top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Menikmati Perhentiannya Allah PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Saturday, 01 October 2016 03:07

Ibrani 4:1-11 membicarakan tentang “Hari Perhentiannya Allah” (God’s Rest). Ini bukan berbicara tentang hari perhentian setelah kematian. Ini berbicara tentang kehidupan yang Allah hendak berikan kepada orang percaya selama ia hidup di dunia sambil memikul beban kehidupannya. Ini adalah jawaban bagi orang yang saat ini merasakan kehidupannya sangat berat, meletihkan dan susah payah, sehingga ia merasa tawar hati dan putus asa dengan kehidupan yang ia jalani, padahal ia adalah orang percaya yang telah ditebus dan diselamatkan.

 

Hari perhentian Allah yang dimaksudkan di sini adalah “hari ketujuhnya Allah.”

 

“Sebab tetang hari hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: Dan Allah berhenti pada hari ketujuh  dari segala pekerjaan-Nya” (Ibrani 4:4).

 

Ini mengacu kepada Kejadian 2:2-3, yaitu hari di mana Allah telah menyelesaikan pekerjaan-Nya dan menikmati hasil karya-Nya yang Ia nilai “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Allah merasa begiet puas dengan hasil karya-Nya, gembira dan lega, sehingga Ia memberkati dan menguduskan hari itu, yaitu hari Ketujuh, hari perhentian-Nya.

 

Allah begitu gembira sehingga Ia ingin berbagi kegembiraan-Nya dengan anak-anak-Nya, seperti seorang ayah yang ingin mengajak seluruh anggota keluarganya, isteri dan anak-anaknya, untuk bersama-sama dia menikmati hari liburnya.

 

Ia menyediakan hari perhentian-Nya itu juga untuk dinikmati anak-anak-Nya. Ia bahkan menawarkannya dan menjanjikannya, bahkan sampai hari ini.

 

“Janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku (dan ditawarkan sampai hari ini)” (Ibrani 4:1).

 

“The promise of entering His rest still holds and offered today” (Amplified Bible)

 

Janji masuk ke dalam perhentian-Nya adalah bagian dari “Kabar Kesukaan” seperti kabar kesukaan yang diberitakan Musa kepada orang Israel ketika mereka diperbudak di Mesir.

 

Kabar kesukaan yang dibawa Musa untuk orang Israel  adalah: yang pertama, kelepasan dari perbudakaan di Mesir, dan yang kedua adalah, membawa mereka masuk ke suatu negeri yang baik, luas, berlimpah susu dan madu (Keluaran 3:8).

 

Sedangkan kabar kesukaan yang dibawa Tuhan Yesus bagi umat manusia adalah: yang pertama, kelepasan dari perbudakan dosa (Yohanes 8:36; Galatia 5:1), dan yang kedua, membawa orang percaya yang sudah diselamatkan ke dalam suatu kehidupan dalam kelegaan dan ketenangan (Matius 11:28), yaitu hari perhentian Allah.

 

Jadi masuk ke dalam hari perhentian Allah artinya masuk ke dalam kehidupan di mana kita bersama-sama dengan Allah menikmati kegembiraan-Nya; menikmati hari-hari yang diberkati. Allah menguduskan hari perhentian-Nya untuk diri-Nya dan juga untuk anak-anak-Nya. Oleh sebab itu seharusnya kita juga menguduskan hari-hari itu untuk Allah, bukan untuk dunia atau untuk berbuat dosa. Kita memasuki hari-hari yang dipenuhi persekutuan yang manis dan intim dengan Bapa dan penuh sukacita (1 Tesalonika 5:16) dan ucapan syukur (1 Tesalonika 5:18). Sebagaimana ketika seorang ayah menikmati saat libur dengan isteri dan anak-anaknya; penuh sukacita dan keakraban. Demikianlah Allah Bapa ingin menikmati hari perhentian-Nya bersama-sama dengan anak-anak-Nya.

