top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...




PERTEMUAN KBN Mei 2019 : Minggu,26/05/2019 Pk 17.00," Kebiasaan Orang Sukse, oleh : Bpk. Paulus Muljadi (Twin Tulipware Owner) " Gedung Grand Matlenn (ex.Istana Gading) Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Penyertaan Allah (Imanuel) Sepanjang Sejarah PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Tuesday, 11 December 2018 07:51

“Dan akan menamakan Dia Imanuel – yang berarti: Allah menyertai kita” (Matius 1:23)

 

Penyertaan Allah adalah bentuk kasih dan kesetiaan Allah kepada umat-Nya. Penyertaan Allah terjadi ketika Allah dapat bersekutu atau berhubungan dengan intim dengan manusia yang diciptakan-Nya. Allah menyukai persekutuan dengan manusia yang didasari atas hubungan yang tulus dan penuh kasih, dan bukannya melalui agama. Agama bukanlah sarana atau institusi ciptaan Allah. Lihat saja bagaimana Allah berhubungan dan bersekutu dengan Adam, manusia pertama yang diciptakan-Nya: Allah berhubungan secara langsung dan pribadi tanpa melalui agama. Pada waktu itu belum ada agama apapun di dunia.

 

Allah membuat suatu Taman yang indah, yaitu Taman Eden (Kej. 2:8-14), di mana di dalamnya ada keindahan dan kebaikan Allah; segala yang diperlukan tersedia dengan limpahnya. Allah menempatkan manusia yang diciptakan-Nya di Taman yang indah itu (Kej. 2:15) dengan maksud supaya Allah dapat berhubungan dan bersekutu dalam keakraban setiap saat. Allah suka berjalan-jalan di Taman Eden ketika hari sejuk (Kej. 3:8). Hubungan yang akrab antara Allah dan manusia menyebabkan Allah senang menyertai manusia. Dan selama Allah menyertainya manusia hidup dalam kebahagiaan dan kedamaian.

 

Namun demikian manusia merusak hubungan yang indah itu. Manusia memberotak kepada Allah dengan melanggar ketetapan Allah. Manusia memakan buah pohon yang dilarang karena mengikuti anjuran Setan, musuh Allah (Kej. 3:1-7). Sejak saat itu manusia menjadi mahluk yang berdosa (Roma 5:12). Hubungan manusia dengan Allah sekarang terhalangi dosa yang menjadi benteng pemisah antara Allah dan manusia (Yes. 59:1-2). Manusia karena mendengarkan anjuran Setan sekarang menjadi berseteru dengan Allah.

 

Perseteruan itu menyebabkan manusia harus terpisah dari Allah. Mereka diusir keluar dari Taman Eden (Kej. 3:23-24). Keterpisahan menyebabkan manusia hidup dalam kesengsaraan dan ketakutan. Kesengsaraan sebab sekarang mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan rejeki mereka (Kej. 3:18-19). Perseteruan, kemiskinan dan kesakitan sekarang menjadi bagian dari kehidupan (Kej. 3:16-19). Manusia hidup dalam ketakutan sebab dihantui oleh perasaan berdosa dan bersalah dan takut akan hukuman (Kej. 3:10). Ketakutan akan kematian, perasaan terancam dan kekuatiran juga menjadi bagian dari kehidupan manusia.

 

Ketika hubungan dengan Allah bermasalah, manusia tidak lagi merasakan penyertaan Allah yang indah. Mereka merindukan kembali saat-saat di mana mereka merasakan penyertaan Allah. Namun mereka sadar bahwa dosa telah menjadi pemisah antara Allah dan manusia. Melihat kerinduan itu Allah memberikan dispensasi (kemudahan) bagi manusia untuk dapat berhubungan dengan-Nya. Allah menetapkan dispensasi berupa korban hewan yang harus dipersembahkan di atas mezbah. Ketika manusia melakukan dispensasi ini mereka dapat berhubungan dengan Allah. Itulah yang dilakukan oleh Habel. Allah berkenan menerima persembahan hewan di atas mezbah karena itu sesuai dengan dispensasi yang diberikan-Nya (Kej. 4:4). Dispensasi ini ditetapkan Allah karena melambangkan apa yang akan terjadi kemudian, yaitu pengorbanan Kristus, Anak Allah, yang akan menebus dosa manusia dan memperdamaikan kembali manusia dengan Allah (Kol. 2:17).

