top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...




PERTEMUAN KBN Agustus 2018 : Minggu,26/08/2018 Pk 17.00," Berkat Besar Dibalik Panggilan, oleh : Bpk. Pdt. Simon Irianto, Dipl. Text " Gedung Grand Matlenn (ex.Istana Gading) Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Memikul Salib PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Monday, 04 May 2009 23:47

Dalam Lukas 9 : 23  Tuhan Yesus mengatakan bahwa  setiap orang Kristen, harus menyangkali dirinya dan memikul salibnya setiap hari mengikuti teladan Kristus

Apa itu memikul salib? 1 Petrus 2 : 19 – 20 mengatakan bahwa: “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah”. Jadi, memikul salib itu artinya menanggung penderitaan  atau ketidaknyamanan karena kita melakukan perbuatan baik karena atau demi kehendak Allah, dan bukan karena berbuat dosa. Dengan demikian inti salib itu  adalah kehendak Allah.

Salib tidak dialami oleh orang kebanyakan, tidak seperti beban hidup atau pencobaan atau pukulan yang dapat menimpa semua orang karena kita hidup di dalam dunia. Salib itu hanya dipikul oleh orang percaya yang mau melakukan kehendak Allah dan hidup di dalam kehendak Allah.

Mengapa melakukan kehendak Allah menyebabkan penderitaan dan ketidaknyamanan sehingga disamakan dengan memikul salib? Sebab manusia memiliki kehendak daging yang selalu berlawanan dengan kehendak Allah (Galatia 5 : 17). Kehendak Allah selalu menyebabkan ketidaknyamanan atau penderitaan bagi daging.

Kehendak daging ini bukan hanya ada di dalam diri kita tetapi juga ada di dalam dalam diri orang lain. Sehingga ketika kita melakukan kehendak Allah, itu juga dapat membuat orang lain yang hidup dalam hawa nafsu daging akan  merasa tidak nyaman atau terganggu. Itu menyebabkan ia menganiaya kita dan berusaha membuat kita menderita, meskipun kita  berbuat baik. Tetapi jika hal itu terjadi, maka ketahuilah itu adalah kasih karunia Allah bagi kita.

Itulah sebabnya modal untuk dapat memikul salib adalah: menyangkal diri. Artinya mengabaikan keinginan daging di dalam diri kita agar dapat melakukan kehendak Allah.

Allah ingin kita merindukan agar kehendak-Nya terjadi di bumi. Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Matius 5 : 10a). Tetapi  terjadinya kehendak Allah itu tidak hanya dapat didoakan tetapi juga harus direalisasikan oleh kita dengan menyangkali diri kita, yaitu keinginan daging dan segala hawa nafsunya, dan dengan rela memikul salib, yaitu melakukan dan hidup dalam kehendak Allah setiap hari selama hidup kita di dunia.

Di sorga kehendak Allah selalu terjadi, karena semua kehendak di sorga telah serasi dengan kehendak Allah. Allah tidak memiliki kendala untuk melakukan kehendak-Nya di sorga. Tetapi di bumi ada kehendak lain yang berbeda, yaitu kehendak bebas manusia yang telah dikaruniakan Allah kepada manusia, sehingga Allah tidak dapat memaksa. Akibatnya kehendak Allah terkendala di bumi. Satu-satunya harapan Allah adalah orang-orang yang telah ditebus-Nya dan deselamatkan-Nya dan telah dijadikan anak-anak-Nya. Allah berharap mereka mau menggunakan kehendak bebas mereka, untuk dengan sukarela, lebih mengutamakan kehendak Allah dari pada kehendak dagingnya. Jika ini terjadi Allah dimuliakan di bumi.

Tetapi jika anak-anak Allah yang menjadi tumpuan harapan-Nya tidak mau melakukan kehendak Allah, tidak peduli dengan kehendak Allah dan hanya hidup bagi keinginan dagingnya sendiri maka Allah tidak lagi memiliki harapan di bumi. Allah tidak dapat mengandalkan orang-orang berdosa yang tidak mengenal Dia untuk melakukan kehendak-Nya.

