top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Mengapa Orang Benar Mengalami Penderitaan? PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Saturday, 15 October 2016 09:11

Pertanyaan ini selalu ditanyakan. Ini juga menjadi pertanyaan kita ketika kita melihat orang percaya yang saleh atau kita sendiri mengalami penderitaan. Tidak ada seorang manusia pun dapat menjawabnya dengan tepat selain Tuhan sendiri.

 

Tuhan sebenarnya sudah menyimpan jawaban-Nya di dalam Alkitab yang adalah Firman Allah. Namun jawaban itu tersimpan sebagai “misteri,” suatu rahasia yang hanya dapat disingkapkan dengan pertolongan Roh Kudus yang adalah “Pengarang” (Author) dari Alkitab itu sendiri.

 

 

Menafsirkan atau menyingkapkan rahasia Firman Allah di luar Roh Kudus dan hanya mengandalkan logika manusia saja adalah kesia-siaan, yang bahkan dapat membawa kepada kekeliruan, karena jalan pikiran manusia sangat berbeda dengan jalan pikiran Allah (Yes. 55:9). Oleh sebab itu kita harus “memiliki pikiran Kristus” (1 Kor. 2:16) untuk dapat memahami rahasia pikiran Allah.

 

Kitab Ayub sebenarnya adalah jawaban Allah dari pertanyaan di atas. Di dalam catatan kisah hidup Ayub Allah menaruh jawabannya. Namun demikian kita harus melihatnya dengan cara pandang yang berbeda dari cara pandang yang biasa dilakukan kebanyakan orang, bahkan orang Kristen sekalipun. Cara pandang yang berbeda akan menghasilkan pemahaman yang berbeda.

 

Kita perlu mengalami perubahan cara pandang supaya kita dapat memahami dengan benar. Untuk itu kita memerlukan pencerahan atau penyingkapan atas duduk persoalan yang sebenarnya; sesuatu yang mata kita tidak dapat melihatnya selama ini. Dan itu adalah pekerjaan Roh Kudus, yang dapat menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi di balik suatu peristiwa; yang dapat menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dalam hati dan pikiran Allah.

 

1 Korintus 2:10: “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.”

 

Ketika Yusuf melihat maksud Allah di balik peristiwa yang telah menimpanya, di mana ia telah dijual sebagai budak oleh abang-abangnya yang benci kepadanya sehingga ia terdampar di Mesir, maka ia sama sekali tidak marah kepada abang-abangnya, apalagi berniat untuk membalas dendam. Sebab ia melihat maksud Allah dan pengaturan Allah di balik peristiwa yang menimpanya sehingga sekarang ia malah merasa beruntung dan lega. Itu adalah perubahan cara pandang yang dikerjakan Roh Kudus dalam hati Yusuf (Baca: Kejadian 45:4-8).

 

Kejadian 50:20: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

 

Untuk memahami kisah yang tertulis dalam kitab Ayub juga diperlukan cara pandang yang berbeda dari yang selama ini kita gunakan, dan menggunakan cara pandang berdasarkan hikmat dan pewahyuan Roh Kudus. Jika kita dapat melihatnya seperti itu maka kita akan melihat jawaban Allah atas pertanyaan: “Mengapa orang benar mengalami penderitaan?”

 

Secara kronologis atau logika urutan kejadian, Kitab Ayub di susun sebagai berikut: “Pasal 1 dan 2” bercerita tentang keadaan Ayub dan keluarganya sebelum Ayub mengalami pencobaan, kemudian tentang “peristiwa di sorga” sebelum pencobaan terjadi, lalu peristiwa pencobaan itu sendiri dan reaksi Ayub atas pencobaan yang dialaminya.

 

Pencobaan Ayub terjadi dua kali: yang pertama yang menimpa harta dan anak-anaknya, dan yang kedua yang menimpa tubuh ayub sendiri. Kemudian isterinya menyuruh Ayub untuk menyangkali Allah tetapi Ayub menolaknya (Ayub 2:9-10). Setelah itu ketiga sahabatnya datang untuk menyatakan simpati mereka terhadap penderitaan Ayub (ayat 11).

