top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN Juni 2018 : Minggu,24/06/2018 Pk 17.00," Breakthrough , oleh : Bpk Marco " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh We are sorry to inform, that our visitor counter had a problem. Please ignore. Thank You for attention. Mohon maaf, Visitor Counter kami sedang mengalami gangguan teknis. Mohon diabaikan. Terimakasih.
Menjadi Mitra Kerja Allah PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Monday, 22 January 2018 11:39

“Karena kita kawan sekerja Allah” (1 Korintus 3:9).

 

Kita adalah kawan sekerja Allah: partner kerja Allah. Kita tidak bekerja “untuk” Allah; kita bekerja “bersama” Allah dan Allah bekerja bersama kita.

 

Kerja “untuk” Allah dapat menjadi beban yang berat, tetapi bekerja “bersama” Allah akan sangat menyenangkan karena pekerjaan kita akan menghasilkan buah: hasil yang luar biasa.

 

Allah tidak ingin menganggap kita sebagai “pegawai-Nya,” tetapi sebagai “rekan kerja-Nya.” Betapa suatu keistimewaan yang luar biasa bahwa Allah berkenan menjadikan kita rekan atau mitra kerja-Nya. Meskipun kita tidak seimbang dengan Allah dalam hal kualitas dan kemampuan, tetapi Allah menjadikan kita rekan sekerja-Nya. Bagaimana mungkin?

 

“Akulah Tuhan yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi siapakah yang mendampingi Aku? (Yesaya 44:24).

 

Allah itu Mahakuasa (Kejadian 35:11). Allah dapat melakukan segala perkara (Ayub 42:1), dan tidak ada yang mustahil atau terlalu sulit bagi-Nya (Yeremia 32:27). Ketika Ia menciptakan langit dan bumi, Ia melakukannya seorang diri (Yesaya 44:24). Ia cukup berfirman maka semuanya jadi (Mazmur 33:9). Tetapi ketika Ia telah menjadikan manusia Ia ingin melibatkan manusia yang diciptakan-Nya untuk bekerja bersama-Nya mewujudkan rencana dan kehendak-Nya di bumi.

 

Tetapi Adam, manusia pertama, gagal menjadi rekan sekerja Allah. Ia tergoda Setan untuk hidup tidak bergantung kepada Allah dan bekerja untuk kehendak dan rencananya sendiri terpisah dari Allah. Ia ingin menjadi seperti Allah (Kejadian 3:5) dan menjadi allah bagi dirinya sendiri.

 

“ … engkau akan menjadi seperti Allah … “ (Kejadian 3:5).

 

Ketika manusia memutuskan untuk mengerjakan kehendak dan rencananya sendiri dan menolak untuk bekerjasama atau bermitra dengan Allah, manusia jatuh ke tangan Setan dan menjadi budaknya. Hidupnya menjadi sukar dan sulit (Kejadian 3:17-19) karena ia menolak untuk menjadi rekan sekerja Allah, yang artinya juga menolak Allah bekerja bersama-Nya. Akhirnya manusia hidup dalam keterpisahan dari Allah (Kejadian 3:23-24).

 

“Lalu Tuhan Allah mengusir dia dari taman Eden (yang tadinya Allah ingin) supaya ia mengusahakan tanah (itu)” (Kejadian 3:23).

 

Tetapi Allah mengasihi manusia yang diciptakan-Nya (Yohanes 3:16) dan Ia ingin menyelamatkan mereka (Yohanes 3:17) dan membawa mereka kembali kepada tujuan Allah semula yaitu menjadi rekan sekerja Allah. Allah ingin menikmati kerjasama dengan manusia dalam mencapai kehendak-Nya di bumi.

 

Jadi Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia untuk menebus manusia dari perbudakan mereka (Galatia 5:1). Ia menebus mereka dengan darah-Nya (1 Petrus 1:18-19) dan memberikan nyawa-Nya untuk mati di kayu salib di Golgota (Matius 20:28). Dan mereka yang mau percaya kepada Anak Allah, percaya atas kematian dan kebangkitan-Nya akan menerima kemerdekaan dan keselamatan (Roma 10:9).

