top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...




PERTEMUAN KBN Agustus 2018 : Minggu,26/08/2018 Pk 17.00," Berkat Besar Dibalik Panggilan, oleh : Bpk. Pdt. Simon Irianto, Dipl. Text " Gedung Grand Matlenn (ex.Istana Gading) Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Kemurahan Hati PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Monday, 20 March 2017 06:48

Kemurahan hati didefinisikan sebagai sifat yang suka atau mudah memberi secara liberal. Lawan dari kemurahan hati otomatis adalah orang yang tidak suka atau sukar untuk memberi. Memberi dalam hal ini dapat berupa materi ataupun yang non-materi. Pemberian yang bersifat materi tentu saja yang bersifat benda, baik berupa uang maupun harta benda. Sedangkan pemberian yang bersifat non-materi dapat berupa memberi pertolongan atau memberi pengampunan.

 

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Lukas 6:36).

 

Allah adalah Bapa yang murah hati dan Ia juga menghendaki kita anak-anak-Nya memiliki sifat murah hati seperti Dia. Sebagaimana Allah Bapa demikian pula Tuhan Yesus, Anak Allah, memiliki sifat yang murah hati.

 

Kemurahan hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus juga dalam bentuk pemberian yang bersifat materi, dalam hal ini kekayaan bendawi. Tentu saja Allah tidak menurunkan dari sorga harta kekayaan tersebut dengan menjatuhkannya dari langit; tentunya ini akan sangat merepotkan. Tetapi Allah memberikan kepada anak-anak-Nya kasih karunia, yaitu berupa kemampuan dan kesempatan untuk memperoleh kekayaan. Tetapi seringkali manusia tidak menyadarinya dan mengklaim bahwa kekayaan itu diperoleh oleh kekuatan mereka sendiri.

 

“Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya…” (Ulangan 8:17-18).

 

Tuhan adalah Allah yang memberkati Abraham dengan kekayaan materi bukan hanya dengan berkat rohani. Eliezer pegawai Abraham memberi kesaksian bagaimana ia menyaksikan Allah telah memberkati tuannya:

 

“Lalu berkatalah ia: Aku ini hamba Abraham. Tuhan sangat memberkati tuanku itu, sehingga Ia telah menjadi kaya; Tuhan telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai” (Kejadian 24:34-35).

 

Tentu saja Tuhan tidak menjatuhkan langsung dari langit kambing domba maupun lembu sapi, emas perak maupun budak lelaki dan perempuan, serta unta dan keledai itu! Tetapi Tuhan  memberikan kepada Abraham kekuatan, kemampuan dan kesempatan untuk memperoleh semuanya itu, dan Abraham tidak melupakan atau menyangkali hal itu, sehingga Allah berkenan kepada Abraham. Orang yang melupakan dan menyangkali adalah “pencuri dan perampok” harta Allah sebab ia tidak mengakui harta kekayaannya adalah dari Allah dan milik Allah.

 

“Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikian firman Tuhan semesta alam” (Hagai 2:9).

 

Allah Bapa dikenal sebagai Allah Yang Menyediakan, Jehova Jirech. Ialah yang menyediakan kebutuhan umat-Nya. Tuhan Yesus mengatakan: “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu meminta kepada-Nya” (Matius 6:8). Itulah sebabnya kita dapat berdoa kepada Bapa yang di Sorga: “Berikanlah kami pada hari ini makanan (rejeki) kami yang secukupnya” (Matius 6:11).

 

Hidup dalam kecukupan saja sudah luar biasa. Segala yang kita perlukan kita memilikinya dengan cukup, tidak kekurangan suatu apapun, sehingga Paulus bisa berkata: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

 

Namun demikian Allah ingin memberikan lebih dari sekedar cukup, karena cukup berarti baru memenuhi kebutuhan pribadi. Allah ingin memberikan kelimpahan supaya kita dapat berbuat kebajikan kepada orang lain (2 Korintus 9:8). Tuhan Yesus juga mengatakan: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Ini semuanya adalah karena kemurahan hati Allah Bapa dan Anak Allah.