 

Yang penting kita harus waspada, jangan sampai kita tidak mempercayainya atau meragukannya, bahwa ada kehidupan dalam perhentian Allah bagi umat-Nya yang percaya, selama ia hidup di dunia ini. Sebab hanya yang percaya dan taat yang akan masuk ke dalam hari perhentian Allah.

 

“Sebab itu baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku” (Ibrani 4:1)

 

“Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian (Nya), (sedangkan mereka yang tidak percaya tidak akan memasukinya) seperti yang Ia katakan, ‘Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku,’ sekalipun pekerjaan-Nya (untuk mempersiapkan dan menyediakan hidup dalam perhentian-Nya bagi orang yang beriman) sudah selesai sejak dunia dijadikan (dan menunggu kita untuk memasukinya)” (Ibrani 4:3).

 

Kita harus belajar dari kegagalan bangsa Israel yang keluar dari Mesir (yang berusia 20 tahun ke atas pada waktu itu), yang gagal memasuki Tanah Perjanjian karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan mereka.

 

“Supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga” (Ibrani 4:11).

 

Orang Israel gagal untuk menikmati Tanah Perjanjian padahal itu sudah diberitakan melalui Kabar Baik yang disampaikan oleh Musa. Kabar baik itu hanya mereka nikmati sebagian saja, yaitu kemerdekaan dari perbudakan di Mesir yang telah berlangsung 430 tahun. Tetapi mereka tidak bisa masuk ke Tanah Perjanjian seperti Yosua dan Kaleb karena mereka tidak mengikuti iman mereka.

 

“Karena kepada kita (orang percaya) diberitakan juga kabar kesukaan (yang dibawa oleh Tuhan Yesus Kristus) sama seperti (kabar kesukaan yang dibawa oleh Musa) kepada mereka (orang Israel), tetapi firman pemberitaan (kabar kesukaan yang dibawa oleh Musa) itu tidak berguna bagi mereka (karena mereka tidak menikmati seluruhnya, yaitu hanya dimerdekakan dari perbudakan, tetapi tidak masuk ke Tanah Perjanjian), karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman (tidak mengikuti iman) dengan mereka (Yosua dan Kaleb) yang mendengarnya (dan mempercayainya)” (Ibrani 4:2).

 

Demikian pula dengan orang percaya yang sudah diselamatkan, jika tidak percaya kepada perhentian Allah yang telah disediakan, hanya akan menikmati Kabar Baik sebagian saja, yaitu dimerdekakan dari dosa tetapi tidak menikmati hidup dalam kelegaan.

 

Jadi hanya yang beriman, yaitu yang percaya bahwa hari perhentian Allah itu ada dan tersedia bagi kita, dan percaya kepada Allah yang menjanjikan dan menawarkannya, serta kepada kuasa, hikmat dan kebaikan Allah yang memungkinkan kita masuk ke hari perhentian-Nya, yang akan masuk dan menikmati hari perhentian-Nya. Sedangkan yang tidak percaya tidak akan memasukinya dan menikmatinya.

 

“Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka” (Ibrani 4:6).

 

Hari perhentian yang sedang dibicarakan di sini bukanlah tentang Tanah Perjanjian yang secara geografis berada di Kanaan di Palestina.

 

“Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian (andaikata tempat perhentian Allah itu Tanah Perjanjian di Kanaan), pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari (perhentian) lain” (Ibrani 4:8)

 

Jadi hari perhentian Allah adalah hari ketujuh bagi umat Allah (Ibrani 4:9), yang ditetapkan Allah kemudian dan berlaku “hari ini”.

 

“Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari (perhentian), yaitu “hari ini”, ketika Ia setelah sekian lama (sejak Israel masuk Tanah Perjanjian pada jaman Yosua) berfirman dengan perantaraan Daud (yang hidup lebih dari 300 tahun setelah Yosua) seperti dikatakan di atas: Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya (jika kamu mendapatkan penawaran Allah tentang hari perhentian-Nya), janganlah keraskan hatimu (dengan tidak mempercayai dan meragukannya)!” (Ibrani 4:7).