 

“Jadi jika Anak memerdekakanmu, kamu sungguh-sungguh merdeka” (Yohanes 8:36).

 

Sekarang kita, yang percaya kepada Yesus Kristus Anak Allah, telah dimerdekakan dari perbudakan dan menjadi milik kepunyaan Allah (Wahyu 5:9-10). Dan Allah Bapa menginginkan kita menjadi rekan sekerja untuk kehendak dan rencana-Nya di dunia.

 

Tuhan Yesus memberikan kepada kita teladan yang sempurna bagaimana menjadi rekan sekerja Allah, karena ketika Ia di dunia sebagai Manusia, Yesus bekerja bersama Bapa dalam mewujudkan kehendak dan rencana Allah yaitu mendirikan Kerajaan Allah di bumi (Lukas 4:43).

 

Tuhan Yesus berkata: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga” (Yohanes 5:17). Jadi Tuhan Yesus tidak bekerja sendirian. Bapa juga bekerja bersama-Nya di saat yang sama: mengerjakan tujuan yang sama. Selanjutnya Tuhan Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yohanes 5:19). Ini adalah contoh dan makna yang sempurna dari menjadi rekan sekerja Allah dan bekerja bersama Allah: Yesus dan Bapa bekerja di saat yang sama untuk tujuan yang sama.

 

Jangan lupa bahwa pada waktu itu Anak Allah sedang menjelma menjadi manusia (Filipi 2:6-8). Ia menjadi seratus persen manusia dan bergantung sepenuhnya kepada Allah Bapa-Nya (Yohanes 5:30). Dan Yesus juga berkata bahwa kita akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Ia lakukan (Yohanes 14:12). Dengan kata lain Yesus ingin kita menjadi seperti Dia, sebagai rekan sekerja Allah.

 

Ironisnya banyak anak-anak Tuhan tidak menyadari bahwa Allah menghendaki mereka menjadi rekan sekerja-Nya. Ketika Allah sedang sibuk bekerja mereka hanya melipat tangan dan tidak mengerjakan apapun. Mereka tidak mau terlibat atau mengambil bagian dalam pekerjaan Allah, tetapi lucunya mereka tetap ingin mendapat upah atau pahala dari Allah.

 

“Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?” (Matius 20:6).

 

Sekarang, marilah kita belajar bagaimana Yesus menjadikan orang percaya sebagai rekan sekerja Allah:

 

Dalam Yohanes 15:15 Tuhan Yesus berkata: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba … tetapi Aku menyebut kamu sahabat” (Yohanes 15:15). Tuhan Yesus mau memberitahu kita bahwa dalam kerja sama dengan Allah, Ia tidak ingin memakai hubungan “tuan-hamba” tetapi “sahabat karib.” Perbedaannya adalah dalam hal motivasi.

 

Seorang hamba atau pegawai bekerja untuk tuannya karena digaji. Tuannya memberi perintah dan pegawainya mengerjakannya karena sang majikan akan membayar gajinya sesuai dengan pekerjaannya. Kadang-kadang pegawai berkerja dengan malas atau hanya di hadapan majikannya saja (Efesus 6:6), sehingga majikan harus menerapkan sistim hukuman untuk membuat pegawainya kerja dengan benar. Sang pegawai bekerja karena takut kepada majikannya. Itu adalah hubungan “majikan-pegawai” atau “tuan-hamba.”

 

Ini bukanlah jenis hubungan yang Tuhan inginkan dalam bekerja bersama-Nya. Ia menghendaki hubungan yang jauh lebih baik, yaitu hubungan “sahabat karib.”