 

Orang Israel ketika keluar dari Mesir dibekali dengan harta kekayaan Mesir (Keluaran 12:35-36). Sayangnya dengan kekayaan itu mereka malah berbuat dosa dengan membuat patung berhala “anak lembu emas” sehingga Tuhan menghukum mereka (Keluaran 32). Namun demikian sepanjang perjalanan bangsa Israel di padang gurun selama 40 tahun mereka dipelihara oleh Tuhan; Tuhan menurunkan manna, memberikan air untuk diminum dan burung puyuh supaya mereka dapat makan daging (Keluaran 19:12-15). Setelah 40 tahun orang Israel memasuki Tanah Perjanjian yang subur dan berlimpah (Ulangan 8:7-10). Ini semua menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang murah hati, yang dalam kemurahan hati-Nya memberkati umat-Nya bukan hanya dengan berkat spiritual tetapi juga berkat material.

 

Tuhan Yesus - Anak Allah, juga adalah pemberi yang murah hati. Ia juga bermurah hati dalam memberikan berkat yang berbentuk materi.

 

Kita ingat kisah Petrus (Lukas 5:1-7). Pada waktu itu usaha Petrus mencari ikan semalam-malaman tidak menghasilkan apapun; tidak seekor ikan pun berhasil ia tangkap. Dalam istilah zaman sekarang bisnis Petrus sedang lesu dan omzet penjualannya nol besar.

 

Di saat seperti itu Yesus “kebetulan” sedang pelayanan di tempat itu, di pantai Danau Genesaret. Orang-orang yang mendengarkan Dia datang bergerombol mengerumuni Dia. Lalu Yesus meminjam perahu Simon Petrus yang tertambat di pantai untuk digunakan sebagai podium untuk berkhotbah.

 

Setelah selesai berkhotbah lalu Yesus mengajak Simon untuk mencari ikan. Yesus ternyata mau pergi menyertai kita dalam berbisnis atau mencari nafkah. Dan ketika Yesus menyertai usaha kita, maka usaha kita pasti berhasil, bahkan berhasil secara luar biasa.

 

Yesus menyuruh Simon menebarkan jala; berusaha memang adalah bagian kita. Tetapi Yesuslah yang membuat ikan-ikan itu naik ke permukaan air sehingga dapat ditangkap jala; penyertaan Tuhanlah yang membuat kita sukses dalam usaha kita.

 

“Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab Tuhan menyertai Dia” (1 Samuel 18:14).

 

Maka, Petruspun mendapat tangkapan terbesar seumur hidupnya: tangkapan ikan dua perahu penuh.  Ini membuktikan kemurahan hati Yesus, Anak Allah, yang memberi berkat materi secara kelimpahan.

 

Demikian pula yang diperbuat Yesus ketika melihat orang banyak yang sudah mengikuti Dia dan mendengar pengajaran Yesus seharian (Lukas 9:10-17). Murid-murid mendesak Yesus untuk menyuruh orang banyak pulang dengan perut kosong. Tetapi Yesus tidak tega dan Ia ingin memberi makan mereka. Murid-murid kebingungan sebab mereka hanya mempunyai 5 roti dan 2 ikan saja. Yesus kemudian meminta kelima roti dan dua ikan itu lalu Ia memberkati dan memecah-mecahkannya serta menyerahkan kepada murid-murid-Nya untuk dibagikan kepada orang-orang. Dan orang banyak itu yang jumlahnya lebih dari 5000 orang makan sampai puas dan masih ada sisa potongan roti sebanyak 12 bakul. Di sini kita melihat lagi kemurahan hati Tuhan Yesus dalam memberikan berkat materi secara berlimpah.

 

Kemurahan hati Allah juga adalah dalam memberikan pengampunan. Dalam Yesaya 1:18 Allah mengajak kita untuk tidak bersembunyi atau melarikan diri melainkan untuk duduk dan menyelesaikan masalah dosa kita di hadapan-Nya sebab Ia sendiri siap untuk mengampuni dan menyucikan dosa-dosa kita serta melupakannya. Allah menunjukkan kehebatan-Nya bukan dalam kemampuan-Nya mengetahui dan mengingat setiap dosa semua manusia di bumi sepanjang sejarah. Tetapi kehebatan-Nya adalah dalam kemurahan hati-Nya yang tidak terhingga dalam mengampuni dan melupakan semua dosa manusia yang datang kepada-Nya mengakui dosa mereka, bertobat dan memohon pengampunan-Nya.

