top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN Maret 2018 : Minggu, 25/03/2018 Pk 17.00," God's Disciples ?, oleh : Bapak Susanto Wibowo (Komisaris Yogya Group) " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Ruang Yang Terkunci PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Friday, 06 April 2018 06:59

Ada suatu keadaan yang menyedihkan dan tidak diharapkan setelah kebangkitan Yesus. Para murid berkumpul bersama di suatu ruangan dengan pintu-pintu yang rapat terkunci karena mereka dipenuhi ketakutan terhadap orang Yahudi (Yoh. 20:19). Ketakutan ini ada hubungannya dengan ketidakpercayaan mereka kepada apa yang Yesus sudah katakan: bahwa Ia akan bangkit dari kematian setelah penyaliban-Nya (Mark. 16:11,13,14). Ada ada hubungan yang erat antara ketakutan dan ketidakpercayaan.

 

“Ketika hari sudah malam pada hari pertama inggu itu berkumpullan murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi” (Yohanes 20:19).

 

Ketakutan membuat orang percaya mengunci pintu ruangannya dan tidak melakukan apa-apa. Jika ada kesibukan, mereka hanya sibuk bergerak di dalam ruangan yang terkunci. Sebagai akibatnya ada banyak gesekan di dalam: ada saling kritik, pertengkaran, saling menyalahkan, saling membanggakan diri dan iri hati.

 

Ruangan yang terkunci menutup kemungkinan Allah. Tidak ada harapan masa depan di dalam ruang yang terkunci, terutama jika dipenuhi oleh orang-orang yang penuh ketakutan. Ini adalah keadaan kebanyakan orang percaya atau gereja hari ini. Dan ini terjadi karena mereka sebenarnya orang percaya yang tidak percaya. Betapa suatu keadaan yang ironis.

 

“Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya” (Markus 16:11).

 

“Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya” (Markus 16:13).

 

“Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya” (Markus 16:14).

 

Sayangnya gereja tidak menyadari ketakutan dan ketidakpercayaan mereka. Mereka tidak pernah mengakuinya. Mereka tidak menyadari bahwa mereka diperbudak oleh ketakutan dan ketidakpercayaan yang membuat mereka lumpuh dan tidak dapat melakukan apa yang Tuhan ingin mereka lakukan. Mereka mengetahui dan mengerti perintah Tuhan, mereka percaya dan mengaminkannya, tetapi mereka tidak menaatinya, karena mereka takut. Mereka takut bahwa mereka akan gagal, ditolak, dikritik, atau menyinggung orang lain. Mereka takut tentang banyak hal yang menguasai pikiran mereka. Mereka dipenuhi dengan prasangka dan alasan manusiawi.

 

“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: Ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15).

 

 

Ketakutan ini bukan datang dari Tuhan. Ini adalah roh perbudakan yang membuat mereka takut (Roma 8:15). Tetapi mereka tidak pernah mengusirnya dan menganggapnya serius. Mereka menganggap itu hal yang normal. Mereka tidak percaya kepada kemungkinan (dalam) Allah dan kemampuan-Nya (Yer. 32:26). Mereka hanya melihat ketidakmampuan dan kekurangan mereka. Hanya karena mereka pernah mengalami kegagalan di masa lalu, mereka berpikir bahwa itu selamanya tidak mungkin bagi mereka.

 

“Jawab Yesus: Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23).

 

“Sesungguhnya Akulah Tuhan, Allah segala mahluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yeremia 32:27).

 

Ada suatu kisah tentang seekor anak gajah yang salah satu kakinya diikat dengan tali yang besar dan tebal pada sebuah tiang sejak ia kecil. Tahun demi tahun gajah kecil ini berusaha memutuskan tali tersebut dan selalu gagal. Gajah itu tidak menyadari bahwa ia bertumbuh dan sekarang sudah menjadi gajah yang besar dan kuat, dan memiliki cukup kekuatan untuk memutuskan tali yang mengikatnya jika ia mau. Tetapi ia tidak melakukannya karena ia takut ia akan gagal lagi seperti sebelumnya.

