top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...




PERTEMUAN KBN JULI 2019 : Minggu,28/07/2019 Pk 17.00," Rubah Cara Berpikir, oleh : Bpk. Marco (Pengusaha Garmen) " Gedung Grand Matlenn (ex.Istana Gading) Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Pujian Yang Berdampak PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Thursday, 13 December 2018 01:42

Sebenarnya manusia ditentukan untuk menjadi penyembah Allah. Alkitab mengatakan bahwa: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah meletakkan kekuatan (untuk memuji-Mu) karena lawan-Mu” (Maz. 8:2). Tuhan Yesus mengutip ayat ini ketika Ia merespon kemarahan para imam kepala dan para ahli Taurat kepada anak-anak di Bait Suci ketika mereka berseru-seru kepada Yesus: “Hosana bagi Anak Daud!” setelah melihat Yesus mengadakan mujizat-mujizat di Bait Suci (Mat. 21:15-16).

 

Manusia dipersiapkan Allah untuk menjadi penyembah Allah bukan hanya ketika sementara ia hidup di bumi, tetapi sampai kekekalan di Sorga. Manusia akan bernyanyi bersama dengan para malaikat di Sorga memuji Tuhan dalam kekekalan (Wah. 7:9-10).

 

Jadi Allah telah menyiapkan pujian dan penyembahan bagi manusia sejak mereka masih bayi dan menyusu. Dengan kata lain semua manusia telah ditetapkan untuk menjadi pemuji dan penyembah Allah. Itulah sebabnya mengapa Allah melatih manusia beribadah (1 Tim. 4:8), karena melalui ibadah manusia belajar untuk memuji dan menyembah Allah. Ibadah adalah latihan dan persiapan untuk penyembahan kekal di Sorga.

 

Jika kita tidak suka memuji Allah, dan kita tidak senang menyembah Allah, maka Sorga bukanlah tempat yang cocok bagi kita, sebab di Sorga semua orang akan memuji dan menyembah Allah selamanya. Jadi jika kita ingin tinggal di Sorga kelak, maka latihlah diri kita selama hidup di bumi untuk beribadah: memuji dan menyembah Allah.

 

Orang sering menjadikan Daud sebagai rujukan untuk menjadi penyembah Allah. Memang benar Daud adalah penyembah Allah sejak masa mudanya. Ia menulis banyak Mazmur bagi Allah. Ia adalah seorang yang cakap dalam memainkan kecapi untuk memuji Allah. Ia membentuk kelompok penyanyi dan pemain musik untuk memuji Allah di Bait Suci. Ia adalah penyembah Allah sejati.

 

Tetapi ada sosok lain yang sering kali terlewatkan dan orang jarang menjadikan dia sebagai rujukan untuk pemuji dan penyembah Allah. Ia adalah rasul Paulus. Paulus sebenarnya adalah pemuji dan penyembah yang istimewa, meskipun ia tidak seperti Daud. Ia mengajar orang untuk suka memuji dan menyembah Allah:

 

“Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung pujian dan nyanyian rohahi. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati” (Efesus 5:19).

 

Paulus bukan mengajar teori pujian dan penyembahan, tetapi ia adalah pemuji dan penyembah Allah yang memiliki pengalaman istimewa dalam memuji Tuhan. Ini terjadi ketika ia dan Silas sedang memuji Allah sementara mereka dibelenggu dalam penjara di Filipi. Ketika ia sedang menyanyi dan orang-orang lain di dalam penjara sedang mendengarkannya, tiba-tiba terjadilah gempa bumi yang sangat hebat sehingga menggoncangkan dinding penjara, membuat pintu-pintu penjara terbuka dan belenggu-belenggu terlepas (Kis. 16:25-26).

Pujian yang Paulus persembahkan kepada Allah memberikan dampak yang luar biasa. Setelah peristiwa gempa bumi di penjara kepala penjara dan seisi rumahnya percaya kepada Allah dan menerima Tuhan Yesus serta dibaptis (Kis. 16:30-34).

