top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Memahami, Mempraktekkan, Mengalami dan Membagikan PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi for Pdt. Steve Budiman   
Wednesday, 07 December 2016 02:11

Ada empat hal yang harus dilakukan orang percaya yang merupakan teladan yang diberikan Kristus ketika Beliau berjalan di bumi dan hidup di antara manusia (Yohanes 1:9 – 14). Ini adalah hal yang akan menjadikan kita memiliki keserupaan dengan gambaran Kristus sebagaimana yang dikehendaki Allah Bapa.

 

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, aupaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Roma 8:29)

 

Yang pertama adalah, Kristus memahami Kitab Suci secara mendalam. Pemahaman ini bukan diperoleh secara ajaib begitu saja karena Ia adalah Anak Allah, tetapi Kristus sejak belia sudah belajar Kitab Suci dan sangat menyukainya. Ia sangat antusias dalam mempelajari Kitab Suci. Ini terlihat dari peristiwa yang tertulis dalam Lukas 2 : 42 - 47:

 

“Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka (Yusuf dan Maria, orang tua Yesus secara biologis) ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya” (ayat 42-43)

 

“Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan perrtanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengarkan Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawaban yang diberikan-Nya” (ayat 46-47).

 

Yesus yang hidup di tengah masyarakat Yahudi telah belajar dan diajarkan tentang Kitab Taurat sejak Ia masih belia. Antusiasme dan kecerdasan yang dimiliki-Nya membuat orang heran dan kagum apalagi untuk seorang anak berumur 12 tahun.

 

Sebagaimana tradisi Yahudi Yesus juga tentu belajar Talmud dan Mishnah yang biasa diajarkan pada umur 12 sampai 30 tahun. Yesus tentu sangat mahir sehingga orang memanggilnya Rabbi. Bahkan Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi memanggil-Nya Rabbi (Yohanes 3:1-2). Ini menunjukkan Yesus memiliki kemahiran dan kualitas pemahaman yang sepadan untuk dipanggil Rabbi.

 

Biasanya jika seorang laki-laki Yahudi sampai usia 30 tahun tidak menguasai dengan baik Kitab Taurat dan kitab-kitab Yahudi lainnya, ia dianggal “tumpul” dan akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rendahan seperti gembala, nelayan atau tukang batu.

 

Yang kedua adalah: Yesus mengajar orang-orang:

 

“Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu” (Matius 4:23).

 

Tetapi cara Yesus mengajar sama sekali berbeda dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Sebab mereka “mengajarkannya tetapi tidak melakukannya (apa yang mereka ajarkan)” dan mereka senang “membebani” orang-orang dengan pengajaran yang mereka berikan (Matius 23:2-7). Sementara Yesus mengajar “kebenaran yang memerdekakan” (Yohanes 8:32) dan mengajarkan dengan penuh kuasa:

 

“Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Matius 7:28-29)

 

Yang ketiga adalah, Yesus menggunakan Firman Allah yang telah Ia pelajari dan pahami untuk menghadapi pencobaan Setan (Matius 4 : 4, 7, 10). Itulah sebabnya Ia selalu mengatakan “Ada tertulis … “ ketika melawan godaan Iblis. Artinya Ia membaca, mempelajari dan memahaminya.

 

Yesus juga bukan hanya menghafal ayat-ayat Firman Allah, tetapi menjadikan Firman Allah itu prinsip hidup-Nya sehingga Setan tidak bisa menjatuhkan-Nya. Jadi ayat Firman Allah itu bukan hanya sekedar pengetahuan yang ia pahami tetapi menjadi prinsip hidup-Nya.

 

Hal ini berbeda dengan kebanyakan orang Kristen yang membaca dan mempelajari bahkan menghafal ayat-ayat Firman Allah tetapi tidak menjadikan Firman sebagai prinsip hidup mereka, sehingga ketika pencobaan datang mereka menghadapinya dengan menggunakan perasaan dan pikiran mereka sendiri bahkan pikiran dan prinsip orang fasik yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya mereka selalu dikalahkan oleh pencobaan.