 

Hari perhentian Allah itu berarti berhenti dari kehidupan yang meletihkan (weariness) dan menyakitkan (pain):

 

“Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya (dari kehidupan yang letih lesu dan berbeban berat), sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibrani 4:10).

 

“Ceased from weariness and pain of human labors” (Amplified Bible).

 

Kita harus berusaha untuk dapat masuk dan menikmati hari perhentian yang disediakan Allah dan jangan mengikuti contoh orang Israel yang gagal masuk ke Tanah Perjanjian karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan.

 

“Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga” (Ibrani 4:11)

 

Tuhan Yesus juga menawarkan tentang hidup dalam hari perhentiannya Allah ketika Ia menawarkan kehidupan dalam kelegaan dan ketenangan.

 

“Marilah kepada-Ku, semua orang yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

 

Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya menawarkan kehidupan dalam kelegaan bagi siapa saja yang merasa letih lesu dan berbeban berat dalam menjalani kehidupan mereka.

 

Banyak orang percaya yang sudah dimerdekakan oleh Tuhan Yesus dari perbudakan dosa dan diselamatkan, namun merasakan kehidupan yang meletihkan dan sangat berat, sehingga mereka mengeluh, putus asa dan tawar hati, sukar sekali mengucap syukur. Mereka merasa tidak memiliki alasan yang cukup untuk bersyukur dan bersukacita. Kehidupan mereka tidak berbeda dengan orang-orang tidak percaya yang masih hidup dalam perbudakan dosa. Oleh sebab itu Tuhan Yesus memanggil orang-orang seperti itu untuk datang kepada-Nya, menyambut tawaran kehidupan dalam kelegaan, kehidupan dalam perhentiannya Allah.

 

Tuhan Yesus bahkan memberitahukan caranya untuk dapat menerima dan menikmati kehidupan dalam kelegaan, yaitu memikul “kuk” yang akan dipasangkan oleh-Nya atas kita.

 

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati,  dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29).

 

Apa maksudnya memikul “kuk” yang dipasangkan Tuhan?

 

“Kuk” adalah suatu alat yang terbuat dari kayu yang dipasangkan pada leher atau tengkuk sepasang binatang penarik beban supaya mereka dapat menarik beban yang berat.

 

Kuk itu dirancangkan untuk dikenakan pada dua ekor binatang penarik beban, misalnya kerbau. Biasanya binatang yang dipasangkan itu tidak sama umurnya. Yang satu lebih “senior” dari yang lain, dengan maksud “kaderisasi.” Yang “junior” belajar dari yang “senior” untuk menarik beban. Karena perbedaan umur ini, biasanya yang senior memiliki badan dan kekuatan yang lebih besar, sehingga ialah yang menjadi pemikul beban yang utama. Sedangkan yang junior yang badan dan kekuatannya lebih kecil belajar dari yang senior dan bukan pemikul beban yang utama.

 

Ini adalah gambaran bagaimana Tuhan Yesus memberikan kelegaan kepada orang yang berletih lesu dan berjerih payah dalam hidupnya. Ini adalah gambaran tentang bagaimana Allah memberikan hari perhentian-Nya kepada orang yang beriman.

 

Dalam memikul kuk yang Tuhan berikan, maka Tuhan Yesus sendiri menawarkan dan menyediakan diri-Nya untuk bersama-sama kita memikul beban hidup kita melalui kuasa Roh Kudus-Nya yang tinggal di dalam kita sebagai Penolong (Yohanes 14:16-17; Efesus 1:19).

 

Ia adalah “Rekan Senior” (Senior Partner) kita dalam memikul beban kehidupan, sedangkan kita adalah “rekan junior”-Nya yang sedang diajar oleh-Nya. Ketika Tuhan Yesus melalui Roh Kudus bersama-sama kita memikul beban hidup kita, maka tentulah beban hidup kita menjadi terasa jauh lebih ringan.

 

Beban itu tetap ada, karena selama kita hidup di dunia tidak mungkin tidak ada beban hidup. Tetapi karena Tuhan Yesus ikut memikul beban kita, maka beban itu terasa jadi ringan. Lain halnya jika kita memikul beban hidup kita seorang diri. Beban hidup yang sama akan terasa sangat berat dan meletihkan.