 

“Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: Damai sejahtera bagi kamu!” (Yohanes 20:19).

 

Tetapi kabar baiknya adalah, Yesus mengetahui keadaan ini dan ia ingin mengubahnya. Jadi Yesus tiba-tiba muncul di tengah-tengah para murid dan berkata kepada mereka: Damai sejahtera bagimu!

 

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yohanes 14:27).

 

Satu-satunya penawar racun ketakutan adalah damai sejahtera yang Tuhan Yesus berikan. Ia adalah Raja Damai dan Ia hendak memberikan damai sejahtera yang dimiliki-Nya (Yoh. 14:27) yaitu damai yang melampaui segala akal manusia (Fil. 4:7). Hanya perjumpaan dengan Yesus yang dapat mengusir ketakutan. Tuhan Yesus selalu berkata: Jangan takut! Damai sejahtera untukmu! Karena Ia mengetahui bahwa kita memerlukan damai sejahtera untuk mengalahkan ketakutan kita. Jadi ketika ketakutan menguasai kita, carilah Yesus dan dapatkanlah damai sejahtera-Nya yang akan memenuhi dan menjagai hati dan pikiran kita.

 

Kita tidak boleh hidup dalam ketakutan, karena perasaan takut sangatlah tidak nyaman: menyakitkan dan merusak kita. Ketakutan mengikat dan merupakan intimidasi roh perbudakan. Kita harus mengusirnya segera. Biarlah Yesus mengusir ketakutan kita dengan memenuhi hati dan pikiran kita dengan damai-Nya. Kita harus mencabut segala akar ketakutan yang disebabkan oleh ketidak-percayaan di dalam kita supaya kita dapat hidup dengan roh yang damai dan tenang.

Setelah itu Yesus menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya yang berlubang, dan para muridpun dipenuhi dengan sukacita (Yoh. 20:20).

 

Ketika kita dapat mengalahkan ketakutan kita dan memiliki hati dan pikiran yang damai, maka Tuhan akan menambahi iman kita dengan “bukti nyata.” Ini adalah untuk melenyapkan semua teori dan prasangka dalam pikiran kita yang datang dari logika dan pemahaman manusia dan bukan dari Firman Allah. Ini adalah untuk menghancurkan ketidakpercayaan dan keragu-raguan. Allah tidak dapat bekerja dengan orang yang penuh keraguan (Yak. 1:6-8). Keraguan dan ketidakpercayaan mematikan iman dan membunuh harapan dan sukacita. Bahkan Yesus tidak banyak melakukan mujizat di tengah keraguan dan ketidakpercayaan (Mat. 13:58).

 

Ketika keraguan dan ketidakpercayaan dapat meninggalkan kita maka kita akan dipenuhi dengan sukacita yang luar biasa. Sukacita adalah tanda dari iman dan harapan. Sukacita menyalakan roh kita dan membuat roh kita membara, sehingga kita dapat menjadi saksi Kristus untuk dunia yang terhilang. Sukacita dan damai sejahtera menarik perhatian dunia yang resah, karena dunia sangat memerlukannya dan mencarinya.

 

Dan kemudian penugasan Allah pun datanglah: “Sebagaimana Bapa telah mengutus Aku, demikianlah sekarang Aku mengutus kamu!” (Yoh. 20:21). Tujuan Yesus datang menemui mereka setelah kebangkitannya adalah untuk mengutus para murid-Nya untuk menyebarkan Kabar Baik tentang Dia, bukan hanya untuk berkumpul bersama di ruang terkunci dan hanya mendiskusikan di antara mereka tentang kehidupan-Nya dan kebangkitan-Nya. Yesus ingin dunia mengenal-Nya dan datang kepada-Nya dan percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat sehingga dunia dapat memperoleh keselamatan. Ini adalah tujuan sebenarnya dari kedatangan-Nya.