 

“Marilah, baiklah kita berperkara! – firman Tuhan – Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju … “ (Yesaya 1:18)

 

“Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mazmur 103:12).

 

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita” (1 Yohanes 1:9)

 

Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang juga sangat murah hati dalam memberi pengampunan. Ketika Ia disalibkan Ia mengampuni orang-orang yang telah menyiksa-Nya dan menyalibkan-Nya dengan mengatakan: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Padahal Tuhan Yesus memiliki otoritas dan kekuasaan yang sangat besar, Ia dapat memerintahkan 12 legiun malaikat untuk menolong Dia dan membunuh orang-orang itu kalau Ia mau (Matius 26:53); tetapi Ia tidak mau melakukannya.

 

Pada umumnya orang yang memiliki kekuasaan yang besar tergoda untuk menggunakan bahkan menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan dirinya. Tetapi karena Yesus adalah Anak Allah yang murah hati maka Ia tidak menggunakannya, bahkan Ia memberikan pengampunan-Nya dengan luar biasa.

 

Tuhan Yesus juga begitu bermurah hati kepada Simon Petrus yang telah menyangkali mengenal Dia sebanyak tiga kali di hadapan orang-orang; bahkan ia menyangkal dengan bersumpah dan mengutuk (Matius 26:70-74). Namun demikian setelah kebangkitan ketika Yesus berjumpa dengan Simon Petrus Ia tidak mengungkit-ungkit masalah tersebut apalagi memarahai atau menegur Simon Petrus atas penyangkalannya. Yesus hanya bertanya kepada Simon apakah ia masih mengasihi Dia. Dan ketika Petrus mengiyakannya, maka Yesus memberinya tanggung jawab untuk menggembalakan domba-dombanya Tuhan (Yohanes 21:15-17), bukan memecatnya menjadi murid-Nya. Ini adalah bukti kemurahan hati Tuhan dalam memberikan pengampunan bahkan kepada orang yang menyakiti Dia.

 

Allah juga adalah Bapa yang murah hati yang suka memberi pertolongan. Daud mengatakan bahwa “sebagai Penolong dalam kesesakan, (Ia) sangat terbukti” (Mazmur 46:2); dapat diandalkan dan selalu menolong tepat pada waktunya. Ia tidak pernah enggan dan bosan menolong kita jika kita berseru kepada-Nya memohon pertolongan, mengandalkan Dia dan menaruh kepercayaan kita kepada-Nya.

 

Tuhan Yesus juga adalah Anak Allah yang sangat murah hati dalam memberi pertolongan. Ia menggambarkan kemurahan hati-Nya dalam menolong orang yang menderita dalam perumpamaan tentang “Orang Samaria Yang Baik Hati” (Lukas 10:25-37) sebab orang-orang Yahudi pernah menuduh-Nya sebagai “Orang Samaria Yang Kerasukan” (Yohanes 8:48). Dalam perumpamaan itu Tuhan Yesus menunjukkan kemurahan hati-Nya dengan belas kasihan dan pertolongan-Nya yang tidak setengah-setengah.

 

Tuhan Yesus ingin selalu menolong anak-anak-Nya. Oleh sebab itulah Ia meminta kepada Bapa supaya Bapa mengutus Roh Kudus untuk masuk dan tinggal dalam orang percaya sebagai Penolong yang akan menyertai mereka selama-lamanya dan menolong mereka (Yohanes 14:16-17; 1 Korintus 3:16). Pengutusan Roh Kudus sebagai Allah Penolong adalah bukti kemurahan hati Tuhan Yesus dalam menolong kita.

 

Dari penjelasan di atas kita dapat melihat bahwa Allah Bapa dan Tuhan Yesus, Anak Allah, adalah Pribadi yang sangat murah hati yang menunjukkan kemurahan hati-Nya dengan suka dan mudah memberikan secara berlimpah baik berkat material maupun non material berupa pertolongan dan pengampunan.

