top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...




PERTEMUAN KBN Oktober 2018 : Minggu,28/10/2018 Pk 17.00," IMPACT NOT IMPRESS, oleh : Bpk. Marco " Gedung Grand Matlenn (ex.Istana Gading) Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Membaca Situasi Sekarang dari Sudut Pandang Allah PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Tuesday, 30 May 2017 05:26

 

Sebagai orang percaya kita harus dapat membaca situasi sekarang bukan dari sudut pandang dunia yang hanya memberikan kepada kita ketidakpastian, ketakutan dan keputus-asaan, tetapi dari sudut pandang Allah yang memberikan kepada kita harapan. Allah adalah Allah yang memiliki rencana dan tujuan. Ia tidak mengerjakan sesuatu tanpa perencanaan dan persiapan. Ia selalu dengan hati-hati dan teliti membuat rencana-Nya, mempersiapkan dan menyediakan segala yang diperlukan supaya dapat terlaksana.

 

Sumber untuk kita mengetahui sudut pandang Allah adalah dari firman-firman-Nya yang tertulis dalam Alkitab. Tetapi untuk mendapatkan penyingkapan dari Alkitab kita memerlukan Roh Kudus-Nya. Mengapa Roh Kudus? Karena Ialah yang menyelidiki dan mengetahui rahasia hati Allah dan menyingkapkannya kepada kita (1 Kor. 2:10).

 

Mengetahui isi hati Allah (1 Kor. 2:11) atau memiliki pikiran Kristus (1 Kor. 2:16) adalah satu-satunya cara untuk memiliki sudut pandang yang benar dalam melihat situasi. Ini adalah penting untuk menghindari kita dari kekuatiran yang tidak perlu atau membuat tindakan yang keliru.

 

Ketika kita melihat situasi sekarang dari perspektif Allah kita harus bertanya: Apakah situasi yang sebenarnya sedang terjadi? Apa rencana dan tujuan Allah di balik situasi ini? Apa yang Allah ingin kita lakukan dalam mengambil bagian untuk membuat rencana dan kehendak-Nya terjadi?

 

Salah satu ayat yang sangat informative yang dapat memberikan jawaban yang jelas dari pertanyaan di atas adalah dalam Yesaya 60:1-7; nubuatan nabi Yesaya tentang situasi dunia di akhir zaman.

 

Yesaya 60:2 menyatakan situasi sekarang sebagai: “Kegelapan (yang) menutupi bumi dan kekelaman (yang) menutupi bangsa-bangsa.” Kita dapat melihat kenyataan ini dengan jelas hari-hari ini tepat di depan mata kita sendiri, baik yang bersifat regional maupun global yaitu, terorisme, konflik sosial, situasi ekonomi yang tidak dapat menentu, peperangan di berbagai tempat dan ancaman perang nuklir. Tetapi situasi ini hanyalah satu sisi dari kehidupan di dunia. Situasi kehidupan di sisi lainnya sangatlah berbeda, yaitu: “terang Tuhan terbit atasmu dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.”

 

Seperti sisi berseberangan dari bulatan bumi yang selalu memiliki situasi yang berbeda: jika satu sisi sedang gelap karena malam, maka di sisi lainnya ada cahaya siang yang terang. Ketika kegelapan menimpa kehidupan di luar Kristus, maka terang malah terbit bagi orang-orang yang hidup di dalam Kristus.

 

Di dalam Alkitab kita dapat membaca situasi yang mirip yaitu yang terjadi dalam sejarah purba Israel ketika orang Israel hidup di Mesir di zaman Musa. Ketika tulah kegelapan menimpa seluruh wilayah Mesir, di tempat orang Israel tinggal, yaitu di Gosyen, ada terang di tempat kediaman mereka (Kel. 10:23).

 

Apa rencana dan tujuan Allah dalam situasi seperti ini? Ia hendak mengadakan pembedaan antara orang yang percaya kepada-Nya dan orang yang tidak percaya, antara orang benar dan orang fasik, antara yang beribadah kepada-Nya dan yang tidak beribadah (Maleakhi 3:18). Dengan perbedaan seperti itu maka rencana Allah akan terjadi. Yesaya menubuatkan hal ini: “Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu” (Yes. 60:3).