 

Pada bagian tentang “peristiwa yang terjadi di Sorga” (Ayub 1:6-12), di situ diceritakan bagaimana Iblis suka berkeliling menjelajahi bumi dan ia juga melihat dan memperhatikan keadaan Ayub yang saleh, benar dan sangat diberkati Allah. Kita juga melihat bahwa Allah memperhatikan kesalehan Ayub dan memujinya:

 

Ayub 1:8: “Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

 

Tetapi Iblis yang dengki menuduh kesalehan Ayub itu bukan tanpa pamrih, artinya bukan karena Ayub sungguh-sungguh mengasihi Allah, melainkan karena Allah telah memberkatinya. Iblis menuduh bahwa akan lain ceritanya jika Ayub tidak diberkati seperti itu. Jika Ayub menderita, Iblis yakin Ayub akan membenci Allah dan mengutukinya. Untuk itu Iblis meminta Allah mengijinkannya untuk menguji kesalehan Ayub melalui penderitaan.

 

Allah pun meski dengan tidak rela hati (Rat. 3:33) mengijinkannya karena Ia “percaya” kepada ketulusan Ayub dan Ia ingin mematahkan tuduhan Iblis dan membuktikan kepadanya ketulusan hati Ayub. Allah tahu bahwa kesalehan Ayub adalah tulus.

 

Maka setelah itu terjadilah tragedi yang menimpa anak-anaknya dan juga harta kekayaannya (Ayub 1:13-19). Tetapi Ayub tetap menjaga kesalehannya dengan merendahkan diri di hadapan Allah dan menyembah-Nya (Ayub 1:20) dan berkata: “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (ayat 21).

 

Tetapi Iblis merasa tidak puas sebab penderitaan itu belum langsung mengena kepada diri Ayub sendiri sehingga ia meminta Allah mengijinkannya untuk mencobai Ayub secara langsung (Ayub 2:1-4). Iblis sebenarnya ingin Allah sendiri yang mengulurkan tangannya untuk mencobai Ayub (ayat 5), tetapi Allah tidak akan pernah mau melakukan itu (Yakobus 1:13). Oleh sebab itu Iblislah yang akan melakukannya dengan tangannya sendiri tetapi Allah memperingatkannya untuk “tidak melampui batas” yang Allah tetapkan (ayat 6). Ayub pun ditimpa dengan penyakit barah yang busuk (ayat 7).

 

Sampai di sini pun Ayub masih bertahan imannya bahkan ketika isterinya sendiri yang frustrasi melihat keadaan Ayub menyuruh Ayub untuk menyangkali Allah, Ayub tetap mempertahankan imannya kepada Tuhan (Ayub 2:9 – 10).

 

Tetapi penderitaannya mulai tak tertahankan ketika ketiga sahabatnya: Elifas, Bildad dan Zoar datang menjenguknya. Karena tadinya Ayub mengharapkan para sahabatnya mau memahami keadaanya dan menguatkan dia. Tetapi sebaliknya para sahabatnya malah menuduh bahwa semua penderitaan yang menimpa Ayub pastilah disebabkan oleh dosa dan kesalahan Ayub kepada Allah. Ini lebih menyakitkan dari pada apa yang dikatakan isterinya. Ini adalah penghancuran mental dari seorang yang sedang lemah dan bergumul dengan penderitaannya. Bukannya dikuatkan malah mereka membuat mental Ayub semakin terpuruk.

 

Pasal 3 berisi tentang keluh kesah Ayub dan kebingungannya atas tragedi yang menimpanya. Ayub merasa diperlakukan dengan tidak adil dan mulai menyalahkan Allah. Ayub bingung dengan sikap Allah yang selama ini ia percayai dan ia layani.