 

“Semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kolose 2:17).

 

Tetapi manusia bukannya berusaha mendekat kepada Allah dan memperbaiki hubungan mereka yang retak, sebaliknya mereka semakin memberontak kepada Allah dan hatinya dipenuhi dengan kejahatan (Kej. 6:5-6), sehingga Allah bukan hanya tidak bisa menyertai mereka melainkan harus memusnahkan mereka sebab mereka sudah sangat rusak (Kej. 6:11-12). Allah akhirnya memutuskan untuk menghukum dunia lewat bencana Air Bah (Kej. 6:13, 17). Untunglah masih ada satu keluarga manusia yang hidupnya masih benar di hadapan Allah  sehingga Allah berkenan menyelamatkan mereka. Mereka adalah keluarga Nuh (Kej. 6:8-9). Sementara itu semua manusia lainnya binasa karena air bah.

 

Setelah penghukuman dengan Air Bah manusia masih mencari cara sendiri bagaimana mereka dapat berhubungan dengan allah dan menyelesaikan masalah dosa mereka menurut versi mereka sendiri. Mereka mereka-reka tentang allah yang tidak mereka kenal (Yoh. 4:22) dan membuat sendiri tata cara ibadahnya untuk menghampiri allah mereka dan juga cara untuk menyelesaikan masalah dosa mereka. Cara yang dibangun manusia inilah yang disebut agama. Agama adalah inisiatif manusia. Itulah sebabnya ada banyak agama dan mereka berbeda-beda karena lahir dari pandangan manusia yang berbeda-beda. Agama sebagai inisiatif manusia tidak bisa memperbaiki hubungan manusia dengan Allah, karena tidak dapat menyelesaikan masalah dosa dengan tuntas dan sempurna sebagaimana yang dikehendaki Allah. Akibatnya agama tidak dapat mendamaikan Allah dan manusia. Sebaliknya agama menimbulkan masalah baru bagi peradaban manusia. Manusia menjadi terpecah-pecah karena perbedaan agama, berseteru, saling membenci karena masing-masing merasa agamanya paling benar. Padahal tidak ada agama yang paling benar yang dihasilkan dari inisiatif manusia yang berdosa.

 

Inisiatif manusia sama sekali tidak dapat memperbaiki hubungan Allah dan manusia, sebab akar dari persoalannya adalah dosa (Roma 3:23), dan manusia tidak mungkin bisa menyelesaikan sendiri masalah dosa mereka dengan tuntas. Masalah dosa manusia hanya dapat diselesaikan dengan tuntas oleh inisiatif Allah sendiri.

 

Oleh karena itu Allah mengambil inisiatif untuk memperbaiki kembali hubungan-Nya dengan manusia agar Allah dapat kembali menyertai manusia dalam kehidupan mereka di dunia. Inisiatif yang Allah lakukan adalah membangun jalan panjang menuju “Imanuel.”

 

Inisiatif Allah bukanlah dengan menciptakan suatu agama bagi manusia. Inisiatif yang Allah lakukan ialah dengan memilih seorang yang bernama Abram, memanggilnya keluar dari sanak keluarganya dan negerinya dan membangun suatu hubungan yang akrab dengannya (Kej. 12:1). Allah masih memakai dispensasi yang sama agar Abraham dapat berhubungan dengan Allah, yaitu melalui korban persembahan di atas mezbah. Abraham sering membangun mezbah dan mempersembahkan korban (Kej. 12:7,8; 13:18) dan Allah berkenan menerimanya sehingga Allah sering mengunjungi Abraham dan berbicara dengannya. Hubungan yang akrab ini karena Allah menganggap Abraham sebagai sahabat-Nya (Yak. 2:23) dan Allah berkenan menyertai hidupnya. Akibat penyertaan Allah Abraham menjadi sangat diberkati (Kej. 24:35).