 

Dan yang keempat, kehidupan Yesus selama di dunia adalah penggenapan dari Firman Allah, sehingga kita sering membaca frase: “dengan demikian genaplah firman yang disampaikan nabi …” Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:21).

 

Itu adalah keempat hal yang menjadi teladan yang diberikan Kristus kepada kita untuk dituruti dan dialami sehingga kita mengalami keserupaan dengan Kristus. Inilah yang berkenan kepada Allah Bapa. Lalu apa artinya keempat hal itu bagi kita sekarang?

 

Yang pertama adalah, kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk memahami Firman Allah dengan benar, bukan hanya membaca dan menghafalkan ayat saja. Jikalau Tuhan Yesus, Anak Allah memperoleh pemahaman-Nya melalui proses belajar: membaca, mempelajari dengan teliti dan merenungkannya, maka sepatutnyalah kita pun berusaha sungguh-sungguh mempelajari Firman Allah dengan teliti dan tekun, supaya kita memperoleh pemahaman yang benar.

 

“Bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar” (1 Timotius 4:13): itulah nasihat rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya.

 

Kita harus antusias untuk belajar baik secara sendiri dan juga dengan belajar dari orang-orang yang memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang Alkitab. Ini penting supaya kita mencapai “kedewasaan penuh” dan supaya jangan “diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran” (Efesus 4: 13 -14).

 

Kualitas iman, ibadah dan pelayanan seseorang tidak akan melampaui pemahaman orang itu akan Firman Allah. Pemahaman yang kurang membuat iman, ibadah dan pelayanan seseorang tidak dapat berkembang. Akibatnya juga orang itu tidak mengalami kemaksimalan di dalam Tuhan; ia tidak berhasil memperoleh atau mencapai apa yang sebenarnya Allah telah janjikan dan sediakan bagi dia (1 Korintus 2:9).

 

Sebaliknya, kualitas iman, ibadah dan pelayanan seseorang dapat ditingkatkan jika orang itu mau berusaha memahami dengan lebih mendalam kebenaran Firman Allah, dan orang itu akan menerima dan mengalami apa yang Allah telah janjikan dan sediakan bagi dia, atau dengan kata lain mengalami kemaksimalan.

 

Tetapi untuk memahami Firman Allah diperlukan usaha yang tekun dan sungguh-sungguh, sebab Firman Allah itu kompleks tetapi sangat berguna (2 Timotius 3:16). Oleh sebab itu diperlukan rasa “lapar dan haus akan kebenaran” (Matius 5:6). Hanya orang yang “lapar dan haus” yang akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari sampai mendapatkan. Dan Allah berjanji akan memuaskan mereka.

 

Yang kedua adalah, menggunakan prinsip Firman Allah untuk menghadapi berbagai masalah. Sebagai orang beriman kita harus menggunakan iman dan bukan hanya memilikinya saja, sebab banyak orang yang mengaku beriman tetapi tidak hidup dengan iman. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17), tetapi iman yang benar dan sejati adalah yang berdiri di atas dasar Firman dan bukan atas perasaan atau pikiran atau kenyataan yang ada.

 

Firman Allah adalah dasar yang teguh yang dapat diandalkan dan bertahan ketika pencobaan dan masalah datang (Matius 7 : 24 – 27). Firman Allah tidak berubah meskipun keadaan sekeliling berubah. Orang yang mendasarkan imannya pada Firman Allah tidak akan “layu” meskipun di tengah “musim kering” kehidupan dan akan selalu berbuah lebat (berhasil) (Mazmur 1:1-3).

 

Orang akan gagal jika menghadapi masalah dengan menggunakan prinsip orang fasik, tetapi akan berhasil jika menggunakan prinsip Firman Allah.