 

Kemudian dilanjutkan dengan Pasal 4 sampai 31 yang berisi percakapan antara Ayub dengan para sahabatnya yang membahas mengenai penderitaan yang dialami Ayub dari sudut pandang mereka. Di sini kemudian terjadi perdebatan karena ketiga sahabatnya menuduh Ayub telah melakukan dosa dan kesalahan yang sangat besar di hadapan Allah sehingga ia harus mengalami penderitaan yang sangat besar ini.

 

Namun Ayub memandang bahwa apa yang terjadi padanya adalah tidak adil sebab ia merasa telah hidup benar namun Allah mengijinkan hal ini terjadi. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Allah dan menuduh Allah tidak adil.

 

Perkataan-perkataan Ayub mewakili perasaan orang-orang yang sedang mengalami penderitaan. Sebagai manusia yang lemah dan tidak mengerti, perasaan seperti ini adalah wajar dan alamiah. Mereka kebingungan, tidak mengerti mengapa Allah mengijinkan itu terjadi. Mereka kecewa, frustrasi dan marah. Itu semua karena ketidakmengertian. Kita semua akan bersikap seperti itu jika kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tetapi Tuhan Yesus pernah berjanji bahwa satu kali kelak kita akan mengerti apa yang sekarang kita tidak pahami, yaitu apa yang Allah sedang ijinkan terjadi.

 

Yohanes 13:7: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”

 

Jika kita tetap menjaga hati kita, tetap mengasihi Tuhan dan tetap berjalan sesuai dengan panggilan-Nya, maka semua yang kita alami akan mendatangkan kebaikan; semuanya akan berakhir dengan “happy ending.”

 

Roma 8:28: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

 

Pada saat seperti inilah kita harus berseru memohon pertolongan Roh Kudus. Sebab Roh Kudus adalah Penolong kita (Yoh. 14:16) dan Penghibur kita (Yoh. 14:26). Mintalah Roh Kudus untuk menghibur kita dengan “mengajarkan,” yaitu membuat kita mengerti “segala sesuatu,” yaitu semua peristiwa yang sedang terjadi, dan “mengingatkan perkataan-perkataan Tuhan,” yaitu menghubungkan antara peristiwa yang sedang terjadi dengan nasihat-nasihat Firman Allah dan janji-janji Allah. Maka kita akan terhibur dan merasa damai sejahtera.

 

Yohanes 14:26: “Tetapi Penghibur, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

 

Roh Kudus bahkan bisa memberikan damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal, yaitu damai sejahtera yang tidak memerlukan alasan yang masuk akal, sebab memang dalam penderitaan tidak ada alasan yang masuk akal untuk kita dapat merasakan damai sejahtera. Namun Roh Kudus tetap dapat memberikan damai sejahtera-Nya yang ajaib sehingga di tengah penderitaan kita tetap dapat merasakan damai sejahtera Allah sehingga kita terhindar dari godaan Setan untuk kehilangan pengharapan dan kepercayaan kita kepada Allah yang akhirnya dapat membuat kita menghujat Allah.

 

Filipi 4:7: “Damai sejahtera Allah, yang melampui segala akal, akan memelihara (menjagai) hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

 

Sedangkan ketiga sahabatnya yaitu Elifas, Bildab dan Zofar menilai penderitaan Ayub menurut cara pandang manusia pada umumnya, yaitu bahwa penderitaan adalah akibat kesalahan dan dosa yang dilakukan, sehingga mereka menuduh pastilah Ayub telah melakukan dosa dan kesalahan sehingga Allah membiarkan penderitaan itu datang kepadanya. Mereka menilai seperi itu sebab mereka pada posisi yang tidak mengalami langsung penderitaan itu dan hanya menyaksikannya saja.

 

Percakapan mereka dari simpati berubah menjadi perdebatan yang tidak menghasilkan jawaban yang benar dan memuaskan terutama bagi Ayub. Bahkan ia merasa bahwa teman-temannya ini malah menyudutkannya sementara ia sendiri merasa tidak bersalah. Akhirnya tidak ada jawaban yang tepat dan benar mengenai mengapa Ayub mengalami penderitaan.

