top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN Juni 2018 : Minggu,24/06/2018 Pk 17.00," Breakthrough , oleh : Bpk Marco " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh We are sorry to inform, that our visitor counter had a problem. Please ignore. Thank You for attention. Mohon maaf, Visitor Counter kami sedang mengalami gangguan teknis. Mohon diabaikan. Terimakasih.
Kehidupan Setelah Kematian PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Tuesday, 13 March 2018 14:33

Dalam Lukas 16:19-31, Tuhan Yesus menceritakan kehidupan dua orang yang sangat kontras keadaannya. Yang seorang sangat miskin dan yang lainnya sangat kaya. Si kaya “selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus.” Ini adalah pakaian khas orang yang sangat kaya pada zaman itu. Tambahan pula “setiap hari ia bersukaria (berpesta-pora) dalam kemewahan” (ayat 19). Sementara si miskin adalah seorang “pengemis,” “badannya penuh dengan borok” dan “berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu” (ayat 20), menantikan “apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.” Sementara itu “anjing-anjing datang dan menjilat boroknya” (ayat 21): suatu keadaan yang sangat menyedihkan.

 

Tetapi anehnya dalam kisah ini, yang miskin namanya dikenal yaitu Lazarus, sementara yang kaya yang seharusnya terkenal malah tidak disebutkan namanya. Mengapa?

 

Tuhan Yesus menceritakan dua orang yang “telah meninggal”: yang satu berada di Firdaus, “di pangkuan Abraham” dan yang lain di neraka (Hades). Tuhan Yesus adalah “Tuhan atas yang hidup dan yang mati” (Roma 14:9) sehingga Ia dapat menceritakannya sebab Tuhan melihat apa yang terjadi di kehidupan setelah kematian. Hanya Tuhanlah yang dapat memberikan informasi paling akurat tentang kehidupan di alam baka; jangan percaya kepada sembarang orang yang menceritakan tentang sorga dan neraka!

 

Diceritakan bahwa, si miskin ketika mati “dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham” (ayat 22); sementara si kaya setelah mati “menderita sengsara di alam maut” (ayat 23).

 

Firman Allah mengatakan: “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu” (Wahyu 20:15).

 

Jadi orang kaya ini namanya tidak ditemukan dalam kitab kehidupan sehingga Tuhan tidak menyebutkan namanya. Sementara orang yang tercatat namanya dalam kitab kehidupan boleh masuk sorga, sehingga Tuhan dapat menyebutkan nama si miskin itu, yaitu Lazarus.

 

Tuhan Yesus pernah mengatakan kepada ke-70 murid yang lain yang diutus-Nya untuk memberitakan Injil dan berhasil mengusir roh-roh jahat: “bersukacitalah karena namamu terdaftar di sorga” (Lukas 10:20). Artinya nama mereka tertulis di dalam kitab kehidupan. Apakah nama kita sudah terdaftar di sorga? Tertulis di dalam kitab kehidupan? Pastikan hal itu selama kita hidup di dunia. Sebab inilah kesempatan satu-satunya, dan bukan nanti setelah kematian.

 

Mengapa si kaya masuk neraka? Itu bukan karena ia kaya, melainkan karena ia telah melanggar Hukum Yang Terutama, yang mengatakan: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Dan, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39); karena “pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (ayat 40).

 

Orang kaya itu setiap hari berpesta pora: “bersukaria dalam kemewahan” (Lukas 16:19). Ia mencari kesenangan dan kepuasan hidup dalam kemewahan dan pesta pora; hidupnya materialistis dan hedonis. Ia tidak menjadikan Tuhan sebagai sumber kebahagiaan hidupnya. Sedangkan, pesta pora orang kaya pada waktu itu identik dengan kemabukan dan pemuasan hawa nafsu.

 

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan” (Lukas 21:34)

 

“Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu” (Roma 13:13).