 

Pujian yang berdampak juga dicatat dalam Kitab Perjanjian Lama yaitu ketika Daud memainkan kecapinya memuji Tuhan di hadapan raja Saul. Pujiannya menyebabkan roh jahat yang mengganggu Saul meninggalkan dia (1 Sam. 16:23). Demikian pula di zaman Yosafat raja Yehuda, ketika kerajaannya diserang oleh musuh yang sangat besar jumlahnya. Tetapi ketika umat Yehuda sedang menyanyi dan memuji Tuhan, Allah membuat penghadangan terhadap musuh dan menghacurkan mereka (2 Taw. 20:22).

 

Pujian dan penyembahan kita harus berdampak dan bukan hanya untuk membuat orang terkesan dengan kita, karena kita bukanlah artis penyembahan yang melakukan pujian dan penyembahan sebagai pertunjukkan. Pujian dan penyembahan kita haruslah merupakan ekspresi kekaguman kita kepada Tuhan, rasa syukur kita atas kebaikan-Nya, ekspresi kasih kita kepada Dia yang telah lebih dahulu mengasihi kita dengan menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 15:13).

 

Bagaimana Paulus dapat menjadi pemuji dan penyembah yang berdampak?

 

Pertama, karena ia sepenuhnya menyadari bahwa ia telah mengalami kasih dan anugerah Allah yang luar biasa:

 

“Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan aku tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang …” (1 Kor. 15:9-10).

 

“Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman” (1 Tim. 1:13).

 

Hanya jika seorang menyadari sepenuhnya bahwa ia telah menerima kemurahan/ belas kasihan Allah, barulah ia dapat memberikan pujian yang tulus dan sejati kepada Allah sebagai suatu ekspresi dari rasa terima kasihnya atas kemurahan dan kebaikan-Nya.

 

Memuji Allah adalah cara lain untuk memberitakan perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib dalam hidup kita, yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib. Kita yang sebelumnya bukan umat-Nya, dan sekarang menjadi umat pilihan-Nya. Kita yang sebelumnya di bawah hukuman, tetapi sekarang kita telah menerima kemurahan-Nya dan menjadi milik kepunyaan-Nya (1 Pet. 2:9-10). Dengan kata lain, memuji Allah adalah kesaksian kita atas hal-hal luar biasa yang Allah lakukan bagi kita.

 

Kedua: Paulus menganggap Kristus lebih mulia dan berharga dari apapun juga yang dahulu pernah ia kagumi (Fil. 3:7-8).

 

Paulus sangat mengagumi Kristus, lebih dari apapun juga yang dahulu pernah ia kagumi. Itulah sebabnya mengapa Paulus menjadi penyembah Allah yang hebat. Pujiannya adalah pernyataan kekagumannya yang luar biasa kepada Kristus. Hanya mereka yang sangat mengagumi Kritus yang dapat menjadi penyembah yang luar biasa. Kekaguman adalah sumber pujian.

 

Tetapi jika kita masih mengagumi hal-hal yang duniawi: memuja kekayaan dan segala kemewahannya, mengejar popularitas dan kekuasaan, maka sukar bagi kita untuk mengagumi Kristus dan perkara-perkara rohani dan menjadi penyembah Allah sejati. Jika kita mencintai dunia maka kasih akan Allah akan lenyap dari kita (1 Yoh. 2:15). Dan jika kita tidak mengasihi Allah bagaimana kita dapat menjadi penyembah-Nya? Jika orang seperti itu memuji Allah, pujiannya hanya di bibir saja atau hanya pertunjukan saja untuk membuat orang terkesan: pujiannya adalah untuk membenarkan diri mereka di hadapan orang-orang. Ia berlagak seperti seorang yang rohani padahal sebenarnya ia tidak mencintai Tuhan sama sekali; hanya mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Yesus yang akan menjadi penyembah yang tulus dan sungguh-sungguh.