 

Pandangan para sahabat Ayub yang hanya menyaksikan dan tidak mengalami sendiri penderitaan Ayub menyebabkan mereka mudah sekali menghakimi berdasarkan pemikiran umum yang terdapat dalam masyarakat beragama.

 

Ini juga yang terjadi  dengan para murid Tuhan Yesus yang bertanya kepada Yesus tentang penyebab orang yang lahir buta. Mereka langsung menghubungkan kebutaan orang itu dengan dosa, entah dosa yang dilakukannya sendiri atau dosa yang dilakukan orang tuanya. Tetapi Tuhan Yesus sendiri menjawab dengan tegas karena Ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, sebab Ia adalah Tuhan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kebutaannya bukan disebabkan oleh dosanya maupun dosa orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan Allah dinyatakan dalam kehidupan orang itu (Yohanes 9:1-3).

 

Demikian pula ketika ada orang-orang Yahudi yang dibunuh Pilatus dan darahnya dicampurkan ke dalam korban persembahan mereka (Lukas 13:1-5). Orang-orang langsung menghubungkan peristiwa itu dengan prasangka pastilah orang-orang itu telah melakukan dosa yang besar di hadapan Tuhan.

 

Tetapi Yesus dengan tegas menyatakan belum tentu setiap musibah itu dikarenakan dosa orang itu tetapi memang jika kita tidak bertobat dari dosa kita hal yang buruk bisa saja terjadi, sehingga kita harus berjaga-jaga dengan hidup dalam kebenaran dan segera menyelesaikan dosa-dosa kita di hadapan Tuhan dengan mengakuinya dan memohon pengampunan (1 Yohanes 1:9).

 

Ini memang sudut pandang yang sering ada di kalangan orang percaya yang didasarkan bukan atas pikiran Tuhan melainkan pikiran mereka sendiri, berdasarkan prasangka manusia.

 

Orang-orang seperti ini kelihatannya seperti sedang “membela Allah,” padahal Allah tidak perlu dibela manusia, sebab Ia dapat membela diri-Nya sendiri, apalagi jika pembelaan manusia itu hanya berdasarkan pikiran manusia itu sendiri. Allah tidak ingin dibela seperti itu. Allah memiliki alasan sendiri yang tepat yang tersembunyi dari pikiran manusia. Hanya orang yang kepadanya Roh Kudus menyingkapkan rahasia isi hati Allah yang dapat memahaminya (1 Kor. 2:10). Memiliki pikiran yang dari Roh Kudus itulah yang disebut “memilikii pikiran Kristus” (1 Kor. 2:16).

 

Tentulah Iblis menggunakan kebodohan dan ketidaktahuan ini untuk menipu kita sehingga kita memfitnah Allah, atau untuk membuat orang pahit hati terhadap Allah. Itulah sebabnya orang-orang atheis sering menggunakan pertanyaan : Jika Allah ada mengapa Ia membiarkan semuanya ini terjadi?

 

Pasal 32-37 adalah argumentasi Elihu, seorang muda yang melihat bahwa baik Ayub maupun para sahabatnya sama-sama salah dalam menyimpulkan peristiwa yang sedang terjadi.

 

Ia melihat bahwa Ayub telah menuduh Allah secara tidak tepat padahal Ayub tidak mengenal siapa Allah. Sementara Elihu menganggap bahwa para sahabat Ayub juga telah berkata salah tentang Ayub sebab mereka menuduh Ayub secara seenaknya dan mereka seolah-olah sedang membela Allah dari tuduhan Ayub padahal mereka juga tidak tahu yang sebenarnya.