 

Kemurahan hati Allah bersumber dari kasih Allah, karena Allah adalah Kasih (1 Yohanes 4:8, 16). Allah adalah Kasih yang Berpribadi. Kasih adalah sifat dan hakekat (natur) Allah sendiri. Kasih dan kemurahan hati Allah menjadikan Allah Yang Mahakudus, Mahabenar, Mahaadil dan Mahakuasa menjadi “aman” bagi kita (Human Friendly). Sebab jika Allah tidak murah hati maka kita, manusia yang berdosa, tidak suci, tidak benar dan sering berbuat hal yang jahat akan “musnah” di hadapan Allah Yang Mahakuasa. Oleh karena kasih dan kemurahan hati-Nya maka kita manusia yang seperti itu dapat tetap hidup di hadapan-Nya, mendapat berkat-Nya, pertolongan-Nya dan pengampunan-Nya.

 

“Sesungguhnya, Tuhan, Allah kita, telah memperlihatkan kepada kita kemuliaan dan kebesaran-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup” (Ulangan 5:24).

 

Sekarang Allah Bapa menghendaki agar kita, orang percaya, yang telah diadopsi oleh-Nya menjadi anak-anak-Nya (Yohanes 1:12) memiliki sifat dan sikap murah hati yang sama dengan Dia (Lukas 6:36). Karena dengan demikian kita memiliki keserupaan dengan gambaran Kristsus, Anak-Nya (Roma 8:29), dan inilah yang membuat Allah Bapa berkenan akan kita (Matius 3:17).  Bagaimana kita harus menunjukkan kemurahan hati kita?

 

“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan” (Amsal 11:24).

 

Yang pertama adalah dengan menjadi pribadi yang mudah dan suka memberi dengan liberal (royal). Kemurahan hati dalam hal memberi adalah salah satu tanda pertobatan sejati. Kita melihat hal ini dalam diri Zakheus (Lukas 19:1-10).

 

Zakheus adalah seorang pemungut cukai (pajak) yang berkerja pada pemerintahan penjajah, Romawi. Ini membuat bangsa Yahudi tidak menyukainya. Apalagi dalam memungut pajak ia seringkali memeras orang sebangsanya, sehingga walaupun ia kaya ia dibenci orang. Ia merasa lelah dengan kehidupan yang seperti ini dan ia ingin memiliki kehidupan yang lain. Ia ingin bertobat dan hidup dalam kelegaan.

 

Zakheus mendengar tentang seorang yang bernama Yesus yang memberi pintu bagi orang berdosa seperti dirinya untuk bertobat dan memulai hidup baru. Yesus tidak pernah menolak atau mengucilkan orang berdosa. Kenyataannya malah Ia mencari mereka dan bergaul (Matius 9:10; Lukas 15:1) dengan mereka supaya mereka dapat bertobat dan memiliki kehidupan yang baru.

 

Ketika Zakheus mendengar Yesus sedang ada di kota Yerikho di mana ia tinggal. Zakheus tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia berusaha melihat Yesus bahkan dengan memanjat pohon ara karena badannya kecil. Yesus melihat kerinduan hati Zakheus dan Ia menoleh ke atas pohon dan menyuruh Zakheus turun sebab Ia mau berkunjung ke rumahnya.

 

Zakheus sangat bahagia. Ia pun menerima Yesus ke dalam rumahnya. Sebagi ungkapan rasa kegembiraannya setelah pertobatannya maka Zakheus berniat menyumbangkan separuh hartanya untuk orang miskin dan mengganti rugi orang yang pernah diperasnya empat kali lipat. Ini adalah kemurahan hati Zakheus yang menjadi tanda pertobatannya.

 

Banyak orang Kristen yang katanya sudah bertobat dan dibaptis tetapi mereka tidak murah hati dalam memberi hartanya alias pelit. Orang berkelakar mengatakan bahwa itu disebabkan karena ketika mereka dibaptis dompetnya dititipkan karena takut basah sehinggga tidak ikut dibaptis dan bertobat.  Seharusnyalah orang yang sungguh-sungguh bertobat dan lahir baru sebagai anak-anak Allah memiliki sifat murah hati seperti Allah Bapa yang murah hati dan suka memberi dengan kelimpahan (Yohanes 10:10).

