top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Di Tengah Perubahan PDF Print E-mail
Written by ir. David Kurniadi for Bapak Marco   
Wednesday, 26 October 2016 00:28

Apakah perubahan itu menyenangkan? Ada banyak orang takut dengan perubahan. Orang takut perubahan itu akan membawa sesuatu yang tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tetapi jika orang tahu bahwa perubahan yang terjadi akan sangat menguntungkannya maka orang mungkin bersedia menghadapi dan menjalani perubahan meskipun itu tidak nyaman dan tidak menyenangkan (berani keluar dari zona nyaman). Lalu, apakah perubahan bisa dihindari? Kenyataannya setiap saat ada perubahan dalam hidup kita. Waktu yang kita jalani membawa perubahan dalam segala aspek kehidupan kita.

 

Kejadian 1:14 menceritakan bahwa Tuhan menciptakan benda-benda penerang pada cakrawala yaitu matahari, bulan dan bintang-bintang. Benda-benda penerang itu yang pertama-tama adalah untuk menunjukkan waktu: hari, bulan dan tahun, yang kedua adalah membawa perubahan musim, dan yang ketiga untuk memberi tanda-tanda.

 

“Let them be for signs, and for seasons, and for days, and years” (Genesis 1:14).

 

Waktu-waktu yang berjalan selalu membawa perubahan demikian juga dengan musim-musim. Jadi memang Tuhanlah yang menciptakan perubahan. Hari-hari berubah, tahun-tahun berubah, kita berubah setiap saat, baik secara fisik maupun secara pengetahuan, pemahaman dan kebijaksanaan. Semua yang ada di bawah kolong langit diciptakan untuk mengalami perubahan. Negara berubah, masyarakat berubah, teknologi berubah, budaya berubah, alam berubah, segala sesuatu berubah. Menyenangkan atau tidak perubahan harus diterima dan tidak bisa dihindari; kehidupan harus tetap berjalan. Tetapi yang penting adalah bagaimana kita memperhatikan perubahan-perubahan tersebut supaya kita jangan tergilas perubahan tetapi sebaliknya memperoleh keuntungan dari perubahan-perubahan itu.

 

Waktu (jam, hari, minggu, bulan dan tahun) adalah perubahan. Perubahan membawa kita dari satu musim ke musim yang lain. Musim adalah suatu periode waktu yang memiliki atau membawa suatu siatuasi dan kondisi tertentu. Kita harus memperhatikan “musim-musim” supaya kita bisa “berbuah pada musimnya.”  Kita harus memanfaatkan dan memberdayakan musim-musim dalam hidup kita.

 

“Selama bumi masih ada, takkan berhenti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam” (Kejadian 8:22).

 

Memang kadang-kadang perubahan itu membawa kita kepada suatu situasi yang berbahaya, yang kita sebut sebagai krisis. Tetapi dalam filosofi Tiongkok “krisis” itu memiliki dua sisi, yang pertama adalah “bahaya” yang harus diantisipasi dan ditangani dengan bijak untuk menghindari atau meminimalisir dampaknya, dan yang kedua adalah “kesempatan” yang harus dimanfaatkan untuk keuntungan.

 

Ada suatu paradoks tentang perubahan yang berbunyi bahwa, di bumi yang “tetap” hanyalah “perubahan itu sendiri” yang terus menerus terjadi dan tidak dapat dihindari. Jadi perubahan adalah prinsip kehidupan di bumi.

 

 

Siang dan malam, hari, bulan dan tahun adalah waktu yang membawa kepada perubahan. Perubahan ada yang terjadinya berangsur-angsur, seperti penuaan atau keadaan sakit, atau perubahan keadaan kota atau masyarakat, dan ada yang terjadinya tiba-tiba, seperti kecelakaan, bencana alam, kematian.

 

Apa saja yang dapat berubah? Teknologi atau pengetahuan berubah dari waktu ke waktu. Salah satu contohnya: di kemudian hari teknologi bahan bakar fosil (bensin dan solar) untuk kendaraan, kemungkinan akan digantikan dengan bahan bakar hidrogen, sehingga di kemudian hari tidak ada lagi SPBU, sebab bahan bakar hidrogen dapat dihasilkan melalui suatu alat dengan menguraikan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen. Ini tentunya akan membawa perubahan yang luar biasa.

