah kita?  

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Foto-Foto Dokumentasi Kunjungan ke Balai Karangan

Berikut ini foto-foto dokumentasi perjalanan kami ke Yayasan Bukit Pengharapan, Balai Karangan, Kalimantan Barat:

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday302
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2852
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14565
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908740

People Online 24
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:27



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.