 

Tidak berarti bahwa tidak diperlukan ketaatan dalam hubungan sahabat karib. Tuhan Yesus berkata: “Kamu adalah sahabat-Ku jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yohanes 15:14). Tetapi ketaatan ini dimotivasi bukan karena rasa takut atau mengharapkan upah melainkan karena kerinduan yang tulus ingin menyenangkan hati sang Sahabat, yaitu Tuhan Yesus. Ini akan membuat kita melakukan yang terbaik untuk Tuhan tanpa merasa terbebani. Bekerja bersama Allah, Sahabat kita, tidaklah membebani sama sekali, malah menyenangkan.

 

Kerelaaan kita untuk menaati-Nya dan mengerjakan yang terbaik bagi Dia adalah pernyataan kasih kita kepada-Nya dan rasa terima kasih kita atas keistimewaan yang kita telah terima dari Tuhan karena Tuhan telah mengangkat kita menjadi sahabat-Nya, bahkan sebagai rekan sekerja-Nya.

 

Tidaklah mudah memahami perasaan seseorang yang diangkat statusnya tinggi. Mungkin Yusuf adalah salah seorang yang memahaminya. Yusuf menjadi budak di Mesir dan bekerja pada seorang perwira di Mesir (Kejadian 39:1). Kemudian ia dimasukkan ke penjara karena difitnah isteri majikannya (Kejadian 39:20). Tetapi suatu hari ia tiba-tiba dibebaskan dari penjara dan Firaun mengangkat-nya menjadi orang yang sangat berkuasa di Mesir setelah dia (Kejadian 41:40-44).

 

Demikian pula Tuhan telah mengangkat kita dari hamba dosa (Roma 6:20) menjadi sahabat-Nya (Yohanes 15:14) dan rekan sekerja-Nya (1 Korintus 3:9). Jadi sekarang, apakah yang lebih pantas bagi kita, sebagai terima kasih kita atas anugerah yang telah kita terima selain dari memberikan diri kita kepada Allah (Roma 12:1) sehingga Ia dapat menjadikan kita rekan sekerja-Nya?

 

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

 

Ketika kita menjadi rekan sekerja Allah, Allah akan bekerja bersama-sama kita. Allah bekerja, kita juga bekerja bersama-sama dengan Dia untuk mencapai tujuan yang sama. Dalam kemitraan ini, Allah adalah Adi Mitra kita dan kita adalah mitra mudanya. Kita mengerjakan apa yang dapat kita kerjakan sesuai dengan kemampuan kita, dan Allah mengerjakan apa yang tidak dapat kita kerjakan atau yang di luar kemampuan kita. Ini tidak berarti bahwa Allah dan kita bekerja sendiri-sendiri secara terpisah, karena Allah oleh Roh Kudus-Nya mengerjakan pekerjaan-Nya di dalam kita dan melalui kita (Efesus 3:20).

 

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa (Roh Kudus) yang bekerja di dalam kita” (Efesus 3:20).

 

Ketika Allah bekerja bersama dengan kita hasilnya akan luar biasa dan mengagumkan; hasilnya jauh melampaui apa yang kita bayangkan. Dan kita menyadari ini bukan jasa kita, sehingga bagi Allahlah segala kemuliaan (Roma 11:36).

 

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36).

 

Reinhardt Bonke, seorang penginjil untuk Afrika, mengatakan bahwa bukan dia yang telah memenangkan jutaan jiwa di Afrika, tetapi Allah. Allahlah yang bekerja di Afrika, memenangkan jutaan orang, tetapi pada saat itu ia sedang berada di Afrika memberitakan Injil di tempat Allah sedang bekerja. Ia juga berkata bahwa bukan dia yang melakukan mujizat. Allahlah yang pada waktu itu menyembuhkan orang-orang sakit: membuat yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar dan yang bisu berbicara. Tetapi pada saat itu ia sedang berdoa bagi orang sakit dan menumpangkan tangannya atas mereka di dalam nama Yesus. Jadi orang-orang melihat bahwa Reinhardt lah yang melakukannya, padahal sebenarnya itu adalah hasil kerja sama Reinhardt dan Allah. Reinhardt melakukan apa yang dapat ia lakukan, yaitu berkhotbah, mendoakan dan menumpangkan tangan. Tetapi Allah melakukan apa yang ia tidak dapat lakukan, yaitu memenangkan jutaan jiwa dan melakukan berbagai mujizat kesembuhan.