 

Tubuh manusia juga mengalami perubahan dengan berjalannya waktu. Tubuh melemah, rambut memutih, kulit menjadi keriput, dan sebagainya. Kehidupan keluarga kita pun berubah: anak beranjak dewasa, panggilan berubah dari ayah dan ibu menjadi kakek dan nenek. Prioritas dalam hidup berubah. Jika dahulu yang diprioritaskan adalah kesenangan, ketika menjadi tua prioritasnya menjadi kesehatan dan pengobatan. Semuanya pasti berubah, sehingga kita harus siap menghadapi perubahan supaya perubahan itu membawa kebaikan.

 

Perubahan juga adalah penyeimbangan dalam kehidupan; orang kaya maupun miskin sama-sama bisa sakit dan mati. Kita harus menerima adanya perubahan. Kita harus menyesuaikan diri terhadap perubahan sehingga bisa mendapatkan yang terbaik dari hidup ini.

 

Roma 8:28 memberi jaminan kepada kita atas berbagai perubahan yang dapat terjadi, yaitu bahwa, Allah turut bekerja dalam setiap perubahan untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah, yang terhubung dengan Allah. Orang yang terhubung dengan Allah akan mengetahui rencana Allah atas musim perubahan yang akan terjadi sehingga dapat merespon perubahan itu dengan benar dan Allah sendiri mengerjakan perubahan itu untuk kebaikan orang yang mengasihi-Nya.

 

Orang yang ingin hidup nyaman dan tidak suka perubahan adalah orang yang hidup dalam tradisi. Sedangkan jika menginginkan adanya transformasi maka orang harus siap keluar dari zona nyaman dan menerima perubahan. Tetapi jika orang mengetahui bahwa transformasi itu akan membawa kepada perubahan yang jauh lebih baik secara kuantitas maupun secara kualitas, maka orang seharusnya mau menerima ketidaknyamanan ketika proses perubahan itu sedang terjadi.

 

Allah meletakkan rencana-Nya dalam proses waktu dan musim-musim yang membawa perubahan. Jika orang dapat memahaminya dan memanfaatkannya (“memboncengnya”) ia akan memperoleh  dan menikmati kebaikan-kebaikan dari rencana Allah. Karena Allahlah yang menciptakan perubahan-perubahan dan Ia jugalah yang bekerja dalam perubahan-perubahan tersebut untuk transformasi ke arah yang lebih baik (Roma 8:28).

 

Dalam Kisah Para Rasul 5:39, imam Gamaliel (yang tidak percaya Yesus) mengerti bahwa sedang terjadi perubahan (dalam masyarakat) setelah kematian dan kebangkitan Kristus. Terjadi pergerakan dan penyebaran ajaran Kristus yang luar biasa yang menimbulkan kekuatiran dari para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka ketakutan kehilangan pengaruh dan pengikut. Akibatnya mereka berusaha mencegah terjadinya pergerakan tersebut, bahkan dengan mengancam dan menganiaya. Tetapi kemudian imam Gamaliel menyadari bahwa ini adalah proses perubahan yang sedang terjadi, yang menurut hikmatnya, jika perubahan tersebut berasal dari Allah, maka tidak akan bisa dilawan, malah mereka bisa terjadi sedang melawan Allah. Jadi Allah menciptakan perubahan.

 

Ada beberapa sikap orang dalam merespon perubahan. Perubahan itu bisa menjadi teman atau musuh, tergantung cara kita memandang dan meresponnya. Ada yang menyikapi perubahan dengan sikap “netral.” Mereka tidak melawan, tetapi juga tidak mau terlibat dalam perubahan. Mereka hanya mau menonton perubahan. Mereka hanya bertanya-tanya tentang perubahan yang sedang terjadi tetapi tidak berbuat apa-apa, padahal mereka sudah mendapatkan banyak informasi tentang hal itu. Akibatnya mereka tidak mendapatkan manfaat dari perubahan itu.  

