top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...




PERTEMUAN KBN September 2018 : Minggu,23/09/2018 Pk 17.00," Bersama Kita Bisa, oleh : Bpk. Paulus Mulyadi ( CEO Twin Tulipware ) " Gedung Grand Matlenn (ex.Istana Gading) Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Informasi - Percaya - Bertindak - Berhasil PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi for Pdt. Ir. Handoyo Sutikno   
Monday, 27 February 2017 03:39

Masalah terbesar orang percaya justru adalah “ketidakpercayaan.” Kita mengaku orang beriman tetapi tidak hidup dengan iman. Kita perlu belajar terus tentang iman dan mengingatkan diri kita untuk hidup dengan iman setiap saat. Itulah sebabnya kita perlu berulang-ulang belajar tentang iman supaya kita sungguh-sungguh hidup sebagai orang beriman.

 

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan” (Ibr. 11:1a). Hanya oleh iman kita bisa memiliki harapan meskipun di tengah ketidakmustahilan, sebab tidak ada yang mustahil bagi iman (Mark. 9:23). Allah berkarya dalam hidup kita sesuai dengan iman kita. “Jadilah menurut imanmu!” demikian kata Tuhan Yesus (Mat. 9:29), maka orang yang mengimani itupun akan menerima mujizat-Nya.

 

“Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1b), sehingga dengan iman kita dapat melihat yang tidak atau belum dilihat oleh mata kita. Ketika kita berdoa dengan iman, maka kita “sudah melihat” jawaban dari doa kita dan hati kita bergembira dan mengucap syukur. Dan ketika kita memiliki sikap positif seperti itu maka kita akan menerima apa yang kita doakan (Mark. 11:24).

 

Iman bukan hanya berbicara “masa lalu,” yaitu mempercayai peristiwa-peristiwa yang dituliskan oleh Alkitab; dan juga bukan hanya untuk “masa depan,” sebagai dasar dari yang diharapkan; tetapi juga berbicara tentang “saat ini,” sebagai bukti dari yang kita tidak atau belum lihat. Jadi iman itu mempercayai bahwa saat ini kita sudah menerima apa yang kita doakan sehingga kita mengucap syukur.

 

Sekarang kita akan belajar tentang empat tahapan iman sehingga kita menerima apa yang kita doakan. Urutannya adalah: “Informasi – Percaya – Bertindak – Hasil.”

 

Iman muncul karena “informasi” yang kita dengar, yaitu informasi tentang Kristus (Roma 10:17). Mari kita lihat dari pengalaman kesembuhan seorang wanita yang mengalami pendarahan (Mark. 5:25-29).

 

“Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus” (Mark. 5:27). Ini berbicara tentang informasi yang diterima perempuan itu yang membangkitkan iman di dalam dirinya kepada Yesus.

 

Wanita ini sudah 12 tahun menderita pendarahan (Mark. 5:25). Ia sudah berusaha berobat kepada banyak tabib dan sudah menghabiskan banyak hartanya namun tetap tidak sembuh, malah keadaannya semakin buruk (ay. 26). Dalam penderitaan dan keputusasaannya ia mungkin sering didatangi oleh tetangga, kerabat dan sanak saudaranya yang datang menjenguk dia untuk menyatakan kepedulian mereka dan rasa sepenanggungan mereka. Mungkin pula beberapa dari kerabat yang mengunjunginya bercerita kepadanya tentang Yesus, yang sangat dikenal di kalangan masyarakat pada waktu itu (Mark. 1:28).

 

Orang itu mungkin bercerita bahwa ketika ia sedang ada di rumah ibadat di Kapernaum, seorang bernama Yesus yang berasal dari desa Nazaret masuk ke rumah ibadat itu dan mengajar (Mark. 1:21). Ia takjub sekali mendengar pengajaran Yesus sebab Ia mengajar dengan penuh otoritas (ay. 22), tidak seperti para ahli Taurat yang khotbahnya membosankan dan membuat ia mengantuk. Lalu tiba-tiba di tengah ibadah ada seorang yang kerasukan roh jahat dan berteriak-teriak (ay. 23). Yang ia heran adalah ternyata roh jahat mengenal Yesus, bahwa Ia berkuasa untuk membinasakan mereka. Roh jahat itu bahkan mengakui bahwa Yesus adalah “Yang Kudus dari Allah” (ay. 24). Tetapi Yesus menghardik roh jahat itu dan mengusirnya keluar dari orang yang dirasukinya (ay. 25). Kemudian roh jahat itu menggoncang-goncang orang yang kerasukan itu sambil menjerit dengan suara nyaring meninggalkan orang itu (ay. 26). Orang itu pun seketika itu sembuh. Kejadian ini sangat membuatnya heran dan takjub.

