Keajaiban Natal Print
Written by Ir. David Kurniadi   
Thursday, 14 December 2017 13:15

Natal tidak sesederhana tayangan yang dilihat dalam pentasan drama di panggung gereja. Ini suatu peristiwa akbar yang dipersiapkan Allah jauh sebelumnya, dengan persiapan yang begitu matang dan cermat serta pengaturan yang begitu sempurna. Bapa yang menghendaki dan merencanakan segala sesuatunya. Anak Allah yang melaksanakannya sekaligus menjadi Pemeran Utamanya, dan Roh Kudus yang mewujudkannya. Peristiwa ini juga melibatkan para malaikat, orang-orang yang tulus dan taat dari berbagai golongan masyarakat. Sementara itu Iblis berusaha menyusup untuk menggagalkan dan menghancurkan, tetapi gagal, sebab Bapa memegang kendali atas semuanya.

 

Natal telah direncanakan sejak sebelum bumi dijadikan:

 

“Ia (Juruselamat) telah dipilih sebelum dunia dijadikan (untuk turun ke dunia menyelamatkan manusia), tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya (turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia) pada zaman akhir” (1 Petrus 1:21).

 

Allah Bapa dalam Kemahatahuan-Nya telah melihat kejatuhan manusia ke dalam dosa sebelum Ia menciptakan dunia. Ia berkehendak menciptakan dunia yang baik dan indah di pemandangan-Nya (Kejadian 1:31). Dan di dalamnya Allah Bapa hendak menempatkan manusia yang dikaruniai kehendak bebas, yang akan dengan kesadaran sendiri dan sukarela memilih untuk beribadah kepada-Nya dan menaati perintah-perintah-Nya. Tetapi Ia juga melihat resiko akibat kehendak bebas yang dikaruniakan-Nya, yaitu manusia dapat menyalahgunakan kehendak bebasnya justru untuk memberontak dan tidak menaati Allah. Jika ini terjadi manusia jatuh ke dalam dosa, menjadi mahluk yang berdosa dan akan binasa.

 

Oleh karena itu Allah Bapa telah mempersiapkan rencana penyelamatan manusia, yaitu melalui penebusan dosa. Dan Anak Allah yang menundukkan diri dan taat secara total dan absolut kepada Bapa menyerahkan Diri-Nya untuk menjadi Juruselamat manusia dengan turun ke dunia untuk menebus dosa manusia (Matius 1:21).

 

“Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21).

 

Turunnya Anak Allah ke dalam dunia dan berinkarnasi menjadi manusia itulah yang kita sebut sebagai peristiwa Natal.

 

Jadi Natal telah dipersiapkan jauh sebelum dunia dijadikan. Jika tidak ada Natal maka Allah tidak akan menciptakan dunia dan manusia, sebab Allah tidak akan menciptakan sesuatu yang akhirnya binasa dan tidak bisa diselamatkan. Dengan demikian dunia dan manusia tercipta karena Natal.

 

Kitab Ibrani menuliskan rahasia Natal ini:

 

“Karena itu ketika Ia masuk ke dunia (pada Natal) Ia berkata: Korban dan persembahan (hewan) (sebenarnya) tidak Engkau kehendaki (untuk menebus dosa manusia, karena tidak memadai) – tetapi Engkau telah menyediakan tubuh  bagiku (untuk menjelma menjadi manusia). Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan (karena itu sama sekali tidak memadai). Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang: dalam gulungan kitab ada tertulis (nubuatan) tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku (yaitu untuk menjadi Juruselamat Penebus dosa manusia)” (Ibrani 10:4-7).

 

Persiapan yang sangat matang:

 

“Tetapi setelah genap waktunya (setelah semuanya dipersiapkan dengan sempurna), maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Galatia 4:4).