Itulah sebabnya Ia memberi contoh  atau  teladan melalui Anak-Nya yang Ia utus untuk memikul salib bahkan mati di salib. Yesus, Anak Allah, telah memberi teladan ketika Ia turun ke dalam dunia dan hidup di dunia di antara manusia. Ia berkata: Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku sendiri, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku (Yohanes 6 : 38). Bagi Tuhan Yesus melakukan kehendak Allah adalah sama dengan makanan : kebutuhan pokok, prioritas utama-Nya dan kesukaan-Nya (Yohanes 4 : 34). Allah ingin kita mengikuti teladan Kristus. “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya“ (1 Petrus 2 : 21)

Jika kita menjadikan kehendak Allah itu tujuan hidup kita, kesukaan dan prioritas utama kita, maka Allah berkenan dengan hidup kita. Allah akan berkepentingan dengan hidup kita, sebab kehendakNya terjadi melalui kehidupan kita dan di dalam kehidupan kita.

Jika Allah berkepentingan maka Ia akan campur tangan menolong kita, membela dan melindungi kita. Kita akan dipahalai selama di bumi dan juga dimahkotai ketika kita tiba di sorga. Suatu hari kelak salib akan digantikan dengan mahkota.

Sebaliknya, jika kita tidak mau memikul salib dan hidup bagi keinginan daging sendiri maka Allah tidak punya urusan dengan kita. Ini keadaan yang sangat berbahaya.

Karena memikul salib itu tidak disukai daging, maka kita tidak dapat mengandalkan kekuatan daging untuk dapat dengan tekun memikul salib. Jika kita melakukannya maka segera kita akan melepaskan salib itu dan melemparkannya karena kita merasa tidak sanggup lagi menanggung ketidaknyamanan.

Kekuatan untuk memikul salib  hanyalah melalui kekuatan Roh. Salib adalah kematian bagi daging. Kita tidak mungkin mematikan daging dengan kekuatan daging. Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat melakukannya. “Sebab jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Roma 8 : 13). Jadi kita harus minta pertolongan Roh Kudus.

Jika kita menggunakan kekuatan daging, maka  salib akan menjadi terlalu berat dan satu kali kita akan melepaskan dan melemparkannya. Tetapi jika kita menggunakan kuasa Roh Kudus, maka salib menjadi kesukaan dan jalan yang paling aman bagi jiwa kita, karena ketika kita memikul salib, kita akan mengalami kuasa Allah yang memberi kekuatan di saat kita lemah dan tak berdaya. Ketika kita tekun memikul salib, daging dan hawa nafsunya semakin tidak memiliki kesempatan untuk mendikte kita. Akhirnya, ia akan mati. Ketika kuasa daging semakin melemah, kuasa Roh semakin kuat dan nyata. Ketika kuasa Roh semakin kuat, maka buah-buah Roh bermunculan. Itulah karakter Kristus. (Galatia 5 : 22 – 23) Ketika Allah melihat karakter Kristus Anak-Nya bermunculan dalam hidup kita, Ia senang dan berkenan. Kita akan dipahalai dan dimahkotai.

“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Galatia 5 : 24 – 25).

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Ketulusan, Barang Yang Mahal dan Langka dalam Bisnis

Ketulusan adalah barang berharga yang sangat langka untuk ditemukan sekarang ini, baik dalam dunia bisnis maupun dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Yesaya 59 : 14 : “Hukum telah terdesak ke belakang dan keadilan berdiri jauh-jauh, sebab kebenaran tersandung di tempat umum dan ketulusan ditolak orang”. Tipu muslihat Iblis sudah sedemikian mempengaruhi dunia bisnis sehingga kecurangan dan kelicikan seolah-olah menjadi suatu keharusan untuk orang mencapai keberhasilan. “Orang yang curang berjaya dan orang yang tulus digilas habis”, demikianlah pendapat banyak orang tentang keadaan zaman sekarang.




Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.