 

Kita memiliki Allah yang unik. Ia adalah Yesus. Tidak ada Allah yang seperti Dia. Dia satu-satunya Allah yang memiliki Bapa (Yoh. 2:16) dan menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah (Yoh. 10:36) walaupun dengan resiko akan dibunuh oleh para pemimpin agama karena pernyataan-Nya dianggap sebagai penghujatan luar biasa terhadap Allah (Yoh. 10:33; 19:7).

 

Ia adalah satu-satunya Allah yang rela menjelma menjadi manusia; Pencipta menjadi seperti ciptaan (Yoh. 1:14); Allah yang tidak terbatas menjadi manusia yang terbatas. Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi Ia telah mengosongkan diri-Nya untuk turun ke dunia dan menjadi manusia (Fil. 2:6-7).

 

“Yang meskipun sebenarnya satu dengan Allah dan dalam rupa Allah (memiliki keseluruhan atribut yang menjadikan Allah sebagai Allah), tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus digenggam-Nya erat dan tidak dilepaskan-Nya. Tetapi Ia melepaskan semuanya (dari semua keistimewaan dan harga diri-Nya sebagai Allah), sehingga mengambil rupa seorang hamba (budak), dan menjadi sama dengan manusia dan dilahirkan sebagai manusia” (Filipi 2:6-7; Amplified Bible).

Ia satu-satunya Allah yang rela menyerahkan nyawa-Nya (Mat. 20:28) di salib untuk mati sebagai pengganti manusia yang berdosa; Yang tidak dapat mati mengalami kematian dan maut (Ibr. 2:9).

 

Ia satu-satunya Allah yang rela dijadikan berdosa meskipun Ia tidak mengenal dosa (2 Kor. 5:21); Yang Mahasuci menjadi berdosa bukan karena perbuatan-Nya sendiri melainkan karena menanggung dosa manusia. Ia satu-satunya Allah yang bersedia turun ke Hades (Ef. 4:9) untuk membayar hukuman dosa (Ibr. 2:9) sebagai pengganti kita; Pemilik sorga turun ke neraka.

 

Ia satu-satunya Allah yang bangkit dari antara orang mati dan mengalahkan maut serta hidup selamanya (Wah. 1:18). Ia satu-satunya Allah yang naik ke sorga di hadapan banyak saksi dan dengan mata telanjang mereka melihat awan menutupi-Nya dan mengangkat-Nya kembali ke takhta-Nya (Luk. 24:50-51).

 

“Setelah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kisah Para Rasul 1:9).

 

Ia menginginkan supaya para murid-Nya menjadi saksi-Nya, bukti hidup, atas semua yang telah dilakukan-Nya (Kis. 1:8; 1 Pet. 2:9).

 

Keunikan Allah kita menjadikan kita – orang-orang percaya – umat yang unik juga. Kita adalah anak-anak Allah, orang-orang pilihan Allah, warga Kerajaan Sorga, duta atau utusan Kristus di dunia. Jadi Yesus mengutus kita untuk mendeklarasikan ke seluruh dunia tentang Dia (Mat. 28:18-20), tentang keselamatan di dalam nama-Nya; supaya manusia dapat memperoleh pengampunan atas dosa-dosa mereka melalui iman kepada-Nya (Kis. 2:38). Kita harus menyebarkan Kabar Baik bahwa ada harapan masa depan di dalam Kristus; bahwa manusia dapat memperoleh kesempatan yang kedua dalam hidup mereka dengan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus (2 Kor. 5:17). Bukankah itu suatu tugas yang indah yang telah kita terima?

 

Tetapi Yesus tidak mengutus kita dengan tangan hampa (Luk. 10:19). Ia memperlengkapi kita dengan kuasa urapan Roh Kudus. Ia menghembusi para murid dan berkata: Terimalah Roh Kudus! (Yoh. 20:22).

 

Ia menghembuskan Roh pemberi hidup ke dalam roh kita: Roh yang sama kuasa-Nya yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati (Roma 8:11; Ef. 1:19-20). Dan urapan Roh Kudus itu sekarang ada di dalam orang-orang percaya (1 Kor. 6:19), dan siap untuk beraksi! Ia akan bergerak ketika orang percaya bergerak menggenapi kehendak Allah.