 

Industri jam tangan Swiss yang sebelumnya menguasai 80% pangsa pasar jam tangan dunia tidak merespon trend perubahan yang sedang terjadi dengan munculnya ide jam tangan yang digerakan dengan tenaga baterai. Tetapi perusahaan jam tangan Jepang menangkapnya lalu mengembangkannya. Akibatnya pangsa pasar jam tangan Swiss anjlok sehingga hanya tersisa 10% dan harus mem-PHK puluhan ribu karyawannya.

 

Ada juga yang merespon secara negatif perubahan yang terjadi, dengan mencurigainya, menyangkalinya, bahkan berusaha menghalanginya. Mereka kesal dan marah dengan perubahan yang sedang terjadi. Akibatnya mereka menjadi korban dari perubahan.

 

Sekarang ini jasa angkutan berbasis aplikasi online sedang berkembang dengan pesat. Para pengusaha taksi konvensional marah dan melakukan perlawanan. Jika mereka, para pengusaha taksi konvensional, tidak segera menyesuaikan diri mereka dengan perubahan yang sedang terjadi, bukan mustahil mereka akan tergilas oleh perubahan yang ada.

 

Tetapi ada yang merespon secara positif perubahan itu sebagai kesempatan, sementara ia dengan bijaksana dan hati-hati menangani segala resiko yang dibawa oleh perubahan itu. Orang seperti itu akan meneguk keuntungan dan kebaikan dari perubahan yang terjadi.

 

Sekarang ini perubahan terjadi semakin cepat. Kita harus proaktif. Kita harus membonceng perubahan itu sehingga mendapatkan kebaikannya. Kita harus mengelola perubahan menjadi keuntungan. Bagaimana mengelola perubahan?

 

Bagaimana respon kita di tengah perubahan yang sedang terjadi? Kita harus merespon perubahan secara proaktif, artinya jangan bersikap pasif dan hanya menonton saja. Proaktif artinya kita mengantisipasi perubahan seperti orang yang mempersiapkan payung ketika hujan akan datang.

 

Di tengah perubahan yang terjadi kita harus berpegang atau terhubung pada sesuatu yang bersifat permanen (tidak berubah), stabil (tidak tergoncangkan), yang mengatasi unsur waktu (kekal). Apa yang tidak berubah itu? Hanya Tuhan yang menciptakan perubahan itu sendiri.

 

Yakobus 1:17: pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

 

Kita harus terhubung dengan “Yang Tidak Berubah” sehingga ketika ada perubahan kita tidak menjadi korban perubahan. Dalam mengelola perubahan yang mungkin dapat menimbulkan masalah besar dan rumit (krisis), kita harus terkoneksi dengan “Yang Tidak Berubah,” yaitu Allah sendiri yang menciptakan dan mengijinkan perubahan.

 

Maleakhi 3:6: “Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.”

 

Jika kita mengandalkan Tuhan yang tidak berubah, maka Tuhan berjanji, kita tidak akan lenyap, atau menjadi korban dari perubahan.

 

Mazmur 119:137: “Engkau adil, ya Tuhan, dan hukum-hukum-Mu benar.”

 

Mazmur 119:140: “Janji-Mu sangat teruji, dan hamba-Mu mencintainya.”

 

Daud adalah seorang yang selalu terhubung dengan Tuhan. Ia percaya bukan saja kepada Tuhan yang tidak berubah, tetapi juga kepada hukum-hukum-Nya dan janji-janji-Nya yang benar dan teruji. Itulah sebabnya ketika ia menghadapi suatu keadaan yang tidak terduga, yaitu berhadapan dengan Goliat, ia tidak takut sebab ia terhubung dan percaya kepada Allah yang tidak berubah, kepada hukum-hukum-Nya dan janji-janji-Nya yang tidak berubah dan dapat diandalkan. Daud memiliki bukti dan pengalaman akan hal itu, sehingga ia dengan berani dan penuh keyakinan dapat berkata bahwa ia pasti dapat mengalahkan Goliat (1 Samuel 17:36 & 1 Samuel 17:45-47).

