top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Identitas Yang Tercuri PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Thursday, 20 October 2016 00:00

Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, Anak Allah, Allah Bapa berkenan memberikan berbagai atribut atau identitas yang luar biasa kepada kita. Kita dijadikan anak-anak-Nya (Yohanes 1:12). Nama kita dicatat di Sorga (Lukas 10:20) dan menjadi warga Kerajaan Sorga (Filipi 3:20). Allah Bapa bahkan menambahkan beberapa atribut lagi kepada kita, yaitu sebagai bangsa yang terpilih (chosen people), imamat yang rajani (royal priesthood), bangsa yang kudus (holy nations; saints), umat kepunyaan Allah (peculiar people: orang-orang yang istimewa): (1 Petrus 2:9).

 

Menyertai atribut-atribut yang luar biasa itu Allah Bapa memberikan berbagai hak istimewa (privileges) yang menjadikan orang-orang percaya menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh istimewa dan luar biasa. Harapan Allah Bapa adalah supaya dengan atribut-atribut yang istimewa dan berbagai keistimewaan itu kita hidup dengan cara hidup yang istimewa pula, bukan yang biasa-biasa, sehingga kita menjadi kesaksian (testimony) yang membawa kemuliaan bagi Allah Bapa dan Tuhan Yesus.

 

Dengan berbagai hak istimewa yang diberikan, Allah Bapa menginginkan kita melakukan perbuatan-perbuatan yang besar, hal-hal yang istimewa, sehingga kita menjadi berkat dan terang di tengah-tengah dunia (Matius 5:14-16; Yesaya 60:1-3).

 

Ini membuat Iblis, musuh Allah, sangat iri dan dengki kepada orang-orang percaya. Sebagai pencuri (Yohanes 10:10) Iblis berusaha untuk mencuri identitas-identitas yang dimiliki orang percaya, dan sebagai pendusta (Yohanes 8:44) ia berusaha mendustai orang percaya untuk mempercayai dan mengadopsi “identitas yang lain.” Iblis berusaha mereduksi, menurunkan nilai keistimewaan dari orang percaya dengan identitas yang diberikan dunia, yaitu sebagai “orang Kristen” saja.

 

Panggilan orang Kristen mula-mula diberikan oleh orang-orang di Antiokhia (Kisah Para Rasul 11:26) kepada orang-orang yang mengikuti ajaran Kristus. Jadi panggilan itu bukan berasal dari Allah, sebab Allah tidak pernah mendirikan atau memperkenalkan agama Kristen, melainkan hanya memberikan Anak-Nya Yang Tunggal untuk menjadi Juruselamat dunia (Yohanes 3:16).

 

Kita sekarang merasa lebih nyaman dengan menyandang panggilan sebagai orang Kristen dari pada menyandang panggilan sebagai orang-orang kudus (1 Korintus 1:2), atau mengakui di hadapan dunia bahwa kita adalah anak-anak Allah (Filipi 2:15), atau mengakui sebagai imam dan raja (Wahyu 5:10) atau warga Kerajaan Sorga. Mengapa?

 

Karena dengan menyandang atribut sebagai orang Kristen, yaitu orang yang beragama Kristen (Nasrani), kita menjadi setara dengan umat beragama lainnya, yang menyandang panggilan yang menunjukkan agama yang dianutnya. Mengapa? Karena panggilan itu tidak memberikan beban mental yang terlalu berat kepada yang menyandangnya. Sebagai orang beragama Kristen kita bisa melakukan berbagai perbuatan seperti yang dilakukan umat beragama lainnya dan hidup dengan cara hidup seperti orang beragama lainnya. Sementara jika kita menyandang atribut-atribut yang diberikan Allah kita harus hidup dengan cara hidup yang berbeda dan istimewa. Ini dirasakan menjadi beban yang berat. Akibatnya kita merasa lebih nyaman jika menjadi orang Kristen saja. Dengan demikian Iblis berhasil melakukan niatnya, yaitu mencuri seluruh atribut yang diberikan Allah dan menipu kita untuk memakai atribut yang justru bukan dari Allah. Iblis berhasil sebab ia memikirkan apa yang dipikirkan manusia (Markus 8:33).

