top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Pesan Pentakosta: Pentingnya Kedewasaan Rohani PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Wednesday, 07 June 2017 06:17

Hari Pentakosta adalah perayaan pencurahan Roh Kudus yang pertama atas murid-murid Tuhan yang kemudian menjadi gereja mula-mula (Kis. 2). Ini adalah Baptisan Roh Kudus atas orang-orang percaya mula-mula setelah Kristus ditinggikan dan naik ke sorga (Kis. 2:33).

“Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini” (Kisah Para Rasul 2:33).

 

Sebagaimana Tuhan kita, Yesus, lahir dari Roh Kudus (Mat. 1:20; Luk. 1:35) dan menjadi Anak Allah yang kekasih, demikian juga gereja lahir dari Roh Kudus dan menjadi anak-anak Allah yang dikasihi.

 

Gereja adalah para pria dan wanita yang telah ditebus oleh darah Anak Allah (1 Kor. 6:20; 1 Pet. 1:18-19; Wah. 5:9). Gereja diberi kekuatan dan dilengkapi dengan kuasa Roh Kudus untuk menjadi saksi bagi Yesus sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8).

 

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8).

 

“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” (Kisah Para Rasul 1:14)

 

Untuk memperingati perstiwa ini kebanyakan gereja-gereja karismatik mengadakan reli doa selama sepuluh hari mengikuti contoh para rasul dan orang percaya mula-mula (Kis. 1:12-14). Orang-orang yang mengikuti reli doa itu mengharapkan mereka menerima kembali urapan baru Roh Kudus untuk memperbarui semangat mereka. Mereka mencari fenomena supranatural dan karunia-karunia Roh. Tetapi sering kali mereka lupa akan satu hal penting yaitu bahwa melalui Baptisan Roh Kudus Allah Bapa mengharapkan mereka untuk menjadi bertambah dewasa secara mental dan rohani. Marilah kita melihat lebih seksama lagi tentang hal ini.

 

“Sampai kita semua telah mencapai … kedewasaan penuh …” (Efesus 4:13)

 

Jika kita mempelajari di dalam Perjanjian Baru kita akan melihat bahwa Baptisan Roh Kudus bukan hanya terjadi pada hari Pentakosta di ruang atas di Yerusalem (Kis. 2:2-4), tetapi juga tiga tahun sebelumnya. Itu terjadi pada Yesus ketika dibaptis di sungai Yordan (Mat. 3:16-17). Ada sedikit perbedaan di antara kedua peristiwa itu.

 

Di loteng atas kita membaca ada fenomena supranatural. Kisah Para Rasul 2:2-4 menuliskan: “Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh untuk mengatakannya”

Sementara ketika Yesus menerima Baptisan Roh Kudus di sungai Yordan dikatakan bahwa ketika Yesus: “keluar dari air  dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:16-17).

 

Peristiwa Batisan Roh Kudus yang diterima Yesus sebenarnya adalah suatu upacara pengangkatan keputeraan Yesus. Dalam upacara ini Bapa memandang bahwa Yesus telah mencapai tingkat kedewasaan mental dan spiritual secara penuh sehingga Yesus dapat menjadi orang yang berhak mewakili Bapa, mengerjakan pekerjaan Bapa, menggunakan kuasa dan otoritas Bapa, menyandang kemuliaan dan wibawa Bapa.

 

“Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian pula Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia” (John 5:20-24).

 

 “Panitia penyelenggara” untuk acara ini adalah Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:31-34). Yohanes Pembaptis mengatakan: “Untuk iitulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” Allah Bapa menugaskan Yohanes Pembaptis untuk membaptis dengan air (ayat 33) sebagai baptisan pertobatan (Mat. 3:11) dan memanggil orang-orang untuk datang ke sungai Yordan untuk dibaptis.

 

Baptisan air seolah-olah menjadi undangan dari Bapa untuk mengumpulkan orang-orang untuk menghadiri upacara yang Bapa akan lakukan yaitu mengangkat Yesus dari Nazaret menjadi “Putera.”

 

Jadi orang-orang berdatangan kepada Yohanes dari Yerusalem, seluruh Yudea dan daerah-daerah sekitar Yordan (ayat 5-6). Ketika Yohanes sedang membaptis orang-orang tiba-tiba Yesus datang dan berdiri di antara orang-orang yang hendak dibaptis (ayat 13), menunggu giliran untuk dibaptis. Yohanes pada mulanya menolak untuk membaptis Yesus (ayat 14) karena ia tahu bahwa Yesus adalah seorang yang saleh dan benar hidupnya, sementara baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan untuk orang-orang berdosa. Tetapi Yesus meminta Yohanes untuk membaptis-Nya karena itu adalah kehendak Allah yang harus dilaksanakan (ayat 15).