 

Begitu manusia jatuh ke dalam dosa di Taman Eden (Kejadian 3:6-11) maka Tuhan Allah langsung memberitahukan rencana penyelamatan yang akan dilakukan-Nya: “keturunannya (keturunan perempuan ini: her seed) akan meremukkan kepalamu (Iblis)” (Kejadian 3:15).

 

Setelah itu Iblis berusaha sekuat tenaga menggagalkan rencana Allah ini. Ia membunuh Habel dengan tangan Kain (Kejadian 4:8) dan Kain pun lari dari hadapan Allah alias murtad (Kejadian 4:16). Allah memberikan Set sebagai pengganti Habel (Kejadian 4:25-26) untuk meneruskan rencana-Nya. Tetapi Iblis kembali membuat manusia durhaka sehingga Allah memutuskan untuk membinasakan mereka dengan air bah, tetapi menyelamatkan Nuh, satu-satunya orang yang benar di hadapan Allah pada zaman itu (Kejadian 6:7-9). Dari Nuh Allah memakai salah seorang anaknya, yaitu Sem, untuk meneruskan rencana-Nya. Dari keturunan Sem dipilihlah Abram oleh Allah untuk mewujudkan rencana-Nya dengan memanggil dia keluar dari negerinya dan kaum keluarga-nya (Kejadian 12:1-3). Kepada Abraham Allah menjanjikan akan turunnya Mesias yang akan menjadi berkat untuk seluruh bangsa di bumi (Kejadian 22:18) yang mengatakan “oleh keturunanmulah (thy seed) semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.”

 

Dari Abraham lahirlah Ishak, dari Ishak lahirlah Yakub, dan dari Yakub lahirlah kedua belas suku Israel. Dari anak-anak Yakub, Allah memilih Yehuda untuk mewujudkan rencana Allah (Kejadian 49:10) yang akan menghasilkan raja-raja dan juga munculnya Mesias:

 

“Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang (Mesias; Juruselamat) yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa” (Kejadian 49:10).

 

Bandingkan dengan nubuatan Yesaya tentang Yesus Kristus yang lahir 6 abad kemudian:

 

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5).

 

Dari keturunan Yehuda lahirlah raja Daud. Kepada Daud Allah juga menjanjikan turunannya Mesias, Kristus: yang diurapi sebagai Raja (2 Samuel 7:12-13):

 

“Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya sampai selama-lamanya” (2 Samuel 7:12-13).

 

Janji ini kemudian diteguhkan kembali oleh malaikat Gabriel kepada Maria yang akan mengandung bayi Juruselamat:

 

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Lukas 1:31-33).

 

Dari Daud lahirlah Salomo, dari keturunan Salomo lahirlah Yusuf yang akan menjadi “ayah” bagi Yesus, sementara Anak Allah melayani di bumi (Matius 1:1-16). Tetapi dari Daud juga lahirlah Natan (Lukas 3:31), saudara Salomo, dan dari keturunan Natan lahirlah Eli yang sebenarnya adalah ayah Maria, tetapi karena Eli tidak memiliki anak laki-laki maka yang dijadikan anak laki-lakinya adalah Yusuf menantunya (son in law): Yusuf menjadi anak secara hukum (Lukas 3:23-38). Jadi, baik Yusuf maupun Maria keduanya adalah keturunan raja Daud.

 

Dari Yakub lahirlah bangsa Israel yang kemudian pergi ke Mesir dan hidup di Mesir selama 430 tahun lamanya, sehingga bani Israel yang tadinya hanya berjumlah 70 jiwa (Kejadian 46:27) berkembang sehingga berjumlah enam ratus ribu orang laki-laki dewasa, tidak termasuk perempuan dan anak-anak (Keluaran 12:37), sehingga diperkirakan dua setengah juta jiwa.