 

Inilah kelegaan yang Tuhan berikan kepada kita, yaitu dengan ikut memikul beban hidup kita. Tetapi ketika kita memikul kuk yang dipasangkan Tuhan, maka itu juga berarti kita “kehilangan kebebasan” untuk berjalan menurut kehendak dan keinginan kita sendiri. Sekarang kita harus hidup dan berjalan mengikuti kehendak Tuhan, baik ke kanan maupun ke kiri; kita harus bergerak seirama dengan Dia.

 

“Dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: “Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,” entah engkau menganan atau mengiri” (Yesaya 30:21)

 

Inilah yang tidak disukai oleh sebagian besar orang Kristen. Mereka tetap ingin hidup merdeka, independen, dan memilih sendiri jalan mereka menurut apa yang mereka mau.

 

Ketika kita mau memikul kuk yang Tuhan pasang, di satu sisi kita memang kehilangan kemerdekaan, tetapi di sisi lain kita mengalami kelegaan, karena beban hidup kita menjadi ringan, sebab Tuhan Yesus turut memikulnya bersama-sama dengan kita. Tetapi jika kita tetap memilih hidup independen, tidak mau memikul kuk yang Tuhan Yesus pasang, maka konsekuensinya kita harus memikul beban hidup kita seorang diri, dan sebagai akibatnya kita akan menjalani kehidupan yang meletihkan dan menyakitkan. Pilihan ada di tangan kita. Tuhan hanya menawarkan kebaikan-Nya kepada kita.

 

Tetapi sebetulnya jika kita berjalan menurut kehendak Tuhan, apakah itu ke kanan ataupun ke kiri, maka kita akan selalu berhasil dan beruntung, sebab Tuhan akan membawa kita kepada keberhasilan dan keberuntungan.

 

“Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi” (Yosua 1:7).

Seandainya Tuhan membawa kita ke jalan yang terjal dan lembah kekelaman sekalipun, Ia tetap bersama-sama dengan kita (Mazmur 23:4), sebab kuk itu mengikatkan kita kepada Tuhan. Dan Tuhan Yesus tidak pernah salah, sebab apapun yang Ia ijinkan terjadi itu dirancangkan untuk kebaikan kita (Roma 8:29) dan untuk membentuk karakter kita sehingga kita menjadi serupa dengan gambaran-Nya (Roma 8:30).

 

Kita belajar dari Tuhan Yesus selama kita memikul kuk yang dipasang-Nya dan berjalan dalam kehendak-Nya. Tuhan mengajar kita supaya kita memiliki cara hidup yang berkenan kepada Bapa, karena kita bergerak seirama dengan Anak-Nya Yang Dikasihi-Nya.

 

 

Lalu apa modal yang diperlukan supaya kita dapat memikul kuk yang Tuhan pasang, berjalan menurut kehendak-Nya dan bergerak seirama dengan Dia? Tuhan Yesus mengatakan: “Belajarlah kepada-Ku sebab Aku lemah lembut dan rendah hati”  (Matius 11:29). Inilah yang kita perlukan, yaitu: hati yang rendah dan lemah lembut.

 

Kerendahan hati lawannya adalah kesombongan dan keangkuhan. Orang yang sombong tidak mau tunduk (submission) kepada Tuhan. Ia selalu memberontak kepada Tuhan. Karena itu Tuhan “menentang” orang sombong.

 

Sementara kelemahlembutan lawannya adalah keras hati dan tegar tengkuk. Keras hati dan tegar tengkuk menyebabkan orang tidak mau taat kepada Tuhan dan selalu membangkang kepada perintah Tuhan. Sedangkan orang yang lemah lembut hatinya selalu taat kepada Tuhan.