 

Apa yang dimaksud dengan “terang” di sini? Terang yang terbit dan bersinar atas umat Allah adalah “kebaikan Allah Bapa.” Kebaikan Allah adalah terang sejati manusia yang membuat hidup jadi bersinar. Terang membawa kepastian, pengharapan dan kebahagiaan. Tanpa kebaikan Allah hidup manusia ada dalam kegelapan: tanpa kepastian, tanpa harapan dan menyedihkan.

 

Terang itu menarik. Terang menarik mahluk untuk datang kepadanya. Demikian pula kebaikan Allah menarik orang untuk datang. Dan orang-orang percaya harus mencerminkan kebaikan Allah melalui kehidupan mereka, melalui percakapan mereka, melalui sikap mereka, sehingga orang melihatnya dan memuliakan Bapa yang di Sorga. Biarlah terang kebaikan Allah yang bersinar melalui kita menarik orang-orang untuk datang kepada Yesus supaya dapat mengenal Bapa, Allah yang esa dan benar.

 

Ketika kebaikan Bapa bersinar dengan terang atas orang-orang percaya, maka Gereja Tuhan di bumi akan ditinggikan melampaui semua kepercayaan manusia. Mikha menulis tentang hal ini: “Akan terjadi pada hari-hari terakhir: gunung Rumah Tuhan akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: Mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman Tuhan dari Yerusalem” (Mikha 4:1-2).

 

Jadi, Allah kita adalah Allah yang memiliki rencana dan tujuan, bahkan dalam situasi tersulit sekalipun. Selama Allah memiliki rencana dan tujuan kita akan aman, bahkan ketika kegelapan menutupi bumi dan bangsa-bangsa. Keadaan yang terjadi tidak akan bergerak seperti bola liar dan menghancurkan rencana dan tujuan Allah, terutama bagi anak-anak-Nya yang kekasih.

 

Rencana dan tujuan Allah adalah untuk umat-Nya dan Kerajaan-Nya. Dan kita adalah bagian dari rencana-Nya dan bahkan menjadi rekan kerja Allah. Oleh karena itulah kita berdoa: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Matius 6:10).

 

Melalui situasi ini Allah juga memiliki rencana untuk mengalihkan kekayaan bangsa-bangsa kepada umat Allah: “Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu” (Yesaya 60:5). Karena seluruh kekataan di bumi adalah milik Tuhan sebagaimana dituliskan dalam Hagai 2:9: “kepunya-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman Tuhan semesta alam.” Tetapi saat ini sebagian kekayaan Allah dipegang orang yang tidak percaya dan sebagian lagi dipegang orang percaya (anak-anak Tuhan), dan Allah Bapa bermaksud untuk mengalihkan kekayaan dari “kantong” orang yang tidak percaya kepada “kantong” anak-anak-Nya, orang percaya.

 

Kejadian seperti ini sebenarnya pernah terjadi pada zaman dahulu, yaitu ketika umat Israel hendak keluar dari tanah perbudakan di Mesir. Selama 430 tahun umat Israel menjadi bangsa budak dan tidak memiliki kesempatan untuk menikmati harta kekayaan. Tetapi pada waktu mereka keluar dari Mesir, Tuhan membuat orang-orang Mesir menyerahkan dengan sukarela harta berharga mereka kepada orang Israel, sehingga hanya dalam satu malam saja orang Israel bisa memiliki seluruh kekayaan orang Mesir. Orang Israel diberi harta kekayaan orang Mesir sehingga mereka dapat membangun Tabernakel di padang gurun dengan perkakas yang berlapis emas dan perak serta dihiasi dengan berbagai batu permata yang indah dan berharga. Inilah contoh pengalihan kekayaan bangsa-bangsa, yang akan terjadi lagi di akhir zaman.

 

Tetapi pertanyaannya adalah, apakah kita siap untuk menjadi bagian dalam rencana yang luar biasa ini? Ini adalah terobosan ekonomi bagi orang-orang percaya. Untuk itu kita harus memiliki kondisi mental dan spiritual (rohani) yang sesuai supaya kita siap untuk mengalami terobosan ini dan terobosan ekonomi ini tidak (sebaliknya) menghancurkan iman dan mentalitas kita.

 

Alkitab memperingatkan kita ketika berkata: “Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan, apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya” (Mazmur 62:10). Kita harus mengatur hati kita dengan benar karena “di mana ada hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21).