 

Itulah informasi tentang Yesus yang diberikan oleh kerabat dari wanita yang menderita pendarahan itu. Wanita itu terheran-heran mendengar cerita atau kesaksian dari kerabatnya itu. Dari kesaksian itu mulai timbullah “sedikit” iman dalam hati wanita itu.

 

Kemudian seorang kerabat lain mengisahkan pengalamannya yang lain. Ia sedang mengunjungi ibu mertua Simon Petrus yang sedang sakit demam. Tiba-tiba datanglah Yesus bersama Yakobus dan Yohanes ke rumah itu untuk mengunjungi Simon dan Andreas (Mark. 1:29). Kemudian Simon memberitahukan kepada Yesus keadaan ibu mertuanya yang sedang terbaring karena sakit demam (ay. 30). Simon berharap Yesus menyembuhkannya. Lalu Yesus hanya memegang tangan ibu mertua Simon, membangunkannya, dan seketika itu juga lenyaplah demamnya dan ia pun langsung melayani Yesus (ay. 31).

 

Perempuan yang menderita pendarahan ini mendengar kesaksian dari kerabatnya. Ia semakin bangkit imannya dan mulai berpikir, mungkin Yesus bisa juga menyembuhkan penyakitnya.

 

Tidak berhenti sampai di situ, sang kerabat menceritakan pula apa yang ia saksikan setelah itu. Menjelang malam di luar rumah Simon dan Andreas berdatanganlah orang-orang yang menderita berbagai penyakit dan yang kerasukan setan (ay. 32). Mereka semua berkumpul di depan pintu (ay. 33). Kemudian Yesus menyembuhkan orang-orang dengan berbagai penyakit itu dan juga mengusir banyak setan (ay. 34).

 

Mendengar berita atau informasi ini, iman perempuan yang menderita pendarahan itu semakin besar. Sekarang ia semakin yakin bahwa Yesus dapat menyembuhkannya, sebab Yesus berkuasa menyembuhkan “berbagai macam” penyakit.

 

Kemudian kerabat-kerabat lain yang datang menjenguknya menceritakan berbagai peritiwa kesembuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Ada yang bercerita tentang orang kusta yang disembuhkan Yesus seketika itu juga (Mar. 1:40-42). Ada juga yang menceritakan tentang bagaimana seorang yang lumpuh digotong oleh empat orang diturunkan dari atap rumah dan diletakkan di depan Yesus, lalu Yesus menyuruh orang itu bangun dan mengangkat tilamnya dan orang itu pun sembuh dan berjalan mengangkat tilamnya (Mark. 2:3-12). Yang lain lagi menceritakan bagaimana Yesus menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya (Mark. 3:1-5), dan masih banyak cerita lain tentang kesembuhan yang dikerjakan Yesus.

 

Setelah mendengar “banyak informasi” tentang Yesus maka sekarang iman perempuan yang menderita pendarahan itu semakin besar dan keyakinannya semakin kuat. Demikianlah bagaimana “iman timbul dari pendengaran” (Roma 10:17) yaitu mendengar informasi atau berita tentang Yesus. Hanya berita tentang Yesus yang dapat menimbulkan iman sebab Yesus adalah yang “mengadakan dan menyempurnakan iman” (Ibr. 12:2; terj. Ingris: “the Author and the Finisher of our faith”).

 

Jadi setelah mendapat banyak “informasi” tentang Yesus maka sekarang perempuan itu “percaya” dan yakin.

 

Tetapi percaya saja tanpa tindakan yang sesuai tidak memberikan faedah apa-apa; tidak akan memberikan “hasil.” Tindakan yang sesuai dengan iman sangatlah penting dan menentukan. Itulah yang diajarkan oleh surat Yakobus (Yak. 2:14-26).

 

Perempuan yang menderita pendarahan itu telah menerima banyak informasi tentang Yesus dan ia percaya. Sekarang ia ingin bertindak. Tetapi tubuhnya begitu lemah sehingga tidak mungkin ia “mencari dan mengejar” Yesus yang berjalan dari kota ke kota dan dari desa ke desa. Yesus juga sedang pergi ke seberang danau ke daerah orang Gerasa (Mark. 5:1). Perempuan itu harus menunggu beberapa waktu lamanya sampai Yesus kembali.