 

Ketiga: Paulus dapat memuji Tuhan meskipun ia berada dalam situasi yang sangat sulit: ia menderita penganiayaan dan terancam hidupnya karena imannya kepada Tuhan Yesus Kristus (2 Kor. 11:24-28). Paulus juga memiliki masalah dengan keadaan tubuhnya. Ia mengatakan bahwa ada duri dalam dagingnya, seorang utusan Iblis yang menggocoh dia (2 Kor. 12:7-8). Tetapi di atas semua keadaan yang kurang menguntungkan ini ia tidak membiarkan dirinya kecewa terhadap Allah. Sebaliknya ia bersuka atas kelemahan-kelemahannya, dalam kesulitan dan penderitaannya karena Kristus (2 Kor. 12:10). Sebagai akibatnya, meskipun ia terbelenggu dalam penjara, Paulus dapat bersukacita di dalam Tuhan, memuji dan menyembah Dia. Bagaimana mungkin ia dapat memiliki kekuatan mental seperti itu? Tentunya karena kuasa Roh Kudus dan Firman Allah yang menopangnya secara supranatural. Tetapi di samping itu, Paulus, sejak semula ia mengikut Kristus, telah menetapkan hatinya untuk siap menanggung penderitaan sebagai prajurit Kristus, sebagaimana ia juga menasihati anak rohaninya: Timotius (2 Tim. 2:3-4). Sejak awal ia menetapkan dirinya bahwa untuk mengikut Kristus ia harus siap dan rela menyangkal diri dan memikul salibnya (Mat. 16:24-25). Ia tahu bahwa di dalam dunia ini ia akan menghadapi banyak penganiayaan sebagaimana yang Tuhan Yesus pernah katakan (Yoh. 16:33), tetapi ia juga tahu bahwa ia akan mampu bertahan karena Tuhan telah terlebih dahulu mengalahkan dunia ini baginya. Paulus tahu bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah ia harus melalui banyak kesengsaraan (Kis. 14:22). Dengan ekspektasi seperti itu Paulus kemudian dapat menghargai setiap kebaikan dan keberuntungan sekecil apapun: itu membuatnya selalu mengucap syukur dan bersukacita. Itu membuatnya mampu untuk memuji Tuhan dalam segala situasi dan kondisi.

 

Tetapi sayangnya banyak orang Kristen hari ini tidak menyiapkan diri mereka untuk ekspektasi seperti itu. Hari ini Injil ditawarkan dengan janji-janji muluk dan kemudahan hidup. Berita Injil sekarang lebih untuk memotivasi orang-orang untuk mencapai kehidupan sukses dan kemakmuran materi. Dengan ekspektasi seperti itu iman Kristen menjadi rapuh dan mudah untuk kecewa menghadapi situasi yang tidak diharapkan. Kesukaran kecil saja sudah dapat membuat mereka tertekan, kecewa dan marah kepada Allah. Iman mereka dan pujian mereka sangat bergantung kepada situasi dan kondisi yang mereka miliki. Jika situasi dan kondisinya tidak sesuai dengan harapan mereka, mereka tidak dapat memuji Tuhan, dan mereka kecewa dan mengeluh. Itulah sebabnya mengapa banyak orang Kristen di akhir zaman meninggalkan iman mereka dan berpaling dari Tuhan. Memang kekecewaan dapat membawa kepada penolakan (Luk. 7:23).

 

Ekspektasi orang-orang Kristen hari-hari ini bukanlah ekspektasi seorang prajurit Kristus yang siap untuk menanggung penderitaan bersama Kristus (2 Tim. 2:3). Ekspektasi orang-orang Kristen hari ini adalah ekspektasi seorang turis yang mengharapkan pemandangan yang indah, perjalanan yang menyenangkan, dan akomodasi yang nyaman. Jadi ketika mereka tidak menerima apa yang mereka harapkan mereka akan kecewa dan marah. Penderitaan dan kesulitan kecil saja sudah dapat membuat mereka meninggalkan gereja: sedikit tersinggung, sedikit ketidak-nyamanan dan sedikit kekecewaan sudah cukup untuk membuat mereka bersungut-sungut.

 

Orang-orang Kristen seperti ini tidak dapat menjadi penyembah Allah yang tulus. Puji-pujian mereka tidak tulus, tetapi hanya di bibir saja, untuk menunjukkan partisipasi mereka dalam ibadah di gereja. Pujian dan penyembahan mereka bukan ekspresi kecintaan mereka dan kekaguman mereka kepada Tuhan tetapi karena mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, jadi sangat transaksional. Pujian dan penyembahan mereka sangat situasional dan kondisional sehingga dari mulut yang sama dapat keluar pujian tetapi juga sungutan terhadap Tuhan. Mereka tidak dapat bersukacita senantiasa sebagaimana yang diajarkan Firman Allah (1 Tes. 5:14, 16).