 

Abraham memperanakkan Ishak. Kepada Ishak Allah pun menyatakan penyertaan-Nya  oleh karena janji-Nya kepada Abraham ayahnya (Kej. 26:3). Penyertaan Allah juga membuat Ishak menjadi seorang yang sangat berhasil (Kej. 26:12, 13, 28). Memang penyertaan Allah selalu membuat orang yang disertai-Nya berhasil. Ishak selalu menjaga hubungan-Nya dengan Allah seperti Abaraham ayahnya. Ia mendirikan mezbah dan memanggil nama Tuhan (Kej. 26:25).

 

Ishak memperanakkan Yakub. Allah menyatakan perkenanan-Nya untuk menyertai Yakub ketika di Bethel (Kej. 28:15) sebagaimana Allah telah menyertai Abraham dan Ishak. Yakub juga berhubungan dengan Allah seperti Abraham dan Ishak dengan mendirikan mezbah dan korban hewan sesuai dengan dispensasi yang Allah berikan (Kej. 35:1, 7). Allah kemudian menamai Yakub Israel (Kej. 35:10) dan sekarang ia telah memiliki keluarga yang besar yang kemudian akan menjadi 12 suku Israel.

 

Yusuf anak Yakub pun mendapat perkenanan Allah sehingga Allah berkenan menyertainya waktu Yusuf berada di Mesir, jauh dari keluarganya. Penyertaan Allah membuat Yusuf selalu berhasil dalam segala apa yang dikerjakannya (Kej. 39:2, 21), bahkan akhirnya ia menjadi orang nomor dua di Mesir setelah Firaun (Kej. 41:40). Oleh Yusuflah seluruh keluarga besar Yakub yang disebut Israel berpindah ke Mesir (1876 SM) dan tinggal di sana (Kej. 46:5-7).

 

Orang Israel tinggal di Mesir selama 430 tahun (Kel. 12:40). Mereka diperbudak di Mesir. Setelah 430 tahun Allah mendengarkan teriakan bangsa Israel dan memperhatikan mereka dengan mengutus Musa dan Harun (Kel. 3:7-10).

 

Musa adalah seorang yang sangat intim dengan Allah. Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya (Kel. 33:11). Allah berkenan menyertai Musa selama pelayanannya atas bangsa Israel (Kel. 33:14). Musa juga yang memperjuangkan supaya Allah berkenan menyertai bangsa Israel dalam perjalanan mereka di padang gurun menuju Tanah Perjanjian (Kel. 33:15) padahal bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk dan pemberontak (Kel. 33:3).

 

Allah bersedia menyertai bangsa Israel selama 40 tahun perjalanan mereka di padang gurun (Ul. 8:2). Untuk berhubungan dengan-Nya Allah memberikan dispensasi dengan menetapkan imam yang bertindak menjadi pengantara untuk bertemu dengan Allah di Kemah Pertemuan dengan mambawa darah korban sebagai persembahan (Ibr. 9:6-7). Penyertaan Allah ditunjukkan dalam bentuk Awan Kemuliaan yang turun ke atas Kemah Suci (Kel. 40:36-37).

 

Setelah Musa mati bangsa Israel dipimpin oleh Yosua, mantan ajudan Musa. Kepada Yosua Allah memberikan janji penyertaan-Nya (Yos. 1:5) sebagaimana Allah menyertai Musa. Karena penyertaan Allah Yosua berhasil memimpin bangsa Israel masuk dan menguasai Tanah Kanaan yang dijanjikan Allah (Yos. 11:23). Yosua berhasil menaklukkan raja-raja Kanaan dan membagikan Tanah Kanaan sebagai pusaka kepada suku-suku Israel. Dalam jaman Yosua semua janji Allah digenapi (Yos. 21:43-45).

 

“Dari segala yang baik yang dijanjikan Tuhan kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi, semuanya terpenuhi” (Yosua 21:45)

 

Hanya apabila Allah menyertai kita semua janji Allah menjadi kenyataan dalam hidup kita. Di luar penyertaan-Nya Allah tidak berjanji apa-apa.

 

Yosua memimpin Israel selama kurang lebih 25 tahun. Setelah Yosua mati Israel diperintah oleh hakim-hakim selama 350 tahun lamanya. Pada zaman hakim-hakim Israel jatuh bangun dalam penyembahan berhala. Oleh karena ketidaksetiaan mereka penyertaan Allah akhirnya undur dari Israel. Keadaan Israel semakin lama semakin mundur karena setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri (Hak. 21:25) sampai akhirnya muncul Samuel, hakim terakhir bangsa Israel.

