top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Ketika Allah Merindukan Kita PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi for Pastor Yusuf Rahman   
Saturday, 24 June 2017 07:43

Allah itu “Kasih” (1 Yoh. 4:8). Ia mengasihi dunia yang diciptakan-Nya. Kasih itu dibuktikan dengan memberi dan bukan hanya mengatakannya saja. Dan Allah telah membuktikan kasih-Nya dengan memberikan Anak-Nya Yang Tunggal untuk menyelamatkan dunia (Yoh. 3:16). Kasih Allah tidak perlu diragukan lagi.

 

Yesus, Anak Allah Yang Tunggal, merealisasikan kasih Allah Bapa dengan memberikan nyawa-Nya. Kasih Yesus adalah kasih yang terbesar. Yesus mengatakan: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat2nya. Kamu adalah sahabat-Ku” (Yoh. 15:13-14a).

 

Sebagai implikasi dari kasih Allah yang begitu besar, maka Ia tidak menahan sesuatu apapun yang baik dan berguna bagi kita, melainkan memberikan semuanya bagi kita. “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)

 

Lebih dari itu karena Tuhan Yesus sangat mengasihi kita maka Ia selalu merindukan kita dan ingin selalu hadir di tengah kita dan bersekutu dengan kita, sehingga Ia berjanji: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20).

 

Itu bukanlah janji kosong karena Yesus adalah Anak Allah. Jika Ia berjanji maka pasti Ia menepatinya.

 

“Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? (Bilangan 23:19).

 

Oleh karena itu jangan berusaha dengan kekuatan dan cara-cara kita sendiri untuk menghadirkan Dia di tengah-tengah kita, sebab Ia sudah hadir di tengah-tengah kita sesuai janji-Nya. Hanya saja sering kali kehadiran Yesus tidak disadari, tidak dirasakan dan tidak dialami oleh kita karena kesalahan kita sendiri. Kita seringkali tidak percaya dan kita memiliki pikiran sendiri, pendapat sendiri, harapan atau keinginan sendiri tentang kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita, sehingga ketika Ia hadir dalam cara yang tidak kita harapkan atau kita pikirkan, kita menyangkali kehadiran-Nya akibatnya kita tidak merasakannya. Kita ingin Ia hadir sesuai dengan pikiran, perasaan dan kehendak kita sendiri.

 

Itulah yang terjadi dengan dua orang murid Yesus yang sedang berjalan ke Emaus setelah kebangkitan Yesus.

 

“Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia” (Lukas 24:15-16).

 

Kita seringkali mendiskusikan firman Allah tentang Yesus tetapi dengan pikiran dan keinginan kita sendiri. Kita memiliki pendapat sendiri tentang Yesus seperti para murid ini, mereka mengatakan: “Padahal kami dahulu mengharapkan…(ayat 21). Kita memiliki “frame of thinking” sendiri tentang Yesus dan kehadiran-Nya, sehingga ketika Ia hadir sesuai dengan janji-Nya kita tidak percaya dan tidak merasakannya. Ini mengecewakan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menegur dengan keras kedua murid ini: “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” (ayat 25).

 

Seharusnya kita percaya kepada apa yang dikatakan Tuhan Yesus begitu saja. Jika itu tidak sesuai dengan pikiran, perasaan dan keinginan kita, maka kitalah yang harus mengalah, bukan firman Allah. Kita harus menyesuaikan diri kita dengan firman Allah dan bukannya firman Allah harus menyesuaikan dengan keinginan dan pikiran kita. Apa yang kita pikirkan, rasakan dan inginkan tidaklah penting! Yang penting adalah pikiran dan kehendak Tuhan sendiri. Bukankah Ia mengasihi kita, maka Ia pasti merindukan kita dan selalu ingin bersama-sama dengan kita. Jadi jika kita bersekutu dalam nama-Nya pastilah Ia hadir. Jika kita percaya maka kita akan merasakan dan mengalaminya. Percaya dulu, barulah perasaan dan pengalaman mengikuti.

 

Salah satu yang seringkali menghalangi kita untuk percaya bahwa Ia hadir di tengah-tengah kita adalah perasaan “tidak layak.”  Karena kita merasa dan berpikir diri kita tidak layak maka kita pikir Ia pasti tidak mau hadir dan tidak akan hadir di tengah-tengah kita, meskipun kita tahu Ia sudah berjanji untuk hadir. Padahal tidaklah demikian. Ketika Ia merindukan kita karena kasih-Nya Ia tidak mempersoalkan keadaan kita, karena kita tidaklah akan pernah layak berdasarkan diri kita sendiri. Ialah yang telah melayakkan kita dengan menebus kita menjadi milik-Nya dan membasuh kita dengan darah-Nya, supaya Ia dapat bersekutu dengan kita.