 

Dari ketiga hal yang disebutkan di atas kita dapat membangun sikap mental yang baik yang akan menjadikan kita penyembah Allah yang sejati dan berdampak.

 

Paulus menuliskan pengajaran yang indah bagaimana penyembah Allah harus bersikap dalam kehidupan sehari-hari: itu tertulis dalam surat kirimannya kepada jemaat Filipi. Pada waktu itu, ketika ia menulis surat itu, ia dalam situasi yang sangat sulit – hampir mustahil – bagi seseorang untuk bersikap baik. Ia berada dalam penjara dan menghadapi eksekusi mati, suatu keadaan di mana sangat sulit bagi seseorang untuk menunjukkan sikap yang positip yang dapat menguatkan dan menghibur orang lain. Tetapi Roh Kudus yang berdiam di dalamnya memampukan dia untuk mengalirkan aliran-aliran kekuatan dan penghiburan illahi (Yoh. 7:38) kepada orang-orang yang membaca suratnya. Aliran-aliran sungai hidup ini menghasilkan pujian dan penyembahan yang sungguh-sungguh kepada Allah. Apa yang Paulus ajarkan?

 

Paulus mengajarkan bahwa kita harus selalu bersukacita di dalam Tuhan (Fil. 4:4) apapun keadaan kita; sukacita yang bersumber dari Roh Kudus (Gal. 5:22) yang tidak bergantung kepada keadaan sekitar; sukacita yang datang dari iman, pengharapan dan kasih kita kepada Allah (1 Kor. 13:13); sukacita yang datang karena kita menyadari bahwa Tuhan selalu mengasihi kita. Hanya orang yang penuh sukacita yang dapat memuji Tuhan dengan antusias.

 

Ia mengajar kita supaya kita tetap berbaik hati kepada orang lain (Fil. 4:5), bahkan di tengah kesusahan kita. Banyak orang jadi mementingkan diri sendiri dan tidak dapat berbuat baik kepada orang lain ketika mereka ada dalam penderitaan: mereka tidak peduli lagi dengan orang lain. Sebaliknya mereka menjadi iri hati dan cemburu jika mereka melihat orang lain lebih beruntung darinya. Sebagai akibatnya mereka tidak dapat mengucap syukur kepada Allah atau memuji Allah dengan sukacita.

 

Sebenarnya berbaik hati kepada orang lain akan selalu membuat kita bahagia. Dan kebahagiaan akan memberi kita kekuatan untuk memuji dan menyembah Allah.

 

Paulus menyemangati kita agar kita tidak perlu kuatir tentang apapun (Fil. 4:6). Kekuatiran datang dari ketidakpercayaan. Kuatir adalah sejenis ketakutan yang diciptakan oleh ketidakpercayaan dan yang bermain-main dalam pikiran dan hati kita. Karena kuatir bukan iman dan bahkan bertentangan dengan iman, maka kekuatiran adalah dosa, karena segala sesuatu yang bukan dari iman adalah dosa (Roma 14:23). Kita harus menyelesaikan kekuatiran kita dengan sungguh-sunngguh, karena itu menyebabkan iman kita bocor dan kandas. Itulah sebabnya Alkitab melarang kita untuk kuatir, dan kita harus menghindari apa yang dilarang oleh firman Allah.

 

Kekuatiran membuat kita sukar memuji Allah. Kita harus menyelesaikannya jika kita ingin menjadi seorang pemuji dan penyembah yang berdampak. Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana menyelesaikan kekuatiran kita. Yaitu dengan membawa kekuatiran kita kepada Tuhan di dalam doa (1 Pet. 5:7). Doa adalah jalan keluar dari kekuatiran kita, karena ketika kita menyerahkan kekuatiran kita kepada Dia, Ia akan memberikan damai dalam hati kita. Kita tahu bahwa Allah mendengar doa-doa kita dan peduli dengan kebutuhan kita, karena kita adalah anak-anak-Nya dan Ia adalah Bapa kita yang kekasih. Ia peduli dengan kita.

 

Doa adalah pintu keluar dari kekuatiran kita dan ucapan syukur adalah tindakan iman yang akan menetralisir kekuatiran kita. Ucapan syukur akan mengalahkan kekuatiran kita. Jika kita dapat mengalahkan kekuatiran kita maka kita dapat memuji dan menyembah Allah dengan sepenuh hati.