 

Elihu bersikap lebih fair yaitu dengan membela Ayub karena ia tahu Ayub seorang yang benar dan para sahabatnya menuduh dia berdosa karena penderitaan yang dialaminya. Dan Elihu juga menegur Ayub yang dengan sembarangan menuduh Allah padahal ia tidak mengetahui Allah dengan benar. Namun demikian Elihu tetap tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa orang benar seperti Ayub mengalami penderitaan. Sekali lagi Elihu berusaha untuk mencari jawaban dari pikirannya yang tidak sempurna dan terbatas

 

Pasal 38 -42 akhirnya kemudian Allah berbicara kepada Ayub dan menerangkan tentang diri-Nya dan kehidupan di dunia ini. Bahwa Ia adalah Allah pencipta yang telah menciptakan jagad raya yang begitu besar dan dahsyat. Ia juga yang menciptakan bumi dan setiap mahluk yang hidup di dalamnya. Ia menciptakan mahluk-mahluk yang begitu kuat melampaui kekuatan fisik manusia. Namun demikian Allah adalah Allah yang memperhatikan sampai perkara-perkara yang kecil dan mendetail.

 

Di sini Ayub mengalami “perjumpaan” pribadi dengan Allah. Dan Allah akhirnya memperlihatkan suatu rahasia kepadanya yang tidak terlihat oleh mata jasmani, melainkan harus dengan rohnya.

 

Di Pasal 42 kemudian Ayub (seolah-olah tiba-tiba) menyadari kesalahannya dan mengakuinya di hadapan Allah lalu Allah memulihkan keadaannya. Cerita selesai dengan bahagia dan buku Ayub ditutup.

 

Jika kita mengikuti alur kronologis ini kita tetap tidak memahami mengapa Ayub yang benar dibiarkan menderita meskipun pada akhirnya ia dipulihkan.

 

Ketiadaan jawaban yang memuaskan dan melegakan membuat banyak orang benar takut mengalami nasib seperti Ayub, bahkan takut akan kemungkinan “perlakuan Allah” kepadanya. Akibatnya kitab Ayub tinggal sebagai misteri yang tidak memberi jawaban yang melegakan.

 

Tetapi sekarang kita akan melihat dengan cara pandang yang tidak biasa. Peristiwa yang ditulis di pasal 1 dan 2 adalah peristiwa yang terjadi di Sorga, di alam rohani dan bukan di dunia yang kasat mata. Jadi pastilah peristiwa itu hanya dilihat melalui pewahyuan. Kapan Ayub menerima pewahyuan ini? Pastilah Ayub menerimanya setelah ia bertemu atau mengalami perjumpaan dengan Allah, yaitu di antara pasal 38 sampai 42. Mengapa?

 

Jika Ayub telah mengetahui dari awal peristiwa yang dituliskan di pasal 1 dan 2 maka tidak akan ada pasal 3 dan seterusnya, tapi langsung ke pasal 42 sehingga buku Ayub mungkin hanya perlu 3 atau 4 pasal saja. Atau kalaupun ada maka isinya pasti berbeda dan bukan lagi berisi perdebatan antara Ayub dan sahabat-sahabatnya melainkan berisi kesaksian Ayub kepada para sahabatnya.

 

Tetapi kenyataannya tidak demikian. Artinya apa yang tertulis di pasal 1 dan 2 pastilah tidak diketahui Ayub sebelum dan ketika ia sedang mengalami pencobaan, tetapi setelah Ayub mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan Tuhan menyingkapkannya kepadanya sehingga muncullah pernyataan Ayub yang sangat luar biasa itu:

 

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayub 42:5).

 

Artinya selama ini pengenalan Ayub akan Allah hanyalah seperti kebanyakan dari kita, yaitu dari “kata orang.” Kita mendengar dan mengenal Allah berdasarkan apa yang disampaikan para pengkhotbah, atau dari pengajaran agama saja. Kita tidak mengenal Allah secara pribadi karena belum pernah mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah, belum pernah mengalami suatu pengalaman rohani di mana kita ada di dalam hadirat Allah dan merasakan kehadiran Allah.

 

Dan ini adalah pekerjaan Roh Kudus yang dapat menghadirkan hadirat Allah ketika kita sedang berdoa (Kisah Para Rasul 4:31). Ketika ini terjadi maka paradigma kita tentang Allah akan berubah secara radikal.

 

Kita lebih memerlukan pengalaman spiritual pribadi dengan Allah daripada sekedar pengajaran teologis dan teoritis tentang Allah.

