top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN Mei 2018 : Minggu, 27/05/2018 Pk 17.00," Iman Dasar Keberhasilan, oleh : Bapak Ricky Wijaya " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Menari atau Tenang dalam Badai? PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi for Bapak Marco   
Tuesday, 28 February 2017 02:41

Selama di dunia ini kita akan terus menerus menghadapi dan mengalami perubahan. Satu-satunya yang tidak pernah berubah ialah perubahan itu sendiri. Perubahan adalah suatu keniscayaan karena kita hidup di dalam lingkup waktu, dan waktu selalu membawa perubahan. Hal ini telah dibahas dalam artikel sebelumnya yang berjudul “Di Tengah Perubahan.”

 

Perubahan-perubahan yang terjadi kadang-kadang datang seperti “Badai.” Sekarang kita akan membahas bagaimana sikap kita dalam menghadapi “badai,” apakah kita akan “menari” di tengah “badai” atau kita mengambil sikap “tenang dan diam.” Itu tergantung apakah ada faktor “kesalahan” kita di dalamnya atau tidak.

 

“Hidup bukanlah menunggu badai berlalu, tetapi tentang bagaimana menari dan tenang di tengah badai”

 

Untuk menghadapi “badai” kita perlu pegangan Firman yang mengandung janji Tuhan dan juga kehendak dan rencana Tuhan di dalamnya. Dengan memahami Firman itu dan menjadikannya “rhema” kita tidak akan berjalan dalam “ketitaktahuan dan ketidakpastian.” Ayat firman Allah yang dapat dijadikan pegangan salah satunya adalah Roma 8:28. Marilah kita mempelajarinya kembali secara seksama dan menghubungkannya dengan “badai” yang terjadi dalam hidup kita.

 

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28)

 

“Kita tahu.” Dari mana kita dapat mengetahui? Itu bisa dari pengalaman sendiri sebelumnya atau bisa juga dari (kesaksian) pengalaman orang lain. Sedangkan, “sekarang” adalah setelah firman ini dibagikan. Apa yang kita ketahui?

 

“Bahwa Allah.” Jadi bagi orang percaya, Allah berada di belakang semua yang terjadi; tidak ada yang terjadi kebetulan dan begitu saja, tetapi Allah adalah yang memegang kendali. Jadi hidup kita tidak “bergerak liar” begitu saja tetapi Allah mengendalikannya. Ia yang adalah Sumber kehidupan dan kekuatan kita, Ia juga yang mengendalikan jalan hidup kita, karena Ia adalah Allah Yang Mahakuasa dan yang penting Ia juga mengasihi kita.

 

“Turut bekerja.” Mengapa Allah turut bekerja? Karena “badai” itu adalah sesuatu yang melampaui kapasitas dan kemampuan kita sehingga kita tidak mungkin dapat menghadapinya dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Dan kuasa Allah itu melampaui situasi dan kondisi kita. Allah turut bekerja supaya kita jangan menjadi “korban badai” melainkan kita bisa “menunggangi badai,”  menguasai keadaan dan keluar sebagai pemenang.

 

“Segala sesuatu” adalah situasi dan kondisi yang terjadi, yang dapat berupa “badai,” yang diijinkan Tuhan terjadi untuk memproses kita sehingga kita menjadi seperti apa yang Tuhan kehendaki dan rencanakan.

 

“Mendatangkan kebaikan,” artinya “badai” ini bukan untuk membinasakan kita melainkan untuk membuat kita semakin kuat, semakin mengandalkan Tuhan, merasakan manisnya  perjalanan bersama dengan Tuhan (meskipun penuh tangisan), membawa kita naik ke level yang lebih tinggi dan menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29).

 

“Bagi mereka yang mengasihi Dia.” Ayat firman Allah ini bukan tanpa syarat dan tidak berlaku bagi “semua” orang, tetapi hanya “bagi mereka yang mengasihi Dia.” Apa artinya “mengasihi” Dia? Yohanes 14:21 menjelaskan:

 

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku…” (Yohanes 14:21).

 

Jadi mereka yang mengasihi Allah adalah yang “memegang dan melakukan” Firman Allah. Bagi mereka inilah janji Roma 8:28 berlaku.

 

“Melakukan” artinya memusatkan pikiran kita kepada Firman Allah, kepada perintah dan kehendak Allah sehingga kita dapat mengerjakannya. Jika pikiran kita dipusatkan atau diarahkan kepada hal yang lain di luar firman Allah maka kita tidak akan dapat melakukan firman Allah.