 

Biarlah damai sejahtera Allah, yang melampaui pengertian manusia, mengawal hati dan pikiran kita (Fil. 4:7). Hati yang damai adalah mata air sumber pujian yang akan mengalirkan aliran-aliran pujian dan ucapan syukur kepada Allah dengan berlimpah. Tuhan Yesus, Raja Damai, adalah sumber damai kita yang tidak pernah gagal. Ia memberikan damai-Nya kepada kita; damai yang tidak dapat diberikan dunia kepada kita (Yoh. 14:27).

 

Damai yang dari dunia bersifat situasional dan kondisional. Ia memerlukan situasi dan kondisi tertentu untuk dapat muncul. Jika situasi dan kondisinya tidak memungkinkan untuk menghasil damai, maka orang tidak dapat memiliki damai yang mereka perlukan atau orang akan kehilangan rasa damai yang mereka miliki.

 

Tetapi damai dari Kristus itu berbeda. Itu adalah buah Roh Kudus (Gal. 5:22). Ia akan dapat muncul dalam keadaan apapun. Ini adalah melampaui akal manusia. Kita akan terheran-heran ketika kita dapat menikmati damai di tengah situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan. Damai yang illahi ini begitu mulia sebab ini adalah damai sorgawi yang datang ke atas mereka yang diperkenan Allah. Ini adalah damai yang Allah janjikan, ketika para malaikat memproklamirkannya pada malam Natal pertama (Luk. 2:14). Dan dengan hati yang penuh damai sorgawi kita akan mampu untuk memuji Tuhan dengan segenap hati. Ini adalah pujian yang akan memberikan dampak yang luar biasa kepada orang yang mendengarkannya.

 

Kita harus memenuhi hati dan pikiran kita dengan hal-hal yang benar, indah, suci dan positip (Fil. 4:8). Pikiran kita seperti bejana. Jika kita memenuhinya dengan hal-hal yang baik, maka ia akan mengeluarkan hal-hal yang baik pula; tetapi jika kita mengisinya dengan hal-hal yang buruk, maka ia akan mengeluarkan hal-hal yang buruk pula (Mat. 12:35). Dunia hari-hari ini memberikan banyak hal yang buruk. Berita-berita buruk membanjiri telinga kita setiap hari. Hal-hal buruk dipertontonkan di depan mata kita. Ini membuat hati dan pikiran kita kotor. Itulah sebabnya mengapa kita harus membersihkan hati dan pikiran kita setiap hari dengan hal-hal yang baik (Fil. 4:8) dan dengan firman Allah (Yoh. 15:3). Hanya dengan hati dan pikiran yang bersih kita baru dapat memuji dan menyembah Allah dengan cara yang berkenan kepada-Nya. Kita harus menjaga hati dan pikiran kita bersih dan murni.

 

Kita juga harus belajar untuk mencukupkan diri kita dan puas dengan kondisi dan situasi apapun yang Tuhan ijinkan (Fil. 4:11). Cukupkanlah diri kita dengan apa yang kita punyai sebab Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita dan membiarkan kita (Ibr. 13:5). Mereka yang tidak belajar untuk mencukupkan diri akan selalu hidup dalam ketidakpuasan dan keresahan. Orang seperti itu tidak dapat memuji Allah dengan penuh ucapan syukur dan pujiannya tidak akan memberi dampak. Rasa puas akan membuat ibadah kita bermanfaat: memberi kita keuntungan besar (1 Tim. 6:6). Rasa puas mendorong kita untuk selalu memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

 

Kita mampu menanggung apapun di dalam Yesus, yang memasok kekuatan-Nya kepada kita (Fil. 4:13). Hidup dalam kuasa Allah (Ef. 6:10) akan memberikan kita keyakinan bahwa kita dapat menghadapi keadaan apapun yang Allah ijinkan terjadi dalam hidup kita. Kita tahu bahwa Allah telah menakarnya dengan tepat sesuai dengan kemampuan kita. Dan jika itu sampai di luar kemampuan kita, maka kekuatan-Nya akan menopang kita. Dan Ia akan menolong kita dengan memberikan kepada kita jalan keluar supaya kita dapat menanggungnya (1 Kor. 10:13). Jika kita menyadari hal ini maka kita akan merasa lega dan optimis. Rasa lega dan optimis akan memampukan kita untuk memuji Allah dengan semangat.

