top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Belajar dari Wanita Samaria: Penginjil Pertama PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Friday, 29 September 2017 04:11

Suatu kali Yesus bertemu dengan seorang wanita Samaria di sumur Yakub. Wanita ini adalah wanita asusila. Ia memiliki lima suami, dan yang keenam juga bukan suaminya. Ini tidak kebetulan. Tidak ada yang kebetulan dengan Tuhan. Ia mengetahui segala sesuatu. Jadi, ada maksud di balik perjumpaan ini. Tuhan suka mengambil suatu contoh yang ekstrim untuk mengajar para murid-Nya, termasuk kita. Pelajaran apa yang kita dapat peroleh dari kisah ini?

 

Di mata manusia wanita seperti ini tidak mungkin dapat dipakai Allah sebagai alat-Nya, apalagi untuk penginjilan. Gereja memiliki kriteria sendiri untuk seseorang dapat menjadi pelayan Tuhan: kemampuan dan kualitas moral. Jadi tidak mungkin wanita yang asusila ini dapat dijadikan alat bagi pekerjaan Tuhan.

 

Tetapi Tuhan memiliki cara pandang yang berbeda. Di mata-Nya wanita ini dapat diubahkan dan dipakai sebagai alat untuk pekabaran Injil: sesuatu yang tidak terpikirkan oleh manusia. Jadi, Tuhan berbicara dengan wanita itu, menerangkan tentang kuasa Roh Kudus, yang Ia sebut sebagai “Air Hidup”, yang dapat memuaskan jiwanya dan mengubah hidupnya dengan indah.

 

Wanita Samaria ini mulai tertarik dengan pengajaran Tuhan Yesus. Ia mulai membuka hatinya. Kemudian Tuhan mengatakan kepadanya tentang dirinya yang sebenarnya, meskipun wanita itu belum pernah berjumpa dengan Yesus sebelumnya. Itu membuatnya heran dan menyadari bahwa Yesus bukanlah manusia biasa. Ia percaya bahwa Yesus adalah seorang nabi, bahkan lebih dari sekedar nabi: Ia Mesias. Ia yakin sebab Yesus menunjukkan kepadanya perbuatan khas Mesias (sebagaimana yang diketahuinya): memberitahukan segala sesuatu tentang kehidupannya. Dan Yesus membenarkannya bahwa Ialah Mesias: Seorang yang selama ini dinantikan bangsa Israel.

 

Ia percaya Yesus adalah Juruselamat. Jadi, Tuhan telah mengubah hidupnya menjadi orang percaya. Ia menerima pengampunan atas dosa-dosanya dan hidup kekal sebagaimana yang dijanjikan Tuhan kepadanya.

 

“Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu Air Hidup” (Yohanes 4:10).

 

“Barangsiapa minum air ini ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:13-14)

 

Perjumpaan ini mengubah wanita Samaria itu secara radikal. Ia begitu gembira telah berjumpa dengan Seorang yang telah dinantikan Israel sejak lama. Ia segera pergi ke kota dan menceritakan kepada semua orang bahwa ia telah berjumpa dengan Mesias, dan ia mengajak orang-orang untuk pergi bersamanya menjumpai-Nya. Orang-orang mengikutinya dan bertemu dengan Yesus, dan mereka percaya kepada-Nya setelah mereka mendengar perkataan-Nya. Mereka percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Juruselamat dunia (Yohanes 4:28-30; 39-42).

 

Suatu hal yang luar biasa telah terjadi karena seorang perempuan asusila dapat membawa banyak orang kepada Yesus dan membuat mereka percaya kepada-Nya sebagai Kristus, Juruselamat dunia!

 

Wanita ini bukan hanya menjadi orang percaya, tetapi ia telah menjadi seorang pemberita Injil bagi Kristus; paling tidak untuk orang-orang di kotanya. Sementara orang Kristen modern cukup puas sebagai anggota gereja, dan mereka tidak memiliki gairah untuk membagikan kabar baik tentang keselamatan dalam Kristus kepada orang lain. Mereka mengabaikan Amanat Agung yang Tuhan telah berikan kepada mereka.