 

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa pesta pora selalu berhubungan dengan kemabukan, percabulan atau pemuasan hawa nafsu. Inilah juga yang kemungkinan dilakukan anak-anak Ayub, sehingga setiap kali setelah selesai berpesta Ayub harus memanggil anak-anaknya dan menguduskannya dengan korban bakaran sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati” (Ayub 1:4-5).

 

Jadi orang yang setiap hari hidupnya berpesta posa sudah dapat dipastikan hidupnya duniawi. Ia mencintai dunia, sehingga kasih akan Allah tidak ada dalam diri orang itu (1 Yohanes 2:15). Dapat dikatakan bahwa si kaya tidak mengasihi Allah dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya, karena ia lebih mengasihi harta kekayaan, kemewahan dan kesenangan dunia; ia telah menjadikan harta dan kekayaannya sebagai tuhannya, sumber kehidupannya dan kebahagiaannya. Itulah yang menyebabkan orang kaya sukar masuk ke dalam Kerajaan Allah (Lukas 18:25); bukan karena kekayaannya tetapi karena sikapnya terhadap harta dan kekayaannya.

 

“Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu” (1 Yohanes 2:15).

 

Orang tidak dapat mengasihi dunia, hidup dalam hawa nafsu, melakukan berbagai dosa, dan sekaligus mengasihi Allah. Kasih seseorang kepada dunia membunuh kasihnya kepada Allah, dan juga sebaliknya, kasih seseorang kepada Allah akan membunuh kasihnya kepada keduniawian, karena “tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan (sekaligus) kepada Mamon” (Matius 6:24).

 

Yang kedua adalah si kaya tidak peduli dengan sesama, karena meskipun si miskin Lazarus selalu ada di depan pintu gerbang rumahnya, ia sama sekali tidak peduli dan tidak pernah berbelas kasihan. Si kaya sebenarnya punya kesempatan setiap hari untuk mempraktekkan kasih kepada sesama manusia dengan menolong si miskin Lazarus yang sakit dan kelaparan, namun ia tidak melakukannya. Ia “mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri” tetapi “tidak kaya (dengan kebajikan) di hadapan Allah” (Lukas 12:21).

 

Jadi si kaya melanggar kedua hukum terutama di mana pada kedua hukum tersebut tergantung kitab Taurat dan kitab para nabi (Matius 22:37-39). Dengan demikian si kaya telah melanggar seluruh Firman Allah, dan ia tidak pernah bertobat sampai matinya, sehingga hidupnya harus berakhir di neraka (Lukas 16:23).

 

Namun si miskin Lazarus hidupnya berakhir dalam kebahagiaan. Ia masuk sorga bukan karena kemiskinannya, tetapi karena ia mengandalkan pertolongan Tuhan seumur hidupnya. Nama Lazarus adalah kependekan dari Eleazar yang artinya “Tuhan menolong.” Tuhan Yesus pernah berkata: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah (dengan selalu menaruh pengharapannya pada Allah, bergantung kepada Allah, selalu membutuhkan Allah) karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3). Sementara si kaya tidak pernah bergantung kepada Allah tetapi kepada harta kekayaannya yang banyak (Mazmur 52:7). Ia mengandalkan kekuatan dari kekayaannya. Ia merasa segalanya dapat dibeli dengan uangnya.

 

Lalu kematian pun datang. Bagi Lazarus kematian melepaskannya dari segala penderitaannya, sedangkan bagi si orang kaya, kematian mengakhiri kebahagiaannya dan pesta poranya; kematian memisahkannya dari kemewahan-nya. Ia harus pergi dengan tangan kosong sebagaimana ketika ia lahir (Ayub 1:21).

 

Kematian tidak pandang bulu, apakah ia miskin atau kaya. Si kaya ternyata tidak dapat menolak kematian dengan kekayaannya. Ia mungkin dapat membayar tabib dan obat-obatan yang paling mahal untuk kesembuhannya. Ia dapat membeli vitamin yang mahal supaya tetap sehat dan panjang umur. Tetapi kekayaannya tidak dapat menghindarkannya dari kematian.