 

Samuel memimpin bangsa Israel di era transisi dari masyarakat egaliter menjadi kerajaan. Samuel disertai Allah sehingga setiap firman Allah yang diucapkannya tidak ada yang gagal (1 Sam. 3:19-20). Samuel menghantar bangsa Israel menjadi negara kerajaan, dengan Saul (tahun 1050 SM) sebagai raja pertamanya (1 Sam. 10:1). Kepada Saul Allah menjanjikan penyertaan-Nya (1 Sam. 10:7). Tetapi Saul berubah setia dengan bertindak lancang (1 Sam. 13:13-14) dan tidak menaati perintah Allah melalui Samuel (1 Sam. 15:22-23). Akibatnya Allah tidak lagi mau menyertai Saul (1 Sam. 16:14) dan nasibnya berakhir dengan tragis (1 Sam. 31:1-13).

 

Sebagai pengganti Saul Allah mengangkat Daud sebagai raja (1018 SM). Allah berkenan kepada Daud (Kis. 13:22) sebab Daud senang bergaul dan bersekutu dengan Allah. Daud disertai Allah (1 Sam. 18:14) sehingga ia berhasil membuat Kerajaan Israel berdiri kokoh dan menaklukkan lawan-lawannya (2 Sam. 8:1-14).

 

Salomo kemudian menggantikan Daud ayahnya (970 SM) menjadi raja di Israel (1 Raj. 1:39-40). Karena Daud Allah berkenan menyertai Salomo muda sehingga ia menjadi raja yang luar biasa di Israel (1 Raj. 3:11-14). Di jamannya kerajaan Israel mencapai puncak kejayaannya (1 Raj. 4:21), dengan kekayaannya yang luar biasa (1 Raj. 10:27), istana yang megah (1 Raj. 7:1-17), dan Bait Suci yang megah (1 Raj. 6). Namun demikian Salomo berubah setia kepada Allah karena ia mengawini banyak perempuan asing yang memperkenalkan agama-agama asing kepada Salomo. Salomo terjerumus ke dalam penyembahan berhala dan membuat Allah sangat murka kepadanya (1 Raj. 11:1-9).

 

Setelah Salomo wafat (tahun 930 SM) kerajaan Israel terpecah dua (1 Ra. 12). Sepuluh suku di utara bergabung membentuk kerajaan Israel utara dengan Samaria sebagai ibu kotanya. Dua suku sisanya, yaitu Yehuda dan Benyamin, membentuk Kerajaan Yehuda di selatan dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Jaman kerajaan yang terpecah ini berlangsung selam kurang lebih 250 tahun sampai kedua kerajaan itu akhirnya diangkut sebagai tawanan ke negeri asing: Kerajaan Israel Utara ditaklukkan dan ditawan oleh raja Asyur (2 Raj. 17:22-23) dan kerajaan Yehuda ditaklukkan dan ditawan oleh raja Babel (2 Raj. 25:21).

 

Kerajaan Israel utara karena alasan politik tidak menyembah Allah di Bait Suci di Yerusalem yang letaknya ada di Kerajaan Yehuda. Sebetulnya mereka masih bisa menyembah Allah dengan dispensasi pertama yang Allah berikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub, yaitu dengan membangun mezbah (1 Raj. 18:30-31). Tetapi Israel – di bawah pimpinan raja Yerobeam - malah menciptakan agama baru yang menyebabkan orang Israel berdosa (1 Raj. 12:25-33). Israel – di bawah pimpinan raja Ahab - bahkan menyembah Baal  (1 Raj. 16:31). Akibatnya Allah meninggalkan Israel dan akhirnya Israel ditaklukkan oleh bangsa Asyur yang kejam yang menawan mereka dan mengangkut mereka ke Asyur sebagai tawanan (tahun 722 SM).

 

Sementara itu kerajaan Yehuda jatuh bangun imannya. Mereka juga jatuh ke  dalam penyembahan berhala. Akhirnya Allah membiarkan mereka ditaklukkan oleh kerajaan Babel (tahun 586 SM) yang mengangkut mereka sebagai tawanan ke Babel dan menawan mereka 70 tahun lamanya (2 Raj. 25:21; 2 Taw. 36:21).