 

Jika orang percaya masih melekatkan hatinya pada kekayaan mereka, maka akan berbahaya bagi mereka jika mereka menerima terobosan ini, karena mereka akan dengan mudahnya melupakan Tuhan. Mereka akan sibuk dengan kekayaan mereka dan tidak memiliki waktu untuk Tuhan.

 

Mereka hanya akan memberikan “sepuluh persen komisi” saja kepada Tuhan dan ditambah sejumlah sumbangan lainnya dan kemudian mereka akan melepaskan tanggung jawab mereka untuk membangun Kerajaan Allah di bumi dan membuat kehendak Allah terjadi di bumi seperti di sorga. Mereka akan mengalihkan tanggung jawab mereka dalam melaksanakan Amanat Agung kepada orang-orang yang mereka sebut “pelayan Tuhan.”

 

Ibadah mereka bukan untuk mencari Pribadi sang Pemberi Berkat tetapi hanya mencari berkat-Nya saja. Iman mereka sangat rentan, bertambah kuat hanya ketika kekayaan mereka bertambah dan melimpah. Tetapi ketika mereka kehilangan sebagian kekayaan mereka, mereka menjadi sangat susah hati dan kan bekerja mati-matian untuk mengembalikannya, sehingga mereka semakin tidak mempunyai waktu sama sekali untuk Tuhan dan mulai mundur dari Gereja. Mereka akan mengorbankan apa saja untuk kekayaan mereka, bahkan iman dan kehidupan mereka sendiri. Kepada orang-orang Kristen yang seperti itu Allah tidak akan melibatkan mereka dalam rencana-Nya untuk “pengalihan” kekayaan bangsa-bangsa.

 

Kita harus mengetahui tujuan sebenarnya dari pengalihan kekayaan bangsa-bangsa ini: yaitu untuk menjadikan Gereja Tuhan berkat bagi semua bangsa di bumi. Jadi bukan untuk memperkaya diri, tetapi untuk memuliakan Allah dan memberkati orang lain.

 

Rencana luar biasa lainnya yang Allah akan wujudkan adalah pertobatan dari “saudara-saudara kita” yang percaya kepada Allah tetapi belum menemukan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Nabi Yesaya menubuatkan tentang hal ini dalam Yesaya 60:7: “Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku dan Aku akan menyemarak-kan rumah keagungan-Ku.”

 

Jumlah populasi mereka di dunia sangat besar. Banyak dari mereka yang tulus hati mencari Allah yang benar dan hidup takut akan Allah. Dalam Kitab Suci mereka terdapat banyak informasi mengenai Kristus sang Mesias. Tetapi karena mereka salah menafsirkan tentang Kristus mereka sebaliknya jadi membenci orang Kristen dan menganiaya orang percaya.

 

Yang mereka perlukan adalah penyingkapan dari Roh Kudus yang akan mencelikkan mata batin mereka tentang Kebenaran yang akan menyelamatkan mereka dan memerdekakan mereka. Tuhan Yesus sendiri pernah berfirman: “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain yang bukan dari kandang ini, domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku, dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala” (Yohanes 10:16).

 

Puji Tuhan, ada janji dalam Alkitab untuk akhir zaman bahwa Allah akan menolong semua manusia di bumi untuk menginsyafi bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Nabi Yoel menubuatkan tentang pencurahan Roh Kudus atas semua manusia.

 

“Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan anak-anakmu perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu” (Yoel 2:28-29).

 

Ini adalah janji tentang pencurahan Roh Kudus yang luar biasa atas bumi, yang akan turun atas semua orang, pria wanita dari berbagai generasi – tua, muda bahkan anak-anak, dan juga berbagai golongan dalam masyarakat. Roh Kudus akan menginsyafkan orang-orang akan dosa-dosa mereka dan keperluan mereka akan keselamatan. Roh Kudus akan memimpin orang-orang kepada Kristus dan akan menyingkapkan kepada “saudara-saudara kita” rahasia tentang Kristus yang tertulis dalam Kitab Suci mereka dan telah menjadi rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad.