 

Kematian adalah hal yang paling demokratis, karena semua diperlakukan sama oleh kematian. Kematian tidak mengenal atau membedakan status seseorang. Kematian menyamakan kedudukan orang di mata Tuhan.

 

Penguburan Lazarus tidak dikisahkan karena ia miskin dan mungkin hanya keluarganya saja yang mengantar jenazahnya dan menguburkannya. Sementara si kaya diceritakan bahwa “ia dikuburkan” (Lukas 16:23). Mungkin penguburan-nya diiringi banyak orang dan dilayani oleh pemuka agama yang ternama. Kalau zaman sekarang mungkin peti matinya paling mahal dan kuburannya sangat indah dan megah. Yang mengantarkannya juga sangat banyak. Mobil jenazahnya mewah dan iring-iringan kendaraannya sangat panjang di kawal dengan polisi pengawal yang memaksa orang-orang di jalan menyingkir untuk memberi jalan kepada iring-iringan dengan raungan suara sirine. Mungkin upacara penguburannya diliput oleh televisi, ikan di korannya sangat besar dan karangan bunganya sangat banyak. Namun demikian semua keistimewaan itu tidak menentukan kebahagiaannya di alam maut ke mana ia menuju. Sebaliknya kesederhanaan penguburan Lazarus juga tidak menghalangi kebahagiaannya di alam baka.

 

“Sekarang ia (Lazarus) mendapat hiburan (kebahagiaan dan sukacita) dan engkau sangat menderita (kesakitan dan sengsara)” (Lukas 16:25).

 

Baik Lazarus dan si orang kaya, keduanya rupanya adalah anak-anak Abraham secara lahiriah yaitu orang Israel. Tetapi hanya Lazarus yang diterima sebagai anak Abraham secara rohaniah, karena setelah ia mati ia dapat “duduk di pangkuan Abraham.” Sedangkan si kaya, meskipun ia secara jasmani adalah keturunan Abraham juga, dan memanggil Abraham sebagai “bapa” namun ia dicampakkan ke dalam neraka dan tidak diterima sebagai anak Abraham secara rohaniah.

 

“Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham … Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu” (Galatia 3:7,9).

 

Jadi tidak semua yang terhitung keturunan Abraham secara lahiriah adalah anak Abraham, tetapi yang hidup dari iman seperti Abraham, yang adalah bapa orang beriman, merekalah anak-anak Abraham sejati.

 

Lazarus meskipun miskin, ia hidup dari iman. Ia selalu mengandalkan pertolongan Allah sebagaimana namanya, yang berarti “Allah menolong.” Itulah sebabnya ia diterima di pangkuan Abraham sebagai anak Abraham. Sementara si kaya meskipun memanggil Abraham, “bapa,” karena merasa keturunan Abraham, namun demikian tidak hidup dari iman dengan bergantung kepada Allah, melainkan menaruh kepercayaan dan harapannya kepada hartanya yang sangat besar. Itulah sebabnya ia tidak diterima untuk duduk di pangkuan Abraham.

 

“Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah terdapat ratap dan kertak gigi” (Matius 8:11-12). 

 

Kita semua di dalam Kristus, meskipun bukan keturunan Abraham secara jasmaniah, diterima menjadi anak-anak Abraham secara rohaniah (Galatia 3:29).

 

Si kaya hanya menyadari bahwa dirinya adalah keturunan Abraham secara jasmani. Sebab itu “ia berseru katanya: Bapa Abraham!” (Lukas 16:24).  Tetapi ia bukanlah anak Abraham sejati, sebab ia tidak hidup dalam iman seperti Abraham; ia tidak mengenal Allahnya Abraham. Ini terlihat ketika ia berdoa di alam maut: ia tidak meminta belas kasihan kepada Allah, tetapi kepada Abraham. Ia berseru katanya: “Bapa Abraham, kasihanilah aku!” (Lukas 16:24).