 

Mengapa Tuhan Yesus melakukan hal ini, yaitu menyelamatkan seorang perempuan asusila dan menjadikannya penginjil? Sebelum Yesus menunjuk para murid-Nya untuk memberitakan Injil Ia ingin memberikan contoh ekstrim dari cerita ini kepada mereka dan semua orang percaya, bahwa Tuhan dapat mengubahkan kehidupan bagaimana pun keadaan mereka, dan bahwa mereka dapat dipakai oleh Tuhan sebagai alat-Nya untuk menyebarkan Kabar Baik dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kerajaan Allah. Tuhan Yesus membuktikan bahwa Ia dapat mengubahkan bahkan seorang perempuan asusila sekalipun dan memakainya untuk menjadi seorang penginjil bagi orang-orang di kotanya. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan sama sekali bagi kita untuk mengatakan bahwa kita tidak dapat diubah dan dipakai oleh Tuhan.

 

Sejak dahulu Allah sering dengan sengaja memakai orang yang kualitasnya kurang di mata dunia menjadi alat-Nya untuk melaksanakan rencana dan kehendak-Nya. Sebagai contoh, ketika Allah hendak membangun suatu bangsa yang menjadi kepunyaan-Nya, Ia memilih Abraham dan Sarah yang mandul untuk menjadi bapak dan ibu banyak bangsa. Pada jaman hakim-hakim, ketika Allah hendak membebaskan Israel dari bangsa-bangsa yang menindasnya, Ia memilih Gideon – seorang yang merasa rendah diri – untuk menjadi seorang pahlawan dan pemimpin bagi umat Israel untuk melepaskan mereka dari para penindasnya. Ketika tidak ada seorang pun yang berani menghadapi Goliat, Allah memilih Daud, seorang gembala kambing yang masih remaja untuk melawan Goliat dan mengalahkannya. Ketika Allah hendak memerdekakan Israel dari kekuasaan Firaun, Ia memilih Musa, seorang yang telah menjadi gembala sederhana dan gagap untuk berbicara kepada Firaun.

 

“Karena Allah dengan sengaja memilih apa yang dipandang bodoh oleh dunia untuk mempermalukan yang berhikmat, dan apa yang dianggap lemah oleh dunia untuk mempermalukan yang merasa kuat” (1 Korintus 1:27).

 

Tuhan tidak memilih Paulus, seorang yang pandai, yang ahli dalam teologi, untuk menjadi penginjil pertama-Nya. Sebaliknya Ia memilih wanita Samaria yang asusila untuk menjadi penginjil pertama bagi orang-orang di kotanya sendiri di Samaria. Jika Paulus dipilih mula-mula, maka orang-orang lain akan punya alasan untuk merasa rendah diri dan menganggap diri mereka tidak memadai.

Tuhan tidak memilih Paulus di awal supaya tidak ada alasan bagi kita untuk berpikir bahwa Tuhan tidak dapat mengubahkan kita dan memakai kita sebagai alat-Nya untuk memberitakan Kabar Baik dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.

 

Masalahnya adalah banyak orang setelah menerima Kristus sebagai Juruselamat berhenti pada titik sebagai anggota gereja biasa dan sekedar orang Kristen yang baik. Mereka hanya menjadi pengkonsumsi ibadah dan khotbah di gereja. Mereka secara teratur menghadiri ibadah dan mendengarkan khotbah, tetapi tidak mempedulikan keselamatan jiwa orang lain. Mereka tidak pernah memikirkan untuk memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang bagi Kristus. Mereka hanya menikmati kehidupan Kekristenan mereka sampai waktunya mereka menerima panggilan sorgawi untuk bertemu dengan sang Pencipta.