 

 

Dasar dari keyakinan kita di dalam Tuhan adalah kita percaya bahwa Allah akan menyediakan semua keperluan kita sesuai dengan kekayaan dan kemuliaan-Nya (Fil. 4:19). Di dalam Kristus kita tidak kekurangan apa-apa dan memiliki kelimpahan (Yoh. 10:10), karena Ia adalah Gembala dan kita adalah domba-domba-Nya (Maz. 23:1-6). Segala yang kita perlukan: untuk keperluan tubuh, jiwa dan roh, tersedia di dalam Dia, termasuk perlindungan, bimbingan, damai dan sukacita. Dengan kelimpahan seperti itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memuji Dia dan selalu bersyukur kepada-Nya. Kita selalu memiliki alasan untuk bersyukur kepada-Nya dan memuji Dia. Kita dapat menjadi pemuji dan penyembah yang menyenangkan hati-Nya dan memberi dampak kepada sekeliling kita.

 

Bagaimana pujian kita dapat memberi dampak? Karena ketika kita menyenangkan Allah dengan pujian kita Ia akan meresponnya dengan kehadiran-Nya dan Ia akan mengulurkan tangan-Nya yang penuh kasih serta memberi kita kasih karunia-Nya. Dan akan ada berbagai keajaiban yang terjadi sebagai akibatnya.

 

Allah menyatakan kehadiran-Nya di tengah kita ketika kita menyenangkan hati-Nya dengan pujian dan penyembahan kita (2 Taw. 5:13). Kehadiran-Nya akan selalu membawa dampak yang luar biasa. Mujizat dan keajaiban dapat terjadi secara spontan, memberikan kesembuhan, kelepasan dan pemulihan; Allah akan langsung bertindak untuk menyelesaikan masalah-masalah kita yang berada di luar jangkauan kemampuan kita untuk menyelesaikannya. Ini pernah terjadi dengan umat Yehuda ketika mereka dikepung dan diserang musuh. Allah membuat penghadangan dan mengalahkan musuh-musuh mereka ketika mereka sedang memuji Tuhan (2 Taw. 20:22).

 

Pujian dan penyembahan kita adalah juga kesaksian kita akan kebaikan Allah dan karya-karya-Nya yang ajaib atas kita, Ketika kita memberikan kesaksian melalui pujian dan ucapan syukur kita, kesaksian kita dapat menjadi nubuatan bagi orang lain yang mendengarkannya (Wah. 19:10), dan jika mereka setuju dan mengaminkannya, maka perkara-perkara ajaib yang pernah kita alami dan kita saksikan melalui pujian dapat terjadi juga dalam cara yang serupa kepada mereka. Jadi, pujian kita di saat yang bersamaan dapat menjadi suatu nubuatan (1 Taw. 25:3). Ini juga yang menjadikan pujian kita dapat memberi dampak, atau dengan kata lain kita membuat pujian yang berdampak.

 

Ketika kita melihat bahwa pujian dan ucapan syukur kita memberikan dampak yang luar biasa dan indah bagi orang lain, kita akan sangat bahagia. Bukanlah hidup menjadi indah jika kita dapat menjadi penyembah yang menyenangkan hati Allah dan menjadi berkat bagi orang-orang lain?

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Masa Depan Cerah

Yeremia 29:11 mengungkapkan bahwa Allah telah merancangkan suatu masa depan yang baik bagi orang percaya. Sebagai Bapa Ia merancangkan bagi anak-anak-Nya suatu masa depan yang damai sejahtera dan penuh harapan dan bukannya kecelakaan. Tetapi banyak orang Kristen tidak bisa melihat masa depan mereka sebagaimana yang telah dirancangkan Allah bagi mereka. Itu dikarenakan mereka melihat masa depan melalui keadaan diri mereka sendiri dan keadaan yang mereka sedang alami sekarang ini (yang tidak sesuai dengan yang mereka harapkan), sehingga mereka hanya melihat masa depan yang suram, tidak jelas dan menakutkan.




Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.