 

Israel keluar dari Mesir dipimpin oleh Musa dan mengembara di padang gurun selama 40 tahun lamanya (Ulangan 8:2). Kemudian dimpimpin oleh Yosua mereka masuk dan menduduki tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah. Setelah Yosua mati Israel hidup di bawah pimpinan hakim-hakim selama 350 tahun, dan Israel jatuh bangun ke dalam penyembahan berhala. Setelah itu Israel memasuki zaman raja-raja, dari mulai raja Saul, Daud, Salomo sampai akhirnya kerajaan Israel pecah dan dibuang ke Babel. Masa kerajaan berlangsung selama kurang lebih 557 tahun. Setelah zaman Salomo dan terpecahnya kerajaan Israel, Israel jatuh bangun ke dalam penyembahan berhala, sampai akhirnya Tuhan Allah membuang mereka ke Babel, ke negeri penyembah berhala selama 70 tahun.

 

Di Babel muncul kesadaran orang-orang Israel untuk kembali kepada Allah karena kekuatiran akan lenyapnya identitas Israel sebagai sebuah bangsa. Sehingga mereka berusaha mempersatukan diri dengan ciri sebagai bangsa penyembah Allah Yang Esa. Di Babel terjadi juga perubahan pola ibadah yang dahulunya terpusat di Bait Allah yang ada di Yerusalem, yang kini menjadi puing-puing karena dihancurkan oleh tentara Babel, menjadi beribadah di rumah-rumah ibadah (sinagoge) dan tidak lagi melakukan upacara pengorbanan seperti yang dilakukan di Bait Suci. Israel juga mulai memasuki tradisi tulisan dengan membuat salinan-salinan kitab suci, yaitu Taurat, kitab para nabi dan surat-surat. Di sinilah kemudian muncul para ahli kitab seperti Ezra. Ini membuka jalan di kemudian hari untuk pelayanan Yesus di dunia sebab Israel sudah kembali kepada penyembahan Allah yang Esa, adanya rumah-rumah ibadah di banyak tempat di Israel, termasuk di Nazaret, dan juga adanya salinan kitab-kitab suci sehingga Yesus dapat menjelaskan tentang pelayanan-Nya di dunia sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab Taurat dan kitab para nabi. Yesus sering mengutip isi kitab suci dan nubuatan para nabi dan juga Mazmur, seperti ketika ia mengajar di rumah ibadah di Nazaret (Lukas 4:16) atau di Kapernaum (Lukas 4:31), atau ketika Ia menerangkan tentang kematian dan kebangkitan-Nya dari kitab Taurat dan para nabi kepada dua orang murid-Nya yang dalam perjalanan ke Emaus (Lukas 24:27).

 

Setelah zaman kerajaan Babilonia dan Persia, kerajaan Yunani (331-164 SM) berkuasa dan menguasai dunia pada waktu itu. Yaitu ketika Alexander Agung berkuasa dan kemudian kerajaan Yunani pecah menjadi empat. Kekuasaan kerajaan Yunani menyebabkan bahasa Latin digunakan di Negara-negara jajahannya. Ini membuka jalan untuk para murid Yesus di kemudian hari untuk memberitakan Injil tanpa hambatan bahasa daerah, karena kebanyakan bangsa ke mana mereka memberitakan Injil dapat mengerti bahasa Latin.

 

Setelah zaman Yunani, maka kerajaan Romawi berkuasa sejak tahun 63 SM. Romawi banyak membangun jalan-jalan ke seluruh daerah jajahannya, sehingga dikenal peribahasa “ada banyak jalan ke Roma.” Ini juga membuka jalan untuk penyebaran Injil, karena ada jalan-jalan yang mudah untuk dilalui, tidak usah melalui padang gurun atau hutan belantara, serta aman dilalui sebab dijagai oleh tentara Romawi.

 

Dan, setelah semua persiapannya matang, maka Allah menurunkan Anak-Nya Yang Tunggal, karena dunia sudah siap untuk memasuki era baru yang dibawa oleh Tuhan Yesus Kristus di dunia. Itulah sebabnya peradaban dunia dibagi menjadi dua, sebelum Kristus (Sebelum Masehi) dan sesudah Kristus (Tahun Masehi).