 

Roh Kudus yang dicurahkan bukan hanya ekslusif untuk gereja saja tetapi juga untuk semua manusia, artinya dunia yang belum percaya. Roh Kuduslah yang akan menyadarkan dunia tentang dosa, kebenaran dan penghakiman (Yohanes 16:8-11). Tentang dosa: karena mereka tetap tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka akan sadar bahwa tidak percaya kepada Tuhan Yesus adalah suatu dosa, yang selama ini mereka tidak sadari. Roh Kudus juga akan menyadarkan dunia tentang kebenaran: yaitu bahwa Yesus pergi kepada Bapa. Mereka baru sadar bahwa Yesus tidak mati seperti nabi-nabi lainnya, dan Yesus telah kembali (dengan terangkat dalam keadaan hidup) kepada Bapa di sorga, sehingga Ia dapat dengan pasti membawa orang yang percaya kepada-Nya untuk pergi bertemu Bapa di Sorga. Roh Kudus akan menyadarkan dunia tentang penghakiman: bahwa penguasa dunia, yaitu Setan, telah dihukum, sehingga semua pengikut-Nya, yaitu orang yang tidak mau percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, pasti turut dihukum. Dengan kesadaran-kesadaran ini dunia akan datang kepada orang percaya untuk dapat mengenal Yesus dan diselamatkan. Mereka akan berduyun-duyun datang sebagaimana yang dinubuatkan.

 

Roh Kudus tentu saja harus diterima orang percaya supaya mereka dapat menjadi saksi (Kisah Para Rasul 1:8); supaya mereka memiliki kemampuan untuk memperkenalkan Kristus kepada mereka. Apa jadinya jikalau orang-orang yang telah disadarkan Roh Kudus, lalu datang kepada orang percaya untuk mengenal Kristus, tetapi orang percaya tidak mampu menjadi saksi Kristus bagi mereka? Tentu akan sangat mengecewakan. Tetapi jika orang percaya memiliki kemampuan, maka ini seperti “gayung bersambut,” mereka yang disadarkan datang kepada orang percaya, dan orang percaya sudah menerima urapan Roh yang memampukan mereka. Maka pertobatan besar-besaran terjadi.

 

Ketika ini terjadi, betapa sukacita yang luar biasa, karena seluruh dunia akan percaya kepada Kristus sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8; Matius 28:18-20).

 

Tetapi untuk menjadi bagian dari rencana Allah yang mulia ini, kita juga harus mempersiapkan hati kita untuk menyelaraskan mental kita dengan perkara-perkara yang akan terjadi. Kita harus menyingkirkan dari hati kita prasangka, kebencian dan dendam kepada orang lain terutama kepada “saudara kita,” karena hal itu akan menghalangi kita untuk menjadi saluran berkat Allah bagi mereka. Kita harus berdoa kepada Bapa agar memiliki kasih dan belas kasihan-Nya dan memohon Roh Kudus mengaruniakan kepada kita hikmat-Nya. Kita memerlukan ini supaya kita dapat memperlakukan “saudara kita” dengan kebaikan Allah, bahkan ketika mereka memperlakukan kita dengan tidak baik sekalipun atau bahkan menganiaya kita. Kita memerlukan hatinya Yesus yang mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya dan menghina-Nya. Ketika orang-orang Kristen memiliki hati Yesus dan mengikuti apa yang dilakukan Yesus, maka dunia akan bertobat karena kita telah membuka jalan bagi Roh Kudus untuk menginsyafkan semua orang ketika pencurahan Roh Kudus terjadi.

 

Jadi, situasi saat ini memiliki dua sisi: di satu sisi kegelapan bagi orang yang tidak percaya, tetapi di sisi lain terang benderang bagi mereka yang mengasihi Tuhan dan hidup bagi-Nya. Hal ini membuktikan janji Allah dalam Yeremia 29:11: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

 

Tetapi sekarang, apa bagian kita dalam rencana dan kehendak Allah ini? Apa yang Allah inginkan untuk kita lakukan dalam kerja sama dengan-Nya? Yesaya 60:1 menguraikannya: “Bangkitlah, menjadi teranglah: sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu.”

 

Inilah apa yang Allah tuntut dari kita. Kita harus bangkit dan bersinar. Bersinar dalam hal ini adalah memantulkan kebaikan Allah sehingga orang-orang dapat melihatnya dan memuliakan Dia. Kita harus menunjukkan dan memperagakan kebaikan Bapa, sehingga orang-orang dapat melihat dan merasakan kebaikan Allah melalui kita.