 

Yunus pernah berseru dari alam maut kepada Allah ketika ia mati ditelan ikan:

 

“Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak dan Kaudengarkan suaraku” (Yunus 2:2)

 

Allah memberinya kasih karunia dengan membangkitkannya dari kematian dan Allah mengeluarkannya dari perut ikan: “Lalu berfirmanlah Tuhan kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat” (Yunus 2:10).

 

Tidak demikian halnya dengan si orang kaya. Ia tidak memanggil dan berseru kepada Allah, karena ia selama hidupnya tidak mengenal Allah yang Abraham sembah. Ia hanya mengetahui Abraham sebagai bapak leluhurnya.

 

Jika orang tidak berusaha mengenal Allah selagi ia hidup, ia tidak akan pernah mengenal Allah sampai selamanya. Dan ia binasa karena tidak mengenal Allah:

 

“Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah” (Hosea 4:6).

 

Tempat di mana Abraham beserta dengan anak-anak rohaninya berada, dan tempat di mana si orang kaya berada, terpisah sangat jauh oleh “jurang yang tak terseberangi” (Lukas 16:26), sehingga tidak seorang pun dapat menyeberang untuk mengubah nasibnya atau mengubah nasib orang lain:

 

“Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu, ataupun mereka mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang” (Lukas 16:26).

 

Artinya: nasib orang di alam maut setelah kematian tidak dapat diubahkan sama sekali. Jika mau berubah, berubahlah selagi hidup, sebab setelah itu nasibnya akan ditentukan dan tidak dapat diubahkan selama-lamanya.

 

Penyesalan di alam maut sama sekali tidak berguna. Penyesalan selagi hiduplah yang berguna, karena dapat membawa kepada pertobatan, pengampunan dan keselamatan. Selagi hidup, dosa dapat diampuni melalui pertobatan yang sungguh-sungguh, dan dosa dapat disucikan oleh kuasa darah Tuhan Yesus (1 Yohanes 1:7), sehingga kita sungguh-sungguh bersih dan dibenarkan di hadapan Allah. Tetapi di kekekalan nanti pengampunan tidak berlaku lagi.

 

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).

 

Rupanya sifat atau karakter orang, baik atau buruk akan terbawa sampai kepada kekekalan. Si orang kaya masih memiliki sifat selagi ia hidup di dunia, yaitu suka menyuruh-nyuruh dan menganggap orang miskin sebagai hambanya, demikian juga di alam maut. Ia meminta Abraham untuk “menyuruh” Lazarus menolong dia yang kehausan dengan “mencelupkan ujung jarinya ke air dan menyejukkan lidahnya sementara ia sangat kesakitan dalam nyala api” (Lukas 16:24). Padahal selagi di dunia si kaya merasa jijik dengan Lazarus.

 

“Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku! Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini” (Lukas 16:24).

 

Rupanya juga roh manusia bisa menderita di alam maut meskipun sudah tidak punya tubuh jasmani (alamiah). Mungkinkah ini yang dimaksud rasul Paulus sebagai “tubuh rohaniah” yang “tidak dapat binasa” meskipun disiksa dalam nyala api di neraka atau bahagia di pangkuan Abraham di sorga? (1 Korintus 15:42, 44). Bukankah yang baik dan yang jahat sama-sama akan dibangkitkan (Yohanes 5:28-29): yang satu untuk hidup yang kekal bahagia di sorga dan yang lain untuk sengsara dihukum di neraka; meskipun saat kebangkitan masing-masing berbeda (Wahyu 20:5)? Jadi, jangan katakan bahwa setelah kematian orang tidak akan merasakan apapun!