 

Sebagai contoh adalah pada kisah Petrus yang berjalan di atas air (Matius 14:28-31). Petrus ingin berjalan di atas air, suatu tindakan yang mustahil dilakukan oleh manusia. Oleh sebab itu Petrus memerlukan Firman Allah yang menyuruhnya untuk berjalan di atas air. “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” (ay. 28). Maka Yesus pun memberikan perintah-Nya: “Datanglah!” (ay. 29).

 

Tetapi Petrus hanya bisa melakukan perintah Tuhan, firman Tuhan, hanya ketika Petrus memusatkan pikiran dan pandangannya pada Yesus. “Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus” (ay. 29).

 

Tetapi kemudian, ketika Petrus mengalihkan pikiran dan padangannya bukan kepada Yesus, melainkan kepada “tiupan angin” maka takutlah ia dan mulai “gagal melakukan” Firman Tuhan (ay. 30).

 

Ketika kita terus menerus memusatkan pikiran dan pandangan kita kepada Yesus, maka kita akan semakin mampu melakukan firman Allah. Ketika kita mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal lain di luar firman Allah, maka kita akan “gagal” melakukan firman Allah dan malah kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Allah. Dan, ketika kita terus melakukan perintah Tuhan, maka kita secara otomatis sedang mengasihi Tuhan.

 

“Yang terpanggil” Mengapa? Sebab Tuhan Yesus memanggil kita untuk masuk dan mengalami rencana-Nya. Dan “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1 Tesalonika 5:24).

 

Tuhan Yesus memanggil kita karena Ia telah memiliki rencana untuk kita. Dan Ia bukan hanya mempunyai rencana untuk kita, Ia juga adalah Allah yang setia yang akan menggenapi rencana-Nya atas kita. Apakah rencana Tuhan atas kita?

 

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).

 

Nah, sekarang setelah kita memiliki landasan firman yang menjanjikan jaminan Allah bagi kita dalam menghadapi badai, kita akan belajar bagaimana sikap kita ketika badai datang dalam hidup kita. Ada dua sikap, tergantung kepada penyebabnya, seperti yang telah dikatakan di atas, apakah kita akan “menari” dalam badai, atau “tenang dan diam.” Kita akan mempelajarinya dari dua pengalaman yang berbeda yaitu pengalaman dari “Daud” dan pengalaman dari “Petrus.”

 

Pengalaman dari Daud ketika menghadapi Goliat (1 Samuel 17:4-7, 42):

 

Kita sudah sering mendengar dan membahas tentang pertempuran antara Daud melawan Goliat. Kita selalu menganggap Goliat itu hebat, sehingga pertarungan Daud melawan Goliat dianggap sebagai pertarungan yang tidak seimbang. Mengapa Allah memperhadapkan Daud kepada Goliat? Karena Allah mengetahui kelemahan Goliat. Allah mengetahui setiap detail dari badai yang Ia ijinkan untuk melanda hidup kita. Ia sudah memperhitungkannya dengan matang bahwa itu akan sesuai dengan kekuatan yang Allah telah berikan dan persiapkan untuk kita.

 

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13).

 

Goliat sebenarnya mempunyai kelemahan, tetapi selama ini kita melihat kehebatan fisiknya dan kehebatan perlengkapan senjatanya; Goliat dari Gat tinggi badannya lebih dari 3 meter, dengan kelengkapan pelindung tubuh berupa ketopong tembaga, baju zirah bersisik yang sangat berat, penutup kaki dari tembaga, lembing tembaga yang berat, serta seorang pembawa perisai berjalan di depannya (1 Samuel 17:4-7). Dari gambaran itu kita melihat kehebatan Goliat sehingga menjadi lawan yang tidak seimbang bagi Daud. Tetapi Allah mengetahui kelemahan Goliat dan Ia tahu Daud akan dapat menghadapinya.

 

Goliat yang badannya raksasa itu sebenarnya menderita penyakit yang disebut “Akromegali” yaitu kelainan pada hormon pertumbuhan yang berlebihan dan menyebabkan tubuhnya tumbuh seperti raksasa dan mengalami gangguan penglihatan, yaitu penglihatan ganda. Ia tidak bisa melihat jauh dengan jelas sehingga harus dituntun oleh pembawa perisainya, dan ia hanya dapat melakukan pertarungan jarak dekat dengan mengandalkan kekuatan fisiknya yang raksasa. Tubuhnya yang sangat besar membuat gerakannya lambat, dan pandangannya yang ganda menyebabkan ia melihat Daud membawa “banyak tongkat” (terj. Inggris: “staves”; ay. 43)

 

“And the Philistine said unto David, Am I a dog, that you come to me with staves?” (1 Samuel 17:43)

 

Jadi sebetulnya di balik badannya yang sangat besar dan senjatanya yang hebat, Allah telah melihat kelemahannya yaitu daya lihatnya yang lemah sehingga hanya bisa bertarung jarak dekat.