 

Akibatnya mereka menjadi orang-orang Kristen yang tidak memiliki gairah untuk menyaksikan Kristus kepada orang lain. Mereka tidak suka memenangkan jiwa. Sementara Kristus sendiri berkata: “Makanan-Ku (kebutuhan utama dan kesukaan-Ku) adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

 

Orang Kristen “tipe anggota gereja” juga tidak dapat melihat kesempatan untuk memenangkan jiwa-jiwa yang sebetulnya telah Allah siapkan bagi mereka. Mereka hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri dan kehabisan tenaga untuk mempedulikan keselamatan orang lain. Mereka tahu ada perintah Tuhan bagi mereka untuk memberitakan Injil dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kerajaan Allah, tetapi mereka selalu berusaha menunda-nunda kewajiban mereka dengan mengatakan: “masa menuai masih empat bulan lagi.”

 

Menunda-nunda perintah Tuhan adalah siasat Iblis. Iblis tidak melarang orang Kristen untuk menghadiri ibadah di gereja dan menendengarkan khotbah, tetapi ia selalu akan membujuk orang Kristen untuk menunda-nunda kewajiban mereka, sampai segalanya menjadi terlambat. “Akan ada masa di mana seorang pun tidak dapat bekerja,” kata Tuhan.

 

Berbicara mengenai masa tuaian untuk memenangkan jiwa, Tuhan berkata: “Inilah saatnya!” Kita tidak harus menunggu, karena ladang sudah matang dan siap untuk dituai. Tuaiannya ada, tetapi orang-orangnya tidak siap menuai. Mereka bahkan tidak punya niat untuk pergi ke ladangnya Tuhan. Mereka sibuk dengan hidup mereka sendiri dan tidak dapat melihat tuaian. Mereka senang menikmati kehidupan Kristen mereka: menghadiri ibadah-ibadah di gereja, mendengarkan khotbah-khotbah dan menikmati kehidupan yang baik.

 

“Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yohanes 4:35).

 

Di sisi lain, beberapa Kristen lainnya menghindar dari kewajiban mereka karena mereka merasa tidak memiliki kualitas yang memadai untuk menjadi seorang saksi Kristus; mereka selalu melihat kelemahan dan kekurangan diri mereka.

Kepada orang Kristen yang selalu merasa tidak layak, Tuhan mengajak mereka untuk melihat contoh wanita Samaria. Jadi, sebenarnya kita tidak memiliki alasan untuk merasa tidak layak atau tidak mampu, karena Tuhan sendiri akan mengubah kita dan melayakkan kita, memperlengkapi dan memberi kekuatan, supaya kita dapat menjadi saksi-Nya yang berhasil oleh kuasa Roh Kudus-Nya.

 

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8).

 

Tuhan tidak menanyakan kemampuan kita, tetapi kesediaan kita untuk merespon panggilan-Nya. Tuaian berlimpah-limpah tetapi penuainya sedikit (Lukas 10:2). Kita harus berdoa kepada Tuhan yang empunya tuaian untuk mengutus kita ke ladang-Nya, yang telah matang dan siap untuk dituai, untuk menjadi penuai.

 

Waktu musim tuaian terbatas. Musim tuaian tidak akan berlangsung selamanya. Akan ada masa di mana musim berubah dan tuaian akan membusuk karena tidak dituai.

 

Memberikan kemampuan adalah urusannya Tuhan, tetapi kesediaan dan kerelaan adalah urusannya kita.

 

Bagi mereka yang rela dan bersedia untuk menuai, Tuhan telah menetapkan upahnya supaya mereka menerimanya. Dan mereka akan membawa berkas-berkas hasil tuaian untuk dipersembahkan di hadapan Tuhan.

 

Kita pasti pergi ke sorga karena iman kita kepada Tuhan Yesus, tetapi masalahnya adalah apakah kita punya keberanian untuk berjumpa dengan Tuhan dan memandang wajah-Nya pada hari itu dan tidak malu ketika kita pergi ke sorga dengan tangan hampa?