 

Si kaya juga meminta supaya Abraham membangkitkan Lazarus dari kematian dan menyuruhnya datang ke rumah ayahnya untuk menobatkan keluarganya yang hidup berdosa seperti dia (Lukas 16:27). Padahal selama hidup di dunia mustahil si kaya dan keluarganya mau mendengarkan perkataan orang miskin seperti Lazarus. Seorang pernah berkata: “perkataan bijak orang miskin dianggap (maaf!) ‘kentut’ oleh orang-orang, terutama orang kaya. Sementara (maaf!) ‘kentut’ orang kaya dianggap bijak dan memberi inspirasi oleh orang-orang di sekitarnya.”

 

“Jawab orang (kaya) itu: Tidak bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka (saudara-saudaranya), mereka akan bertobat” (Lukas 16:30).

 

Abraham menolak usulan si orang kaya itu. Tetapi si kaya yang selalu merasa benar dan lebih pintar dari orang lain ketika masih hidup, juga berani menentang Abraham walaupun sudah di alam maut. Ia berani berkata kepada Abraham: “Tidak, Bapa Abraham, tetapi …. !”

 

Jika selagi hidup orang bandel dan sok pintar, maka di alam maut pun orang tetap bandel dan sok pintar, karena memang mereka tidak bisa bertobat lagi. Jika Abraham saja dibantahnya, maka pastilah sewaktu ia hidup nasihat para hamba Tuhan juga dibantahnya; firman Allah pun dibantahnya. Dan sifat inilah yang membawanya ke nyala api neraka.

 

Jika kita tidak mengubah sifat buruk kita melalui pertobatan selama hidup di dunia, maka sifat buruk itu akan terus terbawa sampai kekekalan. Itulah yang akan membuat ia terus menerus disiksa dalam penghukuman.

 

“Jika anugerah tidak dapat mengubah sifat burukmu, anugerah juga tidak dapat menyelamatkanmu” (A.W. Tozer).

 

Si kaya berpikir jika ada orang mati bangkit dan menasihati saudara-saudaranya, pastilah saudara-saudaranya mau bertobat. Tetapi Abraham berkata bahwa seharusnya jika mereka mau bertobat, mereka bisa mendengarkan nasihat para hamba Tuhan yang ada dan nasihat dari Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab yang tersedia, dan bukannya melalui hal-hal yang bersifat takhayul dan mistis.

 

Jika mereka tidak mau mendengar nasihat firman Tuhan dan hamba-hamba Tuhan, maka mereka juga tidak akan bertobat sekalipun ada orang mati bangkit dan memberitakan tentang pertobatan dan keselamatan.

 

“Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu … Jika mereka tidak (mau) mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka juga tidak akan mau diyakinkan (dan bertobat), sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Lukas 16:29,31).

 

Raja Saul pernah memanggil arwah Samuel (1 Samuel 28:1-19), namun demikian Saul tetap tidak bertobat meskipun sudah ditegur dan diperingati oleh arwah Samuel. Orang-orang Yahudi menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri Lazarus dari Betania yang dibangkitkan oleh Tuhan Yesus, namun demikian mereka tetap tidak mau percaya kepada Yesus yang telah membangkitkan Lazarus, sebaliknya mereka mau membunuh Yesus dan Lazarus juga (Yohanes 11:46-53; 12:10-11). Yesus bangkit dari antara orang mati dan ia menampakkan diri-Nya berulang-ulang selama 40 hari (Kisah Para Rasul 1:3) sebelum Ia terangkat hidup-hidup di depan mata banyak orang, namun demikian orang Yahudi tetap tidak mau bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan.

 

Dunia sekarang pun sama. Meskipun mereka melihat kubur Yesus kosong dan tidak dapat menemukan mayat-Nya namun demikian dunia tetap tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan. Mereka tidak percaya kepada firman Allah dan juga kepada para hamba Tuhan yang menyampaikannya.