 

Daud menghadapi “perubahan” dengan terhubung kepada Allah dan janji-janji-Nya yang tidak berubah, sehingga Daud dapat memasuki “musim” yang Allah telah rencanakan baginya untuk menjadi raja di Israel menggantikan Saul.

 

Perubahan itu akan terus ada, jadi tidak ada zona nyaman. Kita harus mempersiapkan diri untuk itu. Kita harus dapat memanfaatkan musim-musim yang dibawa oleh perubahan itu.

 

Pengkhotbah 3:1: “Untuk segala sesuatu ada masanya (season: musimnya), untuk (purpose: tujuan) apapun di bawah langit ada waktunya”

 

Jadi sangatlah penting agar kita mengetahui dan mengantisipasi musim yang akan atau sedang terjadi supaya kita jangan tergilas oleh perubahan melainkan mendapatkan manfaat dari perubahan itu.

 

Pengkhotbah 3:11: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”

 

Jika kita terkoneksi dengan Allah yang tidak berubah dan yang menciptakan musim dan perubahan, maka musim dan perubahan itu membawa kebaikan dan menjadi indah. Ketika kita terhubung dengan Allah maka kita akan diberi “kepekaan” dan mengerti akan “musim yang sedang terjadi”, yang merupakan “waktunya kita” untuk mengalami perubahan besar. Dan Tuhan turut bekerja sehingga semuanya menjadi indah.

 

Jadi intinya adalah kita harus berjalan bersama Allah sehingga kita dapat bertumbuh dan berbuah dalam perubahan yang sedang terjadi.

 

Daud menggambarkan keterhubungan dengan Allah yang tidak berubah dan akibat keterhubungan tersebut dalam Mazmur 1:2-3:

 

“Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

 

Di tanam di tepi aliran air artinya terhubung dengan sumber daya yang tetap, stabil, tidak berubah. Ini berbicara tentang keterhubungan kita dengan Allah Yang tidak pernah berubah, Yang menciptakan perubahan itu sendiri, dan Yang bekerja dalam perubahan itu untuk kebaikan kita.

 

Waktu selalu berjalan. Perjalanan waktu membawa perubahan musim. Tetapi jika kita di tanam di tepi aliran air maka apapun musimnya (hujan atau kemarau) kita akan tetap menghasilkan buah dan tidak akan layu. Lain halnya jika kita tertanam jauh dari aliran air, maka ketika kemarau datang, kita akan layu dan tidak dapat menghasilkan buah. Orang yang terhubung dengan Allah dan janji-janji-Nya dan hukum-hukum-Nya yang tidak berubah, akan selalu berhasil dalam musim apapun.

 

Jika kita mengerti waktu dan musim yang Tuhan sedang berikan, maka kita tidak akan kehilangan kesempatan yang baik. Janganlah kita seperti orang Israel yang tidak mengerti bahwa seharusnya mereka sudah bisa masuk Tanah Perjanjian  setelah mereka mengintai tanah tersebut; itu waktu dan musimnya bangsa Israel untuk menikmati Tanah Perjanjian. Tetapi karena mereka tidak percaya, takut dan menolaknya, mereka harus kehilangan waktu sampai 40 tahun sebelum akhirnya generasi yang baru dapat memasukinya, sementara generasi lamanya semuanya mati di padang gurun.

 

Orang yang terhubung dengan Allah tidak akan layu meskipun bukan musimnya. Mereka tetap memiliki damai sejahtera dan sukacita. Jika orang bertanya tentang bisnisnya di tengah situasi yang sedang lesu, mereka akan menjawab: “Puji Tuhan! Meskipun keadaan sedang lesu, tetapi masih terpelihara.”

 

Orang yang terhubung dengan Tuhan bahkan selalu berhasil dan beruntung dalam musim apapun, baik waktu keadaan baik maupun kurang baik.

 

Bagaimana terhubung dengan Tuhan itu?

 

Terhubung dengan Tuhan artinya memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan; persekutuan yang intens dan konsisten seperti Daniel (Daniel 6:11), sehingga ketika harus menghadapi musim apapun, Daniel selalu dapat menghadapinya dengan kemenangan dan keberhasilan.