 

Jadi dalam kemitraan ini, kita melakukan apa yang dapat kita lakukan dan Allah melakukan selebihnya yaitu hal-hal yang kita tidak dapat lakukan, di luar kemampuan kita dan yang mustahil untuk kita lakukan.

 

Inilah yang dikatakan Petrus ketika ia membuat orang lumpuh berjalan. Ia berkata: “Mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami yang membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?” (Kisah Para Rasul 3:12). “Oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu” (Kisah Para Rasul 4:10). Inilah yang kita sebut sebagai kerja sama Allah dan kita. Kita berdoa dan menumpangkan tangan kita dalam nama Yesus dan kuasa Allah yang melakukan mujizat.

 

Allah tidak akan menanyakan kemampuan kita dalam kerja sama dengan-Nya, tetapi Ia hanya menanyakan kesediaan kita. Kemampuan adalah tanggung jawab Allah. Ia dapat memberikan kemampuan kepada kita atau Ia bekerja dengan kemampuan-Nya melalui kita.

 

“Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (1 Korintus 12:6).

 

Itulah sebabnya Allah mengutus Roh Kudus untuk tinggal di dalam kita dan menyertai kita selamanya (Yohanes 14:16-17). Roh Kudus adalah kuasa Allah (Efesus 1:19). Ia memampukan kita untuk melakukan pekerjaan di luar kemampuan kita. Ia bekerja dengan kuat di dalam kita dan melalui kita (Efesus 3:20). Inilah alasan mengapa Yesus dengan yakin mengatakan bahwa kita akan mengerjakan pekerjaan yang Ia lakukan, bahkan pekerjaan yang lebih besar lagi (Yohanes 14:12).

 

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu” (Yohanes 14:12).

 

Menjadi rekan sekerja Allah adalah seperti menjadi penerjemah. Kita menerjemahkan supaya orang mengerti kata-kata yang diucapkan orang yang kita terjemahkan. Sebagai penerjemah kita harus menerjemahkan hanya kata-kata yang kita dengar. Ketika ia berbicara dengan suara keras, kita juga harus berbicara dengan suara keras. Ketika ia melakukan suatu gerakan kita juga melakukan hal yang sama. Itu adalah pekerjaan penerjemah.

 

Tuhan Yesus adalah “Penerjemah” Allah Bapa supaya orang dapat memahami Bapa. Ia melakukan apa yang Ia lihat Bapa melakukannya dan mengatakan apa yang Ia dengar Bapa mengatakannya (Yohanes 5:19; 14:10). Ia mengekspresikan dengan benar pikiran dan perasaan Bapa. Yesus “menerjemahkan” Bapa melalui pengajaran dan perbuatan-Nya.

 

“Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (Yohanes 14:10).

 

Apa yang akan terjadi jika kita menjadi mitra kerja Allah?

 

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yohanes 15:14).

 

Tuhan akan menjadikan kita sahabat-Nya (Yohanes 15:14), bahkan sahabat karib-Nya. Allah menyebut Abraham sahabat-Nya (Yakobus 2:23). Tuhan berbicara dengan Musa berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada sahabatnya (Keluaran 33:11). Dan sekarang Tuhan Yesus memanggil kita sebagai sahabat-Nya (Yohanes 15:14). Ini adalah suatu kehormatan yang luar biasa; Ia adalah Allah dan Raja kita, namun Ia mau memanggil kita dan menjadikan kita sahabat-Nya.

 

 

“Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yohanes 15:15).