 

Di sini kita melihat bahwa Allah berkarya bersama sejarah manusia. Sejarah tidak bergulir secara liar begitu saja, tetapi Allah yang mengendalikannya. Demikian juga sejarah hidup kita, Allah bekerja atas segala sesuatu yang terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:29).

 

Karena Allah memegang sejarah, maka masa depan kita berarti ada dalam tangan Tuhan. Oleh sebab itu baiklah kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya dan jangan bergantung kepada kekuatan atau kepandaian sendiri (Amsal 3:5; Yeremia 17:5-8).

 

Pengaturan yang ajaib:

 

“Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Galatia 4:4)

 

Yesus, Anak Allah, harus menaati hukum Taurat, karena Ia datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:17). Jadi supaya Yesus dapat menggenapi Taurat, maka Allah mengatur peristiwa-peristiwa dengan sempurna.

 

Maria adalah seorang perawan yang tinggal di Nazaret di Galilea. Ia sudah bertunangan dengan seorang keturunan Daud bernama Yusuf (Lukas 1:27). Yusuf adalah seorang yang taat kepada hukum Taurat (Matius 1:19: Terj. Ind. “tulus hati”; terj. Inggris: “faithful to the Law”) demikian juga dengan Maria.

 

Suatu hari malaikat Gabriel mendatangi Maria dan memberitahukan kepadanya bahwa ia akan hamil dan anak yang dikandungnya adalah kudus dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi (Lukas 1:26-33). Tentu saja berita malaikat itu mengejutkannya (ay. 29) sekaligus membuatnya cemas, sebab ia belum menikah dan sudah bertunangan. Ia bertanya bagaimana itu bisa terjadi sedangkan ia belum bersuami (ay. 34). Malaikat Gabriel menjawab bahwa kuasa Roh Kudus akan turun menaungi dia sehingga kehamilannya disebabkan oleh kuasa Roh Kudus (ay. 35).

 

Tetapi yang menjadi kerisauannya adalah apakah orang akan percaya jika kehamilannya itu disebabkan oleh kuasa Roh Kudus? Apa jadinya jika ia dituduh telah tidak setia? Tentunya Yusuf akan memutuskan pertunangannya (Matius 1:19). Dan lebih dari itu masyarakat akan mencapnya sebagai perempuan asusila dan ia dapat diseret untuk dihukum rajam sampai mati sesuai dengan perintah hukum Taurat (Imamat 20:10), dan keluarganya pun akan menanggung aib. Jadi Maria mengetahui resiko yang sangat besar dan buruk yang dapat terjadi. Namun demikian ia seorang yang mengasihi Tuhan dan yang tunduk dan taat kepada-Nya. Oleh karena itu meskipun ia mengetahui resiko yang begitu besar yang harus ditanggungnya ia tetap percaya kepada Allah yang akan membelanya. Jadi ia memutuskan untuk menerima tugas itu, yaitu memberikan rahimnya untuk dipakai Allah mengandung janin dan melahirkan Anak Allah yang hendak turun ke dunia sebagai manusia. Ia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38). Betapa luar biasanya iman dan ketaatan Maria kepada Tuhan.

 

Kita sering kali berbicara tentang iman tanpa membuktikannya dengan perbuatan (Yakobus 2:18). Iman dibuktikan dengan perbuatan (Yakobus 2:20): yaitu perbuatan dalam ketaatan kepada perintah dan kehendak Tuhan. Tetapi ketaatan itu mengandung resiko: ada harga yang harus dibayar. Ketika orang mulai menghitung-hitung resiko yang menyertai ketaatan, maka banyak orang akhirnya mundur karena tidak mau menanggung resiko atau membayar harga ketaatan. Tetapi ketika orang bersedia menanggung resiko dan membayar harga untuk ketaatan, Allah akan bertanggung jawab atas pengorbanan mereka dan tidak akan lepas tangan begitu saja.