 

Setelah Yohanes membaptis Yesus dengan air, pada saat ketika Yesus keluar dari air, Roh Kudus turun ke atas-Nya seperti burung merpati yang hinggap ke atas-Nya. Kemudian suatu suara terdengar dari sorga menyatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Allah Bapa membuat pengumuman bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang kekasih kepada siapa Ia berkenan. Allah membuat deklarasi di hadapan orang-orang dan semua mahluk semesta alam, karena Ia menganggap bahwa Yesus telah mencapai tingkat kedewasaan penuh.

 

Kita harus ingat bahwa Anak Allah pada waktu itu sedang berinkarnasi sebagai manusia biasa, sebagai orang dari Nazaret (Luk. 8:37), meninggalkan segala “kesetaraan-Nya dengan Allah” (Fil. 2:6). Ia secara total “menghampakan diri-Nya” (Fil. 2:7) – meskipun status-Nya tetap sebagai Anak Tunggal Bapa – Ia meninggalkan semua kuasa-Nya sebagai Anak Allah dan sepenuhnya bergantung kepada kuasa Roh Kudus (Luk. 4:14; Kis. 10:38). Dan sebagai Manusia Ia mengerjakan pekerjaan Allah Bapa di bumi dengan kekuatan Roh Kudus.

 

“Yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia” (Kisah Para Rasul 10:38).

 

Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus, dalam rupa manusia (Fil. 2:8), hidup dengan kuasa Roh Kudus. Ia dicobai sama seperti kita, hanya Ia tidak berbuat dosa (Ibr. 4:15). Ia hidup dalam penundukan diri dan ketaatan kepada orang tua-Nya di bumi (Luk. 2:51). Ia menjalani kehidupan manusia biasa sebagai seorang tukang kayu (Mark. 6:3), memikul tanggung jawab sebagai anak tertua dalam keluarga. Ia belajar Kitab Suci seperti orang Yahudi lainnya dan Ia hidup benar. Yesus bertumbuh dalam hikmat dan pengetahuan dan berkenan di hadapan Allah dan manusia (Luk. 2:52).

 

Sebagai seorang manusia, Yesus secara fisik, mental dan spiritual mencapai kedewasaan. Ini menjadi perhatian Allah Bapa yang telah mengutus-Nya dan ini membuat Allah Bapa sangat berkenan kepada-Nya. Jadi Allah Bapa membuat “upacara pengangkatan Anak” untuk menyatakan di hadapan orang-orang perkenanan-Nya. Sebagai tanda perkenanan Allah, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan membaptis Yesus, dan deklarasi pun terdengar dari sorga (Mat. 3:16-17).

 

Alkitab mengatakan bahwa Allah telah lebih dahulu menentukan agar kita menjadi serupa dengan gambaran Anak Allah (Roma 8:29) yaitu supaya kita menjadi orang-orang percaya yang dewasa (Ef. 4:13)

 

“Menjadi tua itu alamiah, tetapi menjadi dewasa itu pilihan”

 

Mengapa kedewasaan kita sangat penting bagi Allah Bapa? Sebab Allah ingin mempercayakan banyak hal penting kepada anak-anak yang dikasihi-Nya, dan diperlukan kedewasaan untuk menanggungnya. Hanya orang Kristen yang dewasa yang dapat mengerjakan pekerjaan Allah, untuk melaksanakan rencana dan kehendak-Nya di bumi.

 

 “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang. Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17)

 

 “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34)

 

Inilah yang terjadi kepada Yesus ketika Bapa mengangkat-Nya menjadi “Anak,” seorang yang Bapa anggap telah dewasa dan dapat dipercaya untuk melaksanakan pekerjaan Bapa di dunia; untuk memperagakan kebaikan Allah; untuk bertindak atas nama-Nya dan memakai otoritas dan kuasa Bapa untuk melakukan berbagai mujizat dan tanda ajaib; untuk mendeklarasikan bahwa Kerajaan Allah telah datang.

 

Bapa hanya dapat mempercayakan tanggung jawab Kerajaan-Nya kepada orang Kristen yang dewasa; mempercayakan kepada mereka otoritas dan kuasa-Nya untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan yang Yesus lakukan, bahkan yang lebih besar lagi.

 

Marilah kita melihat lebih teliti lagi tentang kedewasaan Yesus, Anak Allah, ketika Ia dalam keadaan manusia melayani di bumi.

 

Setelah Yesus dibatis dengan air, Roh Kudus kemudian membawa-Nya ke padang gurun untuk dicobai oleh si jahat (Mat. 4:1). Ini bukan hanya sekedar test ayat Alkitab untuk mengetahui sejauh mana Yesus dapat mengingat ayat-ayat dari Kitab Suci. Ini adalah ujian untuk mengetahui sejauh mana ayat-ayat Kitab Suci telah menjadi prinsip hidup-Nya.