 

Sebagai Sahabat, Tuhan memberitahukan segala sesuatu yang Ia ketahui kepada kita dan bahkan menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dalam hati-Nya. Ia tidak akan merahasiakan apapun dari kita. Jika Ia menyembunyikan sesuatu Ia tidak menyembunyikannya “terhadap” kita tetapi Ia menyembunyikannya “untuk” kita temukan. Ia menyingkapkan rahasia-Nya melalui Roh Kudus yang Ia utus untuk tinggal di dalam kita (1 Korintus 2:10-11).

 

Yesus berkata: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak” (Matius 13:11).

 

Roh Kudus menyelidiki rahasia hati Allah dan menyingkapkannya kepada kita (1 Korintus 2:11). Apa artinya? Ini artinya bahwa kita dapat melihat apa yang orang lain tidak melihatnya; kita dapat mendengar apa yang orang lain tidak mendengarnya; dapat memahami apa yang tidak dapat dipahami orang lain. Dan ini menjadikan kita berbeda dari orang lain. Kita akan memiliki cara pandang yang berbeda karena Allah menunjukkan hal-hal yang tersembunyi dan tidak diketahui orang-orang lain. Kita memiliki pikiran Kristus (1 Korintus 2:16).

 

“Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar, dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui” (Yeremia 33:3).

 

Lihat saja Kristus ketika Ia berjalan di bumi. Ketika Lazarus sakit Ia berkata bahwa penyakit Lazarus akan membawa kemuliaan bagi Allah (Yohanes 11:4). Ketika Lazarus mati Ia berkata Lazarus tidur dan Ia hendak pergi membangunkannya (Yohanes 11:11). Ketika Yesus berjumpa orang yang buta sejak lahir, orang-orang bertanya kepada-Nya dosa siapakah yang menyebabkan orang itu lahir buta? Tetapi Yesus berkata bukan karena dosanya atau dosa orang tuanya, tetapi karena pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yohanes 9:3). Ketika Yesus dalam perahu dan angin serta ombak mengombang-ambingkan perahu, Ia tertidur nyenyak di buritan (Markus 4:38-40). Ketika orang lain ketakutan, Yesus begitu tenang, sebab Ia tahu bahwa angin ombak tidak akan membunuh-Nya. Ini bukan sekedar masalah iman, tetapi juga karena Yesus mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain. Inilah yang membuat Yesus berbeda.

 

Rasul Paulus juga menyebut dirinya dan rekan pelayanannya Apolos sebagai rekan sekerja Allah (1 Korintus 3:9). Itulah sebabnya Allah menyingkapkan kepada Paulus rahasia dan misteri illahi. Akibatnya Paulus melihat apa yang orang lain tidak dapat lihat. Ia memiliki cara pandang yang berbeda tentang hidupnya. Ia menganggap kelemahan-kelemahannya bukan sebagai hal yang negatif tetapi sebagai kesempatan untuk melihat, menerima dan mengalami kekuatan dan kuasa Allah yang luar biasa. Itulah sebabnya Paulus tidak mengeluh malah menghargai penderitaannya dan bermegah dengan kesukaran dan kesulitannya (2 Korintus 12:10).

 

“Karena ketika aku lemah, aku kuat” (2 Korintus 12:10).

 

Ketika kita menjadi rekan sekerja Allah, kita menjadi sahabat-Nya. Allah memilih kita untuk menjadi sahabat-Nya (Yohanes 15:16). Jadi kita adalah orang-orang yang dipilih Allah: golongan manusia yang istimewa (1 Petrus 2:9). Dan sebagai orang pilihan Allah kita memiliki jaminan kepastian keselamatan kita karena nama kita tertulis di Sorga (Lukas 10:20).