 

Jadi letak masalahnya adalah dalam cara hidup. Orang enggan memakai atribut-atribut istimewa yang diberikan Allah Bapa (meskipun di dalamnya ada berbagai hak istimewa yang dapat menjadikan kita istimewa), karena kita sadar kita menjalankan cara hidup yang tidak sesuai dengan atribut yang disandang. Ketidaksesuaian cara hidup dan atribut itulah yang menjadi penyebabnya. Dan Iblis memanfaatkan ini sebagai celah untuk menipu dan mencuri identitas dan atribut yang telah diberikan itu.

 

Atribut itu sebenarnya adalah panggilan Allah bagi kita untuk hidup sesuai, berpadan, dengan atribut yang diberikan.

 

“Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadan dengan panggilan itu” (Efesus 4:1)

 

Cara hidup adalah mencakup cara berpikir, cara bersikap atau merespon masalah dan keadaan, juga cara bertindak. Cara hidup menentukan pengalaman hidup. Pengalaman hidup menentukan kesaksian hidup. Jika cara hidup kita keliru, pengalaman hidup kita keliru, dan kesaksian hidup kita juga keliru, dan sebaliknya.

 

Itulah sebabnya Kristus juga menebus kita dari cara hidup dan bukan hanya menebus kita dari dosa saja.

 

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu, bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18).

 

Jadi penebusan dengan darah Yesus itu adalah, yang pertama untuk penebusan dosa supaya kita diampuni dan dibenarkan (Roma 3:23-24). Dibenarkan artinya dianggap benar. Dan yang kedua adalah penebusan cara hidup (1 Petrus 1:18), yaitu supaya hidup kita bukan hanya dianggap benar tetapi sungguh-sungguh benar di hadapan Allah dan manusia.

 

Cara hidup yang benar akan memberikan kesaksian yang benar di hadapan orang yang tidak percaya, dan dapat membawa mereka untuk mengenal Allah dan Juruselamat kita, Tuhan Yesus Kristus.

 

“Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya (dan menyadari kekeliruan tuduhan mereka) dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka” (1 Petrus 2:12).

 

Mengapa banyak orang Kristen cara hidupnya tidak berubah, tidak istimewa, masih seperti orang beragama lainnya, padahal Kristus telah menebus bukan hanya dosanya tetapi juga dari cara hidup?

 

Karena banyak orang Kristen masih senang memakai cara hidup lama yang mereka warisi dari nenek moyang: dari tradisi dan budaya yang berdasarkan atas etnis (kesukuan), daerah atau bangsa, marga atau keluarga. Cara hidup lama itu dijadikan “barang antik” yang dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi menjadi ciri khas yang dianggap patut dipertahankan, sehingga tidak akan ditanggalkan. Cara hidup lama itu tidak selalu buruk, meskipun ada juga yang bertentangan dengan Firman Allah; ada juga yang baiknya. Tetapi cara hidup yang hendak Allah berikan jauh lebih mulia, lebih baik, sangat istimewa, karena itu adalah cara hidup Kerajaan Allah, cara hidup Kristus, Anak Allah, cara hidup yang berpadan dengan atribut-atribut yang Allah berikan; baik sebagai anak-anak Allah, warga Sorga, bangsa yang kudus, bangsa pilihan, imam-imam dan raja-raja, maupun sebagai bangsa yang istimewa. Jika kita tidak mau menanggalkan cara hidup yang lama maka kita tidak akan bisa mengenakan cara hidup yang baru, yaitu cara hidup Kristus.

 

Paulus sendiri mengatakan bahwa dahulu, ketika ia belum mengenal Kristus dan masih bernama Saulus, ia sangat bangga dengan cara hidup yang ia warisi dari nenek moyangnya.