 

Kemurahan hati membuat seseorang dinilai kaya di hadapan Allah. Seorang janda miskin yang memberi dua peser ke kotak persembahan dinilai Yesus memberi lebih banyak daripada yang diberikan orang kaya (Markus 12:42-44). Seorang yang miskin secara harta tetapi murah hati adalah orang yang kaya di hadapan Allah.

 

Demikian pula Jemaat di Makedonia (2 Korintus 8:1-3) meskipun mereka miskin dan dalam kesusahan tetapi mereka kaya dalam kemurahan hati sehingga mereka tetap bersukacita. Kemiskinan dan kesusahan sering kali membuat orang menjadi egois dan tidak peduli dengan orang lain. Tetapi jika orang tetap murah hati di tengah kemiskinan dan kesulitannya, ia akan dapat tetap bersukacita dan Allah akan melakukan mujizat-Nya untuk orang itu. Ingat saja dengan janda di Sarfat (1 Raja-raja 17:9-15) yang hanya memiliki tepung segenggam dan minyak sebuli-buli kecil untuk makanan ia dan anaknya, dan sesudah itu ia pun tidak tahu bagaimana melanjutkan hidupnya. Tetapi ketika si janda itu tetap bermurah hati dengan mau memberi makan nabi Elia, maka Allah melakukan mujizat-Nya sehingga si janda itu dan anaknya tidak kekurangan makanan selama musim paceklik.

 

Kemurahan hati adalah tindakan iman sehingga Allah berkenan melakukan mujizat-Nya untuk menolong. Kemurahan hati kita kepada sesama akan dibalas Allah dengan kemurahan hati-Nya.

 

Tetapi orang kaya yang berlimpah harta jika ia tidak memiliki kemurahan hati, maka ia dianggap miskin dan tidak berguna bagi Allah (Lukas 12:16-21). Dan jika seseorang tidak berguna maka tidak ada perlindungan dan pembelaan Allah baginya. Orang kaya itu pun mati dengan sia-sia meninggalkan hartanya untuk orang lain dan tidak sempat menikmatinya (ayat 20).

 

Orang kaya yang tidak murah hati dan bahkan tega melihat orang sengsara di dekatnya, maka nasibnya akan dibalikkan oleh Tuhan. Orang kaya yang tidak murah hati akan mengemis minta kemurahan hati orang yang dikejaminya. Itulah inti kisah perumpamaan orang kaya dan Lazarus yang miskin (Lukas 16:19-24).

 

Kemurahan hati juga harus ditunjukkan dalam hal non-materi yaitu dalam memberikan pengampunan dan pertolongan.

 

Dalam memberikan pengampunan Tuhan Yesus ingin agar kita bermurah hati seperti Dia yang sudah begitu bermurah hati kepada kita dengan mengampuni dosa dan kesalahan kita kepada-Nya yang tidak terhitung jumlahnya. Memang orang lebih mudah menghitung hutang uang daripada menghitung hutang dosanya kepada Tuhan. Oleh karena itulah maka Tuhan memberikan ilustrasi tentang nilai hutang dosa kita kepada Tuhan jika mau dinilai dengan uang (Matius 18:21-35).

 

Ia memberikan ilustrasi tentang seorang yang berhutang 10.000 talenta kepada seorang raja. Jika dihitung dengan nilai uang sekarang dan dibandingkan dengan nilai UMR (upah minimum yang ditetapkan pemerintah) maka hutang 10.000 talenta adalah kurang lebih senilai dengan uang 5 triliun rupiah per orang. Seandainya dicicil hutang yang 5 triliun itu selama 100 tahun maka setiap harinya orang harus membayar sekitar 137 juta rupiah. Suatu beban yang sangat berat sekali. Oleh sebab itulah maka raja itu berbelas kasihan dan memberikan kemurahan hati dengan menganggap lunas hutangnya. Itulah kemurahan hati Tuhan kepada kita dengan membatalkan surat hutang dosa kita di kayu salib oleh kematian Tuhan Yesus Kristus. Kita semua masing-masing adalah orang yang telah menerima kemurahan hati Allah melalui pengampunan yang kita terima. Bahkan mungkin hutang dosa kita jika dinilai lebih besar dari itu.