 

Setelah beberapa waktu lamanya perempuan itu mendengar Yesus telah kembali dari seberang danau dan telah tiba (Mark. 5:21). Maka perempuan itu berusaha dengan sekuat tenaga untuk berada di tempat yang akan dilewati Yesus dan “menghadang-Nya” karena ia tidak sanggup untuk berjalan jauh. Setelah tiba di tempat itu perempuan itu menunggu Yesus lewat.

 

Kemudian lewatlah Yesus disertai dengan orang banyak yang bergerombol mengikuti Dia. Perempuan itu menghadapi kesulitan untuk dapat menemui Yesus dan untuk berbicara kepada-Nya sebab Ia dikerumuni orang banyak. Tetapi ia sudah bertekad untuk bertindak sesuai dengan iman yang dimilikinya, untuk “merebut” kesembuhan itu dengan kekuatannya yang tersisa. Lalu ia memutuskan berdasarkan imannya bahwa asal ia dapat menjamah jubahnya Yesus saja maka ia percaya ia pasti sembuh (Mark. 5:28). Itulah tindakan iman. Tindakannya membuktikan imannya.

 

Ini juga menjadi masalah kebanyakan orang beriman atau orang percaya, yaitu hanya berhenti sampai percaya dan beriman tanpa menindaklanjutinya dengan tindakan yang sesuai. Akibatnya mereka tidak mendapatkan apa-apa dari imannya. Orang harus bertindak sesuai dengan iman, barulah orang itu sungguh-sungguh orang beriman.

 

Ketika kita bertindak sesuai dengan iman, maka kita akan memperolehnya sesuai dengan iman kita. Dengan tindakan iman kita “merebut” apa yang kita imani sehingga kita menerimanya, itulah yang dinamakan “hasil” dari iman.

 

Dalam mengimani orang seringkali orang memilih-milih. Memang dalam Firman Allah ada hal yang mudah untuk diterima dan ada yang sukar, ada yang mungkin dan ada yang mustahil bagi kita. Tetapi kita harus ingat bahwa apapun itu, semuanya itu adalah Firman Allah, Allahlah yang mengucapkannya, bukan manusia.

 

Seharusnyalah kita menerima dan mengimani sepenuhnya apa yang Allah firmankan sebab Allah yang mengucapkannya; apakah itu mudah atau sukar bagi kita, apakah itu mungkin atau mustahil bagi kita. Itulah iman.

 

Ingatlah Petrus yang merespon nasihat Tuhan Yesus untuk menebarkan jala di siang hari dengan mengatakan, “Karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (Luk. 5:5). Simon Petrus adalah nelayan yang berpengalaman (Mark. 1:16), dan Yesus secara manusia adalah anak tukang kayu (Mark. 6:3). Petrus sudah mencari ikan semalam-malaman dan tidak mendapatkan seekor pun (Luk. 5:5), apalagi di siang hari di mana ikan-ikan tidak akan ada di permukaan air. Tetapi karena di mata Petrus, Yesus bukanlah manusia biasa, tetapi Tuhan yang berkuasa, maka Petrus percaya kepada apa yang dikatakan Yesus, meskipun itu “mustahil” baginya. Dan ketika Petrus bertindak sesuai dengan imannya, maka Petrus mengalami mujizat yang luar biasa (Luk. 5:6-7). Inilah iman dan tindakan iman yang memberi hasil.

 

Kita harus mengimani Firman Allah seutuhnya karena itu adalah perkataan Tuhan sendiri yang Mahakuasa, yang berkuasa untuk mewujudkan apa yang Ia firmankan meskipun itu sukar bagi manusia dan bahkan mustahil, karena bagi Allah tidak ada yang sukar ataupun yang mustahil (Kej. 18:14; Yer. 32:27).

 

Kita juga harus percaya bahwa Allah adalah Allah yang mendengarkan doa-doa kita (Maz. 65:3). Bahkan jika kita berdoa dengan kesepakatan, doa kita akan dikabulkan. Karena Tuhan Yesus telah berjanji bahwa apabila (minimal) dua orang bersepakat di bumi maka permintaan mereka akan dikabulkan (Mat. 18:19). Mengapa? Karena jika ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya maka Tuhan sendiri berkenan hadir di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20).