 

Oleh karena itu gereja harus mengkonversi anggota jemaat mereka, dari hanya jemaat biasa dan pengkonsumsi ibadah dan khotbah, menjadi penuai-penuai, pemenang jiwa, dan saksi yang efektif bagi Tuhan Yesus. Jangan mau tertipu oleh muslihat Iblis yang membuat orang Kristen hanya menikmati hidup sementara mengabaikan perintah Tuhan.

 

Itulah sebabnya mengapa Tuhan melayani bukan hanya sebagai Anak Domba Allah tetapi juga Pembaptis dengan Roh (Yohanes 1:29-33). Tuhan Yesus tidak datang hanya untuk menyelamatkan orang berdosa supaya mereka dapat hidup kekal di sorga saja, tetapi lebih dari itu Ia datang supaya orang yang sudah percaya dan diselamatkan, dapat menjadi saksi-Nya dan membawa dunia untuk mengenal Dia. Untuk tujuan inilah Tuhan Yesus telah mencurahkan darah-Nya dan Roh Kudus-Nya.

 

Tuhan siap mengubah kita, memperlengkapi dan memberi kita kuasa, supaya kita mampu untuk menjadi alat-Nya yang efektif untuk penuaian di akhir zaman. Apakah kita siap dan bersedia untuk menjadi sarana-Nya yang setia, atau kita cukup puas sebagai anggota gereja saja?

 

Tuhan Yesus sebagai Pembaptis dengan Roh Kudus adalah yang menciptakan dan menyiapkan tuaian dengan mencurahkan Roh-Nya ke atas semua manusia (Yoel 2:28).

 

Pencurahan Roh Kudus bukan eksklusif hanya untuk gereja saja. Ia mencurahkan Roh-Nya atas gereja supaya orang Kristen dapat diubahkan dari anggota gereja biasa untuk menjadi penuai-penuai yang berhasil. Tetapi Kristus juga mencurah-kan Roh-Nya atas semua manusia supaya manusia menyadari dosanya; dosa karena tidak percaya kepada Kristus (Yohanes 16:8).

 

Keinsyafan ini akan mempersiapkan orang-orang berdosa sebagai tuaian besar dan membuat mereka siap untuk dituai. Ketika kedua pihak ini dipertemukan, yaitu tuaian dan para penuai, orang berdosa yang telah diinsyafkan Roh Kudus dan orang percaya yang siap menjadi saksi, maka tuaian pun terjadi.

 

Sebagai contoh, kita dapat melihatnya dari peristiwa Pentakosta yang pertama. Setelah Tuhan ditinggikan oleh tangan kanan Allah Bapa dan menerima dari Bapa Roh Kudus yang dijanjikan, maka Tuhan mencurahkan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:23). Roh Kudus turun ke atas seratus dua puluh orang percaya yang sedang berdoa bersama di loteng atas (Kisah Para Rasul 2:1). Pencurahkan Roh Kudus atas orang percaya disertai dengan fenomena supranatural seperti tiupan angin keras, lidah-lidah api dan bahasa-bahasa asing yang diucapkan orang percaya (Kisah Para Rasul 2:2-4).

 

Tetapi sebenarnya Roh Kudus juga tercurah ke atas orang-orang yang berkumpul di sekitar tempat mereka sedang berdoa, tetapi tanpa fenomena supranatural. Tanpa pencurahan Roh Kudus atas mereka adalah mustahil mereka dapat bertobat dan percaya Yesus. Jadi Roh Kudus, tanpa terlihat mata, melayang-mmelayang di atas mereka untuk mempersiapkan hati mereka untuk mendengar Injil; mengantisipasi firman Allah yang akan diucapkan oleh Petrus. Dan kemudian Petrus yang penuh dengan Roh Kudus berdiri bersama murid-murid lainnya dan mulai menyampaikan Injil Keselamatan di dalam Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 2:14). Firman yang diucapkan oleh Petrus menusuk ke dalam hati mereka (Kisah Para Rasul 2:37), dan mereka bertanya kepada Petrus bagaimana supaya mereka dapat diselamatkan. Ini adalah musim tuaian, dan ini adalah karya Roh Kudus!