 

Allah mengetahui resiko yang ditanggung Maria dan Ia juga memahami kerisauan dan ketakutannya. Oleh sebab itu Allah mengutus malaikat Gabriel juga kepada Yusuf yang pada waktu itu sudah mendengar kabar kehamilan Maria, dan ia mempertimbangkan untuk menceraikannya  karena Yusuf seorang yang taat kepada hukum Taurat (Matius 1:19). Namun demikian malaikat Gabriel memerintahkan Yusuf untuk tidak menceraikan Maria sebaliknya segera mengambilnya sebagai isterinya yang sah (Matius 1:20) supaya Maria jangan dituduh berzinah yang dapat menyebabkan ia dihukum rajam dan nama baik keluarganya dan dirinya juga hancur. Untungnya Yusuf juga seorang yang taat (Matius 1:24) sehingga ia segera mengambil Maria menjadi isterinya yang sah dan menerima anak yang dikandungnya sebagai anaknya sendiri, meskipun anak itu bukan dari benihnya. Maria terhindar dari aib dan celaka, karena Yusuf mengambilnya menjadi isterinya.

 

Karena ketaatan kedua orang ini maka rencana Allah untuk menurunkan Anak-Nya yang Tunggal ke dunia berhasil diwujudkan. Allah memerlukan ketaatan kita supaya dapat mewujudkan rencana-Nya melalui kita. Ia Mahakuasa, tetapi Ia memilih untuk menjadikan kita “kawan sekerja”-Nya untuk mewujudkan rencana-Nya (1 Korintus 3:9).

 

Untuk sementara Maria pergi ke pegunungan ke tempat Elizabet saudaranya, isteri Zakaria, yang juga sedang hamil (Lukas 1:36, 39). Maria mungkin risau dan ragu apakah Elizabet akan percaya jika ia memberitahukan bahwa ia sedang hamil dari Roh Kudus. Namun demikian Roh Kudus menolong Maria dengan memberi tanda kepada Elizabet, yaitu bayi dalam kandungnya langsung melonjak ketika mendengar Maria memberi salam dan Elizabet pun penuh dengan Roh Kudus dan mengakui kehamilannya adalah dari Allah, dan bahwa bayi yang dikandungnya adalah Tuhannya (Lukas 1:40-45).

 

Pengaturan yang ajaib akan diberikan Allah kepada orang yang percaya dan mau mentaati Tuhan meskipun ia harus menanggung resiko atau membayar harga ketaatan. Tuhan tidak lepas tanggung jawab atas orang yang mau taat kepada-Nya. Bahkan resiko yang harus ditanggung akan dipahalai di kemudian hari.

 

Pengaturan peristiwa selanjutnya adalah supaya Yesus Anak Allah menggenapi hukum Taurat, yaitu dengan disunat pada hari ke-8 (Imamat 12:2-3) dan diserahkan kepada Allah pada hari ke-40 bersamaan dengan hari pentahiran  Maria, ibu-Nya (Imamat 12:6-8).

 

Menurut catatan sejarah, Yesus lahir pada tahun 4 SM, yaitu ketika Herodes berkuasa (Matius 2:1). Perayaan Paskah orang Yahudi pada tahun 4 SM jatuh pada tanggal 11 April. Sedangkan pada tanggal 11 April 4 SM yang menjadi raja bukan lagi Herodes tetapi Archelaus anaknya (Matius 2:19-23), karena Herodes mati pada tanggal 1 April 4 SM dan Archelaus berkabung selama 7 hari lamanya.

 

Sebelum Herodes mati, ia melakukan tindakan-tindakan yang biadab, yaitu membunuh anak-anak kecil pada malam kelahiran Yesus (Matius 2:16) dan juga membunuh 2 orang rabi Yahudi dan 40 pemuda Yahudi karena mereka menghancurkan patung elang emas yang ditaruh Herodes di Bait Suci yang dibangunnya kembali dengan mewah. Akibatnya suasana di Yerusalem menjadi panas. Tetapi kemudian ia mati pada tanggal 1 April 4 SM dan Archelaus anaknya menggantikannya (Matius 2:22).