 

Perjumpaan dengan Allah bukan hanya memberikan sensasi rohani yang luar biasa tetapi lebih dari itu adalah pencerahan, hikmat illahi dan pewahyuan yang akan kita terima bersamaan dengan perjumpaan itu. 

 

Pada perjumpaan pribadi Ayub dengan Allah, Allah menyingkapkan kepadanya suatu peristiwa di sorga yang melatarbelakangi penderitaan yang Ayub alami. Dan peristiwa yang Ayub lihat dalam rohnya itulah yang ditulis di Pasal 1 dan 2.

 

Di situ ada beberapa hal yang Ayub akhirnya ketahui, yaitu bahwa: Allah mengetahui dan sangat menghargai kesalehan Ayub dan kehidupannya yang benar di hadapan Allah. Allah mempercayai ketulusan Ayub.

 

“Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayub 1:8)

 

Ternyata semua yang kita perbuat di dunia diketahui Allah dan diperhatikan oleh Allah. Kesalehan dan sikap takut akan Tuhan yang kita pegang tidak diabaikan Allah begitu saja. Allah bahkan menghargainya dan “membanggakannya.”

 

Tentu saja ini membuat Setan yang dengki itu iri dan ingin menguji ketulusan sikap Ayub. Ia menuduh bahwa sikap saleh Ayub itu bukan tanpa alasan, tetapi karena Ayub sangat diberkati oleh Tuhan (Ayub 1:9-11). Iblis meragukan kalau kesalehan Ayub adalah tulus karena ia mengasihi Tuhan. Itulah sebabnya ia ingin membuktikannya dengan mengujinya lewat penderitaan. Ia meminta Allah mengijinkannya untuk mencobai Ayub. Tetapi dibalik itu ia sebenarnya ingin menjatuhkan dan menghancurkan Ayub.

 

Di situ kita melihat bahwa semua penderitaan itu murni dikerjakan oleh tangan Setan dan Allah sama sekali bersih tangan-Nya. Allah hanya mengijinkan peristiwa itu karena Ia sendiri punya keyakinan kepada Ayub bahwa kesalehannya adalah tulus. Bahwa Ayub tidak akan menyangkali Allah meskipun ia menderita. Itulah sebabnya Allah mengijinkan Iblis untuk mencobai Ayub, karena Ia percaya kepada Ayub.

 

Dan memang benar, meskipun semua hartanya diambil bahkan anak-anaknya juga diambil, Ayub tetap menyembah Allah (ayat 21). “Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut” (ayat 22)

 

Bahkan ketika Iblis mencobainya secara langsung dengan “menjamah tubuhnya”, Ayub tetap mempertahankan imannya kepada Allah (ayat 10). Demikian pula ketika akhirnya kekuatan mentalnya mulai runtuh akibat tekanan mental yang diberikan para sahabatnya sehingga Ayub mulai mengeluh, ia tetap percaya kepada Allah. Bahkan Ayub membuat pernyataan yang sangat luar biasa ini:  “Meskipun Ia membunuh aku, aku akan tetap percaya kepada-Nya” (Ayub 13:15 KJV: “Though He slay me, yet will I trust in Him”).

 

Namun demikian Allah begitu lembut hatinya, sehingga meskipun pencobaan itu tidak dilakukan oleh tangan-Nya sendiri, melainkan oleh tangan Iblis dan Ia hanya mengijinkannya saja, namun demikian Allah dengan penuh tanggung jawab mengakui ikut berperan dalam penderitaan yang menimpa Ayub.

 

“engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan” (Ayub 2:3)

 

Itulah sebabnya Allah tidak menghukum Ayub karena keluh kesah yang diucapkannya bahkan untuk setiap tuduhan Ayub akan ketidakadilan Allah terhadapnya. Allah sangat mengerti bahwa Ayub menderita dan Ia sendiri sebenarnya tidak rela hati membiarkan Ayub menderita namun demikian Ia ingin membungkam tuduhan Iblis terhadap Ayub dengan mengijinkan Iblis menguji imannya Ayub.