 

Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita adalah terang dunia. Kita memantulkan terang-Nya sehingga dunia dapat melihat terang kebaikan Allah di dalam kita dan melalui kita. Mereka dapat melihat Kristus - Yang adalah Puncak Kebaikan Allah, melalui kita.

 

Kita, yang adalah anak-anak Allah, adalah penerima kebaikan Allah. Kita semua telah menerima dan menikmati kebaikan-Nya. Kita telah mengalami kebaikan Allah. Memang Allah menginginkan supaya kita terlebih dahulu melihat dan merasakan bahwa Tuhan itu baik, sebelum kita dapat mengatakan kepada orang-orang tentang kebaikan-Nya.

 

Allah ingin agar setelah kita menerima dan merasakan kebaikan-Nya kita menunjukkan dan mendemonstrasikan kebaikan Allah melalui percakapan kita, sikap kita dan perbuatan kita. Yesus berkata: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16).

 

Tetapi masalahnya adalah bahwa kita yang telah menerima kebaikan Allah seringkali menganggap kebaikan-Nya sebagai hal yang biasa-biasa saja dan kita hanya bersyukur dan memuji Allah saja. Kita tidak pernah sungguh-sungguh menyadari kebaikan-Nya sedemikian rupa sehingga itu menjamah kehidupan kita secara mendalam dan mengubah kita secara radikal untuk Dia. Kebaikan-Nya seharusnya membuat kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya dalam penyerahan total dan bertekad untuk mengiring Dia dan hidup bagi-Nya untuk sisa hidup kita.

 

Yesus suatu kali didatangi sepuluh orang kusta yang memohon-Nya untuk menyembuhkan mereka (Lukas 17:12-18). Dan Yesus menyuruh mereka untuk menunjukkan diri mereka kepada imam untuk membuktikan bahwa mereka sudah sembuh. Mereka percaya kepada apa yang dikatakan Yesus dan segera pergi untuk menemui imam yang akan menilai kesembuhan mereka.  Di tengah jalan mereka mendapati diri mereka telah sembuh dari kusta sesuai dengan iman mereka kepada perkataan Yesus. Tetapi dari sepuluh orang itu hanya satu orang yang sungguh-sungguh menyadari kebaikan Allah yang baru saja diterimanya, jadi ia berbalik kembali kepada Yesus dan tersungkur di kaki Yesus dan mengucap syukur.

 

Jika kisah ini menggambarkan realitas kehidupan Kristen hari ini, kita harus merasa sedih karena hanya sepuluh persen orang Kristen yang sungguh-sungguh menyadari kebaikan Allah dan datang kepada-Nya mempersembahkan diri mereka sebagai korban yang hidup:

 

“Demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu, supaya kamu mem-persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

 

Lihatlah kisah seorang pemungut cukai yang bernama Zakheus (Lukas 19:2-9), yang baru saja menerima Yesus di rumahnya. Ia begitu gembira ketika mengetahui bahwa Yesus, yang dipanggil oleh orang-orang sebagai Rabbi, mau datang ke rumahnya, karena semua pemimpin agama selama ini menolaknya karena ia seorang pemungut cukai. Zakheus sadar akan kebaikan Allah yang baru saja diterimanya. Ini membuat hidupnya berubah secara radikal. Ia memutuskan untuk membagikan separuh hartanya kepada orang miskin dan mengganti empat kali lipat setiap orang yang pernah diperasnya.

 

Kita juga melihat Petrus yang baru saja mengalami hal yang luar biasa dalam “bisnisnya” sebagai nelayan (Lukas 5:4-11). Yesus melakukan mujizat dalam bisnis Petrus. Yesus memenuhi perahunya dengan sejumlah besar ikan. Tangkapan yang ia lakukan hari itu dapat mengisi dua perahu penuh dengan ikan. Itu belum pernah terjadi sebelumnya selama ia bekerja sebagai penangkap ikan. Menyadari hal ini Petrus tersungkur di kaki Yesus dan menyadari bahwa sebagai orang berdosa ia tidak layak akan kebaikan Allah. Sejak saat itu Petrus mengikut Yesus dan akhirnya menjadi seorang rasul yang luar biasa bagi Tuhan Yesus Kristus.