 

Cara hidupnya yang lama, yang ia warisi dari nenek moyangnya, dikendalikan dan diatur oleh tradisi dan budaya bangsa Israel dan hukum Taurat: misalnya disunat pada hari yang kedelapan setelah kelahirannya. Ia hidup dalam tradisi suku Benyamin. Ia memiliki cara hidup orang Ibrani asli. Ia termasuk golongan Farisi yang sangat militan dalam membela Taurat, sehingga ia menganiaya orang-orang Kristen. Dan ia tidak bercacat dalam menjalankan hukum Taurat. Betapa hebat dan membanggakannya orang ini (Filipi 3:4-6).

 

Tetapi setelah mengenal Kristus, maka ia mendapati bahwa cara hidup yang dijalankan Kristus maupun yang diajarkan-Nya jauh lebih mulia, dan ia sangat ingin sekali memiliki cara hidup Kristus ini dan mengenakannya, sehingga ia menilai cara hidup lamanya seperti ini:

 

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu (yang kubanggakan selama ini) kuanggap rugi (tidak memberi keuntungan bagiku supaya aku boleh diperkenan oleh Allah Bapa), karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh sebab Dialah aku telah melepaskan semuanya itu, dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus (dan mengenakan cara hidup-Nya)” (Filipi 3:7-8).

 

Ketika kita menganggap cara hidup lama itu sebagai barang antik yang terus harus dipelihara dan dipertahankan, maka kita tidak akan pernah dapat menerima dan mengenakan cara hidup baru yang Allah berikan di dalam Kristus. Tetapi jika kita menganggapnya “sampah” (tidak berarti) dibandingkan dengan cara hidup Kristus yang mulia dan istimewa, barulah kita dapat memperoleh Kristus dan cara hidup-Nya yang mulia dan istimewa itu.

 

Standar cara hidup yang berkenan di hadapan Allah Bapa hanyalah satu: standar cara hidup yang dikenakan oleh Kristus Yesus, Anak Allah, dan bukannya standar cara hidup yang diwariskan nenek moyang, meskipun dalam pemandangan manusia cukup baik. Mengapa? Karena hanya Kristuslah yang dapat memperkenankan hati Allah Bapa, karena cara hidup yang dijalani-Nya. Allah mendeklarasikan keberkenanan-Nya itu dengan berfirman: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17).

 

Itulah sebabnya Alkitab memerintahkan supaya kita “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5). Alkitab juga memerintahkan supaya:

 

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini (dengan menjalankan cara hidup yang mereka jalankan sekarang ini, yaitu cara hidup yang mereka warisi dari nenek moyang mereka), tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).

 

Lagi Alkitab mengatakan: “Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu” (Efesus 4:23) dan “Memiliki pikiran Kristus” (1 Korintus 2:16).

 

Cara hidup lama itu sama dengan cara hidup orang yang belum diselamatkan. Kita diperintahkan Allah untuk menanggalkannya melalui perubahan paradigma, mindset, cara berpikir. Tetapi banyak orang enggan meninggalkan cara hidup lama untuk mengenakan cara hidup Kristus. Mereka menganggap bahwa cara hidup yang selama ini mereka jalani, yang mereka warisi dari tradisi dan budaya leluhur, suku, daerah dan keluarga, sudah cukup baik. Alasan lain dari keengganan menanggalkan cara hidup yang lama adalah karena: cara hidup Kristus itu tidak nyaman atau menyenangkan atau memuaskan daging. Cara hidup Kristus juga tidak disukai oleh dunia sehingga mereka cenderung menganiaya orang yang mengenakan cara hidup Kristus. Ini menyebabkan orang yang mengenakan cara hidup Kristus mengalami penderitaan. Tetapi rasul Petrus telah mengingatkan tentang hal ini:

 

“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1 Petrus 2:21).

 

Kemudian rasul Petrus memberikan contoh sebagian cara hidup Kristus yang memang tidak akan menyenangkan bagi daging dan akan menghadapi berbagai penentangan dari dunia:

 

“Ia tidak berbuat dosa, dan tipu daya tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita (aniaya dan perlakuan tidak adil), Ia tidak (balik) mengancam (orang yang menganiaya-Nya), tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil” (1 Petrus 2:22-23).