 

Kesepakatan di sini berarti bahwa masalah yang satu menjadi masalah bagi yang lain, sehingga beban yang satu juga sungguh-sungguh menjadi beban bagi yang lain. Ini bukan hanya masalah berempati  atau turut merasakan sepenanggungan saja, tetapi yang satu sungguh-sungguh merasakan akibat dan penderitaan dari masalah dari yang lain.

 

Itulah sebabnya hal ini paling pas diterapkan pada pasangan suami isteri atau rumah tangga. Sebab masalah isteri sungguh-sungguh menjadi masalah dan beban bagi suami, dan sebaliknya masalah suami berakibat dan dirasakan langsung oleh sang isteri, sehingga ketika keduanya mendoakan masalah maka mereka benar-benar berdoa dalam kesepakatan yang dimaksudkan Tuhan. Atas kesepakatan yang seperti inilah Tuhan berjanji untuk mengabulkan permohonan doa mereka.

 

Hal lain juga dikarenakan, jika kedua orang itu bersekutu bersama-sama dalam nama Tuhan, maka Tuhan memastikan akan hadir, dan jika Tuhan hadir di tengah-tengah doa mereka tentulah Tuhan mendengarnya. Jika keduanya berdoa dengan kesepakatan, satu hati dan satu tujuan, maka Tuhan menghargai kesatuan hati mereka. Tuhan sangat menyukai dan menghargai kesatuan hati, kerukunan, keharmonisan, sebaliknya Ia membenci perpecahan, pertentangan, pertengkaran. Oleh sebab itu Ia akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa dalam keharmonisan, dalam kesatuan dan kesepakatan.

 

Kesepakatan dan kesatuan ini sebenarnya dapat diperluas bukan hanya antara suami-isteri saja, tetapi antara saudara dalam keluarga, antara saudara seiman, antara sahabat dalam Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan selalu mengutus orang berdua-dua dengan maksud supaya apabila mereka bersekutu dalam doa bersama, Tuhan akan hadir di antara mereka, dan apabila ada masalah yang mereka hadapi bersama mereka dapat berdoa dalam kesepakatan dan Tuhan mengabulkan doa mereka.

 

Dari “informasi” ini seharusnya timbul iman “percaya” kita akan potensi kuasa atau kekuatan dari kesatuan dan kesepakatan dalam Tuhan. Kemudian dari iman itu kita “bertindak” membangun persekutuan, kesatuan dan keharmonisan; dan dalam kesepakatan itu kita berdoa untuk masalah bersama yang sedang dihadapi. Itu adalah tindakan iman yang sesuai. Maka sesuai dengan iman kita jawaban doa akan datang dan doa kita akan berhasil.

 

Hanya saja perlu diperhatikan, yaitu jangan memakai doa seperti “paying” yang dipergunakan hanya bila hujan datang. Jangan hanya berdoa ketika sedang ada masalah. Berdoalah setiap waktu dan dengan konsisten, karena doa bukan hanya sarana untuk meminta tetapi juga sarana untuk bersekutu dengan Tuhan dan sarana untuk memuji dan mengucap syukur kepada-Nya; lagi pula kita berdoa bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja tetapi juga untuk kepentingan orang lain, bahkan untuk kepentingan bangsa.

 

Demikian pula kita harus percaya kepada kuasa dan otoritas yang Tuhan Yesus “telah” berikan dan simpan di dalam kita (Luk. 10:19). Ketika kita hendak hidup bagi Tuhan di dalam dunia ini, Tuhan Yesus mengetahui bahwa itu tidaklah mudah (Yoh. 16:33). Kita seperti domba yang hidup atau berada  di tengah-tengah serigala (Luk. 10:3).

 

Oleh karena itu Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus-Nya untuk masuk dan tinggal di dalam kita serta menyertai kita (Yoh. 14:17). Dan Roh Kudus yang Ia utus untuk menyertai kita bukanlah Roh yang biasa apalagi lemah, melainkan Roh yang luar biasa dan penuh kuasa (Ef. 1:19). Bahkan kuasa Roh Kudus itu adalah kuasa yang sama yang telah membangkitkan Tuhan Yesus dari antara orang mati (Ef. 1:20; Roma 8:11). Kuasa Roh Kudus adalah kuasa kebangkitan Kristus; kuasa yang mengalahkan kuasa dosa dan Maut (Roma 8:2). Kuasa Roh Kudus juga adalah kuasa yang sama dalam pelayanan Tuhan Yesus ketika di dunia (Luk. 4:14). Itulah kuasa yang Yesus katakan untuk “menginjak ular dan kalajengking” dan untuk “menahan kekuatan musuh” (Luk. 10:19).

 

Dari “informasi” ini kita seharusnya “percaya” dan yakin bahwa kuasa, otoritas dan kekuatan “sudah ada” di dalam kita. Yang diperlukan adalah “tindakan iman” supaya kuasa itu dapat “mengalir keluar” dan memberi “hasil.”

 

Inilah yang dilakukan oleh rasul Petrus ketika ia berjumpa dengan pengemis lumpuh di Bait Allah (Kis. 3:1-3). Ia mengatakan kepada pengemis yang lumpuh itu “apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu!” (Kis. 3:6).

Petrus mempercayai, mengimani dan menyadari bahwa ia memiliki kuasa, otoritas untuk bertindak, di dalam dirinya sebagaimana yang pernah dijanjikan Yesus (Kis. 1:8).

 

Yesus pernah berjanji bahwa para murid-Nya akan memperoleh kuasa jikalau Roh Kudus turun ke atas mereka (Kis. 1:8). Dan Petrus baru saja mengalami kepenuhan Roh Kudus di hari Pentakosta (Kis. 2:1-4), sebab itu ia begitu yakin bahwa ia mempunyai kuasa untuk bertindak di dalam nama Yesus.

 

Ketika ia percaya maka ia pun bertindak dengan mengatakan kepada pengemis lumpuh itu “Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu,” dan memerintahkan “berjalanlah!” Petruspun menolong orang itu bangkit dan berjalan. Maka orang itu pun berjalanlah (Kis. 3:8).

 

Petrus menerima “informasi” dari Tuhan Yesus, bahwa apabila Roh Kudus turun ke atasnya ia akan menerima kuasa. Ketika Roh Kudus turun ke atasnya Petrus pun “percaya” dan yakin sekarang bahwa kuasa Roh Kudus ada di dalam dirinya; bahwa ia sekarang mempunyai kuasa dan otoritas dari Roh Kudus. Maka Petrus pun bertindak sesuai imannya dengan menolong orang lumpuh berjalan dalam nama Yesus, maka ia pun menerima “hasilnya” yaitu mujizat kesembuhan yang dialami si pengemis lumpuh.

 

Ironisnya banyak orang yang katanya telah menerima Baptisan Roh Kudus tidak yakin, bahkan tidak tahu bahwa kuasa Roh Kudus yang dahsyat itu telah ada di dalam dirinya; bahwa otoritas untuk bertindak dalam nama Tuhan Yesus telah ia punyai. Itulah sebabnya mereka tetap saja hidup seperti orang Kristen biasa dan tidak melakukan tindakan iman yang luar biasa.

 

Kita telah menerima banyak “informasi” dari Firman Allah tentang Tuhan Yesus dan kuasa-Nya, baik dari membaca maupun mendengar. Langkah selanjutnya adalah “percaya.” Namun kita sering memilah-milah apa yang kita mau percayai. Kita lebih mempercayai yang hal-hal yang mudah daripada yang sukar, yang mungkin dari pada yang mustahil. Kita lupa bahwa semuanya itu adalah Firman Allah, yang diucapkan oleh Allah yang Mahakuasa dan benar dalam setiap perkataan-Nya.

 

Mungkin kita mau mempercayai seluruhnya sebagai Firman Allah. Tetapi kita sering tidak menindaklanjuti iman percaya kita dengan “tindakan” yang sesuai. Akibatnya iman itu tidak atau kurang berfaedah, hanya sebatas pengetahuan atau hal yang memotivasi saja tetapi tidak memberi “hasil” sebagaimana yang seharusnya, sehingga kita tidak memiliki atau kurang memiliki pengalaman yang luar biasa dari Firman yang kita imani. Marilah sekarang kita belajar bertindak sesuai dengan iman kita dengan menyadari bahwa Tuhan telah memberi kuasa dan kekuatan di dalam kita. Amin.  

 

(Ditulis kembali dari khotbah yang disampaikan oleh Bapak Ir. Handojo Sutikno di GSJP pada tanggal 12 Februari 2017).

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Untuk Pebisnis dan Profesional Yang Hendak Melayani (Bagian 2: Habis)

Untuk dapat memenuhi ketiga parameter pelayanan sejati, yaitu: “dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia,” maka ada tiga hal yang harus kita lakukan.

 



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.