 

Jika memang mau bertobat, bertobatlah sekarang. Firman Allah selalu tersedia dan hamba-hamba Tuhan selalu bersedia menolong mereka untuk mengenal Tuhan. Tetapi jika mereka mengeraskan hati, maka orang mati yang bangkit sekalipun tidak akan membuat mereka bertobat. Jangan gantungkan keselamatan kepada hal-hal yang bersifat takhayul, mistis dan klenik. Jangan pertaruhkan keselamatan dengan hal-hal seperti itu. Itu tipu muslihat Iblis. Iblis senang menipu manusia dengan hal-hal takhayul, mistis dan klenik. Manusia yang degil hatinya lebih percaya yang demikian daripada kebenaran Firman Allah yang pasti. Ini bahaya sekali!

 

“Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita” (Lukas 16:25).

 

Di kisah ini ada suatu pernyataan yang sebenarnya bukan pengajaran Tuhan Yesus, yaitu: kalau orang sudah menerima yang baik sewaktu hidup akan sengsara di neraka, dan kalau selalu menerima segala yang buruk sewaktu hidup, akan senang di sorga. Ini bukanlah prinsip yang diajarkan Tuhan Yesus. Yang diajarkan Tuhan adalah keselamatan oleh kasih karunia dalam Tuhan Yesus (Efesus 2:8) yang diterima melalui iman: “supaya barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

 

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (1 Korintus 10:9-10).

 

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Efesus 2:8).

 

Kita telah membahas sebelumnya bahwa si kaya dihukum dan masuk neraka bukan karena kekayaannya tetapi karena ia telah melanggar hukum yang terutama, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Matius 22:37-40). Si kaya binasa karena tidak mengenal Allah (Hosea 4:6) yang disembah Abraham dan tidak hidup dalam iman (Galatia 3:7) kepada Allah seperti Abraham. Kekayaannya tidak menjadikannya dihukum dan masuk neraka.

 

Pengajaran “orang kaya masuk neraka dan orang miskin masuk sorga” adalah pengajaran yang diajarkan oleh orang-orang Farisi dan dipercayai oleh kebanyakan orang Yahudi. Orang Farisi “menghibur” dan memberi “harapan kosong” kepada orang miskin bahwa meski mereka miskin di dunia tapi nanti masuk sorga, sembari “menghakimi” orang kaya: “biarlah orang kaya menikmati kekayaan sebab nanti mereka masuk neraka.” Sebab memang pada saat itu banyak sekali kasus orang kaya menindas orang miskin (Yakobus 2:6; 5:1-6).

 

Dengan prinsip yang dipercayainya dan dianutnya orang akan dihakimi. Jika mereka percaya dan menganut prinsip seperti diatas, mereka akan dihakimi dengan prinsip tersebut. Di dalam kisah ini Yesus sedang menghakimi orang yang menganut paham yang salah tersebut.

 

Jika kita percaya bahwa amal saleh kita dapat membeli keselamatan kita dan menebus dosa-dosa kita, maka kita akan dihakimi dengan prinsip tersebut. Dan kita akan gagal dan kecewa, karena amal saleh dan kebaikan kita tidak memadai untuk menebus dosa-dosa kita dan membeli keselamatan kita (Yesaya 64:6); tidak cukup untuk “membeli tiket masuk” agar kita dapat masuk ke sorga tanpa kasih karunia Allah. Tidak seorangpun mampu menebus dosa-dosanya yang ia telah perbuat seumur hidupnya dan membeli keselamatannya tanpa anugerah Allah. Hanya anugerah Allah saja yang membuat kita diampuni dan menerima keselamatan kita. Manusia tidak dapat bergantung kepada kebaikannya sendiri tetapi hanya kepada kebaikan Allah.  

 

“Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan (perbuatan dan amal saleh) kami seperti kain kotor (yang tidak dapat membersihkan dosa kami)” (Yesaya 64:6).

 

Jika seseorang belum diperdamaikan kembali dengan Tuhan dan ia dalam perseteruan dengan-Nya, bagaimana mungkin amal saleh dan perbuatan baiknya diterima oleh Tuhan? Jika Allah menolak orang itu lalu bagaimana amal baiknya dapat diterima?