 

“… Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang yang oleh ketentuan-ketentuan hukum, mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib” (Kolose 2:13-14).

 

Oleh sebab itu Tuhan menghendaki kita bermurah hati kepada orang lain yang bersalah kepada kita, yang menurut perhitungan Tuhan hanya senilai 100 dinar atau kurang lebih 8.3 juta rupiah saja.

 

Tetapi jika kita tidak bermurah hati dengan memberikan pengampunan kepada saudara kita yang bersalah kepada kita maka Tuhan juga tidak akan mengampuni kita.

 

“Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu (dengan memberikan pengampunan kepada dia) seperti Aku telah mengasihani engkau (dengan memberikan pengampunan yang berlimpah kepadamu)?” (Matius 18:33).

 

Tujuh puluh kali tujuh kali pengampunan bagi saudara kita yang bersalah kepada kita menggambarkan kemurahan hati yang harus kita miliki dalam mengampuni saudara kita (Matius 18:22).

 

Sebab seberapa besar kemurahan hati kita dalam memberikan pengampunan sebegitu besarlah kemurahan hati Allah yang akan kita terima. Inilah yang diajarkan Tuhan dalam Doa: “Ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami” (Lukas 11:4).

 

Jika kita tidak bermurah hati dalam memberikan pengampunan maka Allah pun tidak akan mengampuni kita: “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu (menghukummu), apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Matrius 18:35).

 

Kita juga harus menunjukkan kemurahan hati dengan suka menolong orang lain. Kita harus memiliki belas kasihan illahi, belas kasihan “Orang Samaria yang baik hati”. Ketika kita bermurah hati kepada orang lain sebetulnya kita sedang berbuat baik kepada diri sendiri:

 

“Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri” (Amsal 11:17).

 

Mengapa? Sebab kemurahan hati yang kita lakukan kepada orang lain dengan menolong mereka akan dipahalai dengan kemurahan hati Allah. “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan (dari Allah)” (Matius 5:7).

 

Mazmur 41:2-4 menuliskan tentang hal ini:

 

“Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! Tuhan akan meluputkan dia pada waktu celaka. Tuhan akan melindungi nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! Tuhan membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya!”

 

Luar biasa sekali dampak kemurahan hati. Tuhan akan melindungi orang yang murah hati, karena orang tersebut berguna dan bernilai di mata Allah. Jadi kemurahan hati adalah perlindungan bagi kita. Tuhan bahkan akan membela kita terhadap “musuh-musuh” kita dan tak membiarkan kita dipermainkan olehnya. “Musuh-musuh” adalah hal-hal negatif dan merugikan yang dikirimkan oleh si Jahat untuk “mempermainkan” kita. Yang lebih luar biasa lagi, kemurahan hati kita akan membuat kita menerima kemurahan hati Allah ketika kita terbaring sakit di ranjang. Kemurahan hati Allah akan menyembuhkan dan memulihkan kita dari sakit kita. Itulah sebabnya orang yang murah hati adalah orang yang berbahagia; orang yang diberkati dan beruntung. Sementara orang yang kejam dan pelit tidak akan bahagia hidupnya. Marilah kita bermurah hati, sebab tanpa kemurahan hati maka perkataan kesaksian kita menjadi hampa, kurang berarti dan akan berbalik menjadi bahan kritikan orang yang tidak percaya, bahkan saudara seiman sendiri.

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Menjadi Orang Percaya Sejati

Bagaimana orang percaya hidupnya dapat diberkati dan memberkati orang lain? Ia harus hidup sebagai orang percaya sejati. Orang percaya sejati bukanlah orang yang sempurna. Ia bukanlah “manusia setengah dewa” yang  tidak pernah salah dan tidak memiliki kelemahan. Hanya Tuhan Yesus, Anak Manusia yang berasal dari sorga yang tidak berdosa dan tidak pernah berbuat dosa (2 Korintus 5:21; Ibrani 4:15). Jadi seperti siapa orang percaya sejati itu? Siapa yang dapat dijadikan contoh sehingga kita dapat mengikutinya?




Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.