 

Ketika firman Allah telah menjadi prinsip hidup kita maka kita akan dapat melewati ujian dan pencobaan dengan berhasil dan dapat membungkam mulut si jahat serta mengalahkan pencobaannya. Ini adalah salah satu ciri kedewasaan. Kedewasaan yang seperti ini memperkenankan hati Allah.

 

“Sampai kita semua telah mencapai … kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbu-han yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran…” (Efesus 4:13-14).

 

Allah Bapa sangat senang dengan keberhasilan Yesus ini. Yesus, Anak-Nya telah lulus ujian dan sekarang Ia siap untuk mengerjakan pekerjaan Allah dengan otoritas dan kuasa penuh. Ia dapat bertindak atas nama Bapa dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar untuk kemuliaan Bapa. Yesus dapat menggunakan kuasa Bapa bahkan untuk meneduhkan badai, berjalan di atas air dan membangkitkan orang mati, di samping melakukan mujizat-mujizat lainnya seperti menyembuhkan orang sakit, memberi makan orang banyak atau mengusir roh jahat dari orang-orang yang dirasuk setan. Allah Bapa mengijinkan sang Anak untuk menggunakan fasilitas Sorga, bahkan Ia dapat memerintahkan pasukan malaikat, karena Ia telah mencapai tingkat kedewasaan mental dan spiritual secara penuh. Dan hal yang sama akan terjadi jika orang-orang percaya mencapai kedewasaan mereka dan menjadi serupa dengan Kristus – “sesuai dengan kepenuhan Kristus(Ef. 4:13).

 

Dari ayat-ayat Yohanes 5:19-23 kita melihat bahwa perkara-perkara yang luar biasa Allah dapat percayakan kepada mereka yang mencapai tingkat kedewasaan penuh. Ia akan mempercayakan pekerjaan-pekerjaan yang luar biasa dan ajaib; Ia akan mempercayakan kuasa untuk mengerjakan mujizat dan tanda-tanda ajaib, bahkan membangkitkan orang mati sekalipun; Ia akan mempercayakan otoritas-Nya agar anak-anak-Nya dapat memberikan pengaruh dan dampak yang kuat di dalam dunia ini bagi kemuliaan Kerajaan-Nya.

 

Kedewasaan juga artinya stabilitas (kemantapan). Kemantapan dicapai karena seorang telah memperbesar kapasitas mental dan rohaninya; ia memiliki jiwa yang besar, imannya kuat dan kebijaksanaan. Ia mengenal Bapa dengan baik. Ia mengetahui rencana Allah dan memahami kehendak-Nya. Hati dan pikirannya serasi dengan hati dan pikiran Allah.

 

Itulah yang membuat Yesus begitu tenang dan damai bahkan ketika berada di perahu yang sedang diterpa badai dan ombak (Mark. 4:37-40). Murid-murid-Nya panik, tetapi Ia begitu tenang, karena Ia mengenal Bapa dengan sangat baik. Ia tahu rencana Bapa bahwa Ia tidak akan mati tenggelam tetapi mati-Nya di kayu salib sebagai Juruselamat. Kemudian Ia menggunakan otoritas dan kuasa-Nya untuk meneduhkan angin dan ombak.

 

Kemantapan (stabilitas) adalah ciri kedewasaan. Itu seperti kapal atau perahu di laut. Kapal laut yang besar seperti tanker, kapal pesiar atau kapal induk, goyangannya akan berbeda dibanding dengan perahu yang kecil, meskipun keduanya berada di perairan yang sama dan mengalami ombak yang sama. Kapal laut yang besar demikian stabil dan tidak diombang-ambingkan seperti perahu kecil. Ini menggambarkan perbandingan antara orang-orang Kristen yang dewasa dan yang tidak dewasa (kekanak-kanakan).

 

Kita memerlukan kedewasaan mental dan spiritual supaya memiliki kemantapan sebab kita hidup dalam situasi dunia yang terus berubah dan tidak dapat diprediksi. Yesus pernah berkata bahwa di dalam dunia ini kita akan menghadapi banyak kesusahan (Yoh. 16:33). Jika rohani kita tidak dewasa dan tidak stabil kita akan hancur dan menjadi pecundang. Tetapi jika kita dewasa kita akan dapat mengalahkan keadaan dan keluar sebagai pemenang.