 

Tanpa kelemahlembutan dan kerendahan hati orang tidak dapat hidup menurut kehendak Tuhan dan bergerak seirama dengan Tuhan, sehingga ia tidak mungkin dapat atau mau memikul kuk yang Tuhan pasang. Oleh sebab itu orang yang seperti itu hidupnya akan sangat berat dan meletihkan sebab ia harus memikul sendiri beban hidupnya.

 

Sebaliknya orang yang lemah lembut dan rendah hati akan dengan senang hati memikul kuk Tuhan, tunduk kepada Tuhan dan taat kepada segala perintah-Nya. Akibatnya Tuhan membantu memikul beban hidup orang itu dan orang itu pun hidup dalam kelegaan dan ketenangan. Buat orang seperti ini kuk yang Tuhan pasang itu “enak” dan beban (kehendak Tuhan)  yang ditanggungkan terasa “ringan.” Inilah hidup dalam hari perhentiannya Allah.

 

“Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:30).

 

Tuhan Yesus sendiri memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati sehingga Ia dengan senang hati dan ikhlas taat kepada kehendak Allah dan bergerak seirama dengan Allah Bapa-Nya.

 

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri … Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 5:30).

 

Tuhan mengajar kita untuk mengerti kehendak-Nya sehingga kita dapat berjalan dalam kehendak-Nya dan bergerak seirama dengan Dia. Bagaimana Tuhan mengajar kita? Dengan memberikan kepekaan kepada kita. Kepekaan ini akan memberikan perasaan tidak nyaman ketika kita berjalan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan bergerak seirama dengan Dia. Ketika Tuhan mau bergerak ke kiri tapi kita ingin ke kanan, ketika Tuhan mau bergerak maju sementara kita ingin diam di tempat, dan sebaliknya, maka terjadi “tarik menarik” antara Tuhan dengan kita, terjadi “gesekan” antara Tuhan dengan kita, yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Itu adalah pertanda bahwa kita sedang bergerak tidak seirama dengan Dia dan berjalan di luar kehendak-Nya. Jika kita rendah hati dan lemah lembut, maka kita akan segera mengubah gerakan kita sehingga seirama dengan Dia dan sesuai dengan kehendak-Nya.

 

Ketika kita bergerak sesuai dengan kehendak Tuhan dan seirama dengan Dia kita akan merasakan beban kita ringan, kita akan merasakan kelegaan dan ketenangan batin. Jika kita lemah lembut dan rendah hati kita akan belajar dari perasaan nyaman atau tidak nyaman itu untuk mengerti kehendak Tuhan. Semakin lama kita akan semakin serasi, harmonis, dengan pikiran dan kehendak Tuhan, dan semakin lama beban kita semakin “terasa” ringan dan kuk Tuhan semakin enak dan menyenangkan. Itu berarti kita sudah masuk dan sedang menikmati perhentiannya Allah. Kita akan merasakan hari-hari penuh berkat dan kita menguduskan (mengkhususkan, mengistimewakan) hari-hari hidup kita untuk Tuhan sebagaimana Tuhan juga menguduskan hari-hari itu untuk kita dan diri-Nya.

 

Marilah kita memiliki sikap yang lemah lembut dan rendah hati sehingga kita dengan mudah mau secara total tunduk kepada Allah dan menaati segala perintah-Nya; sehingga kita dapat hidup menurut kehendak Allah dan bergerak seirama dengan Dia; sehingga kita mau dengan sukarela memikul kuk yang Tuhan Yesus pasangkan kepada kita. Maka Tuhan akan menolong kita memikul beban hidup kita, dan kita akan merasakan kelegaan dan ketenangan. Inilah rahasia masuk dan menikmati hari perhentiannya Allah

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Monomorsatukan Tuhan

Kita harus menomorsatukan Tuhan, baik dalam kehidupan keluarga, bisnis maupun pelayanan kita. Kita harus mengasihi TuhanYesus lebih dari apapun yang kita punya sebab semua yang kita punya saat ini berasal dari pada-Nya (1 Korintus 4:7). Kitajangan sampai mengasihi apapun lebih dari pada kasih kita kepada Tuhan.

 

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday302
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2852
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14565
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908740

People Online 24
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:26



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.