 

Sebaliknya Daud yang badannya kecil, lebih lincah. Dan ia juga terlatih dalam menggunakan umban (katapel). Keahlian menggunakan katapel ini juga dimiliki oleh banyak orang Israel. Mereka “dapat mengumban dengan tidak pernah meleset sampai sehelai rambut pun” (Hakim-hakim 20:16). Allah telah melatih Daud ketika ia menjadi gembala (1 Samuel 17:34-37), yaitu ketika ia berhadapan dengan singa dan beruang yang hendak menerkam kambing domba yang ia gembalakan. Daud mengumban singa dan beruang itu, dan ketika singa dan beruang itu roboh ia menghajar dan membunuhnya (ay. 34-35). Tentu saja Tuhan menolongnya dalam mengalahkan singa dan beruang itu. Tetapi Allah menggunakan keahlian Daud dalam mengumban. Dari pengalamannya yang dari Allah, Daud yakin dapat mengalahkan Goliat (ay. 36), tetapi dengan caranya dan keahliannya. Itulah sebabnya ia menolak untuk menggunakan senjata yang diberikan raja Saul sebab itu bukan keahliannya serta menghambat gerakannya (ay. 38-39).

 

Jadi ketika berhadapan dengan Goliat, Tuhan sudah memberi “jalan keluar” yaitu keahlian Daud dalam mengumban, sehingga ia “dapat menanggungnya.” Jadi bagi Daud, Goliat ini menjadi “pencobaan yang biasa, yang tidak melebihi kekuatannya.”

 

Daud mengambil lima batu licin dari dasar sungai (ay. 40). Batu ini berunsur “Barium Sulfat” yang memiliki berat jenis 2.1 sehingga jika diumban dengan kecepatan 120 km/jam, maka batu itu dapat mencapai jarak 30 meter hanya dalam satu detik dan memberikan momentum yang sangat besar sehingga bisa memecahkan tulang tengkorak. Artinya Daud bisa bertempur melawan Goliat dari jarak jauh, kurang lebih 30 meter. Sedangkan Goliat dengan kelemahan daya lihatnya menginginkan pertarungan jarak dekat satu lawan satu.

 

Daud mengumban Goliat dan batu yang diumbannya tepat mengenai dahi Goliat yang tidak terlindungi ketopong (ay. 49). Goliat tumbang dan mengalami gegar otak karena batu yang diumban Daud terbenam ke dalam dahinya. Daud tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menghampiri Goliat, menarik pedang Goliat dari sarungnya dan memancung kepalanya (ay. 51).

 

Demikianlah Daud mengalahkan Goliat dengan caranya.

 

Goliat adalah seperti “badai” yang Allah ijinkan untuk diperhadapkan dengan Daud “tanpa direncanakannya” (ay. 17-27). Tetapi Allah sudah mempersiapkan Daud sebelumnya, dengan melatih Daud menghadapi singa dan beruang. Allah juga telah mempersiapkan “jalan keluar” bagi Daud untuk menghadapai “badai” Goliat, yaitu keahliannya dalam mengumban. Jadi ketika “badai” Goliat itu datang Daud “menari dalam badai” dengan mempraktekkan keahlian yang Allah telah berikan.

 

Sekarang kita akan melihat kasus “badai” yang dihadapi Petrus.

 

Tuhan Yesus telah terlebih dahulu memberitahukan “badai” yang akan dialami Petrus:

 

“Yesus berkata kepadanya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkali Aku tiga kali.” (Matius 26:34)

 

Tuhan Yesus mengetahui bahwa Iblis ingin sekali menjatuhkan Petrus melalui badai yang akan terjadi.

 

“Simon, Simon, lihat Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum” (Lukas 22:31)

 

Bahkan Tuhan Yesus sudah berdoa untuk Petrus supaya ia berhasil melewati “badai” itu.

 

“Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Lukas 22:32).

 

Tetapi Petrus tidak mempercayainya karena ia yakin akan kekuatannya sendiri:

 

“Kata Petrus kepada-Nya: Sekalipun aku harus mati bersama-sama dengan Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (Matius 26:35).

 

Dan Petrus pun bertindak menurut egonya, yaitu dengan membawa pedang dan menyabet telinga hamba Imam Besar yang bernama Malkhus ketika sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah datang untuk menangkap Yesus (Yoh. 18:3-11).