 

Di dalam Alkitab banyak ditulis contoh kasus dan bukan hanya ketetapan dan janji Allah saja. Contoh-contoh kasus itu mungkin ada yang mirip situasinya dengan situasi yang kita sedang hadapi, sehingga kita juga bisa menjadikannya petunjuk dalam menghadapi masalah yang sedang dihadapi.

 

Tuhan Yesus sendiri menghadapi berbagai pencobaan Setan dengan menggunakan Firman Allah. “Ada tertulis … “ kata-Nya. Yesus bukan hanya menghapal dan mengutip Firman Allah tetapi Firman Allah memang menjadi prinsip hidup-Nya sehingga pencobaan Setan tidak berhasil menjatuhkan-Nya.

 

Ketika Ia mengatakan “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Ia sedang menyatakan prinsip hidup-Nya bahwa hidup manusia bukan hanya ditopang atau bergantung kepada jasmani dan materi (makanan) saja, tetapi bergantung kepada hal-hal rohani (firman yang dari Allah).

 

Bukankah manusia sekarang lebih memperhatikan hal-hal jasmani dan materi dan mengabaikan hal-hal rohani untuk menopang hidupnya? Padahal firman Allah mengatakan:

 

“Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:7-8).

 

Ketika Ia mengatakan “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”  (Matius 4:10). Yesus mau menunjukkan bahwa tujuan sejati hidup manusia bukanlah kekayaan, kekuasaan dan kemasyhuran tetapi untuk beribadah dan melayani Allah. Dengan prinsip ini manusia tidak akan mudah dijatuhkan oleh godaan Iblis dengan menggunakan kekayaan, kekuasaan dan popularitas. Bukankah banyak manusia sekarang mau mempertaruhkan apapun, termasuk imannya, hanya demi memperoleh kekayaan, kekuasaan dan kemasyhuran?

 

Ketika Yesus mengatakan “Ada tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu!”  (Matius 4:7). Ia hendak menunjukkan prinsip bahwa Allah itu Mahabenar dan tidak perlu diuji atau dipertanyakan kehendak dan keputusan-Nya. Kita dipanggil untuk percaya dan taat, bukan untuk mencobai Tuhan Allah.

 

Yang ketiga adalah hidup kita seharusnya menjadi penggenapan dari janji-janji Allah. Hidup orang percaya sebenarnya adalah “sasaran” berkat dan janji Allah. Allah menghendaki supaya apa yang telah Ia janjikan dan sediakan diterima sepenuhnya. Itulah sebabnya Allah memberikan Roh Kudus sebagai jaminan supaya kita memperoleh seluruh yang dijanjikan-Nya.

 

“Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya” (Efesus 1:14).

 

Mengapa demikian? Sebab, ketika Allah berjanji maka sebetulnya Ia telah menyediakan apa yang dijanjikan-Nya, bukan baru akan menyiapkannya. Itulah sebabnya Ia sangat ingin agar kita dapat mengalami janji-janji-Nya dengan menerima dan menikmati apa yang telah Ia sediakan dan yang selama ini menantikan kita untuk memperolehnya.

 

“Tetapi seperti ada tertulis: Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Korintus 2:9).

 

Ketika firman Allah menjadi kenyataan dalam hidup kita atau hidup kita menjadi penggenapan Firman Allah, maka Firman Allah menjadi satu kesatuan dengan hidup kita. Pengalaman hidup kita menunjukkan kebenaran Firman Allah yang kita percayai dan pahami. Inilah yang membawa kemuliaan bagi nama Allah.

 

Kebanyakan pengalaman hidup orang percaya seolah tidak ada hubungannya dengan Firman yang mereka percayai. Pengalaman hidup mereka dan Firman Allah yang mereka percayai seolah-olah seperti air dan minyak. Ini memberikan kesan yang membingungkan bagi orang yang belum percaya. Bagaimana mereka mau tertarik untuk mempercayai Firman Allah jika Firman Allah itu tidak tercermin secara nyata melalui sikap dan pengalaman hidup orang percaya.  Allah hanya akan dimuliakan jika orang dapat melihat kebenaran Firman Allah nyata dalam hidup orang percaya.