 

Tetapi Allah yang menciptakan Ayub, dalam kemahatahuan-Nya, sudah mengetahui kekuatan Ayub bahwa Ayub akan tetap percaya kepada Allah meskipun ia menghadapi penderitaan. Allah juga sudah menetapkan batas atau takaran pencobaan yang Iblis hendak kerjakan (Ayub 2:6). Iblis tidak boleh melewati batas itu.

 

Jadi Allah tidak lepas tangan begitu saja. Ia sendiri dengan risau, pedih hati dan penuh belas kasihan mengamati, memandang dari sorga, semua yang sedang terjadi dengan Ayub. Dan ketika itu sudah mulai “melampui batas” Ia akan segera turun dan menemui Ayub untuk menolongnya. Ia akan datang tepat pada waktunya.

 

“Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia” (Ratapan 3:33)

 

Ia akan datang di puncak penderitaan kita untuk menyelamatkan kita, seperti ketika Tuhan Yesus yang mengijinkan para murid-Nya menghadapi angin sakal di danau dan tepat pada jam 3 malam Ia datang menjumpai mereka, menolong mereka dan meredakan ombak dan angin yang menerpa mereka sehingga mereka mengenal siapa Tuhan mereka yang sesungguhnya (Markus 6:45-51)

 

Allah juga sudah siap untuk mengkompensasi penderitaan Ayub dua kali lipat (Ayub 42:12-16), karena Ia tahu bahwa Ayub tetap akan setia kepada-Nya. Allah mempahalai Ayub untuk segala penderitaan yang dideritanya dan untuk kesetiaan Ayub meskipun diisi oleh banyak keluhan. Allah memahami semuanya, sebab Ia penuh dengan kasih karunia.

 

Akhirnya setelah Ayub melihat peristiwa di sorga yang diwahyukan Allah kepadanya, maka Ayub pun mencabut semua perkataan keluhan dan tuduhannya terhadap Allah dengan penuh penyesalan dan pertobatan yang tulus dan Allah menerimanya.

 

“Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku, dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” (Ayub 42:6).

 

Tetapi Ia juga diperintahkan untuk mengampuni ketiga sahabatnya yang telah menuduh dia (ayat 8 – 9), karena Allah tahu mereka itu tidak mengerti apa-apa dan mereka “berusaha membela Allah” dalam ketidaktahuan mereka. Ayub harus mengampuni mereka supaya Allah jangan menghukum mereka dan supaya Ayub juga jangan menyimpan dendam yang akan menjadi celah Iblis untuk mendakwanya sebab Iblis adalah pendendam; dan supaya Ayub jangan seperti Iblis yang pendendam itu sehingga Allah bisa segera memulihkan keadaannya (Ayub 42:10)

 

Ketika Ayub taat kepada Allah maka Allah segera memulihkan keadaannya bahkan mengkompensasi “kerugianNya” berlipat ganda. Itulah keadilan Allah. Akhirnya iblis dikalahkan, Allah menang dan Ayub mengakhiri kisahnya dengan bahagia. Ayub menuliskan semuanya ini sebagai warisan bagi kita untuk mengetahui jawaban mengapa orang benar menderita? 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Merespon Tantangan (Masalah) Dengan Benar

Dalam mewujudkan gagasan hampir dapat dipastikan kita akan menghadapi berbagai tantangan dan rintangan. Ini bukan pikiran negatif tetapi merupakan antisipasi. Dalam dunia bisnis ada peribahasa: Expect the worst, do the best. Artinya kita harus mengantisipasi kemungkinan (resiko) terburuk dengan mengukur diri kita dengan pertanyaan: Seandainya hal itu terjadi apakah saya tahu bagaimana cara menghadapinya? Apakah saya sanggup menanggungnya? Jika jawaban kita positif, artinya kita tahu dan siap, maka lakukanlah yang terbaik untuk sedapat mungkin menghindarinya atau meminimalkan kemungkinan ke arah itu.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday303
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2853
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14566
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908741

People Online 24
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:28



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.