Archelaus berusaha meredam kemarahan bangsa Yahudi dengan mengirim pasukannya untuk membujuk mereka. Namun demikian pasukan Roma itu ditimpuki batu dan ada beberapa yang mati. Archelaus akhirnya memanggil seluruh pasukan Romawi di kota untuk mengepung Bait Suci. Itu terjadi pada malam Paskah. Akibatnya 3000 orang mati pada kerusuhan itu dan Archelaus mengusir semua orang dari Bait Suci dan membatalkan perayaan Paskah tahun itu. Bait Suci dijaga ketat oleh pasukan Romawi dan tidak seorang pun diperbolehkan masuk.

 

Tetapi kita membaca dalam kitab Lukas, Yusuf dan Maria serta bayi Yesus datang ke Bait Allah untuk melakukan upacara pentahiran dan menyerahkan bayi Yesus kepada Allah (Lukas 2:22) sekaligus merayakan Paskah. Ini adalah penggenapan bahwa Yesus “takluk kepada hukum Taurat” (Galatia 4:4). Mereka di Bait Allah bertemu dengan Simeon (Lukas 2:25-28) dan juga Hanna (Lukas 2:36-38). Artinya itu terjadinya sebelum Bait Allah dikepung pasukan Romawi yaitu tanggal 11 April antara pagi sampai siang hari sebelum tentara Romawi datang.

 

Upacara pentahiran seorang wanita yang melahirkan anak laki-laki itu adalah 40 hari, yaitu 7 hari ditambah 33 hari (Imamat 12:2-4). Jadi jika ditarik mundur ke belakang dari tanggal 11 April, maka artinya Yesus lahir pada tanggal 2 Maret tahun 4 SM supaya Ia dapat menggenapi hukum Taurat.

 

Ketika Yesus lahir orang-orang Majus datang mengunjungi Yesus (Matius 2:1) dan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur (Matius 2:11). Kedatangan orang-orang Majus membuat Herodes terkejut sebab mereka mencari raja yang baru lahir (ay. 3), padahal waktu itu ialah yang menjadi raja, sehingga Herodes memerintahkan untuk membunuh semua anak yang baru lahir di wilayahnya (ay. 16). Malam itu juga Tuhan menyuruh Yusuf untuk pergi membawa Maria dan bayi Yesus ke Mesir (ay. 13), ke suatu desa yang terletak di perbatasan antara Mesir dan Israel yang berjarak 6 hari perjalanan jauhnya. Dan pada hari ke-8 Yesus disunat untuk memenuhi hukum Taurat (Lukas 2:21). Mereka tinggal di Mesir sampai Herodes mati (Matius 2:15) dan Archelaus anaknya menggantikannya (ay. 22).

 

Herodes harus mati (ay. 19) tanggal 1 April supaya Maria dapat melakukan upacara pentahiran dan menyerahkan bayi Yesus pada tanggal 11 April sebelum Bait Suci dikepung tentara Romawi. Yusuf kembali ke Israel bersama Maria dan bayi Yesus pada tanggal 1 April dan melakukan perjalan 6 hari sampai di Nazaret. Setelah beristirahat 1 hari untuk Sabat, mereka pergi ke Yerusalem untuk melakukan upacara pentahiran dan penyerahan anak (Lukas 2:22). Lama perjalanan dari Nazaret ke Yerusalem adalah 3 hari sehingga mereka tiba di Yerusalem dan langsung ke Bait Suci pada tanggal 11 April antara pagi dan siang hari. Setelah itu terjadilah peristiwa nahas, pasukan Romawi mengepung Bait Suci, ribuan orang terbunuh dan Paskah dibatalkan pada tahun itu oleh Archelaus.