 

Tetapi kemudian Petrus malah menyangkal Yesus sampai tiga kali. Yang pertama Petrus hanya menyangkal (Matius 26:70); kemudian kedua kali Petrus menyangkal dengan bersumpah (ay. 72); dan yang ketiga kali Petrus menyangkal dengan bersumpah  dan mengutuk (ay. 74). Dan setelah itu Petrus berjumpa dengan Tuhan Yesus dan saling beradu pandang (Lukas 22:61). Petrus pun teringat dengan perkataan Yesus yang telah memberitahukan sebelumnya tentang “badai” yang akan menimpanya. Petrus kemudian menyadari kesalahannya dan bertobat dengan penuh penyesalan (Lukas 22:62). Petrus begitu merasa bersalah sehingga ia kembali menjadi nelayan karena merasa tidak layak menjadi murid Yesus (Yohanes 21:3).

 

Tetapi kasih Tuhan Yesus kepada Petrus begitu besar. Petrus kembali berjumpa dengan Tuhan Yesus ketika ia sedang menjala ikan bersama dengan murid-murid lainnya dan mereka gagal untuk mendapatkan ikan seekor pun (ay. 3). Ini adalah pengaturan Tuhan.

 

Yesus mengingatkan tentang diri-Nya kepada murid-murid-Nya dengan menyuruh mereka menebar jala (ay. 6) dan membuat mujizat tangkapan ikan seperti yang pernah terjadi sebelumnya (Lukas 5:8). Yohanes yang ikut menangkap ikan bersama Petrus langsung mengenali Tuhan Yesus. Dan ketika Petrus sadar bahwa itu Yesus, Petrus jadi salah tingkah sehingga walaupun perahu mereka tidak jauh dari darat tetapi Petrus langsung terjun ke air berenang menghampiri Yesus (ay. 7). Dan bukan hanya itu sebelum ia terjun ia malah “mengenakan pakaiannya” dahulu; suatu tindakan yang aneh. Tetapi ini terjadi karena Petrus dipenuhi rasa malu dan bersalah.

 

Tuhan Yesus yang mengetahui perasaan Petrus yang penuh penyesalan dan rasa malu. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang penuh kasih kemudian mengambil inisiatif dan membuka kesempatan bagi Petrus. Melihat kesempatan ini Petrus tidak mau menyia-nyiakan, ia langsung berenang menghampiri Yesus. Tuhan Yesus kemudian berbincang dengan Petrus. Dalam perbincangan itu Tuhan Yesus sama sekali tidak menyinggung atau menegur kesalahan Petrus yang pernah menyangkali Yesus sampai tiga kali. Dalam hal penyangkalan ini sebetulnya apa yang dilakukan Petrus sama seperti apa yang dilakukan Yudas, hanya saja Yudas mengambil jalan pintas, yaitu membunuh dirinya karena tidak tahan menanggung rasa bersalah dan rasa malu (Matius 27:3-5).

 

Tuhan Yesus sama sekali tidak memarahi Petrus. Tuhan Yesus hanya bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya (Yohanes 21:15). Petrus menjawabnya bahwa Ia mengasihi Tuhan Yesus. Lalu Tuhan Yesus memberikan kepadanya tanggung jawab untuk menggembalakan domba-dombanya Tuhan. Inilah cara Tuhan Yesus memulihkan seseorang yang bertobat yang dipenuhi rasa malu dan bersalah, yaitu dengan memberinya tanggung jawab.

 

Tuhan Yesus kemudian bertanya kembali kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya, dan Petrus memberikan jawaban yang sama, bahwa ia sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus. Dan Tuhan Yesus pun mengulangi perintah-Nya yaitu untuk menggembalakan domba-domba-Nya (ay. 16).

 

Untuk ketiga kalinya Tuhan Yesus menanyakan apakah Petrus mengasihi-Nya, dan Petrus pun sedihlah lalu mulai mengakui kesalahannya. Tuhan Yesus tidak mau menanyakan secara langsung atau meminta Petrus untuk mengakui kesalahannya. Tuhan Yesus ingin pengakuan itu muncul dari diri Petrus sendiri. Pengakuan kesalahan itu penting untuk menuntaskan permasalahan.

 

Kita melihat betapa lembutnya hati Tuhan Yesus. Lalu Petrus pun mengatakan: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu (bahwa aku pernah menyangkali engkau tiga kali), Engkau tahu (juga), bahwa aku mengasihi Engkau” (ay. 17). Akhirnya Petrus pun dipulihkan. Ia berhasil melewati “badai” dalam hidupnya.