 

“Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Markus 16:20).

 

Tetapi sayangnya banyak orang percaya menunda-nunda dan terus menunggu Roh Kudus beraksi lebih dulu, padahal Roh Kudus sedang menunggu mereka untuk segera mengambil langkah. Roh Kudus mengantisipasi tindakan orang percaya tetapi orang percaya malah terus menunggu dan tidak melakukan apa-apa. Maka terjadilah kemandegan. Ini adalah perangkap Iblis! Kita harus melepaskan diri kita dari perangkap ini dan keluar dari lingkaran Setan yang telah membuat gereja bergerak berputar-putar di tempat dan tidak bergerak maju ke depan.

 

Jika seekor keledai tersandung di batu yang sama, itu artinya si keledai sedang berjalan berputar-putar. Demikian pula jika gereja menghadapi masalah yang sama dari waktu ke waktu, itu artinya gereja tidak berjalan lurus – menggenapi Amanat Agung – tetapi sibuk bergerak di tempat mengurusi urusan di dalam yang tidak ada habisnya.

 

Gereja mula-mula juga menghadapi masalah yang sama (Kis. 6:1). Mulai timbul banyak keluhan di antara anggota jemaat tentang pelayanan gereja bagi orang-orang miskin. Ada pelajaran di sini: bahwa ketika gereja menghentikan langkah mereka dalam memberitakan Injil, dan mereka berhenti sampai di Yerusalem, sementara kehendak Allah adalah Injil harus menyebar juga ke Yudea dan juga Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:18), maka mereka mulai menghadapi banyak masalah internal: “gesekan di dalam ruang yang terkunci.”

 

Allah sebenarnya sedang mengatakan kepada mereka untuk tidak melupakan tugas mereka semula. Tetapi kemudian gereja, bukannya mengutus para penginjil, malah mengangkat para diaken (Kis. 6:3-6). Ini tidak salah, karena setelah itu gereja lokal di Yerusalem menjadi berkembang dengan pesat (Kis. 6:7). Tetapi tetap rencana Allah semula belum terlaksana sebagaimana yang seharusnya. Dan Allah tidak senang, karena Ia ingin agar Injil menjangkau seluruh dunia.

 

Tetapi gereja tidak bisa mendengar apa yang sedang Allah katakan kepada mereka melalui masalah yang muncul. Maka Allah mulai berbicara dengan cara lain: mengijinkan penganiayaan atas gereja (Kis. 8:1). Maka kita lihat gereja mulai bergerak sampai ke Yudea dan Samaria sesuai dengan perintah Tuhan (Kis. 1:8).

 

“Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasulrasul, tersebar ke sulurh daerah Yudea dan Samaria” (Kisah Para Rasul 8:1).

 

Akhirnya Injil mencapai Roma, “ujung bumi” (suatu titik di mana jika itu dimenangkan seluruh dunia dimenangkan). Dan dari situ Injil tersebar ke seluruh dunia, karena kekaisaran Romawi sedang menguasai dunia beradab pada waktu itu. Dan hari ini Injil telah mencapai tempat kita.

 

Ketakutan dan keengganan yang datang dari ketidakpercayaan menyebabkan gereja menukar Amanat Agung dengan berbagai hal yang tidak produktif (tidak memenangkan jiwa) yang tidak memberikan keuntungan kepada Kerajaan Allah. Mereka berpikir bahwa Amanat Agung hanyalah salah satu opsi atau pilihan. Amanat Agung bukanlah opsi atau alternatif, itu adalah perintah langsung Panglima dan Raja kita (Mat. 28:18-20).

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:18-20).

 

Banyak orang percaya menganut pola pikir Perjanjian Lama mengenai pekerjaan Roh Kudus. Di Perjanjian Lama Roh Kudus datang dan pergi atas seseorang yang Allah akan pakai sebagai alat-Nya. Sehingga mereka harus menunggu sampai Roh Kudus datang atas mereka dan mereka baru bertindak. Mereka harus menunggu tanda bahwa Roh Kudus ada atas mereka dan mereka akan menjadi perkasa dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang gagah perkasa (1 Sam 10:7). Itulah sebabnya di Perjanjian Lama Roh Kudus bisa undur dan meninggalkan seseorang, seperti pada Saul atau Samson.