 

Memang cara hidup Kristus itu sangat berbeda dari yang ditunjukkan oleh orang-orang beragama pada umumnya, dan bahkan yang diajarkan oleh para ahli agama.

 

Yesus, selama di dunia, menjalani kehidupan yang sederhana, jauh dari kesan glamour. Ia lahir di kandang ternak, tinggal di kota kecil Nazaret, hidup sebagai keluarga tukang kayu. Ia hidup dalam kerendahan hati, penundukan diri dan ketaatan. Ia sangat memegang prinsip kebenaran, tetapi penuh empati dan belas kasihan. Ia tegas, namun lemah lembut dan pengampun. Ia tidak mencari puji-pujian dari manusia atau perkenanan manusia (mencari muka) tetapi lebih mengutamakan perkenanan Allah. Ia tidak pendendam atau ingin membalas orang yang berbuat jahat kepada-Nya. Ia tidak menyalahgunakan otoritas dan kuasa yang dimiliki-Nya untuk kepentingan-Nya sendiri atau untuk membela diri-Nya. Ia dekat dengan orang-orang yang sederhana dan dikesampingkan masyarakat. Ia selalu ingin menolong orang yang menderita namun menentang dengan keras orang-orang yang munafik. Ia merespon dengan bijaksana setiap situasi yang dihadapi-Nya. Inilah sebagian cara hidup Kristus yang mulia, yang “jikalau semuanya itu harus dituliskan satu persatu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yohanes 21:25).

 

Namun demikian Allah Bapa menghendaki supaya kita mengenakan cara hidup Kristus, sehingga kehidupan Kristus (cara hidup-Nya) “dibangkitkan kembali” di dalam kehidupan di jaman modern ini. Selama ini cara hidup Kristus hanyalah menjadi catatan sejarah yang mengisi literatur Kristen untuk menjadi salah satu bahan pelajaran sekolah Teologia saja. Kristus hanya menjadi legenda bahkan sebagian menganggapnya hanya mitos saja, sebab orang Kristen tidak memperagakan cara hidup Kristus dalam kehidupannya sehari-hari, dan hanya menyandang atribut penganut agama Kristen saja.

 

Allah menghendaki agar cara hidup Kristus diperagakan kembali oleh anak-anak-Nya di tengah-tengah kehidupan modern saat ini sehingga menjadi kesaksian yang memuliakan Allah (1 Petrus 2:12).

 

“Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Filipi 2:15).

 

Ketika kita memperagakan cara hidup Kristus, maka kita sedang menggenapi rencana Allah dari semula bagi orang yang dipanggil-Nya, yaitu memiliki keserupaan dengan Kristus Anak-Nya:

 

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Roma 8:29).

 

Keserupaan dengan Kristus adalah standar tujuan dari mengenakan cara hidup Kristus. Hanya inilah yang dapat memuaskan hati Allah Bapa, sehingga kita bukan hanya menjadi anak yang disayangi-Nya tetapi juga menjadi anak-anak yang menyenangkan hati-Nya, berkenan kepada-Nya (Matius 3:17).

 

Jika kita tidak hidup dengan cara hidup Kristus, maka kita tidak lebih benar dari para penganut agama lainnya, sehingga keselamatan kita dipertanyakan.

 

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 5:20).

 

Kita mungkin ingat perumpamaan tentang seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya (Matius 22:1-14). Karena orang yang “resmi” diundang tidak ada yang mau hadir, maka raja memerintahkan hamba-hambanya untuk mengundang “rakyat biasa” untuk hadir di pesta yang diadakannya. Di antara orang-orang yang diundang ada seorang yang tidak mengenakan pakaian pesta. Sang Raja kemudian menyuruh hamba-hambanya untuk mengikat orang itu dan mencampakkannya ke dalam kegelapan.