 

Selama di Babel itu orang Israel mulai tumbuh kesadarannya, bahwa jika mereka mengikuti agama bangsa Babel yang menyembah berhala, maka keberadaan mereka sebagai suatu bangsa akan lenyap. Oleh sebab itulah mereka memutuskan untuk mendirikan agama yang menyembah Allah supaya mereka memiliki ciri yang berbeda dengan bangsa ke mana mereka dibuang dan dengan demikian mereka dapat mempertahankan keberadaan mereka sebagai suatu bangsa.

 

Dispensasi yang Allah berikan kepada Musa bagi bangsa Israel untuk berhubungan dengan Allah dilembagakan oleh orang Israel di Babel menjadi suatu agama yang disebut agama Yahudi dan menjadi identitas bangsa Israel di tanah pembuangan: mereka menyebut diri mereka orang Yahudi (Ez. 4:12).

 

Karena mereka tidak dapat beribadah di Bait Suci yang ada di Yerusalem maka mereka mendirikan rumah-rumah ibadah di negeri pengasingan yang disebut sinagoge. Mereka juga membuat salinan-salinan Kitab Suci supaya dapat dibaca dan dipelajari di rumah-rumah ibadah. Kemudian lahirah sekelompok orang yang mengkhususkan diri dalam mempelajari Kitab Suci, mereka itulah para ahli Taurat dan orang Farisi. Agama Yahudi lahir atas inisiatif orang-orang Yahudi di pembuangan.

 

Setelah 70 tahun di pembuangan akhirnya pada zaman pemerintahan raja Koresh orang Yahudi bisa kembali ke tanah leluhurnya (tahun 538 SM) dan membangun kembali Bait Suci (536 -515 SM) di Yerusalem (2 Taw 36:22-23). Sekarang mereka memiliki agama yaitu agama Yahudi. Mereka biasa beribadah di Bait Suci di Yerusalem. Di samping itu mereka juga biasa beribadah di sinagoge-sinagoge. Ibadah mereka masih dipimpin oleh imam, dan mereka masih melakukan ritual-ritual keagamaan. Semuanya lengkap, tetapi Allah berdiam diri terhadap mereka selama 400 tahun lamanya. Itulah masa kesunyian.

 

Agama Yahudi tidak dapat memulihkan hubungan mereka dengan Allah sebab tidak bisa menyelesaikan masalah dosa mereka dengan tuntas. Dispensasi yang Allah berikan (Ibr. 9:6-7) dilembagakan menjadi agama. Padahal dispensasi tersebut hanyalah bayangan saja dari keselamatan yang akan datang di dalam Kristus (Ibr. 10:1). Agama tidak dapat memuaskan hati Allah (Ibr. 10:5) sebab agama hanya memberikan ritual atau upacara ibadah tetapi tidak membawa mereka kepada hubungan yang intim sebagaimana yang dikehendaki Allah. Meskipun mereka melakukan upacara keagamaan hati mereka tetap jauh dari Allah. Mereka hanya melakukan hal-hal yang diajarkan manusia (Mat. 15:8-9).

 

Agama hanya membebani orang dengan berbagai kewajiban yang melelahkan (Mat. 23:4). Ketaatan yang dilakukan atas kewajiban agama itu lebih bersifat transaksional dan legalistik. Transaksional sebab ketaatan orang-orang didasarkan kepada upah dan ketakutan kepada hukuman. Legalistik sebab ketaatan kepada kewajiban hanya dijadikan cap pembenaran sehingga mereka merasa lebih benar dari yang lain dan menghakimi orang lain atas dasar ibadah dan penampilan (Luk. 18:9-14). Agama hanya menghasilkan kemunafikan (Mat. 23:27-28) dan penyelewengan.

 

Sementara itu masalah dosa tidak dapat diselesaikan sama sekali oleh agama (Ibr. 10:4) sehingga banyak orang hanya menyembunyikan dosa-dosa di balik perbuatan kesalehan yang tidak tulus (Mat. 23:27-28). Kegiatan ibadah sama sekali tidak mengubah sifat orang yang melakukannya. Dosa, pelanggaran dan penyelewengan tetap berjalan dan ibadah dipakai untuk menutupi rasa bersalah dan menjadikan diri mereka merasa lebih benar dari orang lain.