 

Ingat saja kisah “si anak bungsu.” Ia dalam keadaan sama sekali tidak layak karena ia telah berdosa kepada bapanya dan sekarang ia dalam keadaan miskin, sengsara, compang-camping dan bau. Tetapi ia datang juga kepada bapanya dengan perasaan penuh penyesalan dan pertobatan. Inilah satu-satunya modal kita, merendahkan diri kita di hadapan-Nya. Dan kita membaca ternyata sementara si bungsu berjalan dari jauh bapanya telah menunggu dia, merindukan dia karena kasihnya. Ternyata bukan hanya kita yang ingin bersekutu dengan Bapa, Bapa sendiri sangat merindukan kita karena mengasihi kita. Ia sangat ingin bersekutu dengan kita.

 

Ketika si bungsu tiba dan ia mengakui kesalahannya, bapanya ternyata tidak memarahi dia dan menganggapnya tidak layak untuk bertemu dengannya. Sebaliknya sang bapa merangkul dia, mencium dia dan memberikan kepadanya jubah, sepatu dan cincin; memulihkan kembali statusnya.

 

“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia….Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya” (Lukas 15:20-22)

 

Kita juga membaca sang gembala yang mencari seekor domba yang hilang dan ketika menemukannya ia menggendongnya dan pulang dengan sukacita. Itu semua karena cinta dan kerinduannya. Jika domba yang hilang dicari, anak yang durhaka diterima kembali, bukankah terlebih lagi kita yang mencintai Dia dan menaati-Nya akan sangat dirindukan oleh Dia. Dia akan senang sekali berada di tengah kita dan bersekutu dengan kita.

 

Jadi, janganlah berusaha “melayakan diri” dengan berbagai cara seperti yang dilakukan oleh orang-orang beragama supaya mereka diterima allahnya. Itu adalah praktek “self legalism” (pembenaran diri). Allah lah yang telah melayakkan kita dengan menebus kita, menyucikan kita dan menaruh Roh-Nya yang suci di dalam kita, supaya kita kedapatan layak di hadapan-Nya.

 

Tentu saja ini bukan berarti kita tidak usah bertobat. Sebab pertobatan yang tulus disertai penyesalan dan merendahkan diri adalah modal kita satu-satunya. Yang dimaksud adalah jangan membenarkan diri dengan perbuatan-perbuatan baik atau keadaan diri kita. Kita dibenarkan karena iman kita kepada Anak Allah dan Allah lah yang telah melayakkan kita. Ingatlah cerita tentang dua orang yang pergi ke bait Allah. Yang seorang adalah orang yang membenarkan dirinya dan yang seorang adalah orang yang merendahkan dirinya dan mengakui dosa-dosanya dengan penuh penyesalan. Maka Yesus sendiri membuat penilaian atas kedua orang itu sebagai berikut:

 

Aku berkata kepadamu: Orang ini (pemungut cukai yang menyesal akan dosanya) pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu (yang membanggakan kesalehannya) tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan” (Lukas 18:14)

 

Kita tidak dapat membeli kehadiran Allah. Tidak ada harga yang memadai untuk itu. Kehadiran-Nya terlalu mulia untuk dinilai dengan apapun. Kitalah yang telah dibeli oleh Allah dengan harga yang sangat mahal, yaitu dengan darah Anak-Nya sendiri, yaitu supaya kita menjadi milik-Nya dan supaya Ia dapat selalu bersekutu dengan Dia. Ia sangat mengasihi kita dan sangat merindukan kita sehingga Ia tidak mempersoalkan kelayakan kita karena Ia lah yang melayakkan kita.

 

Ia tidak ingin kita berusaha seperti para penganut agama lain dengan melakukan berbagai ritual ibadah supaya mereka menjadi layak dan dengan demikian membuat allahnya mau hadir. Ritual ibadah tidak pernah memberi kepastian kepada pelakunya apakah itu sudah cukup membuat mereka layak di hadapan allahnya dan apakah allahnya berkenan hadir, sebab mereka sadar allahnya tinggal di tempat yang sangat tinggi dan jauh dari umatnya. Tetapi kita berbeda, Allah kita adalah Allah Imanuel, yang senang dan rindu bersekutu dengan umat-Nya yang Ia telah angkat menjadi anak-anak-Nya. Ia sendiri yang berkenan menghampiri kita. Itulah sebabnya Allah kita lebih menyukai “fellowship” (persekutuan pribadi yang intim) dari pada “worship” (ibadah yang penuh ritual dan hanya seremonial).