 

“Apabila tanda-tanda ini terjadi kepadamu, lakukanlah apa saja yang didapat oleh tanganmu (dan engkau akan berhasil), sebab Allah menyertai engkau” (1 Samuel 10:7).

 

Tetapi di zaman Perjanjian Baru Roh Kudus tinggal selamanya dalam orang percaya (Yoh. 14:16-17): selama orang itu percaya kepada Tuhan Yesus. Kita tidak usah menunggu orang yang sudah ada bersama kita, bukan? Sebaliknya Roh Kudus sedang menunggu kita untuk bertindak menjadi saksi Kristus, untuk memberitakan kepada dunia tentang pekerjaan yang ajaib dari Tuhan Yesus yang telah mengubah kehidupan kita dengan indahnya (1 Pet. 2:9).

 

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9).

 

Kita adalah bukti hidup dari karya Kristus dan dunia sebenarnya sedang menunggu Kabar Baik karena setiap saat dunia hanya mendengar kabar buruk. Kita adalah satu-satunya saluran bagi Allah untuk membawa Kabar Baik kepada dunia (Roma 10:14-15).

 

Tuhan Yesus telah menerima segala kuasa dan otoritas baik di sorga maupun di bumi. Dan Ia dapat memberikan kepada kita kuasa itu sehingga kita dapat pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Kabar Baik tentang keselamatan di dalam Dia. Barangsiapa percaya kepada pemberitaan kita dan memberi diri mereka untuk dibaptis akan diselamatkan.

 

Dengan kuasa ini kita memiliki kekuatan mengalahkan musuh supaya tidak ada yang membahayakan kita (Luk. 10:19). Kita dapat meletakkan tangan kita atas orang sakit dan mereka akan disembuhkan; dan mengusir roh-roh jahat dan mereka akan tunduk kepada kita, sehingga kita dapat melepaskan orang yang dikuasai roh-roh jahat (Mark. 16:17-18).

 

Betapa hebatnya kuasa yang telah kita terima dari Kristus yang telah bangkit? Sekarang kita tidak takut lagi; kita tidak ragu dan bimbang lagi; kita tidak menjadi orang percaya yang tidak percaya; kita penuh dengan keyakinan di dalam Kristus; kita dapat membuka pintu yang terkunci sekarang dan melangkah ke luar dan mengalami segala kemungkinan Allah yang tidak terbatas. Kita tidak akan hidup dalam kemustahilan lagi tetapi dalam kemungkinan Allah. Haleluya! Segala puji bagi nama Tuhan!

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Sukses Sejati

Sukses atau berhasil selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas dan dibicarakan. Semua orang lebih memilih dan menyukai sukses daripada gagal. Oleh sebab itu tidak henti-hentinya orang mencari jalan menuju kesuksesan. Tetapi kita harus menemukan kesuksesan yang sejati dan bukan yang semu. Puji Tuhan kita memiliki Firman Allah yang menjadi petunjuk jalan untuk meraih kesuksesan sejati. Kesuksesan sejati hanya berasal dari Allah. Ialah yang mampu memberikan kesuksesan sejati dan Ia bukan hanya mampu, tetapi Ia juga menghendaki agar anak-anak-Nya meraih dan mengalami kesuksesan sejati. Firman Allah berisi petunjuk-petunjuk untuk memperoleh kesuksesan sejati(Yosua 1:8). Di dalamnya kita dapat belajar dari nasihat-nasihat, peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh Alkitab yang memberi teladan tentang kesuksesan sejati.

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1060
mod_vvisit_counterYesterday1478
mod_vvisit_counterThis week5739
mod_vvisit_counterLast week8372
mod_vvisit_counterThis month24181
mod_vvisit_counterLast month44370
mod_vvisit_counterAll1095420

People Online 20
Your IP: 54.198.134.104
,
Now is: 2018-04-19 17:23



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.