 

Allah melihat semuanya ini. Ia muak dan berduka. Sehingga setelah genap waktunya Allah mengutus Anak-Nya untuk turun ke dalam dunia (Gal. 4:4), untuk menyelesaikan masalah dosa manusia secara tuntas, dengan menebus dosa manusia melalui kematian-Nya di kayu salib. Oleh darah-Nya kita mendapatkan penebusan atas dosa kita sehingga kita diampuni (Ef. 1:7).

 

Allah Bapa menerima harga penebusan yang dibayar oleh Yesus Kristus Anak-Nya melalui pencurahan darah-Nya di kayu salib. Penebusan yang diterima Allah inilah yang menyelesaikan masalah dosa manusia dengan tuntas. Yesus mengangkat semua dosa umat manusia (Mat. 1:21).

 

“Yesus, Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21)

 

Karena masalah dosa telah diselesaikan dengan sempurna melalui penebusan yang dilakukan-Nya, maka Yesus juga dapat memulihkan hubungan antara Allah dan manusia dengan cara memperdamaikan-Nya lewat kematian-Nya di kayu salib (Kol. 1:20). Dan bukan hanya itu, melalui diri-Nya, orang yang menerima Dia dan percaya di dalam nama-Nya diangkat menjadi anak-anak Allah (Gal. 4:5; Yoh. 1:12). Dengan hubungan yang baru ini maka Allah kembali dapat menyertai umat-Nya. Imanuel terealisasi secara nyata melalui Yesus Kristus (Mat. 1:23) setelah penantian yang sangat panjang: 3000 tahun sejak kejatuhan Adam atau 2000 tahun sejak Allah memanggil Abraham atau 1000 tahun sejak Allah berjanji kepada Daud.

 

Sekarang dispensasi yang lama tidak diperlukan lagi (Ibr. 8:13; 10:9). Tidak diperlukan lagi korban hewan untuk menebus dosa, sebab Yesus, Anak Domba Allah, adalah korban yang sempurna yang dapat menebus dengan sempurna dosa manusia (Ibr. 10:10). Ritual pengorbanan hewan di atas mezbah tidak diperlukan lagi. Sekarang tidak diperlukan lagi imam pengantara sebab Yesus Kristus adalah Imam Besar Agung  (Ibr. 9:15) dan kita semua dapat menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh kemerdekaan (Ibr. 10:22). Bahkan kita sekarang diangkat-Nya menjadi imam-imam kerajaan Allah (Wah. 5:10). Bait Suci tidak diperlukan lagi karena sekarang Allah mengambil tempat kediaman-Nya di dalam tubuh tiap orang percaya (1 Kor. 6:19). Tubuh orang percaya dijadikan-Nya Bait Suci-Nya (1 Kor. 3:16); Bait Suci yang tidak dibangun dari batu, kayu dan tanah, melainkan dari tubuh-tubuh orang percaya yang telah ditebus-Nya (Ef. 2:21-22).

 

Namun demikian Yesus menyempurnakan penyertaan Allah – Imanuel - melalui Roh Kudus-Nya. Memang Yesus berjanji akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman (Mat. 28:20). Yesus mengatakan bahwa Ia tidak akan meninggalkan kita seperti yatim piatu melainkan akan datang kembali kepada kita dengan cara yang lain, yaitu melalui Roh Kudus-Nya (Yoh. 14:18). Itulah sebabnya Ia mengatakan bahwa lebih berguna bagi kita apabila Ia pergi kepada Bapa, supaya Roh Kudus dapat diutus (Yoh. 16:7). Setiap orang yang percaya kepada-Nya akan menerima Roh Kudus (Yoh. 7:39).

 

Yesus telah meminta kepada Bapa supaya Bapa mengirim seorang Penolong yang lain untuk menyertai kita selama-lamanya (Yoh. 14:16-17). Dan sekarang Roh Kudus telah datang dan kita dijadikan tempat kediaman-Nya (1 Kor. 6:19). Roh Kudus inilah yang merealisasikan Imanuel – penyertaan Allah – secara pribadi per pribadi dengan tinggal di dalam tubuh orang percaya dan menyertainya selama-lamanya. Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita selama kita menaruh iman percaya kita kepada Tuhan Yesus.