 

Tetapi jika kita percaya dalam penebusan dan pengampunan dosa oleh darah Yesus, dan kita percaya keselamatan oleh anugerah, maka kita juga akan dihakimi sesuai dengan hukum anugerah yang menyatakan bahwa dosa-dosa kita telah ditebus dan dibayar oleh Yesus Kristus di kayu salib di Golgota. Melalui kematian-Nya di salib kita telah diperdamaikan kembali dengan Allah dan kita sekarang berdamai dengan-Nya. Jadi sekarang Allah menerima kita dan bahkan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Kita telah dibebaskan dari penghukuman.


“Sekarang tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus” (Roma 8:1).

 

Ketika kita berdiri di hadapan tahta pengadilan Allah, Allah akan mendapatkan nama kita tertulis dalam buku kehidupan dan kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sebagai milik-Nya. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi Allah selain menerima kita di sorga dan memberikan kepada kita kehidupan kekal sesuai dengan anugerah yang telah kita terima melalui iman di dalam Yesus Kristus. Haleluya!

 

“Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? (Apakah) Allah yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Tidak ada. (Apakah) Kristus yang telah mati –bahkan lebih lagi, yang telah bangkit, dan duduk di sebelah kanan Allah dan juga menjadi Pembela kita?” (Roma 8:33-34).

 

Jadi orang akan dihakimi dengan apapun yang mereka percayai dan prinsip yang mereka anut (Wahyu 20:12).

 

“Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di hadapan tahta, dan kitab-kitab dibukakan. Juga sebuah kitab lain dibuka, yaitu buku kehidupan. Orang-orang mati diadili berdasarkan dengan apa yang telah mereka lakukan sesuai dengan yang tercatat dalam kitab-kitab itu” (Wahyu 20:12).

 

Jika orang bergantung kepada pekerjaan hukum Taurat, ia juga akan dihakimi berdasarkan Hukum Taurat. Dan Hukum Taurat menuntut orang untuk melakukan semua yang tertulis dalam Hukum Taurat. Jika ia gagal dalam melakukan satu saja maka ia telah gagal secara keseluruhan. Tidak seorangpun dapat dengan sempurna menggenapi tuntutan Hukum Taurat, karena kelemahan daging. Rasul Paulus mengakui tentang hal ini (Roma 7:13-26). Itulah sebabnya mengala Allah mengutus Anak-Nya Yesus untuk menggenapi hukum Taurat bagi kita (Roma 8:3; Galatia 4:4-5).

 

Manusia akan dihakimi setelah ia mati (Ibrani 9:27), sesuai dengan prinsip yang mereka percaya dan anut, apakah menurut Taurat atau di luar hukum Taurat (Roma 2:12). Apapun itu, pilihannya terserah kita. Pilihlah untuk percaya kepada Yesus dan menerima anugerah yang membawa kepada penebusan, pengampunan dosa, perdamaian dengan Allah, pengangkatan sebagai anak-anak Allah dan hidup kekal di sorga. Pilihlah sementara kita masih hidup, karena tidak aka nada anugerah lagi di neraka. Amin.

 

 

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Menyiapkan dan Memperbesar Kapasitas

Dunia memerlukan orang yang berkapasitas dalam mengerjakan pekerjaannya dan menjalankan tanggung jawab yang diembankan kepadanya. Kerajaan Allah pun memerlukan orang-orang percaya yang berkapasitas untuk mewujudkan kehendak dan rencana Allah di bumi.

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday0
mod_vvisit_counterYesterday0
mod_vvisit_counterThis week0
mod_vvisit_counterLast week0
mod_vvisit_counterThis month0
mod_vvisit_counterLast month1127
mod_vvisit_counterAll1123945

People Online 0
Your IP: 54.224.60.122
,
Now is: 2018-07-16 12:18



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.