 

“Sebab Aku menyukai kasih setia, bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hosea 6:6).

 

Kita memberikan pujian dan penyembahan bukan supaya Allah hadir, tetapi karena Ia telah berkenan hadir di antara kita. Pujian dan penyembahan kita adalah ucapan syukur, pernyataan terima kasih kita kepada-Nya dan perayaan kehadiran-Nya. Itu berarti kita mempercayai (mengimani) kehadiran-Nya sesuai dengan firman-Nya. Maka sebagai akibatnya kita akan merasakan dan mengalami kehadiran-Nya, dan kita semakin bersyukur dan menyembah Dia lagi. Kehadiran Allah menjadi sangat nyata dan pengalaman yang sangat indah, bukan hanya dalam ibadah kita tetapi dalam seluruh kehidupan kita.

 

Jika kita mengasihi Dia dan menaati Dia, maka Ia akan selalu hadir dalam hidup kita dan menyatakan diri-Nya. Ini adalah tanda perkenanan-Nya.

 

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya …. Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh. 14:21,23).

 

Ketika Tuhan berkenan dengan kita, maka masalah kita sebetulnya sudah selesai! Ingat saja ketika raja Ahasyweros berkenan kepada Ester, maka masalah besar yang dihadapi bangsanya, yaitu rencana pembantaian bangsa Yahudi, dapat selesai karena raja membatalkannya seketika itu juga.

 

“Ketika raja melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran, berkenanlah raja kepadanya, sehingga raja mengulurkan tongkat emas yang ditangannya ke arah Ester, lalu mendekatlah Ester dan menyentuh ujung tongkat itu. Tanya raja kepadanya: Apakah maksudmu, hai ratu Ester, dan apa keinginanmu? Sampai setengah kerajaan sekalipun akan diberikan kepadamu.” (Ester 5:2-3)

 

Itulah sebabnya Ester tidak pusing dengan Haman yang datang bersama raja. Ia tidak menjadi muram mukanya dan marah. Kecintaannya kepada raja dan perkenanan raja menyebabkan ia tidak mempedulikan masalahnya saat itu.

 

Seringkali meskipun Tuhan hadir, masalah tidak serta merta selesai, tetapi masih ada. Tetapi kecintaan kita kepada Tuhan dan kerinduan Tuhan kepada kita serta perkenanannya membuat masalah itu tidak ada artinya lagi bagi kita. Dan ini berarti secara iman “masalah kita sudah selesai.” Mungkin ketika kita di gereja memuji Tuhan, persoalan dan masalah masih ada, tetapi di dalam hadirat Tuhan masalah itu sudah diselesaikan Tuhan. Ketika kita memuji dan menyembah Dia, maka “di luar” Tuhan menyelesaikan masalah kita dengan tuntas. Ingat saja dengan pengalaman raja Yosafat. Ketika umat Tuhan memuji Tuhan, Allah menyelesaikan masalah mereka.

 

“Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah” (2 Taw. 20:22).

 

Ini semua terjadi karena Tuhan Yesus mengasihi kita! Ialah yang terlebih dahulu mengasihi kita, bukan kita. Karena Ia mengasihi kita, Ia merindukan kita. Karena Ia merindukan kita maka Ia hadir di tengah-tengah kita. Ketika Ia hadir di tengah-tengah kita dan kita memuji dan menyembah-Nya, maka apapun masalah kita Tuhan menyelesaikannya bagi kita. Puji Tuhan.

 

(Tulisan ini diinspirasi oleh khotbah bapak Pdt. Yusuf Rahman)

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Ketika Allah Merindukan Kita

Allah itu “Kasih” (1 Yoh. 4:8). Ia mengasihi dunia yang diciptakan-Nya. Kasih itu dibuktikan dengan memberi dan bukan hanya mengatakannya saja. Dan Allah telah membuktikan kasih-Nya dengan memberikan Anak-Nya Yang Tunggal untuk menyelamatkan dunia (Yoh. 3:16). Kasih Allah tidak perlu diragukan lagi.

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday315
mod_vvisit_counterYesterday1577
mod_vvisit_counterThis week5008
mod_vvisit_counterLast week11262
mod_vvisit_counterThis month25381
mod_vvisit_counterLast month46116
mod_vvisit_counterAll965672

People Online 21
Your IP: 54.226.41.91
,
Now is: 2018-01-17 04:55



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.