 

Sebagai orang-orang pilihan Allah kita menerima berbagai keistimewaan dari Allah Bapa kita, yaitu penyediaan-Nya yang berlimpah sehingga kita tidak kekurangan suatu apapun yang diperlukan (Filipi 4:19); perlindungan yang dapat diandalkan yang melindungi kita dari musuh (Mazmur 61:3); hikmat dan pimpinan illahi yang menjaga langkah-langkah kita; pengaturan yang sempurna yang membuat hidup kita luar biasa (Mazmur 37:23).

 

“Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah” (Yohanes 15:16).

 

Sebagai rekan kerja-Nya, Allah telah menetapkan hidup kita untuk berbuah (Yohanes 15:16). Allah telah menentukan rekan sekerja-Nya untuk memiliki kehidupan yang berhasil, tetapi kita harus berjalan sesuai dengan firman-Nya, dan tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan, tetapi lurus di jalan-Nya (Yosua 1:7-8). Mungkin saja Tuhan mengijinkan kita gagal, tetapi kegagalan bukanlah tujuan akhir, itu hanyalah jalan yang harus dilewati supaya kita rendah hati dan membuat kita lebih bijaksana. Kita harus mengetahui bahwa Allah lebih menyukai kesuksesan kita dari pada kegagalan kita. Ia akan memberikan segala yang diperlukan untuk keberhasilan kita (Filipi 4:13). Yesus adalah keberhasilan dan keberuntungan kita. Ialah kemenangan kita. Ia telah menanamkan Roh Kudus-Nya di dalam hidup kita untuk menolong kita (Yohanes 14:16-17) mencapai sasaran yang Allah tetapkan bagi kita.

 

“Supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yohanes 15:16).

 

Sebagai “hadiah” karena menjadi rekan sekerja Allah, Ia mau memberikan apapun yang kita minta dari-Nya di dalam nama Yesus (Yohanes 15:16). Jika kita menerima apa yang kita minta dari Allah, maka kita memiliki semua jawaban untuk masalah kita, karena Allah adalah jawaban untuk masalah apapun yang kita miliki. Ini akan menjadikan kita pemenang dalam kehidupan kita (Roma 8:37). Tidak ada masalah yang tidak dapat kita selesaikan. Jika kita menggabungkan semua masalah kita yang besar, maka Allah kita tetap lebih besar dari semuanya itu. Dan Allah kita adalah Allah yang mendengar doa (Mazmur 65:2) dan juga menjawab doa (1 Yohanes 3:23).

 

“Betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya” (Efesus 1:19).

 

Ketika kita bekerja bersama dengan Allah dan menjadi rekan sekerja Allah, maka kita akan diberi kuasa Roh Kudus (Efesus 1:19) dan diperlengkapi dengan berbagai karunia rohani (1 Korintus 12:11) sehingga kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa yang Yesus janjikan (Yohanes 14:12). Ia akan memperkaya kita dengan berbagai pengalaman, pewahyuan, pencerahan dan hikmat. Mujizat dan tanda ajaib akan menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari yang meneguhkan persekutuan dan kemitraan kita dengan Allah (Markus 16:20).

 

“Dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Markus 16:20).

 

Tuhan Yesus pernah berkata: “Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidaknya percayalah kepada-Ku karena pekerjaan-pekerjaan (luar biasa) yang Aku lakukan” (Yohanes 14:11). Dengan kata lain kemitraan dan kesatuan Yesus dengan Bapa dibuktikan dengan pekerjaan-pekerjaan luar biasa yang dilakukan-Nya. Jadi hal-hal luar biasa yang kita kerjakan meneguhkan persekutuan dan kemitraan kita dengan Allah.

 

Kemitraan kita dengan Allah bukan hanya hubungan kerja bersama dengan Allah untuk mencapai rencana dan kehendak-Nya. Ini menyangkut hubungan yang lebih dalam antara Allah dan kita. Sebagaimana telah disebutkan di atas ini adalah hubungan persahabatan karib dengan Allah.