 

Di sini kita melihat pengaturan Allah yang sempurna dan penggenapan kehendak dan rencana Allah di mana Yesus, Anak Allah, tidak melanggar hukum Taurat melainkan menggenapinya.

 

Segala sesuatu indah pada waktunya (kairos) Allah (Pengkhotbah 3:11). Allahlah yang mengatur semua peristiwa sesuai dengan penyelenggaraan-Nya yang ajaib. Ia mengetahui dari awal sampai akhir, namun kita tidak memahaminya.

 

Peristiwa yang indah, agung dan mulia:

 

Maria dan Yusuf pergi ke Betlehem ke kota Daud untuk didaftarkan sesuai dengan perintah Kaisar Agustus, karena Maria dan Yusuf adalah keturunan Daud. Pada waktu itu sudah tiba waktunya bagi Maria untuk melahirkan bayi Yesus, tetapi mereka tidak mendapatkan tempat sebab semua penginapan sudah penuh. Maria akhirnya melahirkan di sebuah kandang hewan dan membungkus bayi Yesus dengan kain lampin serta meletakkannya di dalam palungan, yaitu tempat makanan hewan (Lukas 2:1-6).

 

Pada malam itu tidak seorang pun yang mengetahui dan menyadari bahwa Anak Allah Yang Mahatinggi sedang turun ke dunia (Yohanes 1:9-10) dan menjelma menjadi manusia (ay. 14). Dilahirkan sebagai bayi laki-laki yang dinamai Yesus sesuai dengan perintah malaikat Gabriel (Lukas 1:31; Matius 1:21). Waktu itu adalah musim semi (bulan Maret) karena gembala-gembala tinggal di padang menjaga kawanan ternak (Lukas 2:8). Jika itu terjadi di bulan Desember sebagaimana tradisi mengatakan dan itu adalah musim dingin tentulah ternak mereka semua ada di kandang.

 

Pada malam yang sunyi itu, ketika tidak ada seorang pun mengetahui bahwa seorang Juruselamat lahir kedunia, malaikat justru memberitahukannya kepada para gembala dan mengajak mereka untuk menemui bayi Yesus di kandang:

 

“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di palungan” (Lukas 2:10-12).

 

Pemberitahuan tentang kelahiran Raja di atas segala raja pun diberitahukan kepada orang yang sangat jauh, yaitu kepada orang-orang Majus, raja-raja dari Timur, yang menyelidiki perbintangan. Pemberitahuan sorga diberikan dengan munculnya sebuah bintang yang sangat terang di langit, yang mereka yakini sebagai suatu tanda bahwa seorang raja telah lahir. Merekapun melakukan perjalanan yang sangat jauh mengikuti cahaya bintang tersebut. Mereka tiba di Yerusalem, dan ini membuat seisi kota gempar, juga raja Herodes. Mereka akhirnya tiba di Betlehem di tempat bayi Yesus dilahirkan dan mereka sujud menyembah serta memberi persembahan berupa emas, kemenyan dan mur (Matius 2:1-11).

 

Ada pemandangan yang luar biasa di kandang di mana Yesus dilahirkan. Orang-orang Majus, yang adalah raja-raja, orang-orang pandai, kaya dan berkuasa dari Timur, bersama-sama dengan para gembala yang sederhana, diabaikan, tidak berpendidikan dan miskin, mereka berkumpul bersama dalam satu ruangan mengelilingi bayi Yesus yang terbaring di palungan, dan mereka takjub serta menyembahnya. Dua golongan masyarakat yang sangat berbeda dipertemukan Allah dalam satu tempat yang sama dan dalam kesederhanaan, menyembah Anak Allah yang menjelma menjadi manusia.

 

Kekayaan atau kemiskinan, berpendidikan atau kurang berpendidikan, berkuasa atau orang biasa, seharusnya tidak menjadi penghalang untuk datang kepada Tuhan dan menyembah Dia. Perbedaan-perbedaan itu tidak boleh menjadi sekat pemisah karena di hadapan Tuhan semua orang sama dan tidak dibeda-bedakan.