 

Menurut cerita, pada waktu itu jika seorang raja mengundang orang biasa (rakyat jelata) untuk hadir dalam pestanya, si raja akan menyediakan pakaian pesta untuk mereka. Mereka harus menanggalkan pakaian yang dipakainya dan mengenakan pakaian pesta yang disediakan sehingga ia dianggap sebagai tamu undangan resmi. Jika orang tidak mau mengenakan pakaian pesta yang disediakan ia tidak diperkenankan untuk mengikuti pesta. Jika di pesta tersebut kedapatan orang yang tidak memakai pakaian pesta yang telah disediakan ia akan dianggap sebagai “penyusup” sehingga akan ditangkap dan dipenjarakan karena dianggap dapat membahayakan raja dan keluarganya

 

Ini adalah ilustrasi yang menggambarkan tentang bagaimana orang harus mengenakan cara hidup yang Allah kehendaki dengan menanggalkan cara hidup yang selama ini kita kenakan, yang kita warisi dari nenek moyang kita.

 

Mungkin orang yang tidak mengenakan pakaian pesta yang disediakan dalam cerita di atas menganggap bahwa pakaian yang ia pakai sudah cukup baik sehingga ia merasa tidak perlu untuk menanggalkannya dan mengenakan pakaian pesta yang disediakan. Demikian pula banyak orang yang sudah ditebus tidak mau menanggalkan cara hidup yang lama karena ia menganggapnya sudah cukup baik sehingga ia tidak mau mengenakan cara hidup yang Allah kehendaki, yaitu cara hidup Kristus, cara hidup anak-anak Allah, cara hidup orang-orang kudus, cara hidup imam dan raja, cara hidup warga Kerajaan Sorga. Orang seperti itu tidak memperkenankan hati Allah dan ini (ketidakberkenanan Allah) sangat berbahaya.

 

 

Allah Bapa tidak ingin kita hanya dibenarkan saja, tetapi juga bahwa kita memang sungguh-sungguh hidup benar selama hidup di dunia. Dan hidup yang sungguh-sungguh benar itu adalah jika kita menjalankan cara hidup Kristus.

 

Ketika kita menjalankan cara hidup Kristus maka kita sendiri akan menyadarinya dan orang-orang lain akan menyaksikan dan merasakannya. Jadi ini bukanlah sesuatu yang teoritis tetapi sesuatu yang praktis dan nyata.

 

Lalu, apakah mungkin kita dapat memiliki cara hidup Kristus dan mem-peragakannya? Bagaimana agar kita dapat memiliki cara hidup Kristus dan memperagakannya?

 

Meskipun kelihatannya cara hidup Kristus itu sangat “idealis” tetapi itu pasti dapat terjadi sebab Allah Bapa menghendakinya. Ini adalah rencana semula Allah Bapa atas kehidupan orang-orang percaya. Untuk terwujudnya rencana-Nya ini, Tuhan Yesus telah membayar harganya yang sangat mahal, yaitu dengan darah-Nya sendiri (1 Petrus 1:18-19), agar kita dapat ditebus dari cara hidup yang lama sehingga kita dapat menerima dan mengenakan cara hidup yang baru, yaitu cara hidup-Nya. Ini adalah dari pihak Allah.

 

Sekarang dari pihak kita. Yang pertama adalah kita jangan mempertahankan cara hidup lama yang kita warisi dari nenek moyang sebagai “barang antik” yang harus dipelihara dan dilestarikan. Kita harus berani menanggalkannya karena cara hidup Kristus jauh lebih mulia. Hanya ketika kita berani melepaskannya dan menanggalkannya, barulah kita dapat mengenakan cara hidup Kristus.

 

Yang kedua, kita harus rela menderita ketidaknyamanan ketika kita mengenakan dan memperagakan cara hidup Kristus di tengah-tengah dunia yang bengkok ini. Memang kita dipanggil bukan saja diberkati tetapi juga untuk ikut menderita bersama dengan Kristus (Filipi 1:29). Cara hidup Kristus memang tidak nyaman buat daging kita karena tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita. Cara hidup kita juga akan dipandang “aneh” (janggal) oleh orang-orang yang tidak percaya sehingga mereka akan “menganiaya” kita (Yohanes 16:33), meskipun diam-diam dalam hati mereka mengakui kebenaran dan keistimewaan cara hidup kita.