 

Terhubung dengan Tuhan adalah dengan menyukai Firman Allah dan merenungkannya selalu (Yosua 1:8). Membaca Firman Allah haruslah menjadi hobi dan kesukaan kita, orang percaya. Tetapi membaca saja tidak cukup. Mengejar jumlah pasal yang dibaca saja tidak cukup. Yang lebih penting bukanlah hanya kuantitas, tetapi kualitas, yaitu dengan merenungkan firman yang kita baca secara mendalam.

 

Terhubung dengan Tuhan juga berarti terhubung dalam kasih. Apa artinya?

 

Yohanes 14:21: “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya”

 

Jadi mengasihi Tuhan dibuktikan dengan memegang perintah Tuhan, dalam hal ini adalah Firman Allah, dan melakukannya. Memegang perintah Tuhan artinya “mengunyah” Firman, mencernanya dengan merenungkan secara mendalam, mencoba menjalankannya, mengadukan (mencocokkan) firman dengan keadaan, sampai firman itu menjadi rhema untuk diri kita.

 

Banyak orang malas merenungkan dan mendalami firman. Mereka seperti bayi yang menyusu. Langsung ditelan tanpa dikunyah. Akibatnya rohaninya tidak bertumbuh dewasa. Sedangkan bagi yang dewasa mereka lebih memilih makanan keras, yang perlu dikunyah: direnungkan secara mendalam, dan mencoba melakukannya.

 

Mengasihi Tuhan juga dibuktikan dengan melakukan perintah Tuhan, mencoba mempraktekkan firman Allah yang telah kita baca dan renungkan secara mendalam. Memang ini bagian yang tidak mudah karena ada dua kekuatan yang saling bertentangan yang bekerja di dalam kita, yaitu kekuatan Roh yang menghendaki kita untuk melakukan perintah Tuhan, dan kekuatan daging yang tidak menginginkan kita melakukan kehendak Tuhan. Inilah yang membuat kita sering kali gagal dalam mentaati firman Tuhan. Lalu apa yang harus dilakukan?

 

Galatia 5:16-18: “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.”

 

Artinya kita harus “bergerak ke arah” Roh, “ke sisi” Roh, supaya kita dapat melakukan perintah Tuhan. Jika kita bergerak ke arah daging, ke sisi daging, kita tidak akan bisa melakukan perintah Tuhan. Pikiran kita harus diubahkan orientasinya. Ini adalah masalah “memecah konsentrasi.” Ketika kita lebih konsentrasi ke arah Roh Kudus, maka pikiran ke arah daging akan mulai memudar dan terhapuskan secara bertahap. Secara praktis memecahkan konsentrasi adalah dengan banyak melakukan dan melibatkan diri dalam kegiatan yang rohani. Ini akan mengalihkan secara bertahap orientasi pikiran kita ke arah Roh sehingga kita semakin dimampukan untuk melakukan perintah-perintah Tuhan.

 

Jika kita melakukan perintah-perintah Tuhan, maka kita sedang mengasihi Tuhan. Jika kita mengasihi Tuhan, maka Allah Bapa dan Tuhan Yesus akan mengasihi kita, dan Tuhan akan menyatakan diri-Nya, memanifestasikan diri-Nya kepada kita sehingga kita akan selalu menghasilkan buah, tidak pernah layu dan selalu berhasil. 

 

Kita harus menghadapi musim dan perubahan yang dibawanya secara proaktif dengan bersyukur, karena bersyukur adalah ciri dari iman; bersyukur berarti beriman, dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan iman. Kita harus memasuki musim dan perubahan dengan penuh iman, yaitu dengan penuh syukur dan pujian, seperti lagu yang mengatakan: “Kumasuki gerbang-Nya dengan hati bersyukur, dan halaman-Nya dengan pujian!”

 

Tuhan Yesus juga selalu memasuki suatu keadaan yang luar biasa dengan iman. Ketika Ia hendak membangkitkan Lazarus yang sudah mati selama empat hari, Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa dengan bersukur:

 

“Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu karena Engkau telah mendengarkan Aku” (Yohanes 11:41)

 

Yesus menghadapi suatu keadaan luar biasa, yaitu masalah mati atau hidup (bangkit)-nya Lazarus. Ini adalah suatu keadaan yang kritis. Tetapi Yesus menghadapinya dengan penuh iman dan bersyukur, maka mujizat besar pun terjadi: Lazarus bangkit setelah empat hari mati dan dikuburkan.