 

Semua orang yang sungguh-sungguh menyadari kebaikan Allah akan membuat tindakan yang radikal di hadapan Allah. Ia akan merasakan ketidaklayakan dan menyerahkan hidupnya secara total kepada Yesus dan mengiring-Nya untuk menjadi hamba-Nya yang rendah hati. Hidupnya akan berubah secara luar biasa. Ini adalah kesadaran sejati akan kebaikan Allah.

 

Seorang yang sungguh-sungguh menyadari kebaikan Allah akan berubah. Ia akan menyinarkan kebaikan Allah dalam hidupnya sehingga orang-orang di sekelilingnya akan melihat dan merasakan kebaikan Allah melalui dia. Ini akan memimpin orang untuk mengenal Yesus melalui terang kebaikan Allah yang bersinar dari hidupnya. Sebagai akibatnya orang akan mengenal Bapa dan mereka percaya kepada Yesus.

 

Yesus melakukan hal yang sama ketika Ia melayani di muka bumi. Ia menyatakan kebaikan Bapa melalui hidup-Nya. Orang yang melihat Dia melihat Bapa dan orang yang mengenal Dia mengenal Bapa. Sekarang, dengan cara yang sama orang-orang harus dapat melihat Yesus melalui kehidupan kita sehingga mengenal Dia. Dengan demikian mereka akan mengenal Bapa pada akhirnya. Inilah keselamatan.

 

Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah atau Yesus dengan matanya. Kita mengenal Dia dan melihat Dia melalui Alkitab yang kita baca. Yesus berkata: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Tetapi orang yang tidak percaya (di luar Tuhan) bukan hanya tidak pernah melihat Bapa, tetapi mereka juga tidak memiliki Alkitab, sehingga mereka tidak punya jalan untuk mengenal Yesus dan Bapa.

 

Satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk mengenal Yesus dan Bapa adalah melalui orang-orang percaya, yang memanifestasikan kebaikan Allah melalui tindakan baik mereka. Sebagaimana mereka telah menerima dan meraskan kebaikan Bapa.

 

Ketika kita melakukannya kita menjadi terang dunia; kebaikan Allah bersinar melalui hidup kita. Ini akan menarik dunia untuk datang kepada Terang Sejati yaitu Tuhan Yesus Kristus Juruselamat.

 

Jadi inilah panggilan kita. Ini adalah kehendak Bapa yang seharusnya kita lakukan dalam situasi sekarang ini. Jika kita menaati perintah-Nya ini maka Kerajaan-Nya segera akan berdiri di bumi. Kerajaan-Nya datang, kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di sorga.

 

Saat ini kita melihat seorang yang bernama Ahok, mantan gubernur Jakarta, seorang percaya yang sungguh-sungguh, menunjukkan kebaikan Allah melalui pelayanannya bagi masyarakat di bawah pemerintahannya. Ia telah menjadi terang dunia dengan menunjukakan integritas, ketulusan, komitmen dan dedikasi bagi kesejahteraan masyarakat Jakarta. Sebagai akibatnya, terang yang ia sinarkan melalui hidupnya memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi masyarakat Jakarta, bagi Indonesia, bahkan bagi banyak bangsa di dunia.

 

Satu orang ini telah memberikan pengaruh yang sangat luas dan sangat kuat. Ini menginspirasi banyak orang. Apa jadinya jika ada ribuan orang Kristen yang mempengaruhi masyarakat di sekitar mereka seperti itu? Kerajaan Allah akan segera datang, dan kehendak Allah akan terjadi di bumi seperti di sorga.

 

Masa depan ada di tangan kita. Bapa telah mempercayakan kepada kita untuk mengambil bagian dalam rencana-Nya yang indah bagi planet bumi ini. Tuhan Yesus telah mengimpartasikan di dalam kita Roh-Nya yang penuh kuasa supaya kita dapat melanjutkan pekerjaan yang Ia telah mulai lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Ia ingin kita melakukan pekerjaan yang dilakukan-Nya, bahkan yang lebih besar lagi, bagi Kerajaan Allah.

 

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Mengembangkan Talenta Untuk Mencapai Kesuksesan

Talenta adalah kemampuan yang khas yang dimiliki seseorang untuk dapat berprestasi pada bidang-bidang tertentu sesuai dengan talenta yang dimilikinya.




Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.