 

Allah ingin menjadikan kita sahabat karib-Nya. Ia menunggu respon kita atas tawaran-Nya untuk bersahabat dengan-Nya: apakah kita memiliki kerinduan yang sama dengan-Nya. Apakah kita sungguh-sungguh ingin menjadi sahabat-Nya dan membangun hubungan yang karib dengan-Nya? Apakah kita menganggap hal ini sebagai suatu prioritas dan kebutuhan yang sangat penting? Apakah kita berusaha dengan sekuat tenaga mendapatkannya? Apakah kita menganggap tawaran Allah untuk bersahabat dengan-Nya sebagai suatu kehormatan? Jika kita merespon secara positif pertanyaan-pertanyaan tadi maka Allah pasti akan menjadikan kita sahabat karib-Nya.

 

Dan Allah akan menjadikan kita mitra kerja-Nya untuk bekerja bersama Dia dalam mewujudkan Kerajaan-Nya di muka bumi. Ia akan melibatkan kita dalam proyek-Nya ini. Dan ketika Allah bekerja bersama dengan kita, kita akan mencapai hal-hal yang luar biasa dan indah dalam hidup kita. Hidup kita akan menjadi berbeda dengan kehidupan orang-orang lain yang bekerja sendiri untuk mencapai ambisi mereka.

 

Ketika Yesus berkata: “Percayalah bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidaknya percayalah kepada-Ku karena pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan” (Yohanes 14:11), ini berarti bahwa pekerjaan-pekerjaan luar biasa yang kita lakukan berhubungan dengan keintiman kita dengan Bapa, atau dengan kata lain, keintiman kita dengan Bapa akan menghasilkan karya-karya yang luar biasa.

 

Kita membaca dalam Alkitab bahwa mereka yang berhubungan karib dengan Allah melakukan hal-hal yang luar biasa. Lihat saja Daniel yang biasa menyembah Allah tiga kali sehari, ia menjadi orang yang luar biasa di kerajaan Babilonia (Daniel 6:10); Daud yang suka memuji Allah tujuh kali dalam sehari menjadi raja terbesar di Israel (Mazmur 119:164); Abraham yang senang beribadah dan mendirikan mezbah (Kejadian 12:7,8; 13:18) menjadi bapa dari bangsa yang luar biasa: Israel.

 

Allah akan bekerja sama dengan mereka yang berhubungan dekat dengan-Nya. Ia senang menjadikan mereka mitra kerja-Nya. Dan ketika Allah bekerja bersama kita hasilnya akan selalu luar biasa dan indah. Bagaimana mungkin jika Allah yang Mahakuasa  bekerja bersama kita dan kita hanya menghasilkan perkara yang tidak berarti dan tidak penting?

 

Kita harus memiliki kesukaan yang sama terhadap pekerjaan Allah seperti Yesus. Ia pernah berkata: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yohanes 4:34). Jika kita memiliki kesukaan dan gairah seperti itu Allah akan memuaskannya. Allah suka bekerja bersama dengan orang-orang yang tulus hati dan bersemangat. Marilah kita bekerja sama dengan Allah!

 

 

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Berkat Paket Lengkap

2 Korintus 13:13 adalah ayat yang luar biasa. Di dalamnya dideklarasikan tiga berkat utama yang bersifat paripurna: lengkap dan sempurna. Mengapa? Karena Ketiga Pribadi dari Allah Tritunggal memberikan berkat-Nya masing-masing yang khas untuk orang percaya, supaya mereka tidak kekurangan suatu apapun yang baik. Sebenarnya satu berkat saja sudah luar biasa, apalagi ini adalah berkat “tiga rangkap” (threefold blessing). Pastilah ini menjadi berkat yang sangat luar biasa, sempurna dan lengkap!

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday0
mod_vvisit_counterYesterday0
mod_vvisit_counterThis week0
mod_vvisit_counterLast week0
mod_vvisit_counterThis month0
mod_vvisit_counterLast month1127
mod_vvisit_counterAll1123945

People Online 0
Your IP: 54.224.60.122
,
Now is: 2018-07-16 12:17



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.