 

Yesus juga bersyukur ketika Ia hendak memecah-mecahkan lima roti untuk memberi makan lebih dari lima ribu orang.

 

Yohanes 6:11: “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.”

 

Ini adalah masalah ekonomi. Ada kebutuhan yang sangat besar, sementara modal untuk memenuhi kebutuhan itu sangat tidak memadai. Bagaimana respon kita? Umumnya kita frustrasi, putus asa dan menyerah. Itu bukan iman! Tuhan Yesus menghadapi situasi itu dengan iman. Ia mensyukuri apa yang ada di tangannya, meskipun sangat tidak memadai, lalu Ia mulai memecah-mecahkan roti (mengerjakannya) sambil berdoa dan mengucap syukur. Maka modal yang tidak memadai itu akhirnya secara ajaib dilipatgandakan Allah sehingga bisa mencukupi kebutuhan yang sangat besar, bahkan masih ada kelebihannya. Betapa dahsyatnya dampak mengucap syukur!

 

Bersyukur menunjukkan kita terhubung dengan Tuhan yang tidak pernah berubah (Ibrani 13:8: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”), sehingga Tuhan yang tidak pernah berubah dan yang menciptakan perubahan itu akan membuat kita mengalami pelipatgandaan pada musimnya.

 

Dalam Lukas 17:11-19 dikisahkan cerita lain tentang akibat dari ucapan syukur. Di situ dikisahkan tentang 10 orang kusta yang meminta pertolongan Yesus untuk ditahirkan. Pada umumnya orang kusta itu selain tubuhnya dipenuhi borok, bagian tubuhnya juga, seperti jari-jari tangannya bisa putus.

 

Tuhan Yesus menyuruh orang-orang kusta itu untuk dengan iman pergi ke imam-imam memperlihatkan diri mereka. Pada waktu itu imam-imamlah yang berhak memeriksa apakah orang kusta itu sudah sembuh atau belum. Ketika mereka pergi dengan iman maka di tengah jalan kusta mereka menjadi sembuh. Borok-boroknya hilang dari kulit mereka. Tetapi satu dari sembilan orang kusta yang disembuhkan itu, seorang Samaria, kembali kepada Yesus yang telah menahirkannya untuk sujud dan bersyukur. Yesus kemudian menyempurnakan kesembuhan orang kusta itu. Ia berkata: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Lukas 17:19)

 

Dalam terjemahan bahasa Inggris dikatakan: “Arise, go your way: your faith has made you whole.” Orang Samaria yang kusta ini bukan hanya menunjukkan imannya dengan percaya kepada apa yang dikatakan Tuhan Yesus, tetapi juga dengan bersyukur. Maka ia menerima kesembuhan yang sempurna dari Tuhan Yesus (“whole”); bukan saja borok-borok kustanya telah hilang dari tubuhnya, tetapi juga bagian-bagian tubuhnya yang rusak, seperti jari-jarinya yang telah putus itu kembali tumbuh sehingga ia sehat sempurna seperti semula. Sementara kesembilan yang lain hanya tahir saja, bersih saja dari borok-borok kusta mereka.

 

Kita lihat di sini, kita harus bersyukur ketika perubahan sedang terjadi, sehingga Tuhan menyempurnakan karya-Nya (Roma 8:28) di dalam kita, sehingga semuanya menjadi indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11).

 

Segala puji bagi Tuhan Yesus! Terima kasih pak Marco! (Dituliskan kembali dari khotbah yang disampaikan Bapak Marco pada acara Kingdom Business tanggal 23 Oktober 2016).

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Mengembangkan Talenta Untuk Mencapai Kesuksesan

Talenta adalah kemampuan yang khas yang dimiliki seseorang untuk dapat berprestasi pada bidang-bidang tertentu sesuai dengan talenta yang dimilikinya.

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday302
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2852
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14565
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908740

People Online 27
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:24



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.