 

Sekali lagi, jika orang percaya tidak menerima dan mengalami apa yang Allah telah sediakan dan janjikan bagi mereka, maka ada sesuatu yang keliru dengan diri mereka, dan itu bermula dari kekeliruan dalam memahami Firman Allah, yang berakibat kepada iman yang keliru, ibadah yang keliru dan pelayanan yang keliru juga

 

Yang keempat adalah, mengajar atau membagikan (sharing) kebenaran Firman Allah yang telah kita peroleh kepada orang lain. Mengajar adalah salah satu tugas dari Amanat Agung.

 

“Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan” (Matius 28:20.).

 

Mengajar menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang Firman Allah sudah meningkat dan bahwa kerohanian kita sudah bertambah dewasa. Kita juga membagikan pengalaman hidup kita yang merupakan penggenapan dari Firman Allah dan pengalaman kita ketika kita mempraktekkan Firman Allah dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup kita.

 

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar” (Ibrani 5:12).

 

Mengajar adalah cara kita menjadi berkat, sebab lewat pengajaran orang yang kita layani dimerdekakan, dibangun, dikuatkan, dihiburkan, dikoreksi dan diubahkan, sehingga “mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

 

Jika kita tidak mau mengajar, atau berbagi, maka kebenaran yang kita peroleh akan berhenti atau berakhir pada diri kita dan orang lain tidak mendapatkannya. Padahal kita pun dulu memperolehnya melalui orang lain yang telah mengajar kita. Dengan mengajarkan Firman maka kebenaran akan terus dilanjutkan sampai kepada generasi berikutnya. Sesungguhnya Tuhan telah memberikan kepada setiap orang kemampuan untuk mengajar karena semua orang akan menjadi “orang tua” dan berkewajiban untuk mengajar anak-anak mereka atau generasi yang lebih muda.

 

Mengajar tidak selalu secara formal sebagai guru atau pengkhotbah, tetapi juga secara informal ketika kita membagikan kebenaran yang telah kita pahami kepada orang lain yang mungkin belum memahaminya. Inilah sebetulnya yang menjadi kekuatan bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa Timur dalam membangun generasi selanjutnya.

 

“Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:7).

 

Mengajar bukan dalam rangka menyombongkan pengetahuan yang dimiliki tetapi dalam rangka membagikan berkat yang telah diterima melalui pemahaman akan kebenaran Firman Allah. Allah akan memperlengkapi orang yang mau membagikan pengajaran untuk orang lain yang memerlukannya. Ajarlah mereka yang haus dan lapar akan kebenaran karena dengan demikian kita sedang menjadi sarananya Tuhan untuk memuaskan mereka.

 

(Tulisan ini diinspirasi oleh khotbah yang disampaikan oleh Bapak Pdt. Steve Budiman di ibadah Doa Jemaat tanggal 25 November 2016: Terima kasih pak Steve, Tuhan Yesus memberkati bapak!)  

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Menikmati Perhentiannya Allah

Ibrani 4:1-11 membicarakan tentang “Hari Perhentiannya Allah” (God’s Rest). Ini bukan berbicara tentang hari perhentian setelah kematian. Ini berbicara tentang kehidupan yang Allah hendak berikan kepada orang percaya selama ia hidup di dunia sambil memikul beban kehidupannya. Ini adalah jawaban bagi orang yang saat ini merasakan kehidupannya sangat berat, meletihkan dan susah payah, sehingga ia merasa tawar hati dan putus asa dengan kehidupan yang ia jalani, padahal ia adalah orang percaya yang telah ditebus dan diselamatkan.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday302
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2852
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14565
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908740

People Online 25
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:24



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.