 

Inilah yang terjadi dengan Kristus. Ia mampu melewati masa sengsara dalam hidup-Nya – kematian-Nya di salib – bukan karena Ia adalah Allah Anak, tetapi karena sebagai Anak Manusia Ia telah mencapai kedewasaan-Nya dengan kuasa Roh Kudus. Kita dapat melihat kemampuan-Nya dalam mengendalikan emosi dan tindakan-Nya menghadapi intimidasi dan provokasi (Yes. 53:7). Meskipun Ia bisa, Ia tidak menggunakan otoritas-Nya sebagai Anak Allah untuk memerintah-kan pasukan malaikat untuk membela Dia ketika Ia ditangkap (Mat. 26:53). Roh-Nya begitu tenang sehingga Ia tidak bereaksi ketika orang-orang memprovokasi Dia (Mat. 27:13-14). Ia tidak mengutuki orang-orang yang memakukan-Nya di kayu salib (1 Pet. 2:23). Ia tidak kehilangan kepercayaan-Nya kepada Allah, Bapa-Nya (Mat. 26:39-42). Itulah sebabnya mengapa Bapa sangat berkenan kepada-Nya sehingga setelah penderitaan-Nya yang luar biasa Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah ke tempat yang mahatinggi di sebelah kanan Bapa di Sorga, jauh lebih tinggi dari semua kuasa dan kekuasaan dan pemerintahan (Fil. 2:9-11).

 

“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit, dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa!” (Filipi 2:9-11).

 

Demikian pula, jika kita mencapai tingkat kedewasaan penuh sebagai anak-anak Allah, kita akan mampu melewati penderitaan kita dengan kemenangan. Kita tidak akan kehilangan iman kita. Sebaliknya iman kita menjadi bertambah kuat dan kita akan keluar sebagai pemenang (Roma 8:37).

 

Hanya orang-orang Kristen yang dewasa yang dapat mengambil tanggung jawab untuk mengerjakan pekerjaan Bapa di bumi seperti yang Yesus kerjakan, bahkan pekerjaan yang lebih besar lagi akan dilakukan (Yoh. 14:12). Kepada orang percaya yang dewasa seperti itulah Allah Bapa akan memberikan kuasa dan otoritas-Nya supaya mereka dapat mengerjakan hal-hal yang luar biasa dan ajaib.

 

Demikianlah kita melihat betapa pentingnya kedewasaan, dan ini adalah salah satu sasaran – dan bahkan yang paling penting – dalam menerima baptisan Roh Kudus. Setiap kali kita merayakan hari Pentakosta kita harus mengevaluasi diri kita seberapa jauh kita telah mencapai tingkat kedewasaan kita? Kita tidak merayakan Pentakosta hanya sekedar untuk mengalami fenomena supranatural dan merasakan sensasinya. Kita tidak merayakan Pentakosta hanya untuk memperoleh kuasa dan karunia-karunia roh, meskipun itu penting bagi kita agar kita menjadi saksi Kristus yang berhasil (efektif). Kita mengenang peristiwa Pentakosta untuk merayakan kedewasaan kita yang membuat Allah Bapa berkenan akan kita karena Ia menganggap kita sebagai anak-anak-Nya yang kekasih yang dapat dipercayakan pekerjaan-Nya yang besar di bumi sebagaimana kepada Kristus. Bapa akan senang melihat kita serupa dengan Anak-Nya Yang Kekasih, Yesus Kristus.

 

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Roma 8:29).

 

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18).

 

Dikasihi oleh Bapa itu pasti, sebab Ia adalah Bapa yang penuh kasih dan kita adalah anak-anak-Nya (Maz. 103:13). Tetapi untuk membuat-Nya berkenan kepada kita dalah perkara yang lain. Kita harus dewasa sehingga kita dapat disebut anak-anak Allah yang kepada mereka Allah dapat mempercayakan Kerajaan-Nya agar berdiri di bumi, dan kehendak-Nya agar terjadi di bumi seperti di sorga (Mat. 6:10). Selamat Hari Pentakosta!

 

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Menjadi Replika dan Miniatur Kristus

“Rahasia yang tersembunyi berabad-abad dan dari generasi ke generasi, tetapi yang sekarang disingkapkan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah berkenan untuk memberitahukan betapa hebatnya, bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, kekayaan kemuliaan rahasia itu, yaitu: Kristus ada di dalam dan diantara kamu, yang adalah Pengharapan akan kemuliaan” (Kolose 1:26-27).

 

Rahasia besar yang tersembunyi berabad-abad dan dari generasi ke generasi adalah: “Kristus ada di dalammu dan di antaramu.” Mengapa rahasia ini tersembunyi sedemikian lamanya? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali ke permulaan sejarah, yaitu ketika manusia diciptakan.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday311
mod_vvisit_counterYesterday1577
mod_vvisit_counterThis week5004
mod_vvisit_counterLast week11262
mod_vvisit_counterThis month25377
mod_vvisit_counterLast month46116
mod_vvisit_counterAll965668

People Online 19
Your IP: 54.226.41.91
,
Now is: 2018-01-17 04:53



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.