 

Oleh sebab itu kita harus “mempersenjatai” diri kita dengan pikiran seperti itu (1 Petrus 4:1):

 

“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1 Petrus 2:21).

 

Hanya dengan kedua sikap di ataslah, yaitu: memandang cara hidup lama tidak berarti dibandingkan cara hidup Kristus, dan rela menderita ketidaknyamanan ketika mengenakan cara hidup Kristus, barulah kita bisa melangkah lebih lanjut dan Allah bisa berkarya melalui Roh Kudus-Nya untuk menempakan cara hidup Kristus ke dalam kita.

 

Roh Kudus akan mulai mengubah cara berpikir kita supaya kita memiliki cara hidup yang berbeda. Itulah pembaharuan budi (Roma 12:2) atau pembaharuan pikiran (Efesus 4:23). Roh Kudus akan memakai Firman Allah sebagai dasar untuk mengubah cara pandang kita. Ingat, Firman Allah adalah pedang Roh (Efesus 6:17) yang sangat efektif (Ibrani 4:12).

 

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk mempperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).

 

Roh Kudus juga memakai berbagai kejadian untuk memproses kita (Roma 8:28) dan “menghubungkan” kejadian-kejadian tersebut dengan firman Allah yang pernah kita pelajari (Yohanes 14:26) sehingga kita memahami bahwa berbagai kejadian itu diijinkan Allah untuk mengajarkan kepada kita bagaimana cara hidup Kristus; bagaimana merespon setiap masalah sesuai dengan prinsip Kristus (1 Petrus 2:22-23).

 

Semakin kita memakai cara hidup Kristus di dalam menjalani kehidupan ini kita semakin memiliki keserupaan dengan Kristus (Roma 8:29) dan kita semakin memperkenankan Allah (Matius 3:17). Ketika kita semakin serupa dengan Kristus sebenarnya kita sedang menjalani hidup kita sepadan dengan berbagai atribut yang Allah berikan.

 

Pergaulan yang intim dengan Kristus juga menjadi faktor penting untuk memiliki cara hidup Kristus. Pergaulan mempengaruhi kelakuan, baik yang jahat maupun yang baik (1 Korintus 15:33). Semakin kita intim dengan Kristus kita semakin serupa dengan Dia. Cara hidup Kristus “membayang” dalam kehidupan kita. Kita mulai memperagakan kehidupan Kristus dalam kehidupan sehari-hari, sehingga cara hidup Kristus bukan lagi sekedar mitos atau legenda, melainkan disaksikan secara nyata dalam kehidupan kita. Dunia “dipaksa” untuk mengakuinya, bahwa sungguh cara hidup orang Kristen yang sudah ditebus dari cara hidup yang lama dan mengenakan cara hidup Kristus itu sungguh berbeda, mulia dan istimewa. Itu akan menarik mereka untuk ingin mengenal Kristus dan ketika Allah melawat mereka, mereka akan datang kepada Kristus dan mengakuinya (1 Petrus 2:12).

 

 Semuanya ini akan membuat kita diperkenan Allah Bapa. Dan ketika Allah Bapa berkenan hidup kita pasti bahagia dan diberkati. Amin.

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Hidup Penuh Roh Kudus

Yesus adalah Anak Allah yang menjelma atau berinkarnasi menjadi Manusia. Itu diterangkan dengan jelas dalam Injil Yohanes pasal satu. Di situ dituliskan bahwa “Firman itu telah menjadi manusia.” Padamulanya Ia bersama-sama dengan Allah Bapa dan Ia sendiri adalah Allah Anak. Ialah Pencipta segala sesuatu. Ia datang ke dalam dunia yang diciptakan-Nya dan diam di antara manusia. Namun manusia yang diciptakan-Nya tidak mengenal Dia dan bahkan menolak Dia. Padahal Ialah Pemberi hidup dan terang yang sejati (Yohanes 1:1-5; 9-11).

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday305
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2855
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14568
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908743

People Online 25
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:28



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.