 

Sekarang orang percaya sangat beruntung, tidak seperti pada masa lalu di mana Imanuel – penyertaan Allah – hanya dialami sewaktu-waktu, berjarak dan berdasarkan dispensasi, maka sekarang Imanuel dapat dialami secara permanen, setiap saat, tanpa jarak dan tanpa dispensasi. Dispensasi itu hanyalah merupakan bayang-bayang dari yang akan datang, sedang kenyataannya adalah Kristus (Kol. 2:17), sehingga ketika Kristus telah datang dispensasi tidak diperlukan lagi (Ibr. 10:12-18). Sekarang Imanuel direalisasikan oleh Roh Kudus yaitu Roh yang sama yang memenuhi Kristus ketika Ia melayani di bumi (Kis. 10:38). Roh Kudus sekarang berdiam dalam tubuh orang percaya (1 Kor. 6:19) dan menyertai orang percaya setiap saat selama-lamanya (Yoh. 14:16).

 

“Ia menyertai kamu selama-lamanya … Kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:16-17)

 

Tetapi untuk dapat merasakan dan mengalami secara nyata realisasi Imanuel, maka orang percaya harus hidup oleh Roh Kudus dan dipimpin oleh Roh Kudus (Gal. 5:25); dipenuhi atau dikuasai sepenuhnya oleh Roh Kudus (Ef. 5:18). Hanya jika orang percaya hidup oleh kuasa Roh Kudus, maka ia akan merasakan secara nyata Imanuel yang sempurna.

 

Orang yang hidup oleh Roh Kudus dan dikuasai serta dipimpin oleh Roh Kudus akan mengasihi Tuhan Yesus dengan disertai ketaatan (Yoh. 14:15). Untuk tujuan inilah Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus (Yoh. 14:16-17), yaitu supaya orang yang mengasihi-Nya, mengasihi dengan disertai ketaatan .

 

Kepada orang yang mengasihi-Nya disertai ketaatan, Bapa akan menyatakan kasih-Nya, demikian pula Anak Allah, sehingga orang itu sungguh merasakan dan mengalami kasih Allah (Yoh. 14:21a). Dan kasih Allah itu cukup, sebab di dalam kasih Allah ada segalanya. Tuhan Yesus bahkan berjnji akan menyatakan diri-Nya, sehingga orang dapat merasakan kehadiran-Nya setiap saat dan Pribadi Tuhan menjadi begitu nyata baginya (Yoh. 14:21b). Orang itu juga akan mengalami kepenuhan Allah karena Bapa, Anak dan Roh Kudus berkenan berdiam di dalam orang itu (Yoh. 14:23). Dan dalam kepenuhan Allah kita menerima lebih dari pada apa yang dapat kita doakan dan pikirkan (Ef. 3:19).

 

Jadi di antara semua manusia dari generasi ke generasi, maka orang yang percaya kepada Kristus adalah yang paling beruntung sebab dapat kembali mengalami penyertaan Allah – Imanuel -  dalam bentuk yang sempurna yaitu melalui Roh Kudus yang diterima karena iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Imanuel bukan lagi hanya kata yang indah tetapi kenyataan hidup yang indah di dalam Tuhan Yesus. Selamat hari Natal! Imanuel, Allah beserta kita!

 

 

 

 

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Mengapa Orang Benar Mengalami Penderitaan?

Pertanyaan ini selalu ditanyakan. Ini juga menjadi pertanyaan kita ketika kita melihat orang percaya yang saleh atau kita sendiri mengalami penderitaan. Tidak ada seorang manusia pun dapat menjawabnya dengan tepat selain Tuhan sendiri.

 

Tuhan sebenarnya sudah menyimpan jawaban-Nya di dalam Alkitab yang adalah Firman Allah. Namun jawaban itu tersimpan sebagai “misteri,” suatu rahasia yang hanya dapat disingkapkan dengan pertolongan Roh Kudus yang adalah “Pengarang” (Author) dari Alkitab itu sendiri.

 

 




Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.