 

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28)

 

 Pada malam itu ketika tidak ada seorangpun yang merayakan kelahiran Yesus, sorga merayakannya. Allah mengirim paduan yang sangat megah, bahkan termegah sepanjang sejarah:

 

“Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar tentara sorga yang memuji Allah, katanya: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara orang-orang yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:13-14).

 

Sorga merayakan dengan meriah. Semua tentara sorga memuji kemuliaan Allah karena telah menurunkan Anak-Nya Yang Tunggal ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Ini sesuai dengan rencana dan kehendak Allah dari semula, sebelum bumi diciptakan.

 

Kita melihat bahwa Natal sungguh merupakan peristiwa yang luar biasa. Allah merencanakan dan mempersiapkannya dengan sangat teliti dan cermat. Tanpa Natal, Anak Allah tidak turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Tanpa Natal manusia binasa dalam dosa.

 

Pertanyaannya adalah, semuanya itu untuk apa? Apa yang mendorong Allah melakukan semuanya itu?

 

Injil Yohanes menjawabnya dengan jelas. Peristiwa Natal dikisahkan dengan cara yang sangat berbeda oleh Yohanes, berbeda dari yang dipaparkan oleh Matius dan Lukas. Jika Matius dan Lukas memaparkan dari segi peristiwa, maka Yohanes memaparkan dari segi makna yang sebenarnya dan latar belakangnya.

 

Yohanes memaparkan peristiwa Natal sebagai berikut:

 

“Terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya… Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:9-11,14).

 

Itulah Natal menurut pemahaman Yohanes. Ia juga menuliskan latar belakang Natal yang dikutip dari pernyataan Yesus sendiri, Tokoh Sentral dari peristiwa Natal. Yesus memberitahukan mengapa Bapa mengutus-Nya untuk turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia:

 

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya Yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya jangan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3:16-17).

 

Natal didorong oleh kasih yang begitu besar dari Allah Bapa. Allah mengasihi dunia ini. Dunia yang dimaksud bukan hanya bulatan buminya tetapi manusia yang berada di dalamnya. Kata dunia di sini menggunakan kata “cosmos” yang juga merupakan akan kata dari “cosmetic” yang bermakna kecantikan atau keindahan. Di mata Allah dunia yang diciptakan-Nya itu “baik”: indah, cantik dan sempurna (Kejadian 1:31). Dan Ia tidak menghendakinya binasa. Oleh sebab itulah Allah sampai menurunkan Anak-Nya ke dalam dunia untuk menyelamatkannya.

 

Natal terjadi karena kasih Allah yang besar dan ketaatan manusia, dalam hal ini Maria dan Yusuf, yang menaati Allah dengan berani mengambil resiko yang sangat besar.

 

Ketaatan Maria menyebabkan kesalahan perempuan ditebus. Kita tahu bahwa yang “membawa dosa” pertama kali ke dalam dunia adalah Hawa, yang jatuh ke dalam dosa karena ketidaktaatannya karena terbujuk rayuan dan tipu muslihat Iblis (1 Timotius 2:14). Tetapi kesalahan Hawa ini ditebus oleh ketaatan Maria yang bersedia mengandung bayi Yesus dan “membawa Penebus dosa” masuk ke dalam dunia. Karena ketaatannya maka Yesus lahir ke dalam dunia dan dunia bisa mengenal Yesus.

 

Oleh sebab itu di dalam Kristus tidak ada lagi stigma negatif terhadap perempuan. Laki-laki atau perempuan sama di hadapan Kristus. Dalam kehidupan suami isteri perempuan menjadi “teman pewaris kasih karunia” laki-laki; oleh sebab itu harus dicintai dan dihargai (1 Petrus 3:7).

 

Ini semua terjadi karena Natal! Selamat hari Natal!

 

 
Please register or login to add your comments to this article.