 

Jadi kita dapat melihat kerjasama Roh Kudus dan orang-orang percaya yang siap dan bersedia untuk menuai. Roh Kudus mempersiapkan tuaian, dan orang-orang percaya siap dan bersedia untuk menjadi penuai-penuai.

 

Jika pada waktu itu, tidak ada orang percaya yang rela dan bersedia – ini ditunjukkan dengan ketaatan mereka kepada perintah Tuhan untuk menantikan pencurahan Roh Kudus – maka tidak akan ada penuaian tiga ribu jiwa. Jadi masalahnya bukanlah tuaiannya tetapi ketiadaan penuai.

 

“Tuaiannya banyak, tetapi pekerjanya sedikit. Oleh sebab itu berdoalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirim pekerja ke ladang tuaian” (Lukas 10:2).

 

Ada tuaian besar dan menunggu para penuai, tetapi orang-orang Kristen berkata bahwa musim tuaian belum tiba dan mereka terus menunggu datangnya musim itu, ketika itu barulah mereka akan pergi menuai. Mereka seharian menganggur saja (Matius 20:6). Mereka tidak pernah pergi, dan mereka juga tidak mempersiapkan diri untuk menuai. Mata mereka tidak dapat melihat bahwa tuaian ada di sekeliling mereka, menantikan mereka untuk menuainya. Sekarang dengar sekali lagi apa yang dikatakan Tuhan: “Bukalah matamu dan pandanglah! Ladang sudah matang dan siap untuk dituai!”

 

Jadi, bangkitlah dan pergi! Jangan hanya berdiri saja dan tidak mengerjakan apa-apa dan hanya menikmati hidup saja, menikmati urapan. Tetapi pergilah, temuilah orang-orang, bagikanlah kesaksianmu dan menangkanlah jiwa mereka. Roh Kudus sedang bekerja sekarang, membuat tuaian siap dituai, dan mengantisipasi firman kesaksian yang akan keluar dari mulut saudara: firman tentang Kristus Yesus! Biarlah “perkataan baik” ini keluar dari mulut kita sehingga mereka yang mendengarnya mendapat kasih karunia Allah (Efesus 4:29).

 

Pahala besar sedang menantikan mereka yang mau pergi dan menuai. Dan Tuhan akan memberikan kuasa dan memperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus. “Sekarang ini penuai telah mendapatkan upahnya dan ia menuai buah untuk hidup yang kekal, sehingga yang menanam dan menuai sama-sama bersukacita” (Yohanes 4:36).

 

Hal yang sangat indah dan mulia adalah ketika suatu hari kita akan mendengar panggilan sorgawi untuk bertemu dangan Tuhan muka dengan muka: kita akan menjumpai Tuhan dengan penuh sukacita, karena kita telah bekerja seharian di ladang-Nya, menuai tuaian jiwa-jiwa, dan sekarang pahala besar menantikan kita: Tuhan, Tuhan sendiri adalah pahala kita yang luar biasa!

 

Kita harus berterima kasih kepada wanita Samaria yang telah memberikan contoh tentang memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Dua Hal Yang Menghalangi Pencapaian Yang Maksimal

Kepada orang percaya yang taat Allah menjanjikan berkat yang luar biasa (Ulangan 28 : 1 14). Ketika Allah berjanji maka itu berarti Allah telah menyediakannya, dan bukan baru akan menyediakannya. Ia adalah Yehova Jirech, Allah yang menyediakan, God The Provider. Itulah sebabnya jika Allah berjanji maka janji-Nya adalah ya dan amin sebab Ia memang sudah menyediakan apa yang dijanjikan-Nya itu.

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday322
mod_vvisit_counterYesterday1227
mod_vvisit_counterThis week2872
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month14585
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll908760

People Online 20
Your IP: 54.163.210.170
,
Now is: 2017-12-12 08:44



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.