 

Itulah kasih Tuhan Yesus kepada kita, seperti yang dikatakan rasul Paulus “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus… melampaui segala pengetahuan” (Efesus 3:19-19).

 

Kita dapat melihat profil badai yang dapat datang melanda kita sebagai berikut, yaitu: “Persiapan menjelang badai” dan “Badai yang terjadi.”

 

Sebelum badai datang dalam hidup kita, Tuhan telah mempersiapkan terlebih dahulu, dengan melihat secara detail badai yang akan terjadi supaya sesuai dan tidak melebihi kekuatan kita untuk menanggungnya (1 Kor. 10:13). Karena Tuhan sudah melihat dan mengetahuinya maka sebenarnya kita akan aman dan selamat jika kita melewati badai itu sesuai dengan prinsip firman Allah.

 

Tuhan juga sudah mempersiapkan “jalan keluar’ yaitu kemampuan yang ia telah berikan melalui latihan dan persiapan sebelumnya (1 Korintus 10:13).

 

“Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit; yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga” (Mazmur 18:33-35).

 

Kemudian kita memasuki badai. Di awal badai itu kita harus tahu bahwa Allah turut bekerja dan tidak lepas tangan begitu saja (Roma 8:28); bahwa badai itu diijinkan untuk kebaikan kita, yaitu supaya kita bergantung kepada Dia dan naik tingkat. Kita juga harus tahu bahwa badai itu sudah diselidiki secara seksama lebih dahulu oleh Tuhan dan Tuhan sudah menyiapkan jalan keluarnya supaya kita dapat menanggungnya (1 Korintus 10:13).

 

Kemudian ketika badai itu terjadi maka kita juga harus mengetahui apakah badai itu terjadi karena kesalahan, seperti pada kasus Petrus; ataukah itu terjadi begitu saja tanpa kita duga, seperti pada kasus Daud.

 

Jika badai itu terjadi seperti pada kasus Daud, maka masukilah badai itu dan menarilah dalam badai itu sebab Tuhan sudah memberi kekuatan-Nya supaya kita dapat memenangkannya. Kita dapat berkata:

 

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).

 

Tetapi jika kita tahu ada faktor kesalahan pada diri kita sehingga kita juga tahu bahwa badai itu akan datang sebagai akibat, maka yang kita harus lakukan adalah firman Allah ini:

 

“Sebab  beginilah firman Tuhan Allah, Yang Mahakudus, Allah Israel: Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yesaya 30:15).

 

Kita harus bertobat dan jangan mengambil langkah bodoh seperti Yudas, yang akan lebih memperparah keadaan. Tetapi menangislah di kaki Tuhan, merendahkan diri dan mengakui kesalahan, maka Tuhan akan menolong dan memulihkan:

 

“Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” (2 Tawarikh 7:14).

 

Jika ini telah kita lakukan, maka diamlah dan tenanglah, jalanilah badai itu sampai selesai, karena setelah itu kita akan dipulihkan dan naik tingkat.

 

Di akhir badai kita akan mengerti:

 

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru, mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya (menunggangi badai); mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:31).

 

Amin. (Terima kasih pak Marco buat sharingnya di Ibadah Kingdom Business di GSJP tgl. 26 Februari 2017)

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Untuk Pebisnis dan Profesional Yang Hendak Melayani (Bagian 1)
Banyak pebisnis dan kaum profesi sekarang yang terjun ke dalam pelayanan termasuk dalam pelayanan firman atau berkhotbah. Memang Tuhan dapat memakai orang-orang awam seperti pebisnis dan profesional untuk melayani. Tujuan dari gerakan Kingdom Business juga adalah memobilisasi para pebisnis dan kaum profesional untuk terlibat secara langsung dalam pelayanan baik secara dana maupun dalam upaya. Tetapi sebelum kita terjun lebih jauh ke dalam pelayanan, baiklah kita belajar dari Firman Allah tentang pedoman-pedoman untuk melakukan Pelayanan Yang Sejati. Tidak semua kesibukkan kita di gereja dapat dikatakan pelayanan. Ada beberapa parameter yang perlu dipelajari dengan seksama supaya kita dapat memasuki Pelayanan Yang Sejati.

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday324
mod_vvisit_counterYesterday366
mod_vvisit_counterThis week1833
mod_vvisit_counterLast week6014
mod_vvisit_counterThis month15407
mod_vvisit_counterLast month33469
mod_vvisit_counterAll1120115

People Online 7
Your IP: 54.198.119.26
,